
...Munculnya jurang pemisah cinta Mayang dan Radhif (Bagian pertama)...
...----Rumah sakit M, pusat kota Malang---...
Tok...Tok...Tok...." suara ketukan pintu kamar terdengar.
Mayang yang mendengarnya mencoba bangkit dari posisinga. Akan tetapi, bekas operasi beberapa jam lalu terasa begitu nyeri. Hanya bisa menyerigai, menahan sakit pada bagian perutnya.
"Auch...!!" rintihnya. Tubuhnya hanya bergeser tanpa bisa bangkit dari ranjang tempatnya berbaring.
Karena tak ada jawaban, maka perawat membuka pintu kamar tersebut. Dari depan sang suster dapat melihat Mayang yang sedang merintih kesakitan menahan rasa perih akibat bekas operasi yang masih baru tersebut.
"Jangan bergerak, Bu. Berbaring saja. saya akan memeriksa dan memberikan obat untuk penawar rasa sakitnya," ujar perawat tersebut dengan ramah dan penuh perhatian.
"Terima kasih, Sus. Apa saya boleh minum? Saya haus," ucap Mayang pada perawat yang sedang memperbaiki selang infusnya.
"Iya, boleh. Sebentar saya ambilkan ya, Bu. Apa Bu Mayang sudah makan?" tanya sang perawat lagi.
"Eh, anu, itu suami saya sedang keluar membelikan saya bubur," balas Mayang terbata. Padahal dia tak tahu kemana perginya Kak Radhif sudah hampir setengah jam belum juga kembali.
Sambil menatap wajah Mayang yang sayu, sang perawat yang baik hati itu pun berkata, "Gitu ya, Bu. Kalo memang lapar nanti saya mintakan makan di dapur rumah sakit. Biar petugas yang mengantarkannya. Ibu berbaring saja, istirahat dulu ya, biar lukanya lekas mengering.
"Baik, Sus. Terima kasih, ya. Maaf saya merepotkan Anda," ucap Mayang dengan rona wajah malu.
"Gak apa-apa, Kok Bu. Ini sudah kewajiban saya membantu pasien yang membutuhkan pertolongan. Sebentar saya mintakan bubur untuk Bu Mayang ya, tapi sebelumnya minum dulu airnya Bu!" ucap sang perawat sambil membantu Mayang meminum air mineral menggunakan sedotan.
Setelah membantu Mayang minum dan memperbaiki letak selimut yang dikenakan Mayang, menyuntikkan cairan obat melalui selang infus sang perawat itu pun tersenyum manis ke arah Mayang. Kemudian berlalu meninggalkan Mayang.
'Duh, seandainya aku dulu mengambil jurusan keperawatan, aku pasti bisa bekerja seperti suster ini. Dan tentunya aku bisa bertemu dengan Mas Bima. Apa dia sekarang sudah menjadi dokter yang sukses? Jujur aku kangen sama Mas Bima. Tapi apa pantas aku merindukannya, setelah apa yang aku alami dalam hidupku,' gumam Mayang dalam hati.
----------Ruang kerja Dokter Bima---------
__ADS_1
'Mayang, sekarang dirinya telah memiliki kehidupan yang baru. Aku seharusnya tidak bertemu dengannya. Namun, jika harus bertemu, mampukah aku menatap wajahnya. Sungguh masih ada sisa cinta yang tersimpan untuknya. Mengapa hati ini masih tidak ikhlas menerima semua kenyataan ini. Haruskah takdir mempertemukan kita di saat seperti ini. Di saat kau telah menjadi milik orang lain. Apakah aku terlampau egois bila mengharapkanmu kembali. Seharusnya, seandainya....kata-kata ini tak sepatutnya aku ucapkan. Akan tetapi hati ini tak bisa berbohong, ada cinta yang dalam untukmu Mayang. Adik kecilku yang polos dan lugu. Kini dirinya telah beranjak dewasa, bahkan telah menikah. Tapi mengapa bayi dalam kandungannya bisa meningga? Apa sebenarnya yang terjadi padamu Mayang?' Dokter Bima terus saja berfikir tentang Mayang.
Begitu ingin tahunya dirinya akan kisah hidup Mayang, hingga membuatnya harus kehilangan keempat janin yang dikandungnya.
Hingga suara ketukan membuatnya sadar dari lamunannya
Tok...tok..tok...!!!" suara ketukan membuat dokter Bima tersentak.
"Silahkan masuk!" Dokter Bima mempersilahkan seseorang yang berada di balik pintu.
Tak lama kemudian seseorang muncul. Nampak suster Lia berdiri di depan pintu ruangan kerja dari Dokter Bima.
"Ada apa, Sus?" tanya sang dokter dengan ramah.
