TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# PART 76


__ADS_3

...KEBOHONGAN...


...(Bagian pertama)...


...Kantin rumah sakit X, Kota Malang...


...********""""*********...


"Aku mohon sebelum Kak Radhif datang pergilah dari sini, aku tak ingin kalian bertemu. Entah apa jadinya bila hal itu sampe terjadi," ucap Mayang memohon kepada Setyo untuk pergi dari tempat itu.


"Aku sudah berjanji takkan mengatakan apapun, apa yang harus kau takutkan? Aku bukanlah pengecut!" balas Setyo dengan santai.


"Baiklah jika kau tak menuruti permintaanku, biarlah aku yang pergi dari sini!" ucap Mayang seraya bangkit dari posisi duduk hendak melangkah pergi.


"Cukup!"


"Berhentilah membuatku seperti seorang pecundang!"


"Aku sudah mencoba bersabar, harusnya aku mengatakan semuanya kepada Radhif. Aku berharap dia akan melepasmu untukku, karena pernikahan kalian hanya settingan semata," balas Setyo dengan wajah serius.


"Kau sudah tak waras, Yo. Jangan biarkan rasa cintamu itu menutupi akal sehatmu!"


"Kau harus merelakanku, kita tak berjodoh, biarlah semuanya berakhir sampai di sini!" ucap Mayang semakin geram.


Mayang mulai dongkol dan kesal dengan sikap Setyo yang keras kepala.


Mayang melirik jam ditangannya,


Mengapa sampai detik ini Kak Radhif belum juga kembali? Apa yang terjadi pada Kak Radhif? Mungkinkah Kak Radhif tak sengaja mendengar percakapan kami bertiga tadi?


Muncul berbagai spekulasi dalam benakku.


Aku begitu khawatir jika Radhif mengetahui semuanya.


Pastilah akan terjadi keributan yang takkan bisa terelakkan lagi.


"Dok, Apa parkiran berada jauh dari sini?" tanya Mayang pada Dokter Rian.


Sebenarnya parkiran mobil tidak begitu jauh letaknya dari kantin rumah sakit.


Tapi hampir setengah jam Kak Radhif tak jua kembali.


Mayang yang risih atas kehadiran Setyo apalagi dengan sikap keras kepalanya itu membuatku semakin jengah dan kesal terhadap mantan ketua tim basket kampusnya yang selalu saja memaksakan kehendaknya, meskipun aku tau semua itu karena Setyo benar-benar mencintainku.


Aku mencoba untuk pergi dari tempat itu, terlintas dalam fikiranku untuk menyusul Radhif yang sedang berada di parkiran.


Akan tetapi langkahku terhenti ketika sosok Radhif muncul dengan menggenggam sebuah maap coklat ditangannya.


Dengan diselimuti perasaan khawatir serta was-was yang berkecamuk dalam hatiku, aku kemudian berjalan menghampiri Kak Radhif.


Sesaat mata Radhif tertuju kepada ku yang mengarah kepadanya.


"Apa kau baik-baik saja, Mayang-Mama Sayang," ujar Radhif. Suara itu terdengar jelas oleh Setyo dan Dokter Rian.


"Iya aku baik-baik saja, Kak. Aku, Dokter Rian dan saudaranya menunggu Kak Radhif sejak tadi," balas Mayang dengan wajah cemas.


Radhif yang menangkap gelagat dari Mayang yang terlihat mencemaskannya. Dengan sigap tangan kekar Radhif segera meraih tubuh wanita itu dan mencium keningnya.


"Maafkan aku, Mayang. Aku tak bermaksud meninggalkanmu terlalu lama sendirian, tadi aku membantu seorang ibu hamil yang sedang kesusahan di dekat parkiran.

__ADS_1


Ibu muda itu bersama seorang anaknya yang masih balita, tak ada yang menemaninya 'chek up' karena suaminya sedang berdinas.


Ibu tersebut merupakan istri dari seorang polisi yang berdinas di daerah sini.


Karena kerepotan akhirnya aku mencarikan taksi untuknya. Itulah sebabnya aku lama kembali," ujar Radhif sambil menatap mata Mayang dalam-dalam. Dia ingin melihat isi hati istrinya itu, berharap ucapan Mayang tadi benar bila dirinya baik-baik saja.


Dengan penuh kasih sayang Radhif mengusap kepala Mayang yang terbungkus hijab, merangkulnya dan mengajaknya berjalan kembali ke dalam kantin menuju meja di mana Dokter Rian berada.


"Ayo kita selesaikan semua berkas ini, setelah itu kita pulang," ucap Rhadif seraya menggandeng tangan Mayang.


Keduanya pun melangkah masuk ke dalam kantin yang masih lengang karena belum waktunya istirahat bagi para staf rumah sakit. hanya beberapa keluarga pasien yang terlihat berseliweran membeli makanan dan minuman.


Ada takut dan khawatir jika Kak Radhif akan mengenali Setyo membuatnya tdk fokus. Hampir saja Mayang terjatuh karena salah melangkahkan kakinya, matanya tak melihat sebuah undak-undakan yang berada di depan pintu kantin.


Setyo yang melihat kejadian itu sontak secara refleks meneriakan nama Mayang.


"Mayang! Awas!" teriaknya panik.


Radhif pun terkejut mendengar teriakan itu, dengan cepat dirinya menangkap dan meraih tubuh Mayang agar tidak terjatuh.


"Mayang! Kau kenapa, Dek?"


"Apa ada yang kau fikirkan? Hampir saja dirimu terjatuh, aku mencemaskanmu dan juga janin dalam kandunganmu," ucap Radhif tulus.


Mayang hanya terdiam, jantungnya tak berhenti berdetak dengan cepat, bagaikan genderang perang yang bertalu-talu.


perasaannya semakin kacau.


Entah apa yang akan terjadi bila Kak Radhif mengenali Setyo.


Habislah sudah, pertengkaran yang hebat pastinya akan terjadi.


Mayang hanya menggeleng, menahan gemuruh dalam dadanya.


berharap semua ini segera berlalu.


"Kak, jangan tinggalin aku sendiri. Aku gak mau sendirian lagi. Maafin aku belum bisa menjadi istri yang baik dan seutuhnya mencintaimu. Tapi aku berjanji akan membuka hatiku untukmu," ucap Mayang dengan tatapan mata sendu.


'Apa yang terjadi dengannya? kenapa tiba-tiba saja Mayang berkata seperti ini?' gumam Radhif dalam hati.


Radhif sedikit bingung dengan apa yang terjadi, berusaha mencerna setiap kata yang dilontarkan Mayang tadi.


"Iya, Mayang-Mama Sayang. Aku takkan meninggalkanmu sendiri lagi. Aku akan selalu bersamamu menjagamu," ucap Radhif sembari mencium kening Mayang.


"Ayo kita pulang,Kak!"


"Sepertinya aku sedang 'badmood', kata Dokter Inggrit ini di sebut 'moorning sick' biasa dialami oleh wanita hamil pada umumnya," Mayang memberi alasan, agar Radhif segera mengajaknya pulang.


Semua itu Mayang lakukan agar Rhadif tidak berlama-lama di sana. Dia masih mencemaskan kehadiran Setyo yang akan berujung fatal.


"Iya, baik, sayang. Kita akan pulang, tapi setelah aku menyerahkan berkas ini ke Dokter Rian. Tunggulah di sini!" balas Kak Radhif kemudian meninggalkan Mayang tak jauh dari tempat Dokter Rian tadi.


"Assalamualaikum, Dok!"


"Maaf membuat Anda menunggu lama," ucap Radhif singkat.


"Tak mengapa, aku juga sedang off, Pak Radhif. Apa berkasnya sudah siap?" tanya Dokter Rian mengamati map coklat yang berada dalam dekapan Radhif.


