
...----TAKDIR CINTA MAYANG----...
...PART 107...
----Keretakan mahligai pernikahan Mayang dan Radhif-----
(bagian kelima)
Sepenggal part sebelumnya,
"Udah-udah, berisik aja dari tadi. Ntar lagi sampai Malang. Kita kerumah aku dulu ya, teman-teman. Setelah itu kita beli bingkisan yang akan kita bawa ke tempat Mayang. Gimana setuju gak?" ucapku di sela-sela keributan ketiga sahabatku.
"Setuju banget!" seru ketiganya berbarengan.
"Gitu, dong," ucapku lagi sambil tersenyum.
...-------------*****--------------...
-----Perjalanan menuju Kota Malang-----
Mobil hitam Avanza Veloz melaju perlahan ketika memasuki jalanan kecil berbatu. Pemandangan yang asri di sekelilingnya terlihat sangat jelas. Udara sejuk memenuhi rongga paru-paru keempat sekawan tersebut.
"Jalan kerumahmu masih alami ya, Niar. Udara sangat sejuk di kampungmu ini. Aku dah lama gak ngelihat sawah yang luas seperti ini," seru Restu dengan girang. Matanya memandang takjub. Benar-benar terpesona dengan pemandangan indah ciptaan Tuhan yang sungguh tiada duanya.
"Kamu gak usah balik aja, temenin bonyoknya Niar di kampung. Mau gak Restu? Siapa tahu di jadiin anak mantu sama merek, kebetulan kan ada kakaknya Niar yang masih pendidikan militer di kota Bandung," jelas Dion asal nyela pembicaraan Restu tadi.
"EH, buset. Aku aja belum bisa apa-apa urusan rumah. Yang ada ntar aku di pulangin ke ibuku sama bapak dan ibunya Niar," balas Restu sekenanya.
Tiba-tiba Niar berceletuk,"Siapa juga yang mau punya kakak ipar model kayak kamu, Tu. Yang ada masku kurus kering gak kamu masakin. Ngerebus air aja gosong, apalagi buat mie, benyek mulu gak enak di makan." Niar berkomentar sembari melemparkan bekas botol minuman mineral ke arah Restu.
"Enak aja, gini aku bisa kok masak. Tapi cuma ceplok telor di kasih kecap," ujar Restu sambil nyengir. Restu balik melempar bekas botol mineral tadi ke arah Niar.
__ADS_1
Karena kesal melihat tingkah dan pola kedua sahabatnya, Ika pun melerai perdebatan keduanya.
"Udah-udah. Sama-sama gak bisa masak tuh gak usah saling menjatuhkan. Contohin aku dong, master dalam masalah pemasakan," ucap Ika bangga.
"Huuuhhh ... Masak di warung Mbak Mun ya, Cha?" seru Restu dan Niar berbarengan.
"Loh, itu kan juga usaha. Usaha buat ngisi perut yang lapar. Etapi ngomong-ngomong masalah perut, rumahmu yang mana kok gak nyampai-nyampai juga? Perutku dah butuh di isi nih, Niar," ujar Ika asal.
Sesaat Niar berbalik dan menatap ke arah depan. Matanya tertuju pada jalan yang dilalui mereka.
"Bentar lagi kok, tuh tinggal belok ke kanan udah sampe deh kita di rumahku," balas Niar menjelaskan.
"Pelan-pelan aja, Ion. Di sini banyak petani yang ke sawah pagi-pagi gini. Banyak juga anak-anak kecil yang bersepeda hendak ke sekolah," jelas Niar kepada Dion.
*****""""******
...--------Home Stay------...
"Kemana aja Mayang. Aku hubungi kok gak diangkat. Mana mobilku kehabisan bensin dan mobilnya mami kempes bannya," gumamnya sembari mengacak-ngacak rambutnya yang cepak.
Sang mami yang berada di ruang tamu kemudian berjalan menghampiri Radhif.
