
...----TAKDIR CINTA MAYANG----...
...PART 106...
----Keretakan mahligai pernikahan Mayang dan Radhif-----
(bagian keempat)
----Perjalanan menuju kota Malang---
Sepenggal part sebelumnya,
Tak berselang lama gawai Niar berbunyi. Sebuah pesan masuk.
"Dion sebentar lagi akan menjemput kita. Hari ini juga kita ke Malang. Yuk, kita ke Kost untuk 'prepare' segala keperluan yang akan kita bawa," ucap Niar bersemangat.
Ketiganya pun beranjak pergi dari taman kampus. Mereka berharap perjalanan mereka berjalan lancar hingga sampai di Malang. Tak sabar rasa hati ingin segera berjumpa dengan sahabat mereka Mayang yang kini sedang sakit.
...----------*****-----------...
Tiga puluh menit berlalu setelah pembahasan ketiga sahabat itu di taman kampus. Kini ketiganya telah menyelesaikan 'packingan' yang akan mereka bertiga bawa ke Malang nantinya. Bagi Niar ini rasanya sama seperti hari libur biasanya. Pakaian yang jarang digunakannya dan buku yang sudah tidak di pakai akan dibawanya ke Malang. Dia khawatir saat wisuda nanti akan banyak barang yang harus dibawanya pulang jika tidak mencicilnya dari sekarang.
"Eh, kalian berdua ini mau nginap semalam apa seminggu. Banyak banget yang di bawa. Udah bawa ransel, bawa tetengan pula. Jangan bilang kalian mau nginap sampe usai libur. Rumahku bukan villa ya," ucap Niar judes.
Ika dan Restu meresponnya dengan santai. Mereka hanya bertatapan dan sesekali berbisik. Seolah cuek dengan sindiran Niar tadi.
"Dih, tega amat kamu, Niar. Lagaknya dah kayak inu tiri yang semena-mena. Kalo kami gak boleh nginap, ntar kami cari 'home stay' terdekat aja dari rumah sakit. Tapi ingat ya, balik ke Surabaya kita berdua putus hubungan sama kamu. Jadi orang judes banget, gak setia kawan. Awas loh rezekynya seret," sela Restu dan Ika kompak.
__ADS_1
"Bagus kalo kalian mau nyewa 'home stay'. Biar gak menuh-menuhin kamarku," tambah Niar sinis. Sambil mencoba menahan tawa, Niar berlalu meninggalkan kedua sahabatnya yang kesal karena ulahnya.
"Niar...!!!" teriak kedua sahabatnya.
Niar terus berlalu dan menuruni tangga kost-kostan menuju ke lantai bawah.
"Udah, buruan. Ntar ditinggal sama Dion. Prankku berhasil kali ini, harusnya kalian tepati janji belikan aku coklat yang banyak di mini market," sela Niar sembari menuruni tangga.
"Ah, dasar kamu. Bikin dongkol aja deh, Niar," suara Restu terdengar dari atas. Suaranya sangat keras, sepertinya Restu mencoba melampiaskan rasa kesal akan sikap Niar. Ternyata mereka berdua terpedaya dengan sikap cuek dan acuh tak acuh Niar. Pranknya berhasil. Ratu drama dalam teater itu ternyata hanya membohongi kedua sahabatnya dengan sikapnya tadi.
"Ayo, buruan! Dion udah nunggu di parkiran," teriak Niar dari lantai bawah.
*******
Perjalanan panjang menuju Malang. Niar duduk di depan menemani Dion, sementara Restu dan Ika duduk dibangku tengah.
Kring ... Kring ... Kring ...
"Bunyi ponsel siapa tuh?" ujar Restu.
"Bukan punyaku," ucapku dari bangku depan. Aku berkata sembari memalingkan posisi dudukku ke arah belakang.
"Punyaku mungkin, cha?" ujar Restu.
"Sumpah bukan punyaku. Soalnya batreku udah 'lowbat' parah," bantah Ika sambil memperlihatkan kepadaku dan juga Restu ponselnya yang memang udah mulai sekarat karena kehabisan daya.
"Punya gue," ucap Dion tersenyum.
__ADS_1
"Siap yang nelpon, Yon?" tanya Restu penasaran.
"Bukan siapa-siapa. Mungkin emak gue yang lagi parno sendirian di rumah. Soalnya Bokap gue lagi ke Jakarta, ada 'meeting' di sana mewakili kantor tempat beliau bekerja," jawab Dion santai. Pandangannya tetap fokus ke depan mengendarai mobil Avanza hitam milik ayahnya yang sengaja di bawa olehnya agar bisa membawa kami semua menuju kota Malang.
"Yon, apa gak di marahin sama emakmu kalo kamu bawa mobil ini? Aku gak mau kita kenapa-kenapa di jalan karena emakmu gak ikhlas ngasih pinjaman mobil," sela Restu lagi.
"Iya, bener, Yon. Ikhlas gak tu emakmu?" seru Ika menambahi.
"Udah tenang aja. Emakku ikhlas kok bantuin Set ..., eh, maksud aku bantuin kita semua. Kan kita pengen jenguk Mayang. Secara si doi kan sahabat kita semua," ucap Dion mencoba menenangkan.
"Oklah kalo begitu. Emak loe emang gaul abis," seru Ika dengan semangat menggebu.
"Besok-besok, kalo mau jalan-jalan minjem mobil loe aja, ya, Yon!" seru Restu menambahi.
"Geer banget deh, rental kali minjemin mulu. Boro-boro di bayar, bensin aja kagak loe bayarin," cerocos Dion menanggapi argumen Ika dan Restu tadi.
"Udah-udah, berisik aja dari tadi. Ntar lagi sampai Malang. Kita kerumah aku dulu ya, teman-teman. Setelah itu kita beli bingkisan yang akan kita bawa ke tempat Mayang. Gimana setuju gak?" ucapku di sela-sela keributan ketiga sahabatku.
"Setuju banget!" seru ketiganya berbarengan.
"Gitu, dong," ucapku lagi sambil tersenyum.
...-----------Bersambung-------------...
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 107. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊
Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
__ADS_1
Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.