
Rencana pernikahan Radhif dan Mayang#2
*Rumah Sakit*
"Assalamualaikum!" ucap seseorang dari balik pintu.
Tak berselang lama pintu masuk pun terbuka, muncul sosok Gilang dari balik pintu.
Gilang pun berjalan masuk ke dalam ruangan itu, menaruh barang bawaannya.
Kemudian menghampiri Radhif sahabatnya dan adiknya Mayang.
"Maafin aku bro sudah merepotkanmu, sehingga seharian ini kamu yang harus menjaga Mayang sendirian," ucap Gilang sambil menepuk pundak Radhif.
Radhif tersenyum sambil meninju perlahan perut Gilang dan berkata, " Santai aja kali bro. Paling tidak malam ini kau harus mentraktirku segelas coffelatte di kantin rumah sakit ini," ujar Radhif menegaskan.
"Hahaha....bolehlah kawan, apa yang tidak untukmu sahabat terbaikku," balas Gilang.
Gilang yang baru datang tadi membawa begitu banyak barang bawaan, mulai dari gitar dan juga seplastik makanan dan camilan.
Namun ada sebuah plastik yang terlihat tidak asing bagi Mayang.
'Bukannya itu manisan mangga yang aku inginkan?' batin Mayang.
'Apakah kak Gilang tahu kalo aku sedang mengandung anak dari almarhum Kak Radhit?
Benarkah Kak Radhif sudah memberitahu semuanya?
Aku tak tahu harus berkata apa kepada Kak Gilang dan Ibu,' batin Mayang lagi.
Sepertinya Radhif mengetahui raut wajah Mayang yang terpancar rasa kekhawatiran setelah melihat barang bawaan Gilang tadi.
Maka Radhif pun berjalan mendekati meja yang tak jauh dari tempat Mayang berbaring.
Setelah melihat apa yang dibawa Gilang, Radhif pun sadar apa yang membuat Mayang merasa galau.
'Pasti Dia berfikir aku yang memberitahu Gilang agar membelikannya manisan mangga ini.
Dan pasti Mayang khawatir kalau-kalau aku telah memberitahu segalanya kepada Gilang,' gumam Radhif dalam hati saat melihat kegelisahan Mayang.
Kemudian Radhif mulai basa-basi mencari sesuatu untuk dimakan.
Membuka-buka setiap bawang bawaan Gilang tadi.
"Lang!" panggil Radhif
Adakah makanan yang enak untukku? Seharian aku belum makan nie bro," ucapnya sambil terus saja mencari-cari sesuatu dalam tas plastik yang dibawa Gilang tadi di atas meja.
Sengaja Radhif mengambil manisan mangga yang tadi terlihat.
__ADS_1
"Apa ini Lang, bukankah ini manisan mangga?" tanya Radhif sambil mengambil dan membukanya.
"Itu aku temukan tergantung di depan pintu. Tuh ada tulisan namamu di stiker yang ada di luar plastik," ucap Gilang.
'Sial ternyata anggota Heru yang di perintah memang tidak pandai, hampir saja ketahuan," omel Radhif dalam hati.
"Eh...iya Lang, entahlah beberapa hari ini mulutku gak enaka makan, jadinya aku minta anak buah Heru membelikan manisan mangga ini," sanggah Radhif sambil menatap Mayang.
Sadar kalau Kak Radhif memandangku, aku pun menutup wajahku dengan selimut.
Kali ini bukannya takut atau khawatir tapi berusaha menahan tawa karena mendengar ucapan Kak Radhif tadi.
Sungguh lucu memang, apalagi Kak Radhif mengatakan kalo dia yang menginginkan manisan mangga itu, bukannya Mayang.
Ada rasa bahagia bercampur aduk dalam hatiku.
"Tapi aku belum makan Lang, aku simpan saja dulu di kulkas, biar lebih enak dimakan esok hari," ucap Radhif sengaja dikencangkan, agar Mayang tahu dimana manisan itu disimpan, kalau-kalau saja Dia ingin memakannya.
"Kau sudah mirip wanita hamil Dhif," ejek Gilang sambil tertawa.
Radhif tersenyum sambil melotot dan mengepalkan tangannya serta menunjukkannya ke arah Gilang.
"Slowly bro...!" balas Gilang mengangkat tanggan dan menunjukkan salam perdamaian kepada Radhif.
Hal tersebut membuat Mayang tertawa lepas.
Memang sejak kepergian Radhit, Mayang sangat susah tersenyum.
Baru kali ini Radhif melihat hal tersebut.
Sejenak Radhif terpana dan terpukau melihat wajah manis Mayang saat tertawa.
