TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# PART 48


__ADS_3

#TAKDIR CINTA MAYANG#


Part 48


\*\*\*\*\*\*\*"""""\*\*\*\*\*\*


Batalyon


Dengan langkah lunglai Setyo berjalan ke arah barak.


Hari ini cukup melelahkan baginya, energi dari tubuh, hati dan fikirannya telah terkuras habis demi wanita yang dicintainya.


Sebenarnya Setyo pun bingung, kenapa bisa sedalam itu dia mencintai Mayang.


Tak pernah terfikirkan baginya untuk berpaling dari wanita lain.


Selama pendidikan Setyo mencoba melupakan Mayang, mencoba menata kembali hatinya yang sempat terluka karena penolakan atas cintanya secara tak langsung oleh Mayang.


Namun, secercah harapan yang dulu hampir sirna kini muncul kembali setelah mendengar kabar buruk yang menimpa kekasih Mayang.


Dia adalah Radhitya Putra Pratama, sang kakak tingkat yang menjadi ketua HIMAPALA di kampus tempatnya dulu berkuliah.


Kabar yang membuatnya sedih dan terkejut, akan tetapi dibalik kabar sedih itulah Setyo kembali menemukan pengharapan atas cintanya hampir kandas.


Setyo berharap dengan kehadirannya kembali, bisa membuat Mayang melupakan kesedihannya akan kehilangan sosok Radhit dalam hidupnya.


Membantu Mayang merajut kembali lembaran baru dan asah yang hilang karena kepergian Radhit.


Penuh harapan dan impian dalam benak Setyo kali ini, mencoba sekuat tenaga merealisasikan semua itu.


Semangatnya begitu membara dan berkobar laksana api tak kunjung padam yang berada di kota Madura.


Meskipun tersiram air, harapan dan impian itu tetap akan menyala.


Entah sampai kapan dan entah sampai pada ambang batasnya cinta Setyo akan selalu ada untuk Mayang.


Meski terluka dan tersakiti cinta itu akan tersimpan rapih di dalam sudut ruang hati danru muda ini.


"Yo, lusuh kali wajahmu. Emangnya kau dari mana aja? Kebanyakan ngedate ama cewek ya kau semalam?" ucap salah satu seniornya dibarak bujangan.


Tempat tidur seniornya itu tak jauh dari tempatnya.


Setyo hanya tersenyum tipis menanggapi gurauan abang letengnya itu.


Setyo meletakkan semua bawaannya dan merebahkan diri di kasur.


Matanya menatap langit-langit ruangan itu.


Entah rasa apa yang berkecamuk dalam hatinya, fikirannya tak tenang, bahkan di langit-langit ruang itu, nampak wajah Mayang bagai terlukis indah saat mata itu memandang.


Sejenak Setyo menutup matanya, berharap bayangan itu hilang dari pandangannya, akan tetapi saat memejamkan matanya tetap saja tak dapat menghilangkan potret wajah gadis manis nan rupawan itu dalam fikirannya.


Terus saja menari-nari membuat Setyo tak tenang.


"Mayang!"


"Kenapa dirimu tak bisa hilang dari fikiranku.


Otakku terus saja memikirkanmu, hatiku terus saja merindukanmu. Aku seperti orang gila dibuatmu," ucapnya perlahan.


Setyo terjaga dari lamunannya, teringat pesan Rian tadi.


Bergegas Setyo mengambil ponselnya dan menelpon saudaranya Rian.


"Tut...tut...tut...!" nada sambung terdengar, namun tak kunjung jua diangkat.


Setyo mencobanya hingga lima kali panggilan.


Sambil mengela nafas panjang yang terasa berat dan tertahan, Setyo menutup ponselnya serta menaruhnya kembali samping bantal tempatnya berbaring.


'Kemana Rian, tidak biasanya dia mengacuhkanku seperti ini.


Apa dia tahu kalo aku menghubunginya untuk menanyakan perihal Mayang?


Atau sibukkah Rian hingga tidak sempat mengangkat telponku?'


Timbul berbagai spekulasi dalam hatinya terkait sikap Rian ini.


