TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
TAKDIR CINTA MAYANG PART 116


__ADS_3

...----Awal sebuah petaka----...


...(bagian kelima)...


...Sepenggal part sebelumnya,...


"Sudahlah Kak, aku ingin kita berpisah. Itu yang terbaik buat kita berdua, titik!" ucap Mayang menjelaskan.


"Tapi, May. Kenapa---," belum selesai berkata. Mayang menyela ucapan Kak Radhif.


"Sudahlah, Kak. Aku tak ingin berdebat lagi. Biarkan aku beristiharat sejenak dengan tenang!" ucap Mayang memotong perkataan Kak Radhif.


Kak Radhif kemudian berjalan maju ke arah tempat tidur dan mengusap ujung kepala Mayang dan berusaha menciumnya. Namun, Mayang menghindarinya.


"Beristirahatlah, aku akan menjagamu!" ucap Kak Radhif kemudian berlalu dari sampng tempat tidur Mayang. Dirinya lalu berjalan menuju sofa untuk beristiharat di sana sambil menjaga Mayang.


...______****"""""****_______...


Hari telah gelap ketika Mayang bangun dari tidurnya. Suasana kamar terlihat sepi. Manik mata Mayang menyapu setiap sudut kamar seperti mencari sesuatu.


'Kemana Kak Radhif? Apakah dia pergi? Mungkinkah dirinya masih kesal dengan apa yang aku ucapkan tadi siang?' ucap Mayang dalam hati.


Namun, sesaat kemudian sama-samar terdengar suara seseorang dari luar. Hati Mayang tergerak untuk melihat siapa gerangan pemilik suara tersebut.


Mayang melangkah perlahan, dirinya mengendap-endap dan berdiri di balik pintu. Tangannya bergerak menyibak tirai jendela dan mengintip keluar kamar. Tenyata pemilik suara tadi adalah Kak Radhif.


'Dengan siapa Kak Radhif berbicara, apa pembicaraan tersebut sangat penting sehingga dirinya harus keluar kamar? Tidak biasanya dia berbuat demikian,' batin Mayang menerka-nerka.


Dan akhirnya Mayang tahu dengan siapa Kak Radhif berbicara ketika tiba-tiba saja Kak Radhif dengan suara kesal berbicara lagi dengan seseorang yang berada di seberang sana.

__ADS_1


"Sudahlah, Mam. Jangan bahas masalah ini lagi. Mami tolong jangan ikut campur urusan keluargaku. Kali ini biarkanlah anakmu inii yang akan menyelesaikannya sendiri, karena diriku yang memulai semua ini, makan biarkanlah Radhif juga yang akan menuntaskannya dengan cara Radhif sendiri, Mam. Tolong jangan lagi memaksakan apa yang Mami kehendaki,"


"Sudah dulu ya Mam, Radhif mau belikan makan malam buat Mayang. Mumpung Mayang masih tertidur. Radhif harap Mami mau mengerti. Assalamualaikum, Mam. Jaga dan rawat Papi dengan baik!" ujar Radhif menyudahi pembicaraannya dengan Bu Dian.


Mendengar Kak Radhif telah menyudahi pembicaraannya dengan sang mami, Mayang dengan cepat kembali ke tempat tidurnya. Dirinya berpura-pura seolah masih terlelap seperti saat Radhif meninggalkannya untuk menerima telepon.


"Klik!" suara gagang pintu kamar berbunyi. Itu berarti Kak Radhif telah kembali.


Mayang berusaha membuat dirinya seolah-olah masih tertidur pulas. Agar Radhif tidak curiga dan meninggalkannya sendirian.


Langkah kaki terdengar mendekati ranjang tempat Mayang terbaring. Tangan Radhif yang kokoh membelai ujung kepala Mayang dengan lembut. Sebuah ciuman hangat mendarat di kening Mayang, membuatnya terhenyak dan tubuhnya bergetar.


Namun, demi sandiwara dan drama yang telah dia ciptakan untuk dirinya, Mayang tetap terdiam. Irama jantungnya berdetak sangat kencang. Ada sedikit rasa cemas bila Radhif melakukan lebih, bukan hanya sekedar mencium kening Mayang.


