
****Kelas, 10.30 Wib****
Kelas baru saja usai 30 menit yang lalu, ku lirik jam tanganku, tepat pukul 10.30 Wib.
Siang ini tepat jam 12.00 Wib, pendaftaran anggota HIMPALA baru akan di mulai, pendaftaran akan di buka selama 3 hari.
Dan hari ini kak Radhit memintaku untuk mendaftar sebagai anggota baru HIMAPALA, dengan bergabungnya aku sebagai anggota baru, itu berarti aku menerima cintanya kepadaku.
Namun, jika aku tidak datang dalam kurun waktu 3 hari ini, itu berarti aku dan kak Radhit tidak akan pernah terjalin hubungan apa-apa lagi.
Dion berjalan ke arahku sambil memberikan sesuatu," May..., ini tugas dari teman-teman sekelas. Sekarang juga harus di kumpulkan di meja pak Dwiarno, aku gak bisa ngantar ke ruang dosen. Aku harus pergi, kali ini aku ada keperluan penting. Jam perkuliahan terakhir aku gak bisa ikut. Tolong sampaikan ke dosen kalo aku ijin ya."
Tanpa menunggu jawaban dariku, kertas yang ada di tangan Dion di letakkannya di atas mejaku dan berlalu begitu saja.
Entah keperluan apa yang membuatnya hingga mengorbankan jam kuliahnya.
Tidak seperti biasanya, Dion cowok kutu buku, pandai dan pendiam itu bersikap seperti itu.
Tapi aku coba tuk berfikiran positif, mungkin benar apa yang di katakan Dion, dia ada keperluan keluarga yang sangat penting sehingga dia harus ijin dari perkuliahan siang ini.
Ku pandangi tugas teman-teman yang harus segera di kumpulkan, biasanya tugas-tugas ini wakil PK yang mengantarkannya, pembagian tugasku dan Dion sebagai ketua dan wakil.
Sudah kami sepakati dari awal.
Tapi kalo kayak gini, akhirnya aku harus keluar dari persembunyianku dan pergi ke ruang dosen.
Dimana disana berada kak Radhit yang sementara ini menggantikan pak Dwiarno yang sedang cuti.
Sungguh benar-benar dilema, bak memakan buat simalakama.
Maju kena mundur kena.
Tak habis fikir mengapa ini bisa terjadi.
Di saat seperti ini, Ika dan Restu yang seharusnya bisa aku minta tolong dan aku andalkan malah menghilang.
Entah kemana mereka sampai detik ini belum kembali dari perpus kampus.
Memang lumayan jauh jaraknya dari kelasku.
Apalagi perpus kampus berada di dekat rektorat dan fakultas tekhnik.
Dengan langkah berat aku berjalan menuju ruang dosen. Berharap kak Radhit sedang memberi kuliah untuk kelas lain, atau sibuk dengan kegiatannya di basecamp anak-anak HIMAPALA, sehingga aku tidak bertemu kak Radhit.
Sesaat setelah sampai di depan ruang dosen, mataku menatap kosong ke arah pintu, tanganku tang sanggup untuk meraih gagang pintu tersebut.
Dengan nafas yang berat dan terasa sesak, ku ketok pintu itu, lalu kuraih pegangan pintu dan membukanya.
Alhamdulilah, didalam ruangan itu tidak ada seorangpun, sunyi.
Mungkin karena sudah siang, banyak dosen yang memilih istirahat ato mungkin ada yang masih memberikan kuliah kepada siswanya.
Dengan langkah ringan tidak seperti tadi awal aku menuju ruang dosen. Kuletakan semua tugas itu di meja kerja pak Dwiarno, lalu bergegas keluar dan kembali ke kelasku.
__ADS_1
Namun saat aku akan membuka pintu, terdengar suara orang menggerang kesakitan.
Tak sengaja pintu itu aku dorong dan mengenai jidatnya.
"Auchhh....!" terdengar erangan seseorang dari balik pintu.
Dengan gusar aku mencoba mencari sumber suara itu, aku berharap bukan dosen killer yang menjadi korban keteledoranku.
Dan ternyata, sangat terkejutnya aku dia sumber suara tadi ternyata adalah kak Radhit.
Sambil memegang kepalanya yang sakit dia menoleh ke arahku.
"Kamu....," ucap kak Radhit.
Dan kali ini aku hanya bisa memandangnya, tetap terdiam mematung, tak dapat berkata apa-apa.
Dering telepon di HPku membuatku tersadar, ku dorong kak Radhit dan aku segera berlalu berlari menyusuri koridor meninggalkan kak Radhit yang masih merintih kesakitan karena kejadian tadi.
