TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# PART 19


__ADS_3

**** Kost ****


Sesampainya aku di kost, kubaringan tubuhku, tak peduli baju yang aku pakai dan kaos kaki yang masih kukenakan, biasanya sesampaiku di kost aku langsung menuju kamar mandi membersihkan diri, barulah aku beristirahat.


Kali ini tidak seperti biasanya.


Kuraih tas ranselku, kubuka kembali amplob itu, belum sempat aku baca isinya, hanya foto Setyo yang aku lihat. Tampak di dalam foto Setyo dengan kepala plontos menggunakan kaos loreng.Tampak tubuhnya kurus, tak seperti dulu saat masih kuliah. Rambut cepak dan tubuh berisi bagaikan bina raga. Kali ini pemandangan itu tak terlihat dalam fotonya.


Semoga dia selalu sehat dan dalam lindungan Allah SWT, doaku dalam hati.


Nampak sebuah lembaran putih dalam amplob itu, surat yang di tujukan Setyo untukku.


Kubuka perlahan dengan hati cemas dan was-was.


Saking gugupnya, tanganku basah oleh keringat.


Dan di dalam surat itu, berisikan tulisan tangan Setyo yang berbunyi,


" Dear Mayang tercinta,


Kali ini aku tak akan menuliskan syair cinta dan juga kata-kata mutiara untukmu.


Aku hanya akan menuliskan, bahwa aku sangat mencintaimu sejak awal kita bertemu sebagai maba di kampus. Ketika di acara penutupan kegiatan OSPEK, hatiku semakin tak menentu saat melihatmu memainkan gitar dan membacakan sebuah puisi. Puisi itu indah, seindah senyummu.Dan pada akhirnya kau berpaling dariku demi Radhitya kakak tingkat kita.


Aku sadar aku bukan siapa-siapa dan tak pantas untuk dicintai. Aku memutuskan untuk pergi, aku mengalah tapi bukan untuk kekalahan. Suatu saat aku akan kembali dan aku akan mencarimu hingga ke ujung dunia. Tunggulah aku, aku akan kembali untukmu. Aku kan kembali mengambil apa yang sudah menjadi milikku."


๐Ÿ’˜Yang mencintaim๐Ÿ’˜


SDA( Setyo Dwi Ardiansyah).


Demikian isi surat dari Setyo, membacanya membuatku merinding.


Membayangkan ucapan Setyo. Sampai segitunya dia, hingga mencariku ke ujung dunia.


Apakah dunia sekecil biji sesawi, batinku sambil tersenyum.


Ada rasa lega dan bahagia saat mengetahui kabar dari Setyo, meskipun tampak kurus tapi aku tahu dia baik-baik saja.


Dia adalah pria yang tegar dengan tekad yang kuat.


Aku bahagia bisa menjadi sahabatnya.


Bila jodoh takkan kemana, jika memang kami berjodoh pasti akan bertemu. Hari sudah semakin siang, tak terasa sudah 30 menit sejak aku pulang. Rasa lelah dan lapar membuatku tertidur sejenak. Biasanya kalo lapar orang pasti tidak nyenyak tidurnya, kalo aku sangatlah berbeda, ketika lelah meskipun terasa lapar, akan aku abaikan rasa laparku. Aku akan memilih tidur ketimbang harus mengisi perutku yang keroncongan. Begitulah aku, Mayang Trihapsari yang tomboi dan aneh. Itu kata teman-temanku.


Kampus,15 Agustus 2004


Seminggu berlalu, telat di tempel pengumuman di mading kampus bahwa calon anggota baru HIMAPALA akan mendaki besok siang.


Mereka akan mendaki dan mengibarkan bendera merah putih lambang NKRI diatas puncak Gunung Semeru.


Sudah tertera siapa saja dan panitia yang akan berangkat. Diantaranya tertera namaku.


Bukan hanya syok dan bingung.


Yang aku tahu, aku tidak pernah mendaftarkan diriku. Meskipun aku sudah mengantongi ijin dari keluargaku tapi aku belum sempat mendaftarkan diri. Bagaimana bisa namaku tercantum didalamnya?

__ADS_1


Apakah ini semua perbuatan kak Radhit?


Ataukah hanya kebetulan namanya sama persis denganku?


Tapi disitu tertera kelas dan jurusanku.


Hal ini membuatku bingung bukan main, sangat menguras otakku.


Bagaimana semua ini bisa terjadi.


Tak berapa lama Ika dan Restu muncul di hadapanku, mengajakku menuju kantin untuk makan siang. Kami memilih untuk mampir ke warung bakso dekat kampus sejarah.


Bakso Cak Tho, memang terkenal di kampus murah dan enak.


Sehingga mahasiswa di kampus yang kembanyakan anak kost lebih memilih makan di waruny bakso beliau, ketimbang warung bakso yang berada di luar kampus.


Sambil menyeruput es blewah yang aku pesan tadi aku mengeluarkan unek-unekku, " Kok aneh ya, aku kan kemarin sakit gak sempat daftar sebagai calon anggota baru HIMAPALA. Tapi namaku ada dalam daftar anggota yang mendaki?"


Nampak kedua sahabatku itu cuek tak memperhatikan kegalauan yang melandaku.


Sibuk dengan es dan juga bakso yang ada di hadapan mereka. Apalagi si Restu, dengan lahapnya dia memakan bakso dan juga menyeruput es yang ada didepannya sambil sesakali meringis akibat kepanasan.


