
...--Terkuaknya tabir cinta masa lalu--...
...(bagian kesatu)...
...Sepenggal part sebelumnya,...
'Alhamdulillah, berkat Bang Radhif aku bisa dapat kenalan cewek cantik, berkah dalam kesusahan,' batin Danton Heru kegirangan.
"Baiklah, Mbak Anggun. Saya permisi dulu. Terima kasih atas bantuannya," balas Danton Heru sembari mengulurkan tanggannya untuk bersalaman.
"Sama-sama," balas Anggun menyambut uluran tangan Danton Heru.
Setelah memohon diri dan bersalaman dengan beberapa petugas di ruangan tersebut, Dantob Heru pun segera berlalu dan kembali ke kamar inap itu untuk menemui seniornya Radhif.
Namun, sesampainya Danton Heru di kamar itu, tak nampak Radhif. Di sana hanya ada kedua anggotanya yang sedang membereskan barang-barang yang ada di ruangan itu.
...________***""""***_________...
Meski terkesan heran dengan situasi yang tengah terjadi, Heru kemudian membantu anggotanya membereskan barang-barang yang akan di bawa pulang. Sebenarnya tidak begitu banyak, hanya saja kedua anggotanya membereskan sambil ngobrol, sehingga pekerjaan mereka tidak kelar-kelar.
"Udah ngobrolnya, ngegosip aja kalian kayak emak-emak tetangga belakang asrama. Hari-hari pasti ngegosip kerjaannya," ujar Danton Heru kepada Tagor dan Asep.
Keduanya pun berhenti bercanda dan menyelesaikan pekerjaan mereka dengan cepat.
"Alhamdulillah, kelar juga kerjaan kita, Sep. Tinggal ngakut ke mobil aja. Siapa tahu pas di depan ketemu ama perawat yang cantik, mau ku bawa ketemu mamakku di Medan," ucap Tagor asal.
"Ah, bisa aja kamu, Gor. Siapa juga yang mau sama kamu. Udah item, dekil pisan. Kata orang Sunda mah 'Dupi sahanya anu bogoh ka sampean'. Ada juga tuh, mbak-mbak yang nongkrong di pertigaan sana, mau tidak kamu bawa pulang, Gor?" balas Asep sambil nyengir-nyengir.
"Pertigaan? Mana ada cewek cantik di sana? Ada juga pohon beringin gede, Sep. Ah, sembarang saja kau ini. Kuntilanak kau suruh aku bawa pulang. Bisa mati nanti sebelum merasakan surga dunia aku, Sep," omel Tagor kesal.
__ADS_1
"Hahaha ... Tahu juga kamu kalo yang aku maksud Mbak Kunti," seru Asep sambil tertawa terbahak-bahak.
Danton Heru berjalan ke arah Tagor, kemudian menepuk pundak anggotanya itu sambil berkata,"Gor, kan enak ngajak Mbak Kunti. Siapa tahu kamu bisa dapat ajian yang bikin cepat kaya. Lumayan tuh ketimbang sama cewek mater. Habis gajimu di porotin buat beli 'skincare'. Mending sama Mbak Kunti. Bener gak, Sep?" seru Danton Heru tertawa sembari melirik ke arah Asep yang sedang mengepak sisa barang yang akan dibawa pulang.
"Bah, tega nian Danton ini sama anggota paling loyal kayak aku. Besok-besok tak akan aku bantu lagi mencari informasi tentang ponakan wadan yang cantik itu," ucap Tagor kesal.
"Tak usah kau carikan informasi lagi tentang dia, Gor. Dantonmu ini sudah dapat target untuk di ajak ke pelaminan," balas Danton Heru tersenyum penuh arti.
"Wah, hebat nian Danton Heru. Tak kusangka kedatangan kita kesini bisa membawa berkah," seru Tagor dengan penuh semangat.
"Yasudah. Lanjutkan kerjaan kalian. Aku akan coba ke parkiran depan. Siapa tahu Bang Radhif masih disana mencari informasi tentang istrinya dan juga Dokter Bima,"
"Jangan lupa hubungi aku begitu kalian selesai, biar kita langsung kembali ke markas. Dwi sudah memberi kabar kalau dia sudah turun dinas. Jadi bisa membantu kita mencari keberadaan istri Bang Radhif," ucap Danton Heru sebelum pergi.
"Siap, Danton!" balas Tagor dan Asep serempak.
"Aku kedepan dulu ya, Sep, Gor. Lanjutkan tugas kalian," kembali Danton Heru berpamitan sebelum pergi ke parkiran mencari seniornya tersebut.
"Hahaha ... Ok, kalo ketemu Mbak Kunti apa masih mau aku salamin, Gor? Biar gak jomblo dan cepat kaya," ledek Danton Heru.
