
PERTEMUAN SETYO DENGAN RADHIF
Kantin rumah sakit X, Kota Malang
****""""****
Wajah Mayang terlihat pucat pasi, kakinya serasa lemas tak bertenaga.
Degub jantungnya berasa tak beraturan saat melihat pria yang berada didepannya adalah Setyo.
Mantan ketua tim bakset yang fenomenal.
Pria yang menjadi incaran para gadis di kampus mereka, bukan hanya fakultas mereka saja pria ini menjadi primadona, tetapi di fakultas lain juga mengenal Setyo dengan pesonanya sebagai tim basket sekaligus atlet basket yang sangat rupawan dan juga welas asih.
Sesaat Mayang tak dapat mengendalikan dirinya.
Jika saja tadi dia tidak menahan meja yang ada didekatnya pastilah dirinya sudah jatuh terduduk, kakinya seakan tak mampu menopang bobot tubuhnya.
"Mayang!"
"Apa dirimu baik-baik saja?"
"Selama dua minggu ini aku selalu memikirkanmu sejak pertemuan terakhir kita di Mall waktu itu. Aku berusaha sudah berusaha melupakanmu tapi aku tak bisa. Aku berusaha mengabarimu tapi nomormu tak dapat dihubungi lagi," ucap Setyo dengan tatapan penuh arti.
"Setyo kendalikan didirimu," suara Dokter Rian terdengar sedikit gusar dan khawatir atas apa yang terjadi di antara Mayang dan Setyo.
"Dokter Rian, apa maksud semua ini?"
"Jadi Dokter Rian yang telah mengatur semua ini?" ucap Mayang sambil mengarahkan pandangan ke arah dokter muda itu.
"Aku tak menyangka kalian berdua bersekongkol merencanakan ini?"
"Apa yang sebenarnya kau fikirkan,Yo?"
"Aku sudah menikah. Lupakan aku dan mulailah dengan kehidupanmu yang baru. Masih banyak wanita yang ingin mendapatkan cintamu. Bukalah hatimu untuk cinta yang lain,Yo. Hapuslah aku dalam ingatanmu. Anggap aku tak pernah ada, bila memang setiap kenangan yang mengingatkanmu tentangku akan membuat hatimu membeku hingga tak dapat menerima cinta dari wanita yang lain," suara Mayang terdengar lirih, namun suara itu berhasil menggoreskan luka baru yang sangat menyakitkan bagi Setyo.
"Tapi aku sangat mencin--," suara itu terhenti ketika Mayang mendaratkan sebuah tamparan ke pipi Setyo.
Meski tidak terlalu kuat tapi Mayang berharap tamparan itu akan membuat Setyo sadar akan kesalahannya.
__ADS_1
Satu tamparan tidak membuat Setyo dengan cepat melupakan Mayang, wanita yang dicintainya.
Kau boleh menolakku, tapi aku akan tetap menunggumu hingga janin yang kau kandung lahir. Aku siap menjadi ayah untuk anakmu. Aku tahu pernikahanmu hanya sebuah kesepakatan," ucap Setyo sambil menyentuh jari jemari Mayang.
"Sadarlah,Yo. Kita takkan bisa bersama lagi. Aku sudah menjadi milik orang lain. Dan aku tak pantas untukmu. Karena aku bukan lagi Mayang yang dulu," ucap Mayang dengan nada tinggi.
Mayang berusaha meyakinkan Setyo, membuatnya sadar dari fatamorgana yang akan membawanya menyeretnya dalam pusaran kekecawaan dan permasalahan yang besar bila saja Setyo tetap kukuh atas sikapnya tersebut.
Kemudian Dokter Rian berjalan ke arah Setyo menepuk pundaknya mencoba membuatnya tenang.
Pandanganya mengarah kepada Mayang, "Maafkan aku Mayang, aku tak bermaksud mempertemukanmu dengan Setyo secara sengaja. Aku hanya ingin Setyo sadar atas perbuatannya yang salah. Aku berfikir bila akan sejauh ini efeknya bagi Setyo, aku hanya berasumsi bila Setyo melihatmu bersama Radhif hal itu akan menyadarkannya dari mimpinya untuk kembali memilikimu. Akan tetapi aku salah, semakin dia melihatmu semakin kuat rasa cintanya untukmu," ucap Dokter Rian dengan nada penuh penyesalan.
Flash back....
Kriiiiing...Kring....Kring...
Dering telpon dari Dokter Rian berdering, di tengah malam Setyo menghubunginya.
Tidak seperti biasanya.
Entah apa alasannya sehingga saudara sepupunya itu menelponnya di jam seperti ini.
["Tidak, aku sedang off. Apa yang membuatmu menelponku di tengah malam seperti ini?" balas Rian dengan nada kesal.]