"Saya hanya ingin menyampaikan kepada Anda, Dok. Pasien yang bernama Mayang sudah saya berikan obat pengurang rasa sakit. Sekarang saya akan membawakan bubur untuk pasien, sebab suaminya belum juga kembali. Sedangkan pasien sudah merasa lapar," ucap sang perawat yang bernama Lia tersebut.
"Kemana, suami pasien, Sus?" tanya sang dokter penuh selidik.
"Yasudah, berikan pasien makan bubur agar tenaganya bisa sedikit membaik. Tolong awasi dulu sampai suaminya kembali ya. Ini perintah saya untukmu Lia!" seru Dokter Bima dengan mimik wajah serius.
'Tumben sang dokter perhatian banget sama pasien wanita. Biasanya juga di cuek aja. Bahkan bersikap dingin. Perhatiannya berbeda, apalagi pada pasien yang bernama Mayang ini,' batin sang suster bingung.
Melihat suster Lia bengong. Dokter Bima pun kembali berkata, " Lia, kamu kok masih di sini. Buruan sana perhatikan pasien saya yang berada di kamar mawar no 86," hardik sang dokter lagi.
"Eh, iya, Dok. Ini juga saya udah mau pergi. Cuma mikir aja tadi tumben dokter perhatian banget sama pasien wanita. Saya jadi kepo nih, Dok," ucap Suster Lia lagi.
"Wajah dia mengingatkan saya sama adik saya. Cuma itu aja, udah sana buruan. Atau saya laporin sama kepala perawat kalo kamu kerjanya gak fokus!" ancam Dokter Bima dengan mimik wajah serius. Sebenarnya dirinya hanya berpura-pura. Agar suster Lia segera berlalu dan membawakan bubur untuk Mayang. Dirinya khawatir terhadap kondisi wanita yang masih dicintainya itu.
"Ba..baik, Dok. Tega banget sih, Dok. Sedih deh dengarnya," ucap suster Lia dengan wajah lesu sembari meninggalkan ruangan Dokter Bima.
'Ah, dokter Bima. Pake ngancam segala pula. Bikin gemes deh. Untung aja doi cakep plus single. Hehehe...jadi ngelantur kan aku,' batin suster Lia tersenyum.
__ADS_1
Di ruangan kerjanya sang dokter cakep itu masih saja merenung memikirkan Mayang. Dalam hatinya masih menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi kepada Mayang dan bagaimana hubungan antara Mayang dan Radhif.
...-------Kantin rumah sakit-------...
'Alhamdulillah, kenyang juga akhirnya," ucap Radhif sambil menyeruput teh gelas yang tinggal setengah.
Setelah puas menikmati bakso yang di belinya akhirnya Radhif memutuskan untuk kembali keruang inap di mana Mayang berada. Akan tetapi dalam perjalanan kembali dirinya bertemu dengan Heru dan Dwi kedua adik lettengnya yang baru muncul dari parkiran. Parkiran tersebut berada tak jauh dari tempat Radhif berada.
'Akhirnya mereka berdua datang juga,' batin Radhif. Sedikit merasa lega karena mobilnya nampak telah berada di pelataran rumah sakit.
"Assalamualaikum, Bang Radhif. Bagaimana keadaan Mbak Mayang dan Abang? Maaf ada sedikit kendala, sehingga kami terlambat," ucap Heru pada Radhif sembari memberikan hormat kepada seniornya itu.
"Alhamdulillah, baik. Cuma badanku agak kecut dah lama gak mandi nih. Baju ganti dan semua perlengkapan ada di mobil," balas Radhif.
"Siap, Bang. Izin salah! ujar Heru kembali memberi hormat kepada seniornya.
"Tidak apa-apa, Her. Aku malah bersyukur kamu masih bisa ke sini," kata Radhif sembari menepuk pundak Heru.
"Kalian mau ngopi? Biar aku belikan kopi untuk kalian berdua," ucap Radhif lagi.
"Izin, Bang. Tidak usah, biar nanti saya sama Dwi langsung ke kantin. Sekalian nyari makan. Malam ini kami akan menemani Bang Radhif di sini," ucap Heru lagi.
"Yasudah, terima kasih ya, Her. Aku masuk dulu. Kalian nanti langsung ke ruang VVIP kamar nomor 86 ya. Aku duluan. Kalian silahkan ke kantin. Siapa tahu dapat jodoh dokter cantik di kantin," gurau Radhif pada keduanya.
"Siap, Bang. Semoga saja," balas keduanya kompak sambil tersenyum dan menggaruk kepala bagian belakang yang tidak gatal.
...-----------Bersambung-------------...
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 98. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊
Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
__ADS_1
Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.