Sepertinya ada sebuah rahasia besar yang tersimpan rapih, yang tak ingin Rian utarakan kepada Setyo.


Rahasia tentang Mayang yang tak bisa Rian ungkapkan.


Tapi dengan sikap acuhnya, malah semakin membuat Setyo penasaran.


Apa sebenarnya yang terjadi kepada Mayang dan bagaimana kondisi Mayang saat ini.


'Aku harus mencari tahu, meskipun kenyataannya nanti akan sangat menyakitkan dan melukaiku.


Itu resiko yang harus aku tanggung.


Daripada aku seperti ini, tersudut dalam ketidakpastian yang semakin membuatku gila.


Gila karena memikirkan wanita yang aku cintai,' batin Setyo.


Degan kesal Setyo melempar kembali ponselnya ke atas tempat tidur kemudian menggosok-gosok kepala dengan kedua tangannya.


"Aaaarrrrgggghhhhh, ada apa denganku, kenapa aku seperti ini," ucapnya pada dirinya sendiri.


"Bah! Kenapa kau rupanya Setyo? Kulihat Macam orang kurang waras saja kau ini!" ujar bang Togar pada Setyo.


"Pusing aku Bang," jawabnya singkat.


"Macam mana pula kau ini? Bukannya awal bulan, baru juga kita gajian, sudah pusing saja kau."


"Pacar saja kau tak punya, kredit pun tak ada. Bahagia kali hidupmu. Tapi kenapa bisa pusing kepalamu itu," tambahnya lagi dengan logat Medan yang kental.


"Entahlah, Bang. Yasudah, Bang aku mandi dulu. Nanti aku ceritakan ke Abang Togar kisahku. Spa tau Abang Togar punya solusi untukku. Abang kan memang jago dalam hal percintaan," ucap Setyo kepada abang letengnya yang cuma beda satu klik diatasnya itu.


Bang Togar adalah pria asal Medan, yang berasal dari suku Mandailing ini sangatlah banyak pacarnya.


Selain terkenal kepandaiannya dalam merayu wanita bang Togar juga memiliki postur tubuh yang tegap dan warna kulit yang bersih kuning langsat karena mewarisi garis keturunan dari sang ibu yang berdarah jawa.


Karena itulah para bujangan dibarak menjulukinya 'Bang Togar Sang Penakluk hati Wanita.'


Banyak dari senior dan juga junior yang datang bertukar pendapat dan menceritakan kisah asmaranya kepada Bang Togar.


Dengan harapan Bang Togar mampu memberikan solusi untuk setiap masalah yang mereka hadapi.


Meskipun acapkali solusi Bang Togar tidak membuahkan hasil yang bagus, akan tetapi karena julukan itu sudah melekat padanya, banyak teman-temanya sering mengajaknya bertukar fikiran ataupun hanya sekedar curhat belaka.


"Yasudah, mandilah sana kau.


Biar tampan kunampak wajah kau itu. Tidak kayak tempe gosong yang ada di warug Bi Inem," guraunya lagi sambil menghisap sebatang rokok.


Setyo pun bergegas mandi. Menyirami kepalanya dan tubuhnya.


Terasa lebih segar tubuh dan fikirannya, ketimbang tadi sebelum mandi.


Selesai mandi, Setyo memakai handuk dengan telanjang dada dan masuk ke dalam barak berjalan menuju lemari yang tak jauh disebelah tempat tidurnya.


Dia mengambil celana pendek dan kaos loreng dari dalam lemari dan memakainya.


Setyo melirik ke arah Bang Togar.


Terlihat Bang Togar sedang asyik menonton sinetron di televisi sambil menghisap rokok.


Nampak secangkir kopi hitam menemaninya.


"Wah...asyik banget Bang Togar ini rupanya, nikmat kali hidupmu Bang," gurau Setyo sambil menghampiri Bang Togar.


"Bisa saja kau, Yo," ucapnya sambil menyeruput kopi hitamnya.


Akhirnya obrolan pun dimulai, Setyo menceritakan semua kisahnya sangat detail.


