
Dua kabar yang menyesakkan dada (Bagian ketiga)
----Rumah sakit M, pusat kota Malang----
...-*Kilas Balik part sebelumnya*-...
Radhif tertegun saat menatap wajah Mayang. Di sudut matanya menetes buliran bening. Ternyata meskipun Mayang tak sadarkan diri, dia masih merespon ucapan Radhif. Seperti yang terlihat saat ini, Mayang menangis mendengar ucapan Radhif yang ditujukan kepadanya. .
"Kau mendengarkanku? Dengarlah sayang, aku akan selalu ada untukmu. Aku takkan pernah meninggalkanmu, meskipun saat kau sadar nanti mungkin saja kau membenciku karena musibah ini terjadi akibat kecerobohan dan keegoisanku," ujar Radhif dengan penuh penyesalan.
Kembali lagi Radhif memandang lekat wajah Mayang, buliran bening menganak sungai di sudut mata Mayang. Wajahnya kini semakin kusut tak bercahaya, ketampanannya nampak mulai memudar setelah beberapa hari berkutat dengan kepenatan yang mergerogoti tubuhnya dan berbaur dengan suasana rumah sakit demi menjaga Mayang. Keadaan Mayang yang kini semakin memburuk membuat Radhif tak pernah berfikir sedikit pun untuk beranjak pergi dari sisi Mayang. Jika tiba waktu sholat maka dia akan pergi sholat bila memang ada suster atau perawat yang menggantikan tugasnya menjaga Mayang. Selebihnya bila memang tidak ada yang menggantikannya maka Radhif akan sholat dan beristirahat di kamar sembari menjaga Mayang yang masih tak sadarkan diri. Namun, ini baru beberapa jam sejak mereka pindah dari rumah sakit lama. Kini mereka berada di rumah sakit rujukkan. sebentar lagi Mayang akan di operasi. Entah mengapa perawat yang bertugas belum juga datang untuk memeriksa Mayang sebelum melakukan rencana operasi tersebut.
Sesaat ketika dirinya hendak berjalan keluar ruang kamar untuk memeriksa keadaan di luar ruang kamar, terdengar sebuah ketukan yang cukup kencang berasal dari pintu depan kamar di ruang VVIP tersebut.
"Tok...tok...tok...!!!" suara pintu terdengar kembali.
"Assalamu'alaikum!" suara seseorang memberi salam di balik pintu kamar tersebut.
"Wa'alaikumsalam!" Radhif membalas salam tersebut sembari membukakan pintu.
"Maaf kami perawat yang akan memeriksa kondisi Ibu Mayang sebelum operasi. Apa istri Anda sudah siuman?" tanya salah seorang perawat wanita yang di papan namanya tertulis nama Niken.
"Belum, Sus. Masih belum siuman," balas Radhif sambil mengarahkan pandangannya ke arah ranjang tempat Mayang terbaring.
"Bisa saya periksa keadaan istri Anda, Pak Radhif?" ucap perawat satunya yang di papan namanya bertuliskan nama Dian.
"iya, Baik. Silahkan, Sus!" ucap Radhif mempersilahkan kedua perawat tersebut memeriksa kondisi Mayang sebelum melakukan operasi persis seperti apa yang sudah dokter Bima katakan.
------Di ruang kerja Dokter Bima------
Wajah dokter tampan itu sedikit tegang, tangan kirinya menopang dagu dan jemari tangan kanannya memainkan pena berwarna gold miliknya.
__ADS_1
'Apa aku salah orang? Mungkinkah nama pasien tadi hanya kebetulan sama dengan Mayang yang pernah aku kenal? Tapi apa iya namanya sama persis? Secepat itu kah Mayang menikah? Setahuku Mayang masih kuliah semester akhir,' gumam Bima dalam hati.
Perlahan dibuka kembali berkas laporan medis milik pasien bernama Mayang itu. Bukan hanya sekali tetapi berkali-kali dibuka dan dibacanya. Namun, hasilnya tetap sama, tak ada sesuatu yang bisa menguatkan alibinya bahwa Mayang pasiennya merupakan Mayang gadis kecil yang cantik dan penuh energi. Gadis yang sempat mencuri perhatiannya semasa SMA. Gadis tomboi adik kesayangan sahabatnya yang bernama Gilang.
'Haruskah aku menghubungi Gilang? Akan tetapi itu nomor ponsel yang diberikan oleh Gilang setelah lulus pendidikan AKMIL di Magelang. Apa masih aktif? Kenapa hatiku begitu gelisah? Apa perasaan ini akan bersemi kembali setelah aku mengetahui semua kebenaran bahwa dia memang Mayang gadis tomboi kesayanganku?' ucapnya dalam hati.
Diraihnya ponsel dalam saku jas putih miliknya. Tangannya meraih benda pipih itu dan mulai mencari no sahabatnya Gilang.
Namun, beberapa saat kemudian dirinya berhenti mengutak-atik ponsel yang berada dalam genggamannya itu.
'Sebaiknya aku tidak menghubungi Gilang. Aku khawatir bila pasien itu bukan Mayang adik dari Gilang sahabatku. Semua akan kacau jika itu benar bukan Mayang. Sebaiknya aku mencari tahu lewat pria yang sedang menjaga pasien yang bernama Mayang itu. Apa benar itu suaminya? Semoga saja dia tidak curiga,' gumamnya dalam hati. Kali ini Bima bangkit dari tempat duduknya kemudian merapikan meja kerjanya dan berjalan keluar ruangannya. Hati dan fikirannya seakan bertentangan. Meski demikian kakinya telah bergerak menjauh dari ruang kerjanya tadi. Hari itu dalam fikirannya di penuhi rasa penasaran dan begitu banyak pertanyaan tentang siapa jati diri pasien yang berada di kamar VIP mawar nomor 86. Dorongan dari dalam hatinya yang kian menggebu telah membawa dirinya terus menyusuri koridor rumah sakit yang lengang. Langkah kakinya terlihat mantap berjalan menuju kamar pasien bernama Mayang tersebut.
Ketika melewati koridor yang menghubungkan loby rumah sakit, dirinya bertemu dengan seseorang yang tak asing baginya. Pria tersebut terlihat sedikit tegang dan nampak gusar seperti mencari seseorang. Bima pun menghentikan langkah kakinya berbalik arah berjalan menuju loby depan rumah sakit.
Sesaat setelah sampai di depan loby rumah sakit. Hanya nampak salah seorang petugas rumah sakit yang sedang bertugas menjaga meja resepsionis. Sepertinya yang lain sedang beristirahat atau sholat karena jam telah menunjukkan pukul 05.00 wib.
"Pagi, Dok!" ucap petugas yang berdiri di meja resepsionis. Terlihat dirinya sedang berbincang dengan pria tadi. Pria tersebut menggunakan training olahraga bertuliskan batalyon M.
"Sudah, Sus. Tadi sama-sama yang lain di musholah. Kemudian dokter muda itu mengalihkan pandangannya ke arah pria tadi.
"Nyari siapa, Mas? Sepertinya saya kenal, tapi kita pernah ketemu dimana ya? Saya mulai pikun kayaknya," ucap Dokter Bima sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
Wajah pria tersebut kemudian berubah. Ekspresinya yang tadinya gelisah dan gusar kini mulai menampakkan sedikit rileks. Kemudian dirinya menatap sang dokter yang berdiri dihadapannya itu sambil menyodorkan tangannya.
"Saya Setyo, Dok. Saudara sepupunya Dokter Rian yang bekerja di rumah sakit ini sebagai dokter umum sebelum dirinya memutuskan untuk mengambil spesialis," ujar Setyo kepada pria berjas putih dihadapannya tersebut.
"Oh, iya, benar. Anda Setyo saudaranya Dokter Rian. Kita pernah bertemu di ruangan Dokter Rian. Saya hampir lupa. Maafkan saya ya Mas Setyo," balas Dokter Bima tersipu saat Setyo mengingatkan kembali siapa dirinya.
"Sedang apa di sini, Mas? Apa ada teman atau saudara yang sakit?" tanya Dokter Bima penasaran dengan kedatangan Setyo sepagi ini kerumah sakit tempatnya bekerja.
Setyo terlihat bingung ketika Dokter Bima menodongnya dengan beberapa pertanyaan. Dirinya tak tahu harus berkata apa. Dia takut salah menjawab pertanyaan dokter muda itu. Khawatir bila nantinya akan keceplosan dan terungkap kebenaran dan tujuannya datang kerumah sakit.
__ADS_1
"Saya menemani senior saya yang mengantarkan istrinya melahirkan, Dok. Sebentar lagi saya kembali ke batalyon bersama ambulans yang tadi mengantarkan istri senior saya.
"Owh, saya kira Mas Setyo belum tahu kalau Dokter Rian sudah sekolah lagi untuk mengambil spesialis," balas Dokter Rian.
"Sudah, Dok. Rian sudah memberitahu saya," ucapnya lagi.
"Baiklah kalo begitu, saya harus memeriksa pasien. Selamat bertugas ya, Mas Setyo. Saya masuk dulu. Sampai jumpa lagi," ujar Dokter Rian menyalami Setyo kemudian meninggalkannya.
Akan tetapi baru berapa langkah terdengar suara perawat tadi memanggil nama Dokter Rian.
"Dokter, ini surat hasil donor darah yang ketinggalan. Supir ambulans sempat menitipkannya di meja resepsionis. Bukankah pasien yang bernama Mayang adalah pasien rujukan dari rumah sakit M. Pasien tersebut di tangani oleh Dokter Bima? Siapa tahu dokter membutuhkan laporan ini," ujar sang perawat.
"Iya, coba saya lihat isi laporan tersebut? Biar saya yang menyerahkan surat itu kepada keluarga pasien. Terima kasih ya, Sus," seru Dokter Bima sembari tersenyum dan berbalik arah melanjutkan langkah kakinya menuju kamar milik pasiennya yang bernama Mayang.
-------Kamar VIP mawar no 86------
Di ruang kamar VIP tersebut nampak Radhif tengah berfikir keras. Dirinya seolah tak percaya dengan apa yang di sekilas dilihatnya tadi. Namun, semua itu di tepisnya ketika melihat keadaan Mayang yang belum juga sadarkan diri. Saat dirinya tadi berjalan kembali sehabis melaksanakan sholat subuh di musholah tadi, dirinya sempat melihat seorang pria yang mirip sekali dengan Setyo tapi untuk apa Setyo ke rumah sakit ini? Bukannya dokter umum yang merupakan saudara sepupunya sedang menempuh pendidikan spesialis. Lalu mengapa dirinya berada di lingkungan rumah sakit pada saat jam dinas?" gumam Radhif seraya melangkahkan kakinya menuju pintu ketika terdengar seseorang mengetuknya.
...----------Bersambung----------...
*Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana reaksi Radhif saat menerima surat atau laporan dari rumah sakit terdahulu yang berisi data pendonor untuk Mayang?
*Apa Dokter Bima berhasil mengorek keterangan tentang identitas Mayang?
*Apa operasi Mayang yang di lakukan oleh Dokter Bima berjalan lancar?
Nantikan kisahnya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" part 89. Terima kasih 🙏😍
Terima kasih sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Dukungan beruba komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.
__ADS_1