TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
TAKDIR CINTA MAYANG PART 110


__ADS_3

...----TAKDIR CINTA MAYANG----...


...PART 110...


...----PERPISAHAN----...


...(bagian keempat)...


...Sepenggal part sebelumnya,...


...-------Rumah sakit--------...


Tepat pukul sembilan pagi hari, sebentar lagi waktunya dokter untuk 'visit', Mayang sudah mengganti baju rumah sakit dengan baju biasa miliknya yang ada di tas ransel loreng milik suaminya Radhif.


Mayang masih kefikiran tentang Setyo, bagaimana mungkin golongan darahnya sama dengan pria yang sangat mencintainya tersebut.


Belum lagi tersadar dari lamunannya, Mayang kemudian di kejutkan oleh suara salam dan ketukan di pintu kamarnya.


'Suara itu, sepertinya aku kenal,' batin Mayang menerka-nerka apa yang didengarnya barusan.


"Masuk saja, pintunya gak di kunci! teriak Mayang dari dalam.


Alangkah terkejutnya Mayang ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu kamarnya. Ingin rasanya Mayang berlari mendekap erat sosok tersebut, namun apa daya bekas operasi yang masih belum sembuh membuat dirinya hanya bisa terpaku memandang dan menangis melihat pemandangan yang ada di hadapannya.


...----------******""""****----------...


Alangkah terkejutnya Mayang, ternyata yang datang adalah keempat sahabatnya. Mereka adalah Ika, Niar, Restu dan juga Dion.


"Kalian kok bisa sampai sini? Gimana kabar kalian semua, aku kangen sama kalian!" ucap Mayang saat melihat keempat sahabatnya tersebut.

__ADS_1


Sudut mata Mayang nampak mengembun, begitu terharu dan juga bahagia di jenguk oleh para sahabat yang sangat dicintainya.


"Kau baik-baik saja kan, Mayang? Kami sangat mengkhawatirkanmu. Apalagi sejak terakhir kau bertemu dengan Setyo di mall itu. Nomor ponselmu tidak lagi aktif dan bisa dihubungi," ucap Ika sambil menggenggam erat jari jemari Mayang.


Restu kemudian mengusap punggung Mayang yang terlihat mulai sesegukan karena menahan tangisnya.


"Maafkan aku ya, aku tak bisa menemui kalian dan juga mengabari keadaanku, sebab ponselku di sita bahkan dihancurkan oleh Mas Radhif sejak kejadian itu. Mas Radhif benar-benar marah ketika aku menemui Setyo. Bahkan saat ini aku seperti ini karena pertengkaran Setyo dan Mas Radhif, Tu!" tangis Mayang sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Melihat Mayang yang menangis, Niar pun memeluk Mayang dari samping sembari berkata, "Jangan nangis lagi, May. Kami ada disini untuk menghiburmu. Sekarang waktunya kita melepas kangen, kan udah lama kita gak ketemu. Jadi sedihnya udahan ya, waktunya untuk berbahagia." Kemudian Niar mencoba menghibur Mayang dengan memberikan camilan kesukaan Mayang. Sekotak coklat favorit Mayang di sodorkan oleh Niar, membuat senyum tipis mengembang di bibir Mayang sesaat.


"Makasih, Niar, Ika, Restu dan juga Dion. Kalian memang sahabat sejatiku. Aku sayang kalian semua," ucap Mayang sembari membuka kedua tangannya agar bisa memeluk ketiga sahabatnya yang duduk di dekatnya.


"Auw...!" jerit Mayang tertahan.


"Kenapa kamu, May?" ucap Niar spontan melihat wajah Mayang yang meringis kesakitan.


"Anu, bekas operasiku agak nyeri, Niar. Masih belum sembuh betul karena baru beberapa hari yang lalu operasi," jelas Mayang kepada Niar.


"Gak apa-apa kok, Ika. Aku udah kuat. Buktinya aku udah bisa jalan-jalan dan juga bangun dari tempat tidurku," sanggah Mayang.


"Kamu harus banyak-banyak istirahat, May. Biar bekas operasimu lekas sembuh. Kalo udah sembuh kan kamu bias kuliah lagi. Kita bisa jalan bareng lagi," celoteh Restu bak air yang mengalir, gak ada putusnya.


Niar dan Ika pun mencubit lengan Restu. Apalagi setelah mendengar ucapan Restu tadi Mayang terlihat menunduk dan bersedih.