Mulai dari awal pertemuannya dengan Mayang ketika menajdi maba saat kuliah dulu, awal pertaman kali menyukai Mayang, hingga saat Mayang memilih berpaling pada Radhit kakak tingkatnya yang merupakan ketua HIMAPALA kampus mereka.


Hingga cerita yang disampaikan ketiga sahabat Mayang tentang musibah yang menimpa Radhit di Gunung Semeru dan pertemuan terakhirnya kemarin dengan Rian saudaranya di rumah sakit.


Rian menyuruhnya untuk melupakan Mayang, karena takut dirimnya terluka mengetahui kebenaran tentang Mayang.

__ADS_1


"Nah...itu! Tak pintar kau rupanya, Yo," ucap Bang Togar tiba-tiba.


"Harusnya kau tau isyarat kata yang saudaramu ucapkan untukmu itu. Sepertinya ada sesuatu dibalik ucapan itu," tambahnya lagi sembari menghabiskan isi dalam gelas dan menaruhnya.


"Isyarat kata seperti apa Bang? Aku tak mengerti maksud Abang," ucap Setyo makin bingung dan penasaran.


Sambil mengisap rokoknya Bang Togar berkata, "Ah, kau ini Setyo. Macam anak SD kurasa. Malah lebih pintar anak SD dalam berpacaran ketimbang kau," gurau Bang Togar lagi.


"Maklumlah, Bang. Aku belum pernah pacaran. Berbeda dengan Bang Togar," protes Setyo sambil berlalu.


"Aku tahu kenapa kau disuruhnya melupakan Mayang," teriak Bang Togar.


Sambil berdiri dari tempatnya duduk tadi, dia berjalan menghampiri Setyo yang duduk di kursi tak jauh dari tempat tidurnya, "Kalau tidak karena dia sudah memiliki kekasih yang lain atau dinikahkan, mungkin saja si Mayang pacarmu itu sedang tekdung atau hamil," Bang Togar menekankan kata hamil dengan intonasi dan nada tinggi.


Setyo memandang Bang Togar, mencoba mencerna kata-kata yang diucapkan abang letengnya itu.


Namun, hatinya menolaknya.


'Nikah? Dengan siapa? Bukankah Kak Radhit baru saja meninggal dunia? Apa iya Mayang sedang hamil? Tapi bagaimana bisa?


Aku harus mencari tahu kabarnya Mayang secepatnya.


Entah dari Restu atau dari Dion.


Atau aku harus menghubungi Rian?


Tapi saat aku mencoba menghubunginya, dia mengabaikanku,' ucapnya dalam hati.


Setyo memutuskan mengirim pesan untuk Rian.


[Dan pesan itu berisi kalimat, 'Apa kau mengetahui sesuatu tentang Mayang? Katakanlah kepadaku, meskipun hatiku akan sakit dan hancur berkeping-keping, aku siap mendengarnya!']


Setyo mengirim pesan kedua karena pesan pertama tak kunjung dibalas.


Isi pesan kedua, 'Apa Mayang sudah menikah? Atau Mayang tengah hamil?' demikian pesan kedua yang dikirimkan Setyo untuk Rian.']


Sepuluh menit berselang akhirnya Rian membalas pesan singkat dari Setyo, begitu singkat dan padat.


Isi pesan dari Rian, berbunyi, 'Lupakanlah Mayang, dia sedang mengandung dan akan segera menikah!']


Bagaikan petir di siang hari, isi pesan dari Dokter Rian tadi membuat Setyo terkejut luar biasa.


Ibarat jatuh tertimpa tangga pula. Itu yang kini dia rasakan.


Apalagi setelah perjuangannya untuk menemukan Mayang.


Apa ini sia-sia belaka?


Hanya waktu dan takdir yang bisa mengungkap segalanya. Ternyata apa yang dikatakan Bang Togar ada benarnya,' ucapnya lirih.


Ditambah lagi malam itu, Dion sahabat Setyo memberi kabar yang sama dengan apa yang disampaikan oleh Rian.


Bahwa Mayang sudah meninggalkan Kota Surabaya karena sudah menikah dengan seseorang TNI AD yang berdinas di luar pulau jawa.


Dion tidak memberitahukan siapa pria itu karena dia, bahkan ketiga sahabatnya pun tak tahu.


Mayang pun sudah tak berkuliah lagi.


Saudaranya yang mengurus surat cuti kuliahnya.


Sungguh kejam takdir mempermainkan hati dan perasaannya, itu yang dirasakan oleh Setyo malam itu.


Wanita yang sangat dicintainya kini telah menjadi milik orang lain.


Hatinya begitu sakit bagai dihujami ratusan belati.


Sakit tak tertahankan, ketika menerima semua pesan itu.


Bahkan karena terpukulnya Setyo, malam itu dia sampai izin tidak bergabung dalam apel malam.


Fikirannya yang kacau membuatnya memutuskan untuk tetap dibarak.


Makan tak enak dan minum pun dirasa tak enak.


Sungguh kenyataan yang begitu pahit dan pedih.


Hatinya kembali luka untuk kedua kalinya.


Harapan dan impiannya musnah tak bersisa.


Hanya meninggalkan goresan luka dihatinya.


Luka yang takkan pernah bisa sembuh dan akan tetap membekas hingga ujung waktu.


\*\*\*\*\*\*\*""""\*\*\*\*\*\*


Rumah keluarga Mayang, perjalanan menuju rumah Radhif.


Keesokan harinya rumah telah ditata dengan apik untuk melaksanakan acara akad nikah.


Awalnya mereka berencana melaksanakan acara lamaran, akan tetapi esok hari Radhif dan Gilang harus kembali kesatuan mereka, karena masa cuti mereka akan segera usai.


Hal ini tak pernah diketahui oleh Mayang.


Yang dia ketahui, pagi itu dia hanya akan dilamar oleh keluarga Radhif.


Hal itu tetap dirahasiakan hingga satu jam sebelum acara akad nikah itu, Gilang dan ibunya memberitahunya.


Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur.


Mayang hanya bisa pasrah, terlebih lagi setelah akad nikah itu dia harus pindah kerumah Radhif.


Hanya tangisan dan airmata yang menjadi saksi betapa sedihnya hati Mayang.


Pernikahan ini, baginya terlalu cepat.


Masih belum mantap hatinya menerima Radhif.


Tapi demi janin yang dikandung dan juga masa depannya.


Dia harus mengabaikan semua rasa didalam hatinya.


"Sah!"


"Sah" ucap para hadirin dan juga saksi.


Hadirin yang merupakan keluarga kedua belah pihak mengucapkan doa dan bertepuk tangan serta memberikan selamat kepada kedua mempelai.


Gilang sebagai wali nikah untuk Mayang, merasa bebannya telah berkurang.


Karena ini semua beban itu telah beralih menjadi tanggung jawab sahabatnya Radhif.


Adik perempuan sematawayangnya kini telah menjadi istri yang sah menurut agama, hanya saja Radhif belum mengurus semua berkas pernikahan dinas.


Esok hari Radhif dan Gilang serta sang ibu akan kembali ke Papua.


Tinggallah Mayang yang akan menetap bersama keluarga Pratama.


Bahagia rasanya hati sang mertua, mendapatkan seorang anak mantu.


Apalagi Ibu Pratama tak memiliki anak gadis.


Kali ini dia merasa beruntung karena Mayang menjadi menantunya dan akan memberikannya cucu.


Sudah lama hal itu di nantikannya.


Namun, Radhif selalu saja menolaknya.


Sedangkan mendiang Radhit masih kuliah dan hendak meneruskan pendidikan militer.


Hingga akhirnya, keinginannya terwujud, meskipun dengan cara yang tak pernah diinginkannya.


Bu Dian hanya bisa pasrah dan berserah diri atas apa yang menimpa Radhit sang putra.


Dia sudah mengikhlaskannya, dan kini berharap mendapat cucu yang soleh/soleha dari Mayang yang mengandung darah daging Radhit almarhum putranya.


Nampak Mayang terus saja menangis, "Ibu, Mayang masih belum mau berpisah dengan Ibu."