"Ogah, Danton. Lebih baik aku jomblo sampe mati ketimbang ama Mbak Kunti," balas Tagor bergidik ngeri membayangkan dirinya bersama dengan hantu kuntilanak.
Terdengar tawa Danton Heru yang telah meninggalkan ruang kamar. Sepertinya sang danton dan juga sahabatnya Asep senang sekali meledeknya. Sejak tadi hanya dirinya menjadi bahan 'bully'.
..._______***"""***________...
Parkiran mobil nampak tidak terlalu padat seperti siang hari. Berhubung hari sudah malam, pengunjung mulai berkurang. Hanya beberapa mobil yang terparkir.
Radhif termenung di dalam mobil hitam miliknya. Ditangannya terdapat buku diary yang ditemukan dalam ruang kerja Dokter Bima. Radhif berharap disana terdapat petunjuk, teka-teki hilangnya Mayang dan juga Dokter Bima.
__ADS_1
Apapun akan Radhif lakukan demi menemukan kembali Mayang. Bagaimanapun Mayang adalah istrinya. Karena statusnya itu, berati Mayang adalah tanggungjawabnya.
Dalam benak Radhif muncul pertanyaan-pertanyaan yang begitu banyak. Apa sebenarnya isi diary bersampul merah muda yang ditemukan di meja kerja Dokter Bima? Sebenarnya ini milik siapa? Mengapa Dokter Bima mempunyai buku catatan berwarna merah muda? Apa ini ada kaitannya dengan Mayang? Benarkah rumor yang beredar, bahwa Mayang adalah cinta pertama Dokter Bima?
Tangannya enggan membuka buku catatan harian itu, hatinya masih belum sanggup menerima kenyataan bila memang benar Mayang ada hubungan di masa lalunya dengan dokter tampan itu.
Masih melekat dalam ingatannya kejadian siang itu ketika Mayang berduaan bersama Setyo sebelum Mayang hilang. Kini dirinya harus menerima kenyataan pahit yang bisa membuat hubungannya dengan Mayang semakin rumit.
Akan tetapi gejolak keingintahuannya pun tak kalah bergelora dalam darahnya. Akhirnya Radhif membuka lembar pertama buku catatan harian itu.
Betapa terkejutnya Radhif ketika matanya tertuju pada sebuah foto yang ada di dalam buku catatan itu. Sebuah foto lama yang hampir pudar. Di sana terdapat dua sosok pria yang menggunakan seragam putih abu-abu dan seorang gadis cantik berambut pendek. Gadis itu terlihat mengenakan kaos hitam bercorak merah dengan bawahan rok biru seragam SMP.
Yang membuat Radhif terkejut sekaligus heran salah satu pria dalam foto itu snagat dikenalinya. Pria itu adalah Gilang sahabatnya selama ini. Sahabat selama mengikuti pendidikan di AKMIL hingga mereka berdinas saat ini. Dan Gilang juga merupakan saudara lelaki Mayang.
'Apa hubungan Gilang dan Dokter Bima? Apa benar Dokter Bima begitu mengenal Mayang dan keluarganya?' ucap Radhif dalam hati.
Radhif membolak-balikkan foto tersebut, disana tertulis tanggal dan juga tempat mereka berfoto. Sorong, Papua, 1998. Nampaknya foto itu diambil saat Ayah Gilang berdinas di kota Sorong tempatnya berdinas sekarang.
Di lembar berikutnya Radhif menemukan foto Mayang bersama pria tampan yang masih mengenakan seragam putih abu-abu. Di foto itu nampak gadis tomboi yang menggunakan seragam putih biru sedang duduk di sebuah motor gede berwarna merah sambil memeluk pria tadi dari belakang.
Dalam fotonya sang gadis cilik itu tertawa lepas tanpa beban. Sangat bahagia. Gadis itu terlihat begitu cantik meskipun dandanannya tidaklah 'feminim'.
'Apa dirinya adalah Mayang? Begitu polos dan sangat sederhana. Namun, kesederhanaan dan kepolosannya itu membuat mata yang memandangnya akan jatuh hati. Inikah yang membuat Dokter Bima tidak bisa melupakkannya, walaupun banyak cinta yang datang kepadanya setelah sekian lama mereka terpisah?' batin Radhif bertanya-tanya.
Dalam kegelisahan dan kegundahannya, Radhif hanya bisa pasrah. Dia berharap Mayang segera ditemukan. Jauh dilubuk hatinya, dia hanya ingin melihat Mayang kembali dengan selamat, walau sekalipun sebuah kenyataan buruk terpampang didepan mata.
...-----------Bersambung-------------...
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 121. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊
__ADS_1
Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.