TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
Takdir Cinta Mayang Part 129


__ADS_3

...🍁🍁Takdir Cinta Mayang🍁🍁...


...Part ke-129...


...----Desa Wirotaman, Malang-----...


Mayang dibopong oleh Dokter Bima ala bridal style menuju sebuah pick up milik Pak Tugimin. Sementara pemuda Desa Wirotaman dan kepala desa meringkus tukang kebun dan juga wanita yang telah menculik Mayang.


Demam tinggi membuat gadis itu tak sadarkan diri. Dokter Bima membelai kepala Mayang yang berada di pangkuannya. Manik matanya tak lepas dari wajah sayu gadis yang ada dipelukannya kini. Pandangan penuh rindu, seakan Dokter Bima tidak pernah bosan memandang kecantikan Mayang yang kini semakin matang bila dibandingkan beberapa tahun silam ketika masih duduk di bangku kelas tiga SMP. Sosok yang pernah mengisi hatinya dulu, bahkan hingga kini rasa itu masih tetap membekas dalam relung hatinya. Kini Mayang berada dalam dekapan Dokter Bima, tangan kekar itu terus saja memeluk tubuh sang gadis seakan tak ingin seorang pun mengambilnya Mayang darinya.


'Apakah aku harus menghubungi Radhif untuk menjemputmu? Jika kau kembali kepada Radhif, apakah aku masih bisa menemuimu. Masih ada ruang kosong dalam hati ini untuk dirimu, Mayang. Mungkinkah kita bisa bersama setelah sekian lama kita terpisah?" batin Dokter Bima dalam hati. Suara hati yang takkan pernah Mayang tahu. Dokter Bima kini hanya bisa mencintai dalam diam. Karena dia tahu status Mayang kini adalah isteri dari Radhif.


"Nak Bima, apa semuanya baik-baik saja?" ucap pak Tugimin yang berdiri tak jauh dari tempat dimana Dokter Bima berada.


"Alhamdulillah, baik-baik saja, Pak. Semoga keadaan pasien saya ini tidak memburuk. Saya khawatir bekas operasinya infeksi karena tidak dibersihkan," ucap sang dokter dengan wajah cemas.


Mendengar ucapan pria tampan yang berprofesi sebagai dokter tersebut. Bergegas Pak Tugimin mencari kontak mobilnya.


"Kalau begitu kita pulang saja duluan untuk mengobati Nak Mayang. Bapak khawatir bila keadaannya semakin memburuk," ucap Pak Tugimin sembari merogoh saku celananya mencari kunci kendaraan miliknya.


***


Kendaraan yang membawa Dokter Bima beserta Mayang melaju dengan perlahan. Sejak pagi cuaca memang tidak bersahabat. Gerimis masih tersisa meskipun waktu telah berpacu. Sekitar pukul sembilan pagi Pak Tugimin sampai di pelataran rumah miliknya. Dengan sigap sang dokter tampan mengendong Mayang memasuki rumah. Pak Tugimin membantu membukakan pintu agar Dokter Bima bisa leluasa masuk ke dalam rumah tersebut. Istri Pak Tugimin lalu datang membawakan segelas teh hangat dan juga minyak kayu putih. Untuk beberapa saat Dokter Bima terdiam, hanya bisa memandang wajah sayu wanita yang pernah mengisi hatinya. Bukan hanya dulu tetapi mungkin saat ini nama Mayang masih tersemat di dalam relung hatinya yang terdalam. Belum satu pun wanita bisa menggantikan posisi Mayang di sudut ruang hati. Entah mengapa Dokter Bima masih belum bisa melupakan cinta pertamanya itu. Meskipun ia tahu bahwa Mayang kini telah menikah dengan pria yang bernama Radhif.

__ADS_1


"Nak Bima, apa keadaan Non Mayang baik-baik saja?" ucap Pak Tugimin. Terpancar kekhawatiran dari raut wajah pria paruh baya tersebut.


Suara Pak Tugimin membuyarkan lamunan Dokter Bima.


"Alhamdulillah, baik. Luka bekas operasinya masih belum sembuh total. Mungkin karena syok Mayang demam dan tak sadarkan diri. Asupan makanan yang kurang juga menjadi salah satu faktor utama sehingga membuat kondisi tubuhnya menurun. Tapi saya akan merawatnya hingga Mayang pulih kembali," balas Dokter Bima dengan tatapan penuh arti.


"Ini minyak kayu putih dan teh hangatnya, Nak Bima. Mungkin dengan ini bisa membantu menghangatkan tubuh Nak Mayang," ujar Bu Tugimin menyodorkan sebotol minyak kayu putih dan segelas teh hangat tersebut.


"Terima kasih, Bu. Tapi saya tidak bisa membalurkan minyak ke tubuh Mayang. Bisakah Ibu membantu saya?" tanya Dokter Bima kepada Bu Tugimin.


Tangannya mengambil botol minyak kayu putih sembari berkata, "Dengan senang hati, Ibu akan membantu Nak Bima mengurus Mayang." Dokter Bima dan Pak Tugimin kemudian meninggalkan Bu Tugimin Mayang berdua di dalam kamar.


Dengan kasih sayang wanita paruh baya itu membalurkan minyak ke seluruh tubuh Mayang agar tidak kedinginan. Wanita tersebut lalu menutupi tubuh Mayang dengan sebuah selimut. Tak beberapa lama Mayang mulai menggerakan jari jemarinya secara perlahan, pertanda Mayang telah sadar dari pingsannya.


Langkah memburu terdengar jelas dari arah ruang tengah. Pak Tugimin dan Dokter Bima segera berlari menuju kamar.


"Piye keadaane, Bu?" ucap Pak Tugimin ketika menghampiri sang isteri.


"Bagaimana keadaannya, Bu?" ucap Pak Tugimin ketika menghampiri istrinya.


"Tadi Nak Mayang menggerakkan jarinya. Sepertinya sudah mulai sadar dari pingsannya. Makanya Ibu teriak tadi. Monggo Dokter Bima tolong diperiksa keadaan Nak Mayang," kata Bu Tugimin lagi.


"Apa benar yang Ibu lihat tadi? Kalau begitu itu benar saya harus segera memeriksanya. Semoga keadaan Mayang segera pulih dan membaik agar saya bisa segera membawanya pulang. Saya susah menyerahkan gadis penculik itu kepada kepala desa untuk diproses oleh pihak berwajib. Semoga Mayang tidak mengalami hal serupa lagi," beber Dokter Bima kepada sepasang suami isteri tersebut .

__ADS_1


Namun tak disangka saat Dokter Bima memeriksa keadaan Mayang, tiba-tiba terdengar derap langkah orang memasuki teras rumah Pak Tugimin. Awalnya mereka yang berada di rumah itu mengira suara derap langkah tersebut adalah para warga yang membantu menemukan Mayang dan meringkus penculik gadis itu. Ternyata mereka yang datang bukanlah warga Wirotaman.


Tak lama setelah Pak Tugimin keluar menemui tamu yang tak di undang tersebut. Nampak dari kejauhan sebuah Pajero berwarna hitam dan sebuah mobil ambulan berlambang memasuki pelataran rumah milik Pak Tugimin. Seorang pria tampan, gagah, dan juga bertubuh atletis turun dari mobil tersebut. Pria itu mengenakan celana jeans berwarna biru tua dan memakai kaos putih. Topi putih senada bertuliskan Eiger. Sempat Pak Tugimin tak mengetahui jika pria dihadapannya adalah seorang anggota militer, jika saja salah satu anggotanya tidak memberi hormat kepada sang pria ketika pria tampan itu turun dari mobil.


"Siap, Dan. Ini adalah rumah yang sudah di selidiki. Rumah ini adalah tempat di mana Dokter itu membawa Mayang," tutur salah satu anggota pria tadi yang sedang melaporkan hasil penyelidikannya.


"Baiklah, kalian amankan di depan. Jangan ikut campur lagi setelah ini, biar saya yang akan menyelesaikan sisanya!" cakap Radhif kepada anggotanya yang mengenakan pakaian preman.


"Siap, Dan. Laksanakan!" sahut pria yang ada di depannya. Selepas memberi hormat pria tersebut kemudian berlalu menuju teman-temannya yang lain. Mereka sedang berjaga di depan rumah Pak Tugimin. Para pria gagah itu mengenakan celana jeans dan kaos serba hitam. Menggunakan sepatu kets putih serta topi berwarna senada. Pada telinganya terpasang semacam benda kecil. Wajah mereka terlihat sangat serius.


-----------Bersambung-------------


*Siapakah pria tampan yang datang ke rumah Pak Tugimin mencari Mayang?


*Apa perseteruan akan terjadi antar Dokter Bima dan pria tampan tersebut?


*Siapa yang akan Mayang pilih diantara keduanya?


Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 130. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang πŸ™πŸ˜Š


Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.


Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.

__ADS_1


__ADS_2