TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
TAKDIR CINTA MAYANG PART 112


__ADS_3

...----TAKDIR CINTA MAYANG----...


...PART 112...


...----Awal sebuah petaka----...


...(bagian kesatu)...


...Sepenggal part sebelumnya,...


...-------Rumah sakit------...


Setyo terdiam. Tangannya semakin kuat menggenggam jari-jemari Mayang seakan tak ingin melepaskannya.


"Jangan berkata seperti itu, May. Jangan patahkan hatiku di saat aku akan pergi jauh. Biarkanlah bayang-bayangmu dan juga perasaan ini yang akan membuat diriku bersemangat, agar bisa kembali ke tanah jawa ini demi dirimu," balas Setyo dengan nada penuh harap.


Mayang semakin sedih, di lain pihak dia ingin Setyo bahagia dan mencari penggantinya. Namun, dilain pihak Mayang tak ingin terjadi apa-apa kepada Setyo. Paling tidak ada sesuatu yang bisa membuat pria tampan yang merupakan sahabatnya itu bisa kembali dari tugasnya.


"Aku akan mendoakanmu, Yo. Semoga dirimu tetap sehat dan senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Lekaslah kembali karena banyak orang-orang yang mencintaimu menanti kedatanganmu," ujar Mayang memberi semangat kepada Setyo sahabatnya tersebut.


"Aku akan selalu mencintaimu, May. Sampai kapanpun," ucap Setyo dengan lembut.


Moment haru tersebut tiba-tiba saja berakhir ketika seseorang membuka pintu kamar dengan kasar. Dan tiba-tiba saja sebuah suara keras terdengar membentak.


"Kau...! Ngapaen kamu disini? Bukannya aku sudah memberimu pelajaran dengan membuangmu jauh dari sini," ucap suara tadi dengan nada kasar dan marah. Sepertinya emosi yang meletup-letup memenuhi rongga dadanya.


"Kak Radhif jangan lakukan itu...!" Teriak Mayang memanggil sosok pria yang sedang berdiri mencengkeram kerah baju Setyo.


...-------------****""""*****-------------...


Melihat Suaminya yang sepertinya sedang emosi, membuat Mayang kemudian bangkit dari tempat tidur berusaha melerai pertengkaran antara Kak Radhif dan Setyo.


"Jangan ikut campur, ini urusan lelaki. Kamu mencoba membuat Mayang berpaling dariku. Belum cukup pelajaran yang sudah aku berikan. Apa kamu mencoba menguji kesabaranku?" ucap Kak Radhif dengan nada kasar. Tangannya masih mencengkeram erat kerah baju Setyo. Setyo hanya berdiri dan mematung. Dia tahu kalo posisinya salah karena berada di ruangan itu bersama Mayang tanpa ada keempat sahabatnya.

__ADS_1


"Maafkan saya, Bang Radhif!" seru Setyo sempari menundukkan kepalanya.


"Apa, maaf kamu bilang. Karena kamu hubunganku dan Mayang mulai goyah. Karena kamu bayi dalam kandungan Mayang keguguran. Karena kamu--" belum sempat Kak Radhif melanjutkan ucapannya, Mayang berteriak histeris sambil menangis.


"Setyo gak salah, Kak. Bukan sepenuhnya kesalahan Setyo,! " terian Mayang sambil menangis.


"Kamu masih membela pria ini, benar-benar gak tahu di untung kamu. Aku habisin kamu,!" ucap Radhif dengan penuh emosi. Hatinya teriris mendengar ucapab Mayang barusan. Dalam fikiran Kak Radhif, Mayang masih mencintai Setyo sehingga membelanya.


"Jangan Kak...!" seru Mayang mencoba menahan tangan Kak Radhif. Namun, Radhif menghempaskan fabgan Mayang dengan kuat hingga Mayang jatuh ke tempat tidur.


"Auuuhhhh....!" seru Mayang kesakitan. Tenyata saat jatuh ke tempat tidur tadi, kepala Mayang membentur pinggiran tempat tidur bagian atas kepala. Benturan itu cukup kuat hingga membuat Mayang jatuh pingsan.


Keduanya pun tersentak ketika melihat Mayang yang mengaduh kesakitan, namun tidak bangkit dari posisinya.


"Mayang...!!!" Seru keduanya dengan serempak.