"Iya, Dok. Ini berkasnya, Anda bisa menghubungi saya jika berkasnya sudah rampung," balas Radhif lagi.

__ADS_1


"Iya, baik, Pak Radhif," ucap Dokter Rian seraya mengambil berkas tersebut.


Sebelum melangkah sempat Kak Radhit melirik ke arah Setyo, seketika langkahnya terhenti.


"Owh, iya. Maaf sebelumnya. Anda siapa ya, kok bisa tahu nama istri saya?" tanya Radhif penasaran.


Mendengar ucapan Radhif, Dokter Rian segera menjawab pertanyaan tersebut.


Dia khawatir bila Setyo dengan sengaja membongkar identitas dirinya di depan Radhif demi mendapatkan Mayang kembali.


"Maaf, Pak Radhif. perkenalkan ini saudara sepupu saya yang bernama Dwi Ardiansyah," jelas Dokter Rian.


Kemudian Setyo mengulurkan tangannya bersalaman dengan Radhif, Radhif pu memperkenalkan dirinya serta namanya. Sesaat matanya tertuju pada papan nama yang terpasang di baju dinas Setyo.


Disana tertulis S.Dwi.A.


Saat itu tak ada sesuatu hal yang membuat Radhif curiga.


Dia hanya penasaran dengan nama lengkap dari saudara dokter tampan itu.


Namun di redamnya semua perasaan tersebut dalam-dalam, karena memikirkan keadaan Mayang yang sedang menantinya.


"Dari seragam dan atributmu, Apa Anda berasal dari batalion X ya, Mas Setyo?" tanya Radhif. Apa saudara mengenal Danton Heru?" tanya Radhif pada Setyo.


"Izin, siap benar, Pak Radhif," balas Setyo singkat.


"Kalau benar sampaikan salamku untuk Danton Heru, sebut saja nama saya," ucapnya lagi.


"Siap!" balas Setyo singkat. Banyak hal yanh ingin di ucapkannya tetapi janji kepada Mayang membuat mulutnya tetap terbungkam.


'Andai saja aku tak berjanji. Andai saja Mayang memberiku kesempatan untuk merebutnya dari Radhif, aku akan membeberkan semuany. Bila harus hancur, biarlah hancur sekaligus tanpa sisa.


Aku hanya ingin bersama wanita yang aku cintai,' ucapnya dalam hati menahan gejolak dalam dadanya.


Radhif pun berpamitan dan berlalu, membawa Mayang dalam pelukannya.


Keduanya berjalan meninggalkan Setyo dan juga Dokter Rian yang masih berada di dalam kantin rumah sakit tersebut.


Di dalam sana Setyo menahan rasa sakit yang teramat dalam, melihat wanita yang dicintainya bersama pria lain, meskipun dia tahu pria itu telah sah menjadi suami dari Mayang.


"Pulanglah,Yo. Hati-hatilah saat perjalanan pulang. Aku akan menemui Dokter Inggrit, ada yang ingin dia sampaikan kepadaku terkait hasil tes kehamilan Mayang," ucap Dokter Rian mengingatkan.


"Apa yang sebenarnya yang terjadi kepada Mayang?"


"Beritahu aku, Ian. Aku bersumpah akan melakukan apapun untuk Mayang," ujar Setyo.


"Sadarlah, Setyo. Jangan memaksaku!" ujar Dokter Rian segera berlalu meninggalkan Setyo yang masih saja memanggilnya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


*Apa kebohongan ketiganya tersimpan dengan rapih?


*Bagaimana kehamilan Mayang, apakah akan baik-baik saja?


Nantikan kisahnya hanya di "TCM" Part 76. Terimakasih 🙏😊


NOTE : Jangan lupa like, vote, tip dan komennya yang membangun ya teman-teman semua.


Karena semua itu bisa menjadi imun dan penyemangat untuk Author dalam menulis, mohon maaf apabila masih banyak kekurangan, karena Author masih pemula, semoga bisa lebih baik lagi kedepannnya 🙏😊🤩

__ADS_1


__ADS_2