TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
TAKDIR CINTA MAYANG Part 86 Gagalnya operasi Mayang


__ADS_3

...--Rumah sakit X, pinggiran kota Malang--...


Lembayung senja yang tadinya menghiasi langit kini berangsur menghilang berganti langit hitam yang pekat pertanda akan segera datang badai. Suasana malam ini ibarat kemelut yang menghampiri hari-hari Radhif ketika Mayang terbaring tak berdaya.


Nampak Radhif dan Dokter Vivian berada di sudut ruangan yang tak jauh dari meja piket di ruang IGD, kedua orang tersebut sedang melakukan perdebatan alot perihal keadaan Mayang yang kian memburuk. Setelah mendengar instruksi dari Dokter Vivian yang mengharuskan Mayang di rujuk ke rumah sakit M di pusat kota Malang, cahaya dari sorot mata Kak Radhif mulai meredup. Binar bahagia membayangkan kesembuhan sang istri itu hilang tak kala sang dokter menyuruh Radhif memindahkan Mayang ke rumah sakit tersebut. Kurangnya tenaga dokter specialis serta peralatan membuat Dokter Vivian merujuk Mayang. Kondisi Mayang yang bertambah buruk pula yang menjadi faktor utamanya. Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Radhif segera menghubungi Heru dan Dwi. Bagaimana pun juga Dwi tetap harus mendampingi Radhif sebab secara tidak langsung Dwi bertanggungjawab terhadap musibah yang menimpa Mayang tersebut.


[pesan Radhif kepada Heru : 'Her, sebentar lagi aku akan mengantarkan Mayang ke rumah sakit M yang berada di pusat kota Malang. Jaraknya dari rumah sakit lama sekitar 2 jam perjalanan. Dari batalyonmu memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Kunci mobil aku titipkan di resepsionis. Tolong susul aku di rumah sakit yang aku sebutkan tadi, terima kasih.']


Tak berselang lama ponsel Radhif berbunyi, sebuah pesan masuk di kotak pesannya. Pesan yang berasal dari Heru adik lettengnya.


[balasan dari Heru kepada Radhif : 'Siap laksanakan, hati-hati di jalan, Bang Radhif.']


Setelah mengirim pesan kepada Heru serta mendapat balasan dari adik lettengnya itu Radhif memasukan kembali ponselnya di dalam tas pinggang yang digunakannya. Tanpa sadar seorang perawat tengah berjalam menuju ke arahnya dengan membawa sebuah map dalam dekapannya.


"Apa sudah bisa kita pindahkan sekarang, Pak Radhif?" tanya salah seorang perawat kepadanya. Membuat dirinya terkejut karena sejak tadi Radhif berusaha menghubungi Heru dan Dwi yang telah kembali ke batalyon mereka.


"Ee...eh, iya Sus. Gimana? Apa sudah ada ambulans untuk mengantar istri saya?" ucapnya dengan nada sedikit bergetar entah karena spot jantungnya yang mendapat kejutan tadi atau karena lelah memikirkan keadaan Mayang belum juga menjalani operasi.


"Iya, Pak Radhif. Semua sudah siap, ini petugas yang akan mengantarkan Anda dan juga istri Anda menuju rumah sakit rujukan dari Dokter Vivian," jelas sang perawat dengan detailnya.


"Terima kasih, Sus. Saya sangat bersyukur tim medis di sini sangat baik memperlakukan setiap pasiennya, termasuk istri saya. Semoga kerja keras kalian mendapat balasan setimpal dari Sang Pencipta," balas Kak Radhif seraya berlalu menuju kamar Mayang hendak membawanya ke parkiran agar segera di bawa ke rumah sakit M, pusat kota Malang.


"Sama-sama, Pak Radhif. Kami tim medis dan perawat di sini melakukan semua ini karena itu memang tugas kami. Semoga Bu Mayang lekas pulih dan bisa mendapat momongan lagi ya, Pak," ujar sang perawat dengan mimik wajah sedih dan terlihat serius.


"Terima kasih, Sus," balasnya lagi.

__ADS_1


"Oiya, Pak. Ini berkas yang Dokter Vivian titipkan. Di dalamnya juga ada surat dari perawat yang mengambil sampel darah dan identitas dari para pendonor. Tadinya teman atau anggota Anda meminta hal tersebut dari tim medis yang memeriksa. Akan tetapi saya tidak menemukan salah seorang dari anggota bapak, sehingga saya melampirkannya di laporan medis milik Mayang saja ya, Pak Radhif," tambah sang suster sedikit mengejutkan.


Tangannya menggapai map berisi berkas kesehatan milik Mayang beserta berkas rujukan yang diberikan oleh Dokter Vivian dan juga laporan hasil tes serta identitas diri dari pendonor. Sebenarnya Radhif ingin membaca isi map tersebut. Akan tetapi ambulans yang mengantarkan Mayang telah siap di parkiran, hanya menunggu Radhif untuk ikut serta dalam perjalanan menuju rumah sakit yang di tuju.


'Laporan ini menyangkut kedua anggota Heru yang menyumbangkan darah untuk Mayang, sebaiknya aku simpan saja. Ini sebagai bukti budi baik mereka untukku. Aku pastikan mereka akan menerima imbalan jasa sepantasnya,' batin Radhif seraya menenteng map tebal bergambar rumah sakit di mana Radhif berada saat ini.


