TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
TAKDIR CINTA MAYANG PART 114


__ADS_3

...----Awal sebuah petaka----...


...(bagian ketiga)...


...Sepenggal part sebelumnya,...


"Bener apa yang di katakan Dion, Yo. Berdoalah kepada Allah, semoga permasalan ini tidak berlarut-larut. Suatu saat kau harus memilih jalan hidupmu, begitu pula dengan Mayang yang sudah memilih jalan hidupnya sendiri. Relakan dan ikhlaskan dia bila kau benar-benar mencintainya. Semua ini agar kalian berdua bisa bahagia," ujar Niar membenarkan apa yang sudah di sampaikan Dion kepada Setyo.


Nampak Setyo memandang ke arah luar jendela mobil. Hanya mendegus dan mengepalkan tangannya. Mencoba menahan sesuatu yang masih terus mengganjal di dalam hatinya.


"Entahlah, apa semua ini bisa aku lakukan. Berat rasanya melupakan wanita yang menjadi cinta pertamaku," seru Setyo dengan suara lirih.


...______***"""***______...


Siang itu ketika Kak Radhif sedang menebus obat dari resep yang diberikan oleh Dokter Bima untuk Mayang. Ternyata Mayang telah siuman. Suster Niken yang tadinya di suruh oleh Dokter Bima untuk mengawasi keadaan Mayang merasa lega, akhirnya pasien siuman setelah beberapa jam tak sadarkan diri.


Ketika membuka matanya, nampak seorang wanita berseragam putih berdiri disamping Mayang.


"Alhamdulillah, Bu Mayang sudah siuman. Gimana perasaannya, bu?" tanya Suster Niken.


"Sus, suster kepala saya masih terasa sakit. Apa saya akan baik-baik saja?" ucap Mayang balik bertanya kepada sang perawat.


Kemudian suster menyentuh kepala Mayang dengan lembut dan memperhatikan segala sesuatunya sangat teliti. Lalu sang perawat pun menelpon seseorang.


Tak berselang lama, muncul sesorang yang ternyata dia adalah Dokter Bima. Seperti kilatan cahaya, sang dokter tampan itu dengan cepat telah berada di ruang inap tempat Mayang berada.

__ADS_1


"Assalamualikum, suster gimana keadaan pasien. Apa semuanya baik-baik saja," tanya Dokter Bima sesampainya di dalam ruang tersebut.


"Sementara ini, semuanya baik-baik saja, Dok. Masih belum ada hal-hal yang perlu di khawatirkan," balas sang perawat sembari membenahi letak selimut yang menutupi tubuh Mayang.


Kemudian dengan perlahan Dokter Bima berjalan menuju kearah tempat tidur Mayang. Saat itu Dokter Bima secara sengaja menggunakan masker untuk menutupi wajahnya. Iya khawatir setelah kejadian tadi, melihatnya bisa membuat Mayang lebih syok lagi jika melihatnya.


"Bagaimana perasaan Anda setelah siuman? Apa semuanya terasa lebih baik atau berbeda rasanya dari sebelumnya. Misalnya lebih buruk dari sebelum kejadian tadi?" tanya Dokter Bima kepada Mayang.


Suara Dokter Bima sangat pelan karena menggunakan masker. Hal itu membuat Mayang kurang begitu jelas mendengarkan suara Dokter Bima.


"Maaf, saya kurang jelas mendengar apa yang Dokter ucapkan," sela Mayang.


Ada rasa khawatir dalam benak Dokter Bima, akan tetapi sang dokter tampan itu mencoba menguasai emosinya. Dengan perlahan dirinya membuka masker kesehatan yang digunakannya untuk sesaat, kemudian menatap ke arah Mayang dan berbicara. Kemudian sang dokter tampan itu menggunakan kembali masker yang memang telah dikenakan sebelumnya.


"Apa semua baik-baik saja, Bu Mayang?" ucap Dokter Bima kemudian.


'Apa ini benaran Mas Bimaku? Mas Bima yang telah lama pergi tanpa memberi kabar dimana dirinya berada? Benarkah Mas Bima sahabat Mas Gilang?' muncul berbagai pertanyaan dalam benak Mayang.


Suster Nova yang melihat Mayang terdiam kemudian menegur Mayang. Hal itu membuat Mayang jadi sedikit tergagap ketika menjawab pertanyaan sang suster.


"Apa Ibu Mayang baik-baik saja? Dokter tadi bertanya kepada Bu Mayang,' ujar suster Niken mengingatkan.


"eh, iya, anu. saya baik-baik saja, Sus. Cuma kepala saya terasa sedikit pusing," balas Mayang tergagap.


Mendengar ucapan Suster Niken tadi, akhirnya Dokter Bima memutuskan memeriksa keadaan Mayang. Di periksanya bagian kepala Mayang yang terbentur.

__ADS_1


"Alhamdulillah, benturannya tidak sampai menyebabkan kerusakan pada syaraf mata. Semoga lekas pulih ya Bu Mayang. Jika ada keluhan yang 'signifikan', segera hubungi saya atau petugas medis yang bertugas," seru dokter tampan tersebut.


"Baik, Dok. Apa boleh saya langsung menghubungi Dokter?" tanya Mayang tak percaya..


"Iya, boleh. Kalo mau ke ruangan saya juga gak apa-apa. Kalo memang Bu Mayang ingin berkonsultasi menanyakan keadaan kesehatan Anda. Saya akan menjelaskan dengan senang hati," ucap Dokter Bima sambil tersenyum.


Mendengar hal itu, membuat hati Mayang bersemangat dan berbunga-bunga. Ia bahagia karena Dokter Bima sangat baik kepadanya. Apalagi selama ini Dokter Bimalah yang sering mengirimkan makanan dan juga obat cina untuk Mayang. Semua itu Mayang ketahui dari suster Niken yang diperintahkan langsung oleh dokter tampan tersebut.


"Baiklah kalo begitu, saya harus 'visit' pasien yang lainnya. Jika ada apa-apa, ada Niken yang akan menjaga dan membantumu," ujar Dokter Bima sembari tersenyum dan berlalu meninggalkan Mayang serta Suster Niken.


"Baik banget dan juga tampan. Tapi gak bisa 'move on' dari cinta pertamanya hingga dia rela menunggu wanita yang dia cintai itu muncul. Dokter Bima ingin sebelum dia menikah nanti, dia bisa bertemu dengan wanita yang dulu pernah mengisi hatinya. Jika wanita itu belum menikah, maka Dokter Bima akan melamar dan menikahinya. Akan tetapi, bila sang wanita telah menikah, maka Dokter Bima akan meminta maaf dan memohon kepada wanita yang merupakan cinta pertamanya tadi untuk memberi restu saat dia menikah nantinya. Setahu saya itu yang menjadi keinginan Dokter Bima selama ini," jelas Suster Niken panjang lebar.


" Owh, gitu ya. Kalo boleh tahu siapa nama panjang beliau, Sus?" tanya Mayang kepada Suster Niken.


Sambil merapikan ujung seprei dan selimut yang menutupi Mayang tubuh, Suster Niken berkata, "Nama Panjangnya Dokter Bima itu, Bimantara Prayoga, Bu. Cakep ya, secakep orangnya." Senyum tipis menghiasi sudut bibir Suster Niken ketika dia menyelesaikan ucapannya tadi.


Mendengar ucapan sang perawat tadi, sekenanya tubuh mayang berasa panas dingin, perutnya terasa mules. Irama jantungnya menjadi tak beraturan. Tenyata apa yang difikirkannya benar. Suara itu memang suara Mas Bimanya. Mas Bima yang dahulu pernah menjadi bintang didalam hatinya. Ada rasa rindu yang semakin menjadi-jadi ketika mengetahui kenyataan itu. Akan tetapi, Mayang takut Kak Radhif akan bertindak kasar kepada Dokter Bima bila mengetahui hal yang sesungguhnya.


Cukup Setyo yang merasakan keegoisan Kak Radhif. Ia tak ingin Dokter Bima pun kena dampak negatif dari kecemburuan Kak Radhif.


'Mas Bima, kemana saja Mas selama ini. Apakah Mas tahu kalu aku dan Mas Gilang berusaha mencari Mas Bima selama setahun, setelah kepergian Mas Bima. Kini setelah apa yang terjadi kepadaku, mengapa Mas Bima muncul tanpa aku cari. Takdir macam apa ini, Mas? Aku benci dengan semua yang telah terjadi,' tangis Mayang dalam hati. Begitu sesak dirasakannya, air mata takkan mampu menghilangkan semua kesedihan dan penyesalannya. Namun, semua itu telah terjadi. Dan pada hakekatnya takdir bukanlah hal yang bisa dia tepiskan dalam hidupnya, Karena hanya Sang Penciptalah yang maha mengetahui dan membolak-balikan hati manusia, serta menentukan takdir juga garis hidup seseorang.


...-----------Bersambung-------------...


Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 115. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊

__ADS_1


Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.


Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.


__ADS_2