Lain lagi dengan Ika, dia sibuk menyeruput es blewah sambil sesekali melirik ponselnya. Seakan-akan menantikan kabar penting dari seseorang.


Akhirnya aku menyerah dan kemudian ikut melahat habis hidangan yang ada di depanku.


Hingga saat kami selesai menghabiskan makan siang kami, kedua sahabatku ini tak ada yang menyinggung perihal kejanggalan yang aku ceritakan tadi.


Seolah-olah mereka tidak tahu dan tidak pengen tahu siapa yang melakukannya.


Lagi pula berkasku kan belum masuk, tak mungkin aku bisa mengikuti pendakian itu.


Semua itu tak kufikirkan lagi, selama jam kuliah aku sibuk dengan aktivitasku sebagai mahasiswa dan sebagai PK( pemimpin kelas).


Hingga kelas usai kamipun memutuskan tak langsung pulang, tapi memgerjakan tugas di taman kampus bersama sebelum Restu kembali ke kostnya.


Hari ini adalah hari terakhir kuliah, sebab besok adalah hari minggu.


Dan senin tanggal 17 adalah hari libur kemerdekaan RI.


karena tanggal merah, kebanyakan mahasiswa yang berasal dari luar Surabaya akan pulang berlibur ke daerah asal mereka. Kembali lagi jika libuar telah usai. Sesaat sebuah dering pesan masuk ke ponselku, tertera di layar ponsel bahwa pesan itu berasal dari kak Radhit.


Aku buka pesan yang masuk ke ponselku dengan gugup dan hati berdebar, Saking gugupnya aku, tengkukku mengalir keringat dingin begitu pula di telapak tanganku.


Isi pesan kak Radhit berbunyi,


("Mayang, maafkan aku yang salah menilaimu, aku berfikir negatif terhadapmu tanpa aku tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Jujur aku masih menantimu, mengharapkan cintaku tak bertepuk sebelah tangan.


Aku akan selalu setia menunggumu, ikutlah bersamaku mendaki ke gunung Semeru, akan aku buktikan cintaku benar-benar tulus.")


Demikian isi pesan dari kak Radhit, membuatku berfikir keras apa yang sebenarnya terjadi.


Apa aku harus mengikutinya untuk mendaki bersama yang lain?

__ADS_1


Ataukah aku harus tetap kekeh dengan keputusanku untuk tidak turut serta dalam pendakian karena kesehatanku yang belum benar-benar pulih?


Aku berada dalam dilema, bak memakan buah simalakama.


Tapi kali ini bukan maju kena mundur kena, tapi maju menang, mundur gagal, fikirku sambil sesekali melirik Ika dan Restu yang sedari tadi memperhatikanku.


Tak lama suara Ika dan Restu berbarengan terdengar," May ..., maafkan kami ya. Kami berdua yang mendaftarkanmu.


Kami berfikir dengan begitu, Kau dan kak Radhit akan bersama."


Sambil berusaha meyakinkanku mereka memperlihatkan duplikat atau fotocopy formulir pendaftran yang telah mereka kembalkan.


Di dalamnya tertulis namaku dan juga semua data tentangku.


Dan diantaranya terdapat fotocopy kartu mahasiswaku.


Ternyata saat aku pingsan, Ika dan Restu yang mengambil kartuku dan mendaftarkan, dia dibantu oleh mas Davin sahabat kak Radhit.


Mereka bekerja sama agar aku dan kak Radhit dapat bersama melakukan pendakian.


Karena mereka tahu, bahwa kami berdua memang di jodohkan untuk bersama.


Konflik ini terjadi hanya karena kesalah fahaman diantara kami.


Sehingga mereka bertiga berinisiatif untuk mempertemukan kami dalam kegiatan pendakian tersebut.


Ternyata selama ini mereka bukan saja memperhatikanku, tapi sangat menyayangiku.


Sambil memeluk mereka aku berkata," Trimakasih untuk semuanya ya sahabatku, bahagia rasanya aku memiliki kalian dalam hidupku. Yang selalu menemani hari-hariku selama ini.


Aku tak tau seperti apa hari-hariku tanpa kalian berdua."


Dengan tatapan bahagia mereka berdua membalas pelukkanku, sambil tersenyum menggoda Ika berkata," Alhamdulilah, jadi kami gak di marahin kan atas apa yg kami lakukan May?"


Restupun memcubitku sambil ikutan menggodaku," Assseeeekkkk...,ada yang mau mendaki berdua, hatu-hati ya nanti jadi keterusan.


Bisa-bisa ntar acara lamarannya juga di atas gunung."


Dalam keharuan itu, terlihat jelas ketulusan mereka.


Kedua sahabat terbaikku, selalu ada untukku, dan selalu membantukku.


Jujur saja, sejak aku kuliah karena aku bukanlah pelajar dikota ini, belum banyak teman yang aku punya.


Hanya beberapa teman semasa Sekolah dasar yang entah sebagian besar aku tak tahu dimana rimbanya saat ini.


Bersyukur aku memiliki Ika dan Restu juga teman kostku yang begitu care dan penuh rasa kekeluargaan.


Merasa senansib berjuang juga jauh dari orang tualah yang membuat kami saling menyayangi dan saling menjaga.


*******


*Apakah Mayang menerima tawaran kak Radhit untuk mendaki bersamanya ke gunung Semeru?


Nantikan kisah selanjutnya di part berikutnya, terimakasih ๐Ÿ™๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2