'Astaga, mengapa tubuhku berbanding terbalik dengan fikiranku. Tubuhku seakan menerima semua perlakuan Kak Radhif, tapi hati dan fikiranku menolaknya. Ada apa denganku,' seru Mayang dalam hati.


Radhif lalu membelai pipi Mayang, menyingkirkan helai-helai rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya itu. Sambil berbisik Radhif pun berkata, "Tidurlah, May. Aku akan pergi sebentar saja untuk membelikanmu buah dan makanan kecil. Aku berjanji, saat kau bangun nanti aku telah kembali di sini."


Suara bisikan Kak Radhif sangat lembut, berbeda dengan suaranya bila sedang dibakar perasaan cemburu buta. Suaranya bak halilintar yang bisa saja memekakkan gendang telinga siapapun yang mendengar.


Akhirnya Radhif pun beranjak dari ranjang dan meninggalkan Mayang, setelah memastikan Mayang masih tertidur karena efek obat yang diminumnya tadi siang.


Ketika berjalan menuju pintu, ternyata telah berada Suster Niken disana. Suster Niken sepertinya melihat apa yang dilakukan Radhif kepada Mayang, oleh karena itu Suster Niken tidak langsung masuk ke ruangan inap Mayang. Mungkin karena merasa sungkan, sebab ketika tadi Radhif masuk dirinya tidak menutup pintu sepenuhnya, jadi seseorang dapat dengan jelas melihat aktivitas apa yang terjadi di dalam ruangan tersebut.


"Suster Niken, apa Anda sudah berdiri lama di luar? Maaf saya tidak tahu kalau Anda ada di sini tadi," ujar Radhif sambil tersenyum sipu. Memikirkan kejadian tadi ketika dirinya sedang bersama Mayang.


"Tidak, Pak Radhif. Saya baru saja sampai. Tadi saya mau mengetuk pintu tapi Anda sudah duluan keluar," balas Suster Niken tersenyum.


"Kalo begitu silahkan masuk, Sus. Istri saya sedang tertidur. Mungkin karena efek dari obat yang di minumnya. Saya hendak ke kantin rumah sakit sebentar. Saya minta tolong suster menjaga istri saya sampai saya kembali," ujar Radhif sembari melirik ke arah jam tangan hitam yang melingkar di tangan kanannya.

__ADS_1


"Baik, Pak Radhif. Saya akan menjaga Bu Mayang, hingga Pak Radhif kembali," balas Suster Niken.


" Tolong jangan biarkan dia pergi dari kamar ini hingga saya kembali,! ucap Radhif lagi.


"Baik, Pak. Akan saya jalankan pesan dari Pak Radhif.


" Terima kasih, Suster Niken. Saya akan segera kembali," seru Radhif kemudian berlalu meninggalkan Suster Niken.


...---------*****""""****--------...


Tiga pulih menit kemudian, ketika Radhif kembali ke ruangan tempat Mayang berada. Ruangan itu kosong tak ada Suster Niken maupun Mayang istrinya. Ranjang tempat tidur Mayang tertata rapih. Kursi Roda yang berada samping ranjang tak ada di tempatnya.


'Mungkinkah Mayang sedang berada di kamar mandi? Atau Suster Niken sedang mengajaknya jalan-jalan untuk menghirup udara segar. Kemana Mayang malam-malam begini?' ucap Radhif dalam hati.


Radhif kemudian berjalan menuju kamar mandi. Mayang ternyata tidak berada di sana. Berarti Mayang tengah pergi menggunakan kursi roda.


'Tapi kemana dia pergi malam-malam begini? Apa mungkin ke taman di saat gerimis seperti ini?' batin Radhif lagi. Kali ini hati dan fikirannya tak tenang memikirkan Mayang.


Di gapainya telepon rumah sakit dan menghubungi petugas. Nada panik terdengar dari mulut Radhif. Dirinya begitu khawatir akan kondisi Mayang yang belum pulih benar dari operasi.


'Apa yang ada dalam fikiranmu, May. Kenapa kamu berbuat nekat seperti ini. Kemana aku mencarimu,' seru Radhif dalam hati. Emosi memenuhi ruang hatinya. Tangannya terkepal dan kemudian diluapkannya semua kemarahan dan kekesalannya dengan memukul dinding rumah sakit hingga tangannya berdarah.


...-----------Bersambung-------------...


Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 116. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊


Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.


Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.

__ADS_1


__ADS_2