"Terima kasih, Sus. Salam untuk Dokter Vivian ya, sampaikan salam hormat dan ucapan terima kasih saya," ujar Radhif sebelum melangkah menuju parkiran.


"Sama-sama, Pak Radhif. Insya'Allah akan saya sampaikan pesan Anda kepada Dokter Vivian," balas sang suster.


Selang beberapa menit Radhif telah berada di parkiran dan menaiki mobil ambulans. Dia duduk tepa di samping Mayang yang masih terbaring dalam pengaruh obat bius, Dokter Vivian memberikan lagi obat penenang karena kondisi usus buntunya mulai meradang. Rasa sakit tak tertahankan membuat dokter melakukan hal tersebut.


"Biar saya yang duduk di belakang, Pak. Bapak silahkan pindah ke depan," ucap Radhif pada salah satu perawat yang ikut serta membantu mengantarkan Mayang ke rumah sakit rujukan yang di tuju.


"Baik, Pak. Kalo ada apa-apa atau butuh sesuatu panggil saja saya lewat celah yang ada di bagian dinding yang menghadap ke depan ini ya, Pak!" jelas sang perawat menunjukan posisi celah yang di maksud.


"Aku tau kau mendengarku"


"Sabarlah sayang, semua ini akan segera berakhir! Kuatkan dirimu!" ucap Radhif menahan rasa pilu di hatinya.


Hatinya sakit melihat Mayang seperti ini, rasa bersalah semakin mengendap dalam lubuk hatinya. Apalagi saudara dan ibu dari Mayang berada jauh. Radhif bisa merasakan kesedihan itu ketika Mayang sedang duduk termenung sendiri. Terlebih di saat-saat sakit seperti ini, pastinya Mayang membutuhkan perhatian bukan hanya dari dirinya tetapi dari keluarganya juga. Namun, sebisa mungkin Radhif akaj berusaha menghapuskan rasa sedih itu dengan curahan perhatian dan kasih sayangnya agar Mayang tidak merasa sendiri menghadapi hal ini.


Mobil yang ditumpanginya mulai menderu dan bergerak meninggalkan rumah sakit tempat sebelumnya Mayang di rawat menuju rumah sakit yang baru.


Dalam hati Radhif terus saja memanjatkan doa agar mereka tiba dengan selamat dan Mayang bisa segera di operasi. Dia sangat berharap Mayang bisa segera pulih dari sakitnya. Bagaimana pun juga dirinya takkan bisa kembali bekerja dengan keadaan Mayang yang masih belum pulih dari sakitnya. Mendampingi Mayang merupakan prioritasnya saat ini selain kedinasannya.

__ADS_1


'Allah Maha Tahu dan Maha segala-galanya. Aku berharap semua ujian ini segera terlewati. Kuatkan hamba, ya, Allah. Jangan biarkan hamba berjalan sendiri. Hamba hanya manusia lemah dan takkan mampu menghadapi semua ini tanpa ada kekuatan serta uluran tangan dari-Mu,' doa Radhif dalam hati. Dirinya berharap saat menghubungi atasanya nanti pimpinannya itu akan mengerti situasi dan kondisi yang tengah di hadapinya saat ini.


'Aku juga harus menghubungi Gilang. Sebab bagaimana pun juga Gilang adalah sahabatku yang dapat aku andalkan, Gilang juga saudara Mayang yang merupakan kakak iparku,' gumam Radhif dalam hatinya. Kembali di tatapnya wajah pucat Mayang. Sejenak dirinya terpaku dan membisu, fikiran kalut memikirkan bagaimana caranya menyampaikan hal ini kepada Gilang. Harus mulai dari mana ketika akan menceritakan semua kepada Gilang kakak iparnya, apalagi jika Bu Endang sampai tahu kabar tentang Mayang.


Tangannya meremas rambutnya yang kini sudah mulai terlihat panjang tidak lagi cepak. Kumis dan janggutnya yang mulai nampak membuat dirinya seperti para preman yang mondar-mandir di terminal. Sungguh tak terurus, fikirannya hanya tertuju pada kesembuhan Mayang.


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


*Apa yang terjadi setelah Mayang di pindahkan ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitas dan tenaga medisnya?


*Apakah keadaannya akan membaik serta operasinya berjalan lancar?


*Bagaimana cara Radhif mengatakan semua ini kepada Gilang dan juga keluarganya?


*Apa semua akan baik-baik saja?


Nantikan kelajutannya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" part 87. Terima kasih untuk pembaca setia "RAMA dalam TCM" 🙏😍😘


Di bawah ini author sisipkan ilustrasi gambar mobil ambulans dan juga bagian dalamnya 🙏


Jangan lupa like, Vote, berikan tips dan komennya yang membangun ya teman-teman semua.


Karena semua itu bisa menjadi imun dan penyemangat untuk Author dalam menulis, mohon maaf apabila masih banyak kekurangan, karena Author masih pemula, semoga bisa lebih baik lagi kedepannnya 🙏😊🤩


__ADS_1



__ADS_2