"Kamu kenapa sich, Dif. Kayak orang senewen gitu. Santai aja kenapa sich, toh Mayang istrimu ada yang ngurusin di rumah sakit. Buat apa kita bayar mahal-mahal di ruang VVIP kalo gak terurus," gerutu maminya Radhif.
"Tapi Mam, kasian Mayang sendirian di sana. Mana dia pagi ini harus chek-up. Aku harusnya ada di sana nemenin Mayang," balas Radhif.
"Istrimu itu bukan anak kecil lagi. Toh dia bisa manggil suster untuk bantuin dia kalo memang dia memerlukan bantuan," ucap Bu Dian lagi. Dia sebenarnya membenarkan ucapan Radhif, tetapi melihat putra sematawayangnya yang tal terurus membuat hatinya sedikit kesal kepada Mayang.
'Mami kasian sama kamu, Dhif. Coba kamu nikah sama Inggrit, pasti kamu sudah hidup berbahagia dan memiliki momongan. Gal kayal sekarang, kamu harus korbanin kebahagiaan dan juga pekerjaan kamu demi Mayang,' batin Bu Dian dalam hati.
Radhif yang melihat maminya hanua terdiam kemudian menepuk bahu sang mami.
__ADS_1
"Mami ngelamun apaan sich? Tadi Radhif ngomong kok di cuekin?" gerutu Radhif kesal.
"Nggak kok. Mami gak mikirin apa-apa. Cuma agak capek aja," balas Bu Dian maminya Radhif.
"Yaudah, Radhif balik dulu ya ke rumah sakit, Mam. Kasian Mayang sendirian," sahut Radhif sembari menyambar jaket kulit miliknya yang tadi diletakkannya di kursi yang berada depan kamar tempat kedua orangtuannya menginap.
"Eh, tapi bantu teleponin dulu montir yg bisa di suruh ke sini atau gimana biar mobil mami dan papi bisa di benerin. Kan mami lupa bawa peralatan buat ganti ban mobil, Dhif. Masa iya Mami harus nelpon Pak Ujang buat ke Malang," ucap Bu Dian lagi. Kini wajahnya nampak cemas dan gusar.
Radhif yang melihat maminya dilanda kecemasan tak bisa menolaknya. Akhirnya Radhif menyerah dan menuruti perkataan sang mami. Kini dirinya mencoba mencari bantuan kepada penjaga home stay tempat kedua orangtuannya menginap. Hatinya semakin dilanda khawatir, fikiran tak tenang. Ada perasaan bersalah dan resah, sepertinya bakalan terjadi sesuatu nantinya.
...---------Rumah sakit-------...
Mayang yang merasa diabaikan oleh Radhif suaminya kemudian meminta bantuan kepada suster Niken yang saat itu berdinas untuk membantunya membersihkan diri. Setelah mengganti perban dan juga pakaiannya, Mayang mengambil ponselnya yang berada di laci meja. Meja itu tak jauh dari tempat tidurnya.
"Saya pergi dulu ya, Mbak Mayang. Sebentar lagi saya akan kembali bersama dokter untuk melakukan visit," ucap Suster Niken menjelaskan.
"Iya, Sus. Terima kasih atas bantuannya. Kalo gak ada suster saya gak tahu harus bagaimana tadi," ucap Mayang berterimaksih.
"Sudah tugas saya, Mbak. Yasudah saya tinggal bentar ya. Mbak silahkan makan bubur yang di saya bawa tadi. Ini spesial pemberian dari Dokter Bima," ucapnya lagi.
"Makasih, Sus," balas Mayang sembari melirik ke arah rantang kecil yang ada di atas nakas.
'Sungguh baik dokter itu membawakanku bubur. Siapa aku sampai dokter Bima begitu perhatiannya,' gumam Mayang dalam hati. Ada perasaan heran yang tersirat di dalam hatinya menerima segala kebaikan dari sang dokter.
...-----------Bersambung-------------...
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 108. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊
Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.
__ADS_1