Setyo yang lebih dekat berusaha menggapi tubuh Mayang. Namun, Kak Radhif mendorong Setyo dan menggapai tubuh istrinya itu dan membaringkannya di atas tempat tidur.


"Aku gak akan meninggalkan Mayang seperti ini,!" ujar Setyo gak mau kalah.


Akan tetapi muncul keempat sahabatnya, Dion, Restu, Ika dan Niar menengahi perselisihan antara Setyo dan Kak Radhif.


"Kami mohon maaf ya, Kak. Kami akan pulang. Sekali lagi kami minta maaf sudah mengganggu Mayang dan Kak Radhif. Kami mohon pamit. Sampaikan salam kami kepada Mayang bila dia sudah sadar Kak. Semoga Mayang baik-baik saja dan lekas sembuh," ucap Dion kepada Kak Radhif.


"Bawa dia pergi dari sini secepatnya. Nanti akan saya sampaikan pesan kalian kepada Mayang bila dia sudah siuman," balas Radhif tanpa melihat ke arah kelima orang tersebut.


"Baik, Kak. Terima kasih sebelumya," balas Dion kemudian memberi salam dan mengajak Setyo untuk keluar.


Awalnya Setyo bersikeras tak mau meninggalkan Mayang. Akan tetapi ketiga sahabat wanitanya memberi pengertian dan berhasil mengajaknya pergi.


Tak lama kemudian setelah kepergian kelima sahabat Mayang tersebut, tim medis datang. Nampak Dokter Bima disana. Wajahnya terlihat cemas karena mengetahui ada sinyal darurat yang berasal dari kamar Mayang.


"Bisa Anda tolong menjauh sebentar. Saya ingin memeriksa kondisi pasien," ucap Dokter Bima dingin.

__ADS_1


Radhif yang tak tahu arti bahasa dari Dokter Bima pun mengalah untuk menjauh dari Mayang.


selama 20 menit lamanya sang dokter mengecek kondisi Mayang. Wajahnya nampak serius dan juga khawatir.


"Bagaimana kejadiannya, mengapa pasien bisa sampai terbentur kepalanya dan pingsan,?" tanya Dokter Bima dengan nada serius.


Tadi tak sengaja istri saya terpeleset dan kepalanya terbentur, Dok. Bagaimana kondisi istri saya. Apa dia akan baik-baik saja," ujar Kak Radhif mulai panik.


"Semoga saja,!" balas Dokter Bima tetap dengan nada dingin.


"Apa Mayang akan segera sadar?" tanya Kak Radhif lagi.


Dokter Bima pun berbalik ke arah Kak Radhif kemudian menatap tajam pria tersebut dan berucap, "Berdoalah, agar wanita yang kau cintai segera siuman. Jika tidak dia akan pergi meningglkanmu. Ucapan Dokter Bima sebenarnya bukanlah sesuatu yang serius. Sebab Mayang akan baik-baik saja. Hanya saja Dokter Bima mengatakan hal itu karena perasaan yang terpendam di dalam lubuk hatinya untuk Mayang.


'Jika kau tidak menjaganya dengan baik, aku bersumpah akan merebutnya darimu,' batin Dokter Bima. Pria tampan itu kemudian menghampiri sang perawat yang menjadi asistennya dan menuliskan sebuah resep untuk Mayang.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Dokter Bima kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu. Namun, diriny berhenti di depan pintu dan berkata kepada suster yang berdinas malam ini untuk menjaga Mayang dengan baik, hingga pasiennya itu sadar dari pingsannya.


"Hubungi saya bila pasien telah sadar," ucapnya masih dengan gayanya yang 'cool', kemudian benar-benar berlalu dari ruangan tersebut.


Dilain sisi, Kak Radhif nampak bingung menyaksikan sikap dan tingkah laku sang dokter. Akan tetapi dirinya tak sadar dengan apa yang terjadi.


Kak Radhif tak tahu bahwa Dokter Bima adalah sahabat Gilang yang juga rekan kerjanya sekaligus sahabatnya. Bahkan Kak Radhif tak tahu bahwa Dokter Bima adalah sosok pria yang menjadi cinta Monyet sekaligus pertama Mayang.


Tak berselang lama suara ponsel terdengar. Kak Radhif pun keluar dari ruangan untuk menerima panggilan yang yang ternyata berasal dari Gilang.


...-----------Bersambung-------------...


Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 113. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊


Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.


Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.

__ADS_1


__ADS_2