'Sungguh manis dan cantik paras wajahmu, sungguh beruntung sebenarnya Radhit memilikimu. Hanya takdir saja yang tak adil, memisahkan cinta kasih yang begitu tulus, menyisakan pedih dan luka yang teramat dalam,' batin Radhif.
Malam itu Gilang memainkan gitar milik Mayang, dan menghibur adinya dengan tembang kenangan kesukaan Mayang.
Sambil meminum jus alpukat yang dibelikan Gilang Mayang mendengarkan permainan gitar Kakak kesayangannya itu.
Hingga waktu berjalan semakin larut.
Dan akhirnya Mayang tertidur setelah meminum obat yang sudah diberikan perawat untuknya.
Radhif pun berjalan menuju tempat duduk Gilang.
"Lang, ayo keluar ke teras depan sob. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan," ucap Radhif serius.
Mereka pun melangkahkan kakinya menuju teras depan ruangan VVIP tersebut.
"Sebenarnya apa yang ingin Kau sampaikan.
__ADS_1
Kelihatannya sangat serius, sampai-sampai harus menjauh dari Mayang," tanya Gilang penuh keheranan atas sikap sahabatnya itu.
Radhif pun menceritakan semua isi hati dan rencana keluarga yang menginginkan Mayang untuk menikah dengannya, mengingat setiap kejadian demi kejadian yang terjadi kepada Mayang.
Dan mengingat almarhum mendiang adiknya yang telah wafat, keluarga mereka ingin Radhif melamar Mayang dan menjadikannya istri.
Keinginan Radhif membuat kaget Gilang yang mendengarnya.
"Kamu serius Dhif? Tapi Mayang belum selesai ujian skripsi. Bagaimana dengan kuliahnya yang tinggal sebentar saja," balas Gilang yang terlihat tak setuju dengan keinginan Radhif.
"Mayang takkan berhenti kuliah Lang, hanya statusnya saja yang berubah. Bukankah hal itu tidak akan mengganggu kuliahnya?" bantah Radhif mencoba meyakinkan sabahatnya itu.
"Fikirkanlah masa depan Mayang Lang, mungkin dengan bersamaku trauma akan masa lalunya bersama Radhit akan terobati," tambh Radhif.
Sesaat Gilang terdiam, mencoba merenungkan setiap perkataan Radhif.
Berusaha meyakinkan hatinya, jika apa yang disampaikan oleh sahabatnya itu benar-benar tulus dan baik untuk adik kesayangannya itu.
Sebab Gilang telah berjanji kepada almarhum ayahnya untuk menjaga Mayang hingga menjadi wanita yang berhasil serta membanggakan keluarga mereka kelak.
"Baiklah Dhif, aku setuju dengan apa yang telah dirimu sampaikan. Tapi tolong biarkan Mayang menyelesaikan kuliahnya hingga mendapat gelar sarjana.
Ini semua menyangkut amanat ayahku," tutur Gilang dengan nada suara yang berat.
Radhif pun menggeleng, menepuk pundak Gilang dan berkata, "Aku berjanji sobat. Aku takkan membuat Mayang berhenti dari bangku kuliah. Meskipun Mayang hamil dia dapat menyelesaikan skripsinya hingga wisuda."
Sontak Gilang terperangah mendengar kalimat terakhir Radhif.
Dia nampak tersenyum mengejek sahabatnya itu.
"Ngebet banget bro pengen punya baby. Aku aja abangnya belum punya gebetan. Slow...dono Dhif," ledek Gilang.
"Brarti kau harus memanggilku Mas alias kakak ipar, " tambah Gilang seraya meninju perlahan lengan Radhif sambil tertawa.
'Sebentar lagi anak itu akan lahir Lang, anak dari mendiang adikku. Tapi aku berjanji akan menjaga Mayang dan bayinya,' sesaat Radhif membatin.
Keduanya pun menghabiskan malam dengan menikmati kopi hangat dan mengobrol di teras depan ruangan VVIP tersebut.
Sedangkan Mayang masih tertidur pulas.
Tanpa tau apa yang telah diperbincangkan kedua pria tersebut untuk masa depannya nanti.
🍃🍃🍃🍃
*Apakah rencana Radhif untuk melamar dan menikahi Mayang berjalan mulus?
*Bagaimana dengan Setyo yang masih mengharapkan Mayang kembali kepadanya?
*Siapakah yang akhirnya menjadi pengganti Radhit?
__ADS_1
Nantikan kisahnya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" part 42.
Terimakasih untuk semua pembaca 🙏🤗😍