Sesampainya aku di kelas, ku buka HPku, melihat siapakah gerangan yang menelponku.
Ada 1 panggilan tak terjawab dari Ika, ternyata mereka telah kembali dari perpus dan mencari keberadaanku.
******
kampus,22 Agustus 2004
Dua hari berlalu sejak kepergian Setyo, terasa ada yang kurang di kelas.
Aku masih tak bergeming, masih belum bisa memutuskan.
Siang ini jam kuliah kami kosong, dosen yang akan memberikan kuliah tidak dapat hadir.
Aku, Restu dan Ika menghabiskan waktu kami, dengan mengerjakam tugas di taman kampus.
Udara cukup terik hingga kami memutuskan untuk bersantai di taman, meskipun di kelas menggunakam AC. Namun suasana alam lebih segar di bandingkan ruang kelas.
Dan saat itu tanpa sengaja, kak Radhit terlihat melintas melewati korir yang tak jauh dari tempat kami duduk tadi.
Kali ini aku tak sadar akan kedatangannya karena fokus dengan materi dan labtop yang ada di depanku.
Hingga dia duduk tepat di depanku.
Sesaat aku tersadar dan mencoba untuk pergi.
Tapi dengan sigap kak Radhit meraih tangan dan labtop yang ada di genggamanku sambil berkata," Sampai kapan kamu mau menghindar dariku May? Apa dengan menghindar dan bersembunyi dariku semua ini selesai?
Jangan bersikap kekanak-kanakkan.
Jujurlah pada dirimu, terutama pada hatimu."
Aku mencoba melepaskan pegangannya, tetap diam tak mampu menatap wajahnya dan tak mampu berkata-kata.
Hanya bisa tertunduk dan diam seribu bahasa.
__ADS_1
"Besok hari terakhir pendaftaran calon anggota baru HIMAPALA. Aku tak memaksamu untuk ikut serta, ataupun memaksamu untuk menerimaku.
Tapi aku cuma ingin Kau jujur pada hatimu, jujurlah pada perasaanmu.
Jika memang Kau sudah memutusakannya, aku terima semua keputusanmu May, satu hal yang perlu kau tau.
Tanggal 04 bulan september 2004 ini aku dan calon anggota baru akan pergi ke Gunung Semeru.
Aku hanya ingin kau tau kalo aku menyukaimu, sejak aku melihatmu pertama kali saat OSPEK.
Jujur aku mencoba untuk menepis semua rasa itu, hingga aku bertemu denganmu lagi ketika menggantikan pak Dwiarno memberi kuliah di kelasmu.
Dan satu hal lagi yang harus kau tau, jika memang Kau tak ikut bersamaku mendaki Gunung Semeru, aku tetap akan membuktikan seberapa besar cintaku untukmu.
Akan aku taruh di atas puncak Gunung Semeru bukti cintaku padamu.
Agar kau tau bahwa aku serius, belum pernah aku melakukan ini untuk siapapun.
Aku ingin kau menjadi labuhan terakhir untukku.
Dan aku berharap cintaku menjadi yang pertama dan terakhir yang mengisi relung hatimu.
Meskipun aku tau aku bukan orang pertama kau cintai dan orang pertama yang hadir mengisi hari-harimu.
Doakan aku dan teman-teman HIMAPALA selamat hingga sampai puncak dan kembali lagi ke kampus ini.
Namun jika aku tidak kembali, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tulus mencintaimu." pelan namun tegas suara itu ku dengar, mengoyak ego dan dinding hatiku.
Seketika itu, rubuhlah benteng pertahananku.
Tak sanggup rasanya.
Seolah dunia ini berhenti saat kak Radhit mengatakan semua itu.
Belum sempat aku berkata, kak Radhit telah berlalu, hanya bisa kau pandangi sosoknya dari belakang.
Ada rasa bahagia namun juga rasa sedih dan sesal.
Andai saja tak ada Setyo, aku akan menerimamu hari itu juga, di lapangan basket.
Tapi di antara kita ada Setyo dan Nabila.
Aku tak mau bahagia di atas penderitaan orang lain kak, bisikku lirih dalam batinku.
*******
*Apakah Mayang akan membuang semua egonya dan mengikuti keingan Radhit?
*Apa yang sebenarnya di rencanakan Radhit?
*Apakah Radhit dan calon anggota baru HIMAPALA sukses dalam pendakian mereka hingga ke puncak Mahameru?
Saksikan kelanjutannya dalam part berikutnya 🙏😊
__ADS_1