TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
Takdir Cinta Mayang Part 131


__ADS_3

...🍁🍁Takdir Cinta Mayang🍁🍁...


...Part ke-131...


...----Desa Wirotaman, Malang-----...


Pak Tugimin meraih foto yang diberikan oleh Radhif. Menatapnya dengan seksama. Foto itu adalah foto saat Radhif dan Mayang menikah. Mayang terlihat sangat cantik dalam balutan kebaya putih dan hiasan melati pada sanggulnya.


Pak Tugimin kembali terdiam. Matanya terus saja menatap foto yang kini berada dalam genggamannya. Sejenak hatinya bimbang harus berpihak kepada siapa. Di dalam sana ada pria yang sangat perhatian kepada Mayang, sedangkan di sisi lain Radhif adalah suami Mayang yang sah. Sebagai orang tua, Pak Tugimin tidak ingin memperkeruh suasana. Ia hanya ingin gadis malang itu segera mendapatkan pertolongan medis, sehingga tidak membahayakan nyawanya.


Radhif sepertinya bisa menebak kebimbangan yang kini menjalar dalam diri Pak Tugimin. Ia yakin bahwa pria paruh baya tersebut sedang menyembunyikan sesuatu.


Dengan perlahan Radhif berkata,"Apa Anda memiliki informasi sedikit agar saya bisa menemukan petunjuk keberadaan isteri saya? Saya sangat mencintainya, saya ingin isteri saya segera ditemukan agar bisa mengurus dan merawatnya. Dia butuh perhatian saya, Pak!" ucap Radhif dengan sungguh-sungguh.


"Nak Radhif, maaf sebelumya. Bapak bukannya menyembunyikan sesuatu atau berusaha menutupi kebenaran. Hanya saja, Bapak harus berfikiran realistis dalam mengambil keputusan. Bapak harus adil dan bijak dalam melangkah," tampik Pak Tugimin dengan nada berat.


"Apa maksud, Bapak? Apa telah terjadi sesuatu kepada Mayang? Tolong jelaskan kepada saya sedetail-detailnya sekarang. Saya mohon, Pak!" cecar Radhif dengan mimik wajah yang kini mulai terlihat berubah.


🍁🍁🍁


Ketika perdebatan mulai menegang, Bu Tugimin keluar dengan membawa seceret teh hangat. Tangan sebelahnya menahan nampan yang di atasnya terdapat beberapa mug blirik yang jarang ditemukan lagi pada era modern apalagi di kota besar. Suasana pedesaan terasa begitu kental.


('Monggo silahkan di minum, Nak! Ojok sungkan-sungkan! Tapi maaf yo, cuma ini yang kami punya,' ucap Bu Tugimin mempersilahkan.)


("Ayo silahkan di minum, Nak! Jangan sungkan-sungkan! Tapi maaf yo, cuma ini yang kami punya," ucap Bu Tugimin mempersilahkan.)


"Mari, Nak. Silahkan di minum!" tawar Pak Tugimin kepada Radhif. Pria itu lalu menuangkan teh hangat ke dalam mug blirik dan memberikannya kepada tamunya.

__ADS_1


"Saya permisi dulu ke belakang ya, Nak. Ibu tadi lagi merebus singkong untuk makan malam. Mungkin sudah matang. Sebentar saya ambilkan untuk teman minum teh " jelas Bu Tugimin sambil tersenyum.


Radhif hanya menganggukan kepalanya dan membalas senyuman wanita paruh baya tersebut tanpa berkata apa-apa. Dalam hatinya merasakan sesuatu yang mengganjal. Akan tetapi, ia sendiri tak tahu apa yang sebenarnya berkecamuk dalam dadanya.


Pak Tugimin melihat raut wajah Radhif mulai berbeda. Sepertinya sang tamu mulai bisa membaca gerak-gerik pemilik rumah. Dalam benak Pak Tugimin muncul kekhawatiran akan terjadi pertikaian hebat antar Radhif dan Dokter Bima. Apalagi bila tamunya ini tahu bahwa dirinya menampung Dokter Bima dan Mayang wanita yang dicarinya.


'Apa aku harus mengatakan yang sesungguhnya. Bagaimana jika Nak Radhif bersikap kasar dan melukai Dokter Bima. Bisa jadi masalah baru lagi nantinya. Ujung-ujungnya aku pasti terlibat,' gumam Pak Tugimin dalam hati.


🍁🍁🍁


Di dalam sana. Dokter Bima berusaha mengobati Mayang yang sedang demam. Memberikannya perhatian dan kasih sayang. Dirinya seakan larut dalam angan-angan yang terpendam ketika berada bersama Mayang. Bu Tugimin tadi sempat memberitahukan kepada Dokter Bima bahwa Radhif masih berusaha mengorek keterangan dari suaminya. Mencari tahu tentang keberadaan sang isteri yang diculik oleh wanita yang menyamar sebagai perawat di rumah sakit tempat Mayang dirawat tempo hari.


Rasa takut tak ada dalam diri Dokter Bima. Jika memang Radhif berhasil membujuk Pak Tugimin mengatakan semuanya dan menemukan mereka di dalam rumah ketua adat tersebut. Dokter Bima punya alasan tepat agar Mayang tetap bersamanya. Mayang adalah pasiennya, kondisi kesehatan Mayang belumlah pulih, sehingga dirinya sebagai dokter berhak untuk mengawasi dan memberikan pertolongan demi nyawa sang pasien. Meskipun Radhif lebih berhak karena status pernikahan antar keduanya sah di mata hukum dan agama.


"Aku takkan membiarkan Radhif membawamu. Untuk saat ini kamu harus bersamaku sampai keadaanmu pulih. Bangunlah, Mayang. Jangan biarkan rasa sakit itu menguasaimu dan membuatmu lemah!" bisik Dokter Bima dengan lembut di telinga Mayang.


Dengan penuh kasih Dokter Bima membelai ujung kepala Mayang sambil berkata, "Lepaskan semua beban yang ada, biarkan semuanya mengalir bersama waktu. Sampai kapanpun cinta ini tetap ada, meskipun sudah ada yang menggantikan posisiku sekarang. Bagiku kau tetap Mayang yang dulu, tak akan pernah berubah."


🍁🍁🍁


Setelah dua puluh menit berlalu. Mayang kini mulai siuman. Semua itu berkat pertolongan Dokter Bima yang sudah merawatnya dengan sabar dan penuh perhatian. Bu Tugimin yang was-was terhadap Mayang sejak tadi kini mulai merasa lega. Pada akhirnya gadis cantik itu telah sadar dari pingsan.


Mayang membuka matanya perlahan. Di hadapannya nampak sosok wanita paruh baya. Tapi wanita itu bukalah orang yang terakhir kali ditemuinya waktu itu.


"I-Ibu, siapa? Saya di mana ini, Bu? Apa salah saya mengapa di sekap?" ucap Mayang masih terbata-bata.


"Kamu, baik-baik saja, Nak. Ini di rumah saya. Suami saya dan warga desa sudah membawamu dari rumah penculik itu. Sekarang kamu aman di rumah saya," balas Bu Tugimin dengan ramah.

__ADS_1


"Ini ada Dokter Bima yang sudