
...****""""*****...
...Kediaman keluarga Pratama...
Lega rasanya keingianku untuk makan manisan mangga.
Sudah sejak lama aku menantikan saat seperti ini.
Memakan manisan mangga tanpa harus sembunyi-sembunyi bak tikus yang mencuri makanan di dapur saat malam hari.
Nikmat banget bisa dengan leluasa memakan manisan mangga tadi.
Rasanya tak ingin berhenti.
Semoga saja perutku tidak sakit karenanya.
Setelah merapikan semuanya di bantu oleh Bi Inah, aku kembali ke kamarku.
Seperti pesan Bi inah tadi, Kak Radhif ingin berbicara denganku.
Entah apa yang ingin di bicarakannya aku tak tau.
Bahkan tak ingin mencari tahu.
Kuraih ponselku, masih belum ada tanda-tanda seseorang akan menghubungiku.
Iseng aku memainkan ponselku.
Membuka kembali akun FBku untuk melihat-lihat foto lama yang sempat aku posting.
Hingga tak sadar mataku tertuju pada foto saat OSPEK dulu.
Nampak di sana ada, aku, ketiga sahabatku, Setyo dan Dion.
Ternyata saat berfoto, ada sosok Kak Radhit tepat di belakangku.
Semua foto itu mengingatkanku akan kenangan bersama Kak Radhit dan juga teman-teman kampus. Terutama Setyo untuk saat ini, karena aku membayangkan cerita dari Dion dan ketiga sahabatku, apa yang telah di lakukan Setyo hanya demi menemukanku dan bertemu denganku.
Tak berselang lama, sebuah pesan dari nomor tak di kenal masuk.
['Aku ingin bertemu denganmu, sudikah dirimu menemuiku?'] Isi pesan tersebut.
Belum sempat aku membalasnya, dering ponselku berbunyi.
Nama Kak Radhif tertera di sana.
Sesaat muncul ragu dalam benakku untuk menerima telepon via video call darinya.
"Hhhhuuuuufffft!" kuhela nafasku dan membuangnga kembali.
Mencoba menenangkan hati ini sebelum memulainya.
"Lama amat sich ngangkatnya?"
__ADS_1
"Dari mana aja?
Apa lebih penting chat dari orang lain atau sahabat di bandingkan suami sendiri?" tanyanya penuh selidik.
"Mana salamnya? Tiba-tiba aja ngomong kayak gitu?" protesku.
"Assalamualaikum, Mayang (Mama sayang)," ucapnya dengan nada menggoda.
'Hmmmm...ucapnnya tadi membuatku jadi salah tingkah di depannya,' gerutuku dalam hati.
"Apa yang ingin Kak Radhif omongin?" tanyaku dengan mimik wajah datar.
"Aku ingin kau mengganti nomor ponselmu!" ucapnya singkat.
"Tapi kenapa?" balasku.
"Aku ingin dalam nomormu yang baru hanya ada kontakku, Gilang dan orang tua kita," ucapnya lagi dengan raut wajah serius.
"Esok hari, Pak Ujang akan memberimu nomor dan ponsel yang baru.
Berikan ponselmu yang lama kepada Pak Ujang atau Bi Inah," perintah Kak Radhif.
"Ayolah Kak, jangan batasi aku. Sudah cukup aku terpenjara dalam rumah ini, sekarang dirimu malah mengekangku dengan hal seperti ini?" jawabku ketus.
"Semua demi kebaikanmu, demi masa depanmu dan demi bayi yang ada dalam kandungamu," jelasnya lagi tanpa mempedulikan perasaanku.
Dalam hati Radhif membatin, ' Bahwa semua ini sengaja dia lakukan karena takut kehilangan Mayang, dia tahu bahwa Mayang akan menemui Setyo.'
Dengan kesal Mayang mematikan sambungan telepon tersebut.
Hatiku sangat kesal dan jengkel mendengar ucapan Kak Radhif.
Tega-teganya dia membuatku seperti seorang tahanan.
Entah kapan kedua orang tuanya kembali.
Aku ingin sekali pergi dari rumah ini.
Lebih baik aku kembali kerumah bulekku atau kembali menempati kost lamaku.
Rasanya lebih nyaman ketimbang harus terkurung di rumah ini.
Sering aku mendengar lagu 'bagai burung yang hidup dalam sangkar emas', kini aku merasakannya sendiri.
Bagaimana rasanya hidup dalam sangkar emas.
Mati enggan, hidup pun tak mau.
'Apa ini yang dinamakan melindungi?
Apa ini namanya cinta?
Cinta macam apa kalau pasangannya merasa tak nyaman,' jeritku dalam hati.
__ADS_1
Saat sedang menghapus airmatanya, Mayang menerima sebuah pesan lagi dari nomor tak dikenal.
['Aku dan teman-teman menantimu esok hari di Royal Plaza yang tak jauh dari kampus. Tempat di mana dulu kita pernah hangout bersama untuk pertama kalinya.] Isi pesan kedua yang masuk.
Sejenak aku terdiam, mengingat kembali saat-saat dulu masih menjadi mahasiswa baru di kampusku.
Menebak-nebak siapa yang telah mengirimiku pesan ini.
'Apa maksud pesan ini?
Hangout bersama?
Untuk pertama kali?
Apa ini dia?
Apa benar ini Setyo?' batinku.
"Setyo?"
"Kau kah itu?" pekikku dengan nada lirih.
'Apa aku harus meminta ijin pada Kak Radhif untuk pergi menemui Setyo?
Apa aku harus menceritakan kepada Kak Radhif siapa Setyo sebenarnya?
Aku takut dia akan salah faham kepadaku jika aku mengatakan bahwa aku akan menemui Setyo,' muncul gejolak dalam hatiku yang membuatku semakin galau dalam dilema.
Sepertinya aku harus merahasiakannya, itu mungkin lebih baik dari pada membahasnya sekarang.
Bila tiba saat yang tepat aku akan menceritakan semuanya.
Tanpa ada yang ditutup-tutupi atau dirahasiakan.
Aku pun membalas pesan itu singkat dan padat.
['Aku akan menemuimu, tepat jam 5 sore, esok hari.'] Balasku.
['Terimakasih. Aku akan menantimu, SDA.'] Balasan dari Setyo.
🍁🍁🍁🍁🍁
*Apakah pertemuan itu benar-benar terjadi?
*Apa Mayang akan menerima Setyo kembali?
*Bagaimana sikap Radhif mengentahui rencana Mayang yang ingin menemui Setyo?
Nantikan kisahnya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" Part 57.
Terimakasih 🙏😊😍
__ADS_1