TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TADKIR CINTA MAYANG# PART 37


__ADS_3

πŸƒRumah RadhifπŸƒ


(Suasana di rumah Radhif)


Ciiiiiitttttt ...! Terdengar suara mobil memasuki halaman depan sebuah rumah mewah milik keluarga Pratama.


"Brruuukkkk...."! Kembali terdengar suara pintu mobil ditutup.


Setelah memberi salam kepada kedua orang tuanya, Radhif beranjak menuju kamarnya di lantai atas.


Membersihkan diri, sholat dan beristirahat sejenak.


Sempat tadi sang Ibu menanyakan kabar Mayang tapi aku belum bisa memberitahunya.


Setelah beristirahat sebentar, mungkin akan membuat 'fresh' otakku, maka aku akan memberitahu semuanya kepada Ayah dan Ibu.


Selang satu jam setelah kepulangannya, Radhif pun terbangun.


Tepat saat adzan isya.


Setelah sholat dan berdoa untuk ketenangan mendiang sang adik, serta memohon petunjuk agar dirinya mampu menyelesaikan masalah yang di hadapi Mayang. Radhif melangkah menuju ruang makan, letak ruang makan mereka berada dilantai satu dekat dengan ruang keluarga.


"Apa kamu mau makan Dhif?" tanya sang Ibu yang tengah memanaskan sayur dan lauk.


Sepertinya sang Ibu tahu bila Radhif sedang kelaparan.


Apalagi saat menjaga Mayang, Radhif tidk bernafsu makan.


Entah karena melihat keadaan Mayang yang seperti itu, atau memang sedang tak ingin menyantap sesuatu.


"Iya Bu, Radhif lapar sejak siang tadi belum sempat makan," tutur Radhif sambil mengelus perutnya.


"Kasiannya anak Bunda," ucap sang Ibu sambil membelai kepala Radhif yang sudah duduk di meja makan.


"Gimana keadaan Mayang, Dhif?" tanya sang Ibu sembari menata makanan di meja makan.


Sambil mengupas pisang Radhif menjawab, "Habis makan Radhif mau ngomong sama Ibu dan Ayah."


"Yasudahlah, Ibu tinggal sholat ya. Kamu makanlah dulu sampai kenyang, biar gak sakit," jawab sang Ibu.


Sang Ibu pun berlalu meninggalkan Radhif yang mulai menyantap setiap hidangan yang di sediakan sang Ibu tadi.


Tak berselang lama sang Ayah muncul diruang makan, menyapa Radhif kemudian duduk di ruang tamu sambil menyeruput teh hangat dan camilan yg sudah di siapkan ibunya Radhif.


Selepas makan malam yang tertunda itu, Radhif berjalan menuju tempat duduk sang Ayah.


Menanti sang Ibu yang melaksanakan sholat isya. kemudian Radhif mengambil posisi duduk dan mulai bercengkrama bersama ayahnya, karena setelah berdinas jauh dari kota ini, sangat jarang Radhif bisa bertemu langsung dan berdiskusi bersama sang Ayah.


Obrolan panjang terjadi diantara mereka, hingga membahas tentang Mayang dan Radhit mendiang sang adik.


"Apa yang sebenarnya terjadi sangat membuat Mayang syok dan terpukul Yah," ujar Radhif sambil tertunduk lesu.


"Bagaimana kondisinya ketika kamu pulang tadi Dhif?" tanya sang Ayah pada Radhif.


'Sesaat Radhif bimbang untuk mejampaikan hal tersebut kepada orang tuanya, tapi lambat laun semua akan tahu kehamilan Mayang,' gumamnya dalam hati.


Kini Ibu Radhif sudah selesai sholat dan bergabung bersama mereka.

__ADS_1


Dengan seksama Dia mendengarkan segala penjelasan Radhif mengenai kondisi Mayang ketika mendaki hingga dibawa kerumah sakit.


"Sungguh Malang nasib Mayang," ujar sang Ibu penuh iba.


"Hhhhuuuummmmmffft...!" Radhif menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat.


"Ada hal penting yang ingin Radhif sampaikan kepada Ayah dan Ibu," tambahnya dengan nada berat dan bergetar.


Kembali Radhif menarik nafas dan menghembuskannya, sambil berkata, "Mayang sedang mengandung anak Radhit Bu," terdengar suara yg berat dan sedih dari mulutnya.


"Apa kamu bilang? Hamil?" ucap sang Ibu dengan nada kaget.


Begitu pula sang Ayah, raut wajahnya nampak rasa tsrkejut yang luar biasa setelah mendengar hal tersebut.


Terjadi perdebatan diantar keluarga Pratama malam itu.


Membahas masalah besar yang harus segera mungkin mereka selesaikan.


Hingga diambil sebuah keputusan yang bulat diantara mereka.


