
...Munculnya jurang pemisah cinta Mayang dan Radhif (Bagian ketiga)...
...----Rumah sakit M, pusat kota Malang---...
Sepenggal part sebelumnya,
Sepeninggal kedua orangtuanya, Radhif yang menemani Mayang seorang diri di ruangan kamar inap tersebut. Sudah dua jam lamanya Heru dan Dwi tidak kunjung kembali dan menemuinya.
Radhif kemudian mengirim pesan singkat kepada Heru melalui ponsel miliknya.
('Assalamualaikum, Heru di mana posisi kalian saat ini? Lekaslah merapat ke kamar inap sekarang.')
Demikian bunyi isi pesan singkat yang di kirikan oleh Radhif kepada Heru, adik asuhnya tersebut.
Sebuah pesan pun masuk, di barengi dengan bunyi notifikasi dari ponsel milik Radhif.
('Walaikumsalam, Bang. Kami masih berada di luar. Ada keluarga Dwi yang tanpa sengaja terserempet motor di jalan raya. Kami sedang menjemputnya untuk di bawa ke klinik terdekat. Kejadiannya di daerah dekat villa milik saya, Bang. Mungkin satu jam lagi saya akan kembali ke tempat abang.')
Bunyi pesan balasan yang di kirimkan oleh Heru.
Selalu saja ada masalah saat keduanya akan menemaninya menjaga Mayang. Ini adalah ketiga kalinya. Selalu saja ada kendala atau kejadian buruk terjadi bila mereka hendak menemani Radhif di rumah sakit.
'Sepertinya ketiban sial mulu mereka berdua,' gumam Radhif dalam hati. Sesekali terlihat senyum terukir di wajahnya mengingat semua kejadian tersebut. Radhif kembali tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala membayangkan ekspresi wajah kedua adik asuhnya tersebut.
...---------------*******---------------...
Waktu menunjukkan pukul 19.45 wib. Radhif mengambil peci dan juga sajadah untuk melaksanakan sholat isya. Setelah sholat maghrib tadi dirinya sempat tertidur di sofa karena lelah.
Diliriknya Mayang, ternyata istrinya itu masih tertidur pulas.
__ADS_1
'Begitu kuatnya pengaruh obat penenang yang diberikan kepada Mayang, semenjak papi dan mami pulang tadi belum aku lihat Mayang bangun dari tidurnya,' gumam Radhif dalam hati.
Awalnya Radhif ingin membangunkan Mayang, akan tetapi niatnya tersebut diurungkannya.
'Lebih baik aku sholat dulu, biarkan Mayang beristirahat. Mungkin itu lebih baik baginya,' batin Radhif sembari berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Usai menunaikan sholat isya, Radhif pun kembali duduk di sofa yang berada tak jauh dari ranjang tempat Mayang terbaring. Tangannya menggapai ponsel yang tadi diletakkannya di atas meja. Ternyata maminya sempat menelponnya tadi. Hanya saja Radhif tidak melihatnya karena ponselnya berada dalam mode 'silent' tanpa getar.
Radhif kemudian menekan nomor kontak sang mami dan menghubungi Bu Dian.
"Assalamualaikum, Mam. Udah sampe? Maaf tadi Radhif gak sempat ngangkat telpon dari Mami," ucap Radhif ketika sang mami telah mengangkat panggilan di seberang sana.
"Wa'alaikumsalam, iya gak apa-apa. Mami dan Papi udah sampai kok, Dhif. Sekarang lagi makan malam. Mami masak nasi goreng babat kesukaan papimu. Kamu juga suka kan nasi goreng babat buatan mami. Oiya, ngomong-ngomong soal nasi goreng, kamu sudah makan malam belum, Dhif? Apa mami antarin nasi goreng untuk kamu?" tanya Bu Dian pada anaknya.
"gak usah, Mam. Radhif udah makan kok," ucap Radhif berbohong. Dia tak ingin maminya iti khawatir.
"Mami, jangan mulai lagi. Bikin mood Radhif hilang kalo bahas masalah wanita lain selain istri Radhif. Yawudah, Mam. Radhif tutup ya telponnya. Wasalamu'alaikum.
Ada perasaan aneh menyelimuti Radhif. Perasaan ingin mendekati Mayang. Dia khawatir terjadi sesuatu pada gadis itu. Sudah sejak tadi Mayang tidak bergeming. Atau mungkin hanya perasaan Radhif saja yang berlebihan. Akhirnya, Radhif memutuskan untuk memeriksa Mayang.