["Aku butuh informasi dan bantuanmu," jawab Setyo singkat.]
["Apa itu? Aku akan membantumu jika aku bisa. Tapi informasi apa yang kau maksudkan, Yo?" Rian balik bertanya.]
["Apa pasienmu yang bernama Mayang akan menemuimu di rumah sakit tempatmu bekerja?" jawab Setyo dengan sebuah pertanyaan.]
["Apa maksudmu Mayang yang pernah mengalami musibah di Gunung Semeru sebulan yang lalu?" balas Rian bingung.]
["Iya, dia wanita yang diketemukan bersama seorang pria yang meninggal di atas Gunung Semeru. Di mana pria itu memiliki seorang saudara kembar yang berprofesi sebagai seorang TNI AD," jelas Setyo kepada Rian.]
Malam itu Setyo menceritakan Semuanya kepada Rian, mulai dari perkenalannya dengan Mayang, kisah saat mereka kuliah dulu, hingga Mayang memilih Radhit.
["Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu untuk melupakannya? Apa kau tak mengerti?" ujar Rian dengan nada heran.]
["Aku tahu pernikahannya hanya sebuah kesepakatan karena dia mengandung anak dari mendiang Radhit.
__ADS_1
Aku akan merebutnya kembali dari tangan Radhif. Aku tahu dari dankiku kalo mereka ada di Kota Malang ini, mereka akan menemuimu lusa. Bantulah aku Rian!" balas Setyo dengan nada lirih dan memelas memohon pertolongan saudaranya itu.]
Beberapa saat Rian terdiam dan akhirnya memutuskan untuk membantu Setyo.
["Baiklah, aku akan membantumu," jawab Rian singkat.]
[" Aku sangat berterimakasih, Rian. Aku berhutang budi kepadamu," balas Setyo kemudian menutup panggilan telponnya itu.]
Oleh karena itu saat Rhadif berkata akan menemuinya di rumah sakit, Rian mengabarkan hal tersebut kepada Setyo.
Hingga akhirnya pertemuan itu benar-benar terjadi.
"Skali lagi, maafkan aku, Mayang. Aku tak bermaksud mencampuri urusanmu dan Setyo," nada suara Dokter Rian lirih menyesali semua persekongkolannya dengan Setyo.
"Aku berterimakasih untuk itu, Kak. Mungkin ada hikmah di balik ini semua. Aku berharap Setyo akan mengerti setelah pertemuan ini dia takkan lagi mencariku, menghubungiku bahkan menungguku membalas cintanya. Seharusnya Setyo tahu bila hubungan kami hanyalah sebagai sahabat dekat. Dan kini kehadirannya diantara kami berdua malah akan membuatnya semakin terpuruk," ujar Mayang dengan mata berkaca-kaca.
Dengan hati yang penuh kekhawatiran Mayang mengalihkan tatapannya kepada Setyo sambil berkata, "Aku mohon kepadamu, Yo. Jangan pernah berkata apapun kepada Kak Radhif. Aku tak ingin membuatnya marah dan kecewa,"
Aku tak tahu apa yang akan dilakukannya jika dia tahu pertemuan ini bukanlah kebetulan. Akan tetapi semua ini terjadi karena ulahmu dan Dokter Rian, kalian berdua dengan sengaja mengatur dan merencanakan semuanya," ucap Mayang penuh kegelisahan dan ketakutan, bila Radhif akan mengetahui semuanya.
"Apa Radhif mengenal wajahku?" tanya Setyo sesaat.
"Tidak!" balas Mayang singkat.
"Baiklah kalo begitu, lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti saat bertemu dengannya," balas Setyo mencoba menenangkan Mayang yang terlihat dari raut wajahnya bahwa gadis itu sedang di landa kecemasan dan kekhawatiran yang teramat sangat, hingga wajahnya terlihat pucat pasti tak bersemangat.
"Berjanjilah tidak mengatakan apapun pada Kak Radhif. Aku mohon,Yo. Bila kau sangat mencintaiku lupakan aku dan lakukan apa yang aku pinta," balas Mayang dengan nada lirih penuh harap.
"Baiklah, aku berjanji takkan mengatakan apapun kepada Radhif!" seru Setyo mantap. Walaupun di dalam hatinya seakan tersayat, begitu perih dirasakannya.
Melihat wanita yang dicintainya bersama pria lain dan kini Mayang menyuruhnya untuk melupakannya.
Namun demi orang yang dicintainya, Setyo harus mampu melakukan semua itu.
Apa yang dilakukannya atas nama cinta.
Agar wanita yang dicintainya itu bahagia.
Meskipun harus mengorbankan perasaan cintanya yang begitu dalam dan tulus untuk Mayang.
__ADS_1