
...RAHASIA DI BALIK HASIL CHEK UP...
...bagian pertama...
...*****"""""*****...
...Villa, Kota Malang...
Hari kedua Radhif dan Mayang berada di Kota Malang.
Setelah sholat subuh, Radhif mengajak Mayang berjalan-jalan pagi di sekitar villa milik Heru tersebut.
Menurut cerita dan petunjuk dari Pak Deden di balik bukit kecil yang tak jauh dari villa itu terdapat hamparan luas kebun teh. Oleh karena itu, pagi ini Rashif berinisiatif untuk mengajak Mayang melihat langsung kebun teh yang ada dalam cerita Pak Deden.
Dan ternyata apa yang disampaikan Pak Deden itu memang benar, ternyata di balik bukit kecil yang tak jauh dari villa, terhampar luas perkebunan teh yang hijau bak permadani di bawah lereng gunung. Sejauh mata memandang nampak pucuk-pucuk hijau teh siap di petik. Pemandangan yang sangat memukau, memanjakan mata yang melihatnya.
Udara pagi itu begitu asri dan sejuk mengisi rongga paru-paru keduanya.
Bahagia bukan karena kekayaan yang selama ini mereka miliki dan nikmati. Akan tetapi dengan selalu mengucap syukur atas nikmat Allah yang tak terkira berupa kesehatan serta nafas kehidupan adalah hal utama dalam kehidupan ini.
Tanpa rasa syukur segala sesuatu takkan pernah cukup untuk membuat kita bahagia.
"Dek, sini Kak Radhif gendong kalo capek," tawar Radhif pada Mayang.
"Gak usah,Kak, Mayang kuat kok," ucapnya dengan nafas tersengal mencoba menaiki tanjakan menuju puncak bukit kecil di dekat villa.
"Yaudah,sini aku bantu biar gak susah berjalan menajak," ucap Radhif sambil mengulurkan tangannya kepada Mayang.
Akhirnya dengan susah payah Mayang menapaki sejengkal demi sejengkal jalan setapak menuju puncak bukit kecil itu.
Berharap akan menemukan pemandangan hijau nan indah setelah sampai di atas sana.
Keindahan alam ciptaan Sang Khalik, yang sungguh tak ternilai.
__ADS_1
"Sini,duduk disebelahku," ucap Kak Radhif sambil menunjukan sebuah batu yang berada tepat disamping batu di mana Radhif duduk saat itu.
Mayang berjalan perlahan kemudian duduk di sebelah Kak Radhif, memandang hamparan hijau kebun teh.
Damai dan tenang dirasakannya, sambil menghirup dalam-dalam udah pagi itu.
Berton beban yang menghimpit fikirannya hilang seketika.
Terasa ringan bagai bulu angsa yang terbang tertiup angin.
Tak ada lagi kekhawatiran dalam dirinya.
Yang ada hanya kebahagiaan.
Bahagia memiliki Kak Radhif yang selalu menjaga dan mengerti dirinya.
Dia tahu setelah Kak Radhif mendapat telepon dari mertuannya kemarin, sikap Kak Radhif padanya mulai berubah.
Kini Kak Radhif tidak menuntut apa yang semestinya belum saatnya mereka lakukan.
Bersama imamnya itu Mayang menghabiskan waktu dengan sholat, berdzikir dan membaca buku-buku religi.
Ketika malam menjelang Radhif akan mengaji dan memutarkan shalawat.
Suaminya itu berharap kelak sang bayi akan menjadi anak yang soleh dan soleha.
"Indah kan,Dek, pemandangan di depan kita?"
"Aku ingin saat kita tua nanti, kita bisa memiliki rumah di tempat yang pemandangannya indah seperti ini," ucap suara itu dengan nada yang terdengar lembut dan penuh harapan.
"Iya,Kak,aku juga berharap begitu. Aku ingin memiliki sebuah rumah mungil yang berada di pedesaan," ucap Mayang tanpa bisa berpaling dari pesona alam yang membuat matanya tak berkedip.
Radhif memandang Mayang, meraihnya dalam dekapannya.
__ADS_1
Tanganya membelai rambut Mayang dan mencium ujung kepala wanita yang kini menjadi istrinya.
Kelak Mayang akan menjadi ibu bagi anak-anaknya, Radhif berharap pernikahan mereka akan berjalan mulus tanpa ada lagi kesepakatan.
Karena cintanya untuk Mayang bukan karena hanya rasa tanggung jawab atas apa yang telah menimpanya.
Akan tetapi itu semua dia lakukan atas nama cinta.
Cinta karena Allah yang takkan pernah membuat cintanya yang tulus kepada Mayang ternodai.
Ia ingin cinta itu tetap putih bagai melati putih, yang harumnya semerbak sepanjang masa.
"Dek, aku akan menjagamu dan menunggumu hingga anak ini lahir. Semoga kelak anak ini menjadi anak yang soleh dan soleha," doa terucap dari bibir Radhif.
Mendengar itu Mayang merasa bahagia sekaligus terharu.
Bahagia karena ketulusan cinta Radhif, terharu karena keikhlasannya menerima anak dari mendiang Kak Radhit.
'Hatimu sungguh mulia, Kak. Beruntungnya aku dan anakku memilikimu. Dan beruntungnya Kak Radhit memiliki kakak seperti dirimu,' ucap Mayang dalam hati.
Tak terasa bulir bening membasahi sudut matanya.
Untuk saat ini dia merasa menjadi wanita paling beruntung dan bahagia di muka bumi ini.
Itu semua karena cinta dari Kak Radhif yang tulus dan cinta yang tak terhingga dari mendiang Kak Radhit untuk dirinya.
Radhif yang merasakan basah pada lengan bajunya mengangkat wajah Mayang, membelai lembut wajahnya dan mengusap air mata yang membasahi sudut mata istrinya itu.
Kemudian mencium keningnya dan mendekapnya kembali.
"Ayo kita pulang, Dek. Hari ini ada jadwal 'chek up' kandungan. Jangan sampai kita terlambat," ujar kak Radhif seraya menggenggam jari jemari Mayang.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
__ADS_1
Nantikan kisah selanjutnya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" PART 72. Terimakasih sudah membaca cerita karya Cikgu Maya, jangan lupa like, vote dan juga tipsnya ya teman-teman semua.
Karena semua itu bisa menjadi imun dan penyemangat untuk Author dalam menulis, mohon maaf apabila masih banyak kekurangan, karena Author masih pemula, semoga bisa lebih baik lagi kedepannnya 🙏😊🤩