"Maafkan aku, May. Maafkan bila ucapanku tadi salah. Aku gak bermaksud membuatmu bersedih. Aku lupa kalo sekarang kamu udah menikah," ucap Restu menyesal telah membuat sahabatnya itu bersedih.


"Kamu benar kok, Tu. Aku harus mengambil keputusan. Aku harus punya masa depan. Kalo aku gak kuliah gimana nasib aku jika berpisah dari Kak Radhif. Gak mungkin kan aku berhenti di tengah jalan, gimana nantinya aku hidup bila tidak melanjutkan kuliah," suara Mayang begitu berat saat berbicara.


"Apa maksudmu,May?" tanya keempat sahabatnya itu serempak.

__ADS_1


Dion yang tadinya hanya berdiam diri, kimi terdengar ikut membuka suaranya ketika mendengar ucapan Mayang tadi.


"Aku ingin berpisah dari mas Radhif. Kalian pasti tahu alasannya. Kak Radhif menikah denganku karena aku sedang mengandung anak dari mendiang Kak Radhit yang merupakan saudara kembar Kak Radhif. Kak Radhif melakukan semua itu agar aku terhindar dari pandangan buruk orang," ucap Mayang tertunduk.


"Kamu serius mau pisah sama Kak Radhif? Bukankah kalian udah nikah secara agama dan juga kedinasan, May?" ucap Dion lagi. Kali ini Dion mulai bersuara. Apalagi setelah mendengar cerita Mayang tadi.


"Fikirkan semua dengan kepala dingin, May. Jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Nanti ujung-ujungnya kamu bakalan nyesel," seru Dion mengingatkan.


"Udah aku fikirkan matang-matang, Ion. Apalagi kini sikap ibundanya Kak Radhif mulai berubah kepadaku. Sepertinya ada wanita lain yang sebenarnya ingin dijodohka dengan Kak Radhif," ucap Mayang sembari mengusap buliran bening di sudut matanya.


"Astagfirullah ... Istigfar, May. Kamu fikirkan dulu, belum tentu Kak Radhif menerima prrjodohan itu, apalagi kalian kan masih terikat secara syah dalam mahligai pernikahan," ucap Ika dengan lantang.


"Entahlah, aku tak tahu harus bagaimana, aku merasa bersalah kepada Setyo. Karena aku Setyo kini harus dipindahtugaskan ke daerah pelosok Papua, Ika. Aku merasa seperti orang yang paling jahat. Apalagi saat aku kritis, Setyolah yang mendonorkan darahnya kepadaku hingga aku bisa tertolong. Aku berhutang budi kepada Setyo," ucap Mayang. Kemudian tangisnya tak dapat lagi dibendung. Airmatanya menetes bagaikan air hujan yang turun tanpa henti.


"Setyo pasti bahagia melihat dirimu kini telah sembuh. Lagi pula itu hanya kebaikan kecil yang dilakukan Setyo untukmu, May. Suatu saat jika Sang Pencipta meridhoi, kalian pasti akan bertemu dan dirimu bisa membalas hutang budi kepadanya," seru Ika mencoba menenangkan Mayang.


"Tapi kapan itu akan terjadi, Ika. Aku takut semua sudah terlambat. Aku seharusnya mencegah Kak Radhif melakukan hal itu kepada Setyo. Akulah penyebab semua ini, jika sesuatu hal buruk terjadi kepada Setyo bagaimana, Ika. Aku pasti orang pertama yang merasa bersalah," balas Mayang di sela-sela tangisnya.


Ika hanya terdiam mendengar ucapan Mayang tadi. Dalam hatinya dia membenarkan ucapan Mayang tadi.


Tiba-tiba pintu yang tadinya setengah tertutup kini terbuka lebar. Seseorang dengan langkah tegap melangkah kedalam. Sudah sejak tadi dirinya berdiri di balik pintu mendengarkan semua obrolan antara Mayang dan keempat orang yang ada didalam ruangan itu.


"Kamu tidak bersalah, May. Kamu akan selalu jadi yang terindah didalam hatiku, sampai kapanpun, bahkan jika aku tak bisa memilikimu...!" ucap pria tersebut dengan tegas sembari berjalan ke dalam ruangan tersebut.


...-----------Bersambung-------------...


Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 111. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊


Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.

__ADS_1


Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.


__ADS_2