"Baiklah Ayah dan Ibu harus secepatnya menemui Mayang, meyakinkannya untuk melakukan semua ini, setelah itu aku akan memberitahu Gilang," suara Radhif menutup percakapan malam itu.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


****Batalion X******


(Di sudut kantor staf batalion X, kota Malang)


"Hai, setyo....!" sapa seseorang sambil nepuk pundaknya.


"Siap Dan!" ujarnya sambil memberi hormat.


"Kamu malam-malam kok melamun, ngapen kamu selarut ini masih di kantor?" tanya sang danton.


"Siap Dan, saya lembur menyelesaikan laporan untuk besok," balas Setyo tanpa memalingkan wajahnya dari komputer yang ada didepannya.


"Lanjutkan Kawan!" seru sang danton lagi sembari mengambil sesuatu dari balik laci.


Ternyata sang danton mengambil sebuah album saat pelantikannya, disana nampak dua orang perwira yang mengapitnya disebelah kiri dan kanan.


Mereka adalah kakak asuh dari Danton Heru.


"Aku bosan dirumah sendirian Yo, habis ini temani aku main Play Station dirumah ya, bisa gak?" tanya sang danton.


"Siap Danton," ujar Setyo mantap.


"Tapi sebelumya kita cari makan dulu ya, aku yang traktir," tambahnya lagi.


Sang danto kemudian membuka album lama tersebut, dan larut dalam kegiatannya sendiri.


Hingga akhirnya selesai kerjaan Setyo mereka berdua pun melangkah pergi dari kantor.


Sesampainya dirumah sang danton, mereka berdua membersihkan diri dengan mencuci tangan dan menyantap nasi goreng yang telah mereka beli tadi.


Setelah itu mereka melanjutkan misi mereka dengan memainkan 'Play Station' seperti perjanjian awal tadi.


Puas bermain akhirnya mereka tertidur karena lelah.

__ADS_1


Waktu berjalan begitu cepat, sepertinya baru sejam lalu mereka tidur.


Kini suara adzan subuh telah berkumandang.


Sangat jelas terdengar karena rumah Danton Heru berada tak jauh dari Masjid yang berada didalam area kesatuan mereka.


"Ijin Dan, saya pamit pulang ke barak," ucap Setyo sambil menbereskan semuanya.


"Owh...ok, aku juga mau mandi sholat dan tidur lagi Yo," tutur sang danton muda itu.


"Dan jangan lupa saat apel pagi jemput saya!" serunya lagi.


"Siap!" ucap Setyo sambil mengambil kunci motor dan beranjak keluar dari rumah sang danton.


Sesampainya di barak bujang, Setyo lalu menuju tempat tidurnya, untuk segera mandi dan menuju masjid.


Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, Setyo kembali kebarak bujangan.


Mempersiapkan diri untuk mengikuti apel pagi.


Dan akhirnya Setyo tersadar bahwa laporan pagi tadi lupa di print karena terburu mengikuti ajakan Danton Heru semalam.


Alhasil Setyo segera bergegas menuju kantor staf.


Namun saat memasuki ruangan kerja, matanya tertuju pada sebuah album diatas meja sang komandan.


Rasa ingin tahunya sangat besar, hingga akhirnya kakinya melangkah mendekati meja dan membuka albun foto tersebut.


Lembar demi lembar dibukanya, hingga matanya tertuju pada sebuah foto.


Di foto tersebut nampak Danton Heru dengan dua orang abang letengnya berdiri sambil berangkulan.


Yang sangat mengejutkan Setyo salah seorang di foto tersebut wajahnya sangat familiar baginya.


'Wajah ini sepertinya aku kenal, tapi dimana ya?' batinnya.


Berusaha keras Setyo mengingatnya hingga sebuah nama terucap.


"Iya ini pasti dia adalah Radhitya Putra Pratama," pekik Setyo tanpa sadar.


Dengan seksama Setyo melihat foto itu, seakan-akan tak bisa menutupi perasaannya akan masa lalunya dulu.


'Tapi dipapan namanya tertulis Radhif, apa benar ini Radhit? Atau hanya mirip saja wajahnya?' gumam Setyo lagi.


"Aku harus menanyakannya kepada Danton Heru, siapakah pria yang ada dalam foto ini," ucapnya setengah berbisik.


Secepat kilat Setyo beranjak menuju rumah sang danton, tanpa memikirkan lagi kerjaan yang belum sempat dikerjakannya.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


*Apa keputusan yang diambil keluarga Pratama malam itu?


*Dan apa yang akan terjadi setelah Setyo mengetahui bahwa Radhit telah meninggal dan Rahif adalah kembarannya.


Nantikan kisah selanjutbya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" part 38.


Terimakasih πŸ™πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2