Radhif berjalan mendekati ranjang tempat Mayang terbaring. Di perhatikan dengan cermat wajah Mayang. Membelai ujung kepala milik sang istri. Bagi dirinya Mayang memang istrinya yang sah secara agama dan kedinasan. Meskipun perasaan diantara keduanya masih belum menyatu. Radhif tahu komitmen mereka saat awal menikah hanyalah sebuah ikatan yang di buat berdasarkan kesepakatan. Semua itu bertujuan agar bayi yang di kandung oleh Mayang mendapatkan hak dan nama dari keluarganya. Sebab anak yang dikandung Mayang adalah darah daging sang adik yang meninggal karena musibah saat melakukan pendakian di gunung Semeru.
Pada awalnya, Radhif sebenarnya telah menaruh hati kepada Mayang sejak melihat foto Mayang di ponsel milik Gilang. Kebetulan Gilang adalah kakak dari Mayang. Namun, tak disangka olehnya. Ternyata Radhit telah dahulu mengenal Mayang dan menjalin kasih dengannya. Pil pahit yang bernama kekecewaan itu ditelan mentah-mentah oleh Radhif. Wanita yang ingin dikenalnya telah menjadi belahan hati sang adik. Radhit adalah adik satu-satunya. Adik kembar yang sangat di sayangin oleh Radhif. Dan pada akhirnya Radhif mengubur dalam-dalam perasaannya pada Mayang, karena tak ingin melukai perasaan adik kembarnya, Radhit.
Fikiran Radhif menerawang sangat jauh. Mengigat kembali saat awal dirinya belum menikah dengan Mayang. Perasaan itu membuatnya semakin kuat dan yakin bahwa Allah sudah menentukan jalan hidupnya dan juga Mayang. Begitu pula dengan mendiang adiknya Radhit.
"Mayang...! Masih maafkan aku telah membuatmu kehilang buah cintamu dengan Radhit. Aku tak bermaksud membuatmu kehilangan sesuatu yang paling berharga, satu-satunya milikmu dan Radhit. Aku mohon maafkan diriku. Aku tahu kini rasanya tak pantas bagiku mengharap lebih darimu. Tapi aku ingin kau tahu, aku takkan pernah melepaskanmu," ucap kak Radhif setengah berbisik.
Tubuhnya membungkuk, memcoba mencium kening Mayang. Akan tetapi dengan cepat pula tangan kiri Mayang mendorong tubuh kak Radhif. Tangannya menepis tangan kak Radhif yang berada di ujung kepalanya. Mayang kemudian berusaha membalikkan tubuhnya membelakangi kak Radhif.
__ADS_1
"Kau masih marah?" tanya kak Radhif dengan suara lirih.
Mayang hanya terdiam. Bahkan tak bergeming sama sekali.
"Maafkan aku," ucap kak Radhif lagi. Kali ini tangannya memegang tubuh Mayang.
"Aku mohon maafkan aku," ucap kak Radhif dengan nada lebih keras.
"Aku tahu ini semua salahku. Tapi ini bukan keinginanku. Ini musibah, semua di luar kendaliku, Mayang. Mengertilah...!" suara kak Radhif memenuhi ruang kamar tersebut.
"Aku tak ingin melepasmu. Aku juga tak ingin pernikahan ini berakhir. Meskipun aku tahu janin di dalam kandunganmu telah meninggal," kembali kak Radhif bersuara. Suaranya begitu lantang terdengar.
"Mayang, katakanlah sesuatu. Jika memang kau tidak menginginkan pernikahan ini berlanjut, aku akan berusaha menguatkan hatiku agar bisa melepaskanmu pergi dari sisiku. Tapi dengan satu syarat," suara kak Radhif terdengar sangat berat mengucapkan kalimat terakhirnya tersebut.
Mayang tetap diam tak bergerak. Bahkan tetap membisu. Hanya mendengar dan mencoba mencerna setiap perkataan yang terlontar dari kak Radhif.
Dalam hati Mayang masih merasakan sakit yang teramat dalam mendengar percakapan Bu Dian dan kak Radhif sore tadi. Ternyata kak Radhif pernah di jodohkan dengan anak dari sahabat maminya. Seharusnya kak Radhif menerima perjodohan tersebut bukannya menerima Mayang menjadi isterinya, hanya karena Mayang mengandung anak dari mendiang adik kembarnya. Mayang sudah dewasa dan tentunya dia mampu membesarkan anak itu seorang diri. Walaupun dirinya akan kesulitan melakukannya, karena belum memiliki pekerjaan untuk menghidupi dirinya dan calon bayinya kelak.
'Mungkin, Allah berfikir agar aku melanjutkan hidupku begitupula Kak Radhif, sehingga Sang Pencipta mengambil kembali malaikat kecil titipannya,' batin Mayang dalam hati.
Mayang tetap saja membisu, tak mengeluarkan sepatah katapun. Mereka berdua hanyut dalam fikiran masing-masing. Mencoba menerka-nerka apa yang seharusnya mereka lakukan kedepannya.
...-----------Bersambung-------------...
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 103. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊
Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.
__ADS_1