"Mayang ingin Ibu tetap disini bersama Mayang," ucapnya tanpa berhenti menangis.

__ADS_1


"Ayolah, Nduk. Kuatkan hatimu. Jadilah wanita tangguh, hadapi semua ini."


"Toh Ibu Radhif juga sangat sayang kepadamu. Terimalah mereka seperti ayah dan ibumu sendiri," ucap sang ibu menenangkan putri semata wayangnya itu.


Dengan segala cara Gilang dan sang ibu memberi pengertian, Bu Dian pun ikut memberi perhatian kepada Mayang.


Kebaikan sang mertua barunya membuat benteng pertahanannya runtuh.


Akhirnya sore itu Mayang turut serta bersama Radhif dan keluarganya pulang ke kediaman mereka.


Di dalam mobil Mayang hanya diam tertunduk.


Masih membekas dalam ingatannya tadi, ketika sah menjadi istri Radhif dia mencium tangan itu dan Radhif mencium keningnya.


Kenangan itu kembali lagi, saat menikah siri dengan mendiang Radhit.


Airmatanya pun menetes, semua ini membuatnya semakin terluka.


Hidup dalam bayang-bayang Radhit.


Apalagi melihat rupa Kak Radhif yang sangat mirip dengan Radhit.


Bagaikan melihat pantulan cermin.


"Ya, Allah, kuatkanlah hatiku. Bentengi hati ini hingga anak yang ku kandung ini lahir.


Maka aku harus memilih jalan hidupku sendiri.


Aku tak mau hidup dalam bayang-bayang masalalu.


Biarlah aku pergi jauh dari kehidupan Kak Radhif,' tangis Mayang dalam hati.


Sejak mengucapkan akad tadi, Radhif hanya sekali menyentuh Mayang.


Mencium keningnya.


Untuk seterusnya dia berjanji tak akan menyentuh Mayang lagi, karena Radhif telah berjanji kepada Mayang pernikahan mereka hanya sebagai legalistas, demi anak yang dikandung Mayang dan demi masa depan Mayang.


Dia tak mau adik dari sahabatnya itu dianggap wanita tak bermoral karena hamil diluar nikah.


Semua itu karena pernikahan siri terdahulunya dengan mendiang Radhit adik kembarnya.


"Hapuslah airmatamu, jangan membuat ayahku dan ibuku sedih karena tangisanmu," ucap Kak Radhif tanpa menengok kearah Mayang.


Tatapannya tetap kedepan, fokus menyetir mobil.


Mayang hanya diam, kemudian tangganya menghapus airmatanya.


Namun karena tisu tak ada di mobil itu, Radhif memberikan saputangan biru yang menjadi hiasan pada jas putihnya itu.


"Pakailah ini!" ucapnya sambil menyodorkannya kepada Mayang.


"Deg!"


"Apa ini?!"


Hal yang sama yang pernah terjadi ketika mendiang Kak Radhit memberikan saputangan biru untuknya," ucapnya perlahan.


Ketika itu hukuman lari siang yang diberikan Kak Radhit untuknya membuatnya lelah dan berkeringat.


Saputangan itu diberikannya untuk menyeka keringat yang bercucuran.


Dan kali ini berbeda, Kak Radhif memberinya sapu tangan untuk menghapus airmatanya.


Mobil telah sampai di halaman depan rumah keluarga Pratama, sang ibu dan ayah Radhif telah sampai duluan dirumah.


Kini mereka berdiri didepan rumah untuk menyambut kedatangan Mayang dan Radhif.


"Hati-hati, Nak!" ucap sang ibu.


"Ayo, sini Ibu tunjukkan kamar pengantinnya."


"Pastinya kamu akan suka, ibu sudah mendesainnya sebagus mungkin untuk calon menantu ibu yang cantik ini," ucap Bu Dian sambil menggandeng Mayang naik ke lantai dua.


"Ehhhhheeeemmmm, terus aku gimana, Bu?" tanya Radhif pura-pura cemberut.


"Kamu ganti baju dan mandi dulu sana di kamar tamu, habis itu baru boleh ke kamar pengantin ya, bener gak May?" ucap sang ibu menggoda Mayang dan Radhif.


Pak Pratama ayah Radhif hanya tersenyum melihat perlakuan sang istri terhada menantu dan putranya itu.


"Sudahlah, Bu. Jangalah mengganggu acara malam penganti ini, ayo kita jalan-jalan aja.


Papa sudah pesankan kamar hotel yang nyaman buat kita berdua," ucap Pak Pratama menggoda sang istri.


"Benarkah itu, Pa?" ucap Bu Dian.


"Iya benar. Makanya jangan ganggu mereka lagi, yuk kita cari udara segar diluar Ma," tambah Pak Pratama.


"Baiklah, Pa. Aku akan kembali setelah mengantarkan menantuku ini, dan memberinya bekal untuk malam pengantinnya," balas Bu Dian sambil mengerlingkan matanya.


Radhif dan sang Papa pun tertawa, berbeda dengan Mayang sejak tadi dia hanya diam dan membisu.


Tak ada senyum dibibirnya.


Hanya guratan kesedihan diwajah cantiknya itu.


Entah apa yang difikirkannya.


"Ayo, sayang kita ke kamar atas. Jangan biarkan Radhif menunggumu," ujar Bu Dian berlalu bersama Mayang menuju lantai atas.


"Inilah kamarmu dan Radhif. Sekarang ibu akan membantumu melepaskan sanggul dan menyimpan baju kebayamu."


"Kenakanlah ini untuk malam ini, ibu sudah menyiapkannya untukmu.


Ini khusus ibu belikan untukmu sayang," ucap Bu Dian sambil menyodorkan kotak yang berisi baju tidur untuk Mayang.


Tanpa menaruh curiga dan memperhatikan isi dalam kotak tersebut Mayang pun mengambilnya.


Membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Disana Mayang mengganti kebaya yang digunakannya tadi untuk acara akad nikahnya dengan handuk putih besar yang digunakannya membungkus tubuhnya.


Setelah memberikan kebaya tersebut kepada sang mertua Mayang kemudian masuk kembali ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sebelum kembali ke kamar mandi, Bu Dian pamit keluar sambil membawa serta kebaya yang dikenakan Mayang.


Mayang yang melihat tingkah sang mertua tak merasa curiga sama sekali akan niat atau rencana konyol Bu Dian untuknya malam ini.


Hingga rencana itu disadarinya saat hendak mengganti handuk mandinya tadi dengan baju tidur.


Di fikirnya kota itu berisi piyama dan baju tidur pada umumnya.


Akan tetapi ternyata isinya adalah 'lingrie' sexy yang dibelikan sang mertua untuknya.


Wajah Mayang pucat pasi, apa yang akan terjadi bila Radhif melihatnya mengenakan baju tidur itu.


Sangat memalukan, namun tak ada pilihan lain.


Koper miliknya masih ada didalam bagasi mobil.


Dan tak mungkin pula Mayang menggunakan 'lingrie' itu diluar kamar.


Alhasil malam itu Mayang hanya terdiam dan menyelimuti dirinya diatas tempat tidur.


Ia khawatir bila Kak Radhif akan masuk ke kamar dan melihatnya dalam keadaan yang vulgar.


Sungguh konyol dan gila ide sang mertua.


Membuatnya dalam dilema.


'Ya, Allah, semoga Kak Radhif tidak ke kamar ini, tapi kalau dia tidak ke kamar ini, bagaimana aku memintanya membantuku mengambil koper bajuku yang ada di dalam bagasi?' batin Mayang berusaha berfikir mencari jalan keluar.


...*****""""""******...


*Apakah Setyo akan tetap mencintai Mayang setelah mendengar kebenaran itu?


*Berhasilkah rencana Bu Dian, membuat malam pengantin yang romantis bagi putra dan menantunya itu?


*Bagaimana reaksi Radhif saat melihat Mayang, mampukah Radhif memegang janjinya untuk tidak menyentuh Mayang dan tetap akan menceraikan Mayang?

__ADS_1


Nantikan kisahnya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" part 49. Terimaksih 🙏😍



__ADS_2