TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
TAKDIR CINTA MAYANG PART 111


__ADS_3

...----TAKDIR CINTA MAYANG----...


...PART 111...


...----PERPISAHAN----...


...(bagian kelima)...


...Sepenggal part sebelumnya,...


...-------Rumah sakit------...


"Entahlah, aku tak tahu harus bagaimana, aku merasa bersalah kepada Setyo. Karena aku Setyo kini harus dipindahtugaskan ke daerah pelosok Papua, Ika. Aku merasa seperti orang yang paling jahat. Apalagi saat aku kritis, Setyolah yang mendonorkan darahnya kepadaku hingga aku bisa tertolong. Aku berhutang budi kepada Setyo," ucap Mayang. Kemudian tangisnya tak dapat lagi dibendung. Airmatanya menetes bagaikan air hujan yang turun tanpa henti.


"Setyo pasti bahagia melihat dirimu kini telah sembuh. Lagi pula itu hanya kebaikan kecil yang dilakukan Setyo untukmu, May. Suatu saat jika Sang Pencipta meridhoi, kalian pasti akan bertemu dan dirimu bisa membalas hutang budi kepadanya," seru Ika mencoba menenangkan Mayang.


"Tapi kapan itu akan terjadi, Ika. Aku takut semua sudah terlambat. Aku seharusnya mencegah Kak Radhif melakukan hal itu kepada Setyo. Akulah penyebab semua ini, jika sesuatu hal buruk terjadi kepada Setyo bagaimana, Ika. Aku pasti orang pertama yang merasa bersalah," balas Mayang di sela-sela tangisnya.


Ika hanya terdiam mendengar ucapan Mayang tadi. Dalam hatinya dia membenarkan ucapan Mayang tadi.


Tiba-tiba pintu yang tadinya setengah tertutup kini terbuka lebar. Seseorang dengan langkah tegap melangkah kedalam. Sudah sejak tadi dirinya berdiri di balik pintu mendengarkan semua obrolan antara Mayang dan keempat orang yang ada didalam ruangan itu.


"Kamu tidak bersalah, May. Kamu akan selalu jadi yang terindah didalam hatiku, sampai kapanpun, bahkan jika aku tak bisa memilikimu...!" ucap pria tersebut dengan tegas sembari berjalan ke dalam ruangan tersebut.


...--------------*****"""""*****------------...


"See...Set...Yo...!!! Kamu kok ada di sini?" ucap Mayang terbata. Matanya kembali mengembun setelah mendengar ucapan Setyo tadi. Apalagi kini sosok pria yang telah menarik nyawanya dari pintu kematian berada di depannya. Pria yang selama ini mencintainya bagaikan orang yang kehilangan akal sehatnya. Tak pernah bisa 'moveon' dari dirinya, bahkan jika Mayang benar-benar menikah dan menjadi istri Radhif yang seutuhnya. Setyo masih akan tetap mencintainya.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu? Apa kamu baik-baik saja? Maafkan aku telah membuatmu kehilangan bayi dalam kandunganmu. Semua akibat rasa cintaku yang berlebihan. Maafkan aku, Mayang. Semua ini salahku, andai saja hari itu aku tidak berada di rumah Danton Heru, pastinya kamu dan bayimu akan baik-baik saja," ujar Setyo. Matanya berkaca-kaca menahan beban dalam hatinya. Rasa sesal yang begitu mendalam terlukis di wajahnya. Suaranya pun terdengar bergetar saat mengucapkan semua unek-unek di dalam hatinya.


"Ini semua sudah takdir, Yo. Mungkin Kak Radhit ingin berkumpul bersama anak kami. Mereka akan selalu berada di dalam doaku. Aku tahu suatu saat nanti kami akan bertemu, mereka akan selalu mendoakan aku dari atas sana," balas Mayang dengan nada lirih. Sebenarnya hatinya lemah, tapi semua itu dia lakukan agar Setyo tidak merasa semakin tenggelam dalam rasa bersalahnya.


"Aku berterimakasih kamu telah mnyelamatkan nyawaku, berkat darah yang mau donorkan untukku. Kalo gak ada Kamu apa jadinya aku, Yo," balas Mayang lagi.


Mata Setyo terbelalak saking terkejutnya mendengar apa yang baru saja Mayang ucapkan. Setyo pun berkata, "Dari mana kau tahu aku mendonorkan darahku untukmu? Apa Radhif tau kalau aku melakukan itu untukmu?


Mayang menggelengkan kepalanya ketika Setyo menanyakan permasalahan donor darah yang sedang mereka bahas.


"Kak Radhif masih belum tahu kalo aku sudah mengetahui hal ini. Dan Kak Radhif sepertinya juga belum tahu kalo kamu mendonorkan darah kepadaku," jelas Mayang kepada Setyo.


"Iya, May. Jika dia tahu, pastinya Danton Heru akan menghubungiku. Karena hanya Danton Heru dan Danton Dwi yang tahu jika malam itu aku mendonorkan darahku untukmu," balas Setyo.


Keduanya kemudian diam untuk beberapa saat. Ternyata di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Keempat sahabatnya entah kemana, tanpa sadar mereka meninggalkan Mayang dan Setyo berdua di dalam ruangan kamar VVIP tersebut.


"Kenapa bisa kamu mendadak ditugaskan keluar pulau Jawa, Yo? Apa memang seperti itu?" ucap Mayang sedikit terkejut.


"Sudah kewajibanku melindungi NKRI ini, kami para abdi negara harus siap ditugaskan kemana saja, May. Sama seperti suamimu," balas Setyo.


"Tapi, Yo. Kenapa mendadak gini, seandainya aku gak sakit, aku bakalan Nganterin kamu bersama teman-teman," ucap Mayang sedih.


"Udah, doain aja aku agar selamat perginya dan juga kembali, aku akan membawakan dirimu seekor burung cendrawasih yang cantik itu sebagai hadiah untukmu," ucap Setyo mencoba membesarkan hati Mayang.


"Setyo...!" ucap Mayang


"Sedalam itukah cintamu untukku?" seru Mayang dengan perlahan nyaris tak terdengar.

__ADS_1


"Ingatlah, aku akan selalu setia menunggumu, meskipun harapan dan impianku nanti takkan pernah menjadi nyata," balas Setyo. Setyo kemudian duduk di kursi yang berada tepat di samping tempat tidur, tangannya menggapai jari jemari Mayang yang sedang duduk dan bersandar pada sebuah bantal di punggungnya.


Mayang hanya bisa menatap wajah tampan Setyo. Matanya tak bisa lagi menahan buliran bening yang terus saja mengalir deras bak air terjun Niagara.


"Setyo...! Aku mohon jangan seperti ini. Buang semua kenangan kita saat dulu bersama, raih masa depanmu bersama orang yang kau cintai. Aku yakin diluar sana ada wanita yang lebih dariku sedang menanti cintamu," ujar Mayang di sela-sela tangisnya.


Setyo terdiam. Tangannya semakin kuat menggenggam jari-jemari Mayang seakan tak ingin melepaskannya.


"Jangan berkata seperti itu, May. Jangan patahkan hatiku di saat aku akan pergi jauh. Biarkanlah bayang-bayangmu dan juga perasaan ini yang akan membuat diriku bersemangat, agar bisa kembali ke tanah jawa ini demi dirimu," balas Setyo dengan nada penuh harap.


Mayang semakin sedih, di lain pihak dia ingin Setyo bahagia dan mencari penggantinya. Namun, dilain pihak Mayang tak ingin terjadi apa-apa kepada Setyo. Paling tidak ada sesuatu yang bisa membuat pria tampan yang merupakan sahabatnya itu bisa kembali dari tugasnya.


"Aku akan mendoakanmu, Yo. Semoga dirimu tetap sehat dan senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Lekaslah kembali karena banyak orang-orang yang mencintaimu menanti kedatanganmu," ujar Mayang memberi semangat kepada Setyo sahabatnya tersebut.


"Aku akan selalu mencintaimu, May. Sampai kapanpun," ucap Setyo dengan lembut.


Moment haru tersebut tiba-tiba saja berakhir ketika seseorang membuka pintu kamar dengan kasar. Dan tiba-tiba saja sebuah suara keras terdengar membentak.


"Kau...! Ngapaen kamu disini? Bukannya aku sudah memberimu pelajaran dengan membuangmu jauh dari sini," ucap suara tadi dengan nada kasar dan marah. Sepertinya emosi yang meletup-letup memenuhi rongga dadanya.


"Kak Radhif jangan lakukan itu...!" Teriak Mayang memanggil sosok pria yang sedang berdiri mencengkeram kerah baju Setyo.


...-----------Bersambung-------------...


Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 112. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊


Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.

__ADS_1


Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.


__ADS_2