TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# PART 27


__ADS_3

🍃🍃🍃🍃🍃


Home, 30 September 2007


"Tiiiiiit,....tiiiit,...tiiiit.....!" bunyi nada sambung ketika aku mencoba menghubungi nomor ponsel Niar.


"Assalamu'alaikum!" suara Niar dari seberang sana terdengar memberi salam sesaat setelah tersambung.


"Ni...Niar...!" ucapku saat suara tadi mulai menghening.


Untuk beberapa saat aku terdiam mengatur nafas dan kemudian berkata,"Wa'alaikumsalam, Niar ini aku Mayang. Ada yang ingin aku sampaikan. Bisakah kita bertemu di taman kampus pagi ini?"


Untuk beberapa saat Niar diam tak menjawab, hanya hembusan nafas yang terdengar dari seberang sana.


Sepertinya berat bagi Niar untuk menjawab pertanyaanku.


Dan akhirnya terdengar suara dari seberang sana," Baiklah. Jam berapa kita bertemu?"


Sebenarnya apa yang ingin kamu sampaikan May?" tanya Niar lagi.


"Nanti aku sampaikan jika sudah bertemu. Aku mohon kamu datang. Jika tidak aku sangat kecewa." tambahku sembari menyudahi percakapan kami di telepon.


Sambil menyiapkan segala sesuatunya, aku bersiap hendak berangkat menuju kampus.


Dengan terburu-buru aku meninggalkan rumah. Tanpa berpamitan pada mas Gilang atau Mas Jhony juga mbak Enni istri dari mas Johny.


Sempat sebelum aku menyelinap pergi melalui pintu belakang, aku sempat melihat di garasi mobil masih terparkir mobil Calya putih milik mas Jhony. Itu menandakan mas Johny dan mas Gilang masih dirumah.


Sebab subuh tadi aku mendengar dari mbak Enni, bahwa pagi ini mas Gilang dan mas Jhony akan menemui mas Radhif di kediamannya.


Setelah 1 jam menempuh perjalanan dari Sidoarjo menuju Surabaya menggunakan angkot, sampailah aku ditaman kampus.


Kembali aku menghubungu Niar, kali ini hanya melalui pesan singkat yang aku kirimkan kepada Niar.

__ADS_1


Dan dengan membawa bekal uang secukupnya yang sudah aku ambil didepan kampus, di salah satu mesin ATM.


"Assalamu'alaikum, May!" terdengar seseorang memberi salam sambil menepuk bahuku.


"Apa yang ingin kau sampaikan kepadaku." tutur Niar seraya mencoba mencari tempat untuk duduk.


Aku kembali meneteskan airmata, sambil memegang tangan Niar aku mulai menyampaikan keinginanku.


Maksud sebenarnya kepada Niar, tentang kejadian semalam yang terjadi.


Dan tentang keinginanku untuk mendaki, mencari kak Radhit.


Awalnya Niar merasa enggan untuk menemaniku, mengingat kondisiku kurang baik untuk mendaki.


Tapi karena kegigihanku dan semangatku untuk menemukan kak Radhit sangatlah kuat.


Luluh benteng pertahanan Niar.


Hingga akhirnya kamipun beranjak ke kost untuk mempersiapkan segala sesuatunya, sebagai bekal dan persediaan saat melakukan perjalanan menuju gunung Semeru.


Kami mempercepat segala sesuatunya agar lebih awal sampai di pasar tumpang dan menuju ke titik pendakian di Ranu Pani.


Sebelumnya kami sudah menghubungi mas Davin yang masih setia melakukan pencarian bersama team SAR juga relawan saat ini.


Hanya saja kami tidak mengatakan bahwa sebenarnya kami kesana tanpa sepengetahuan keluarga.


Perjalanan panjang yang aku dan Niar tempuh sedikit menguras tenaga.


Karena untuk menghemat biaya kami menumpang truk yang menuju ke arah pasar tumpang yang kami temui saat berada di terminal.


Truk tersebut memuat sayuran yang sebelumnya berasal dari kota Malang.


Karena sayuran tersebut sudah di pasarkan kepada para pedagang alhasil bak truk tersebut kosong.

__ADS_1


Jadilah aku dan Niar menumpang truk tersebut.


Bermodalkan tekad dan doa akhirnya kami sampai di Pasar Tumpang pukul 13.00 Wib.


Setelah melakukan chek up dan juga membeli perbekalan tambahan kami berangkat menuju Ranu Pani menggunakan angkot yang memakan waktu sekitar 2 jam lebih dari Pasar Tumpang.


Sesampai di Ranu Pani, kami menunggu mas Davin yang sedang melakukan penyisiran bersama team SAR disisi barat gunung Semeru untuk mencari kak Radhit.


Saat tiba di Ranu Pani, cuaca sedikit gerimis dan puncak Gunung Semeru terlihat agak berkabut.


Saat itu kira-kira pukul 15.30 Wib.


Pada jam seperti itu, pendaftaran pendakian akan telah ditutup dan akan dibuka keesokan harinya.


Hatiku sangat bergejolak ketika melihat gunung Semeru.


Seakan gunung Semeru mempunya daya magic, membuatku tak bisa tenang dan semakin gelisah.


Rasanya tak sabar menunggu esok hari untuk mendaki dan mencari kak Radhit.


"Niar, aku tidak bisa menunggu esok hari. Aku harus mendaki sekarang juga. Apa yang akan terjadi pada kak Radhit bila kita hanya berdiam diri disini tanpa berusaha secepat mungkin menemukannya." ujarku pada Niar di sela2 tangisku.


Sambil membuatkan aku teh hangat Niar berkata,"Sabar May, berdoalah pada Allah, semoga kak Radhit masih selalu dalam lindungan Allah SWT."


Aku terdiam sesaat didalam isak tangisku aku berdoa kepada Sang Khalik, agar kak Radhit dijauhkan dari marabahaya dan di selamatkan dari musibah ini, agar kak Radhit bisa kembali berkumpul bersama kami lagi.


🍃🍃🍃🍃🍃


*Semudah itukah rencana Mayang dan Niar untuk mendaki?


*Apa Mayang dan Niar berhasil melakukan pendakian untuk menemukan Radhit?


*Bagaimana reaksi Gilang dan Radhif saat tahu Mayang pergi dari rumah untuk mendaki, demi menemukan Radhit?

__ADS_1


Nantikan kisah selanjutnya hanya di part 28 "TAKDIR CINTA MAYANG". Terimakasih 🙏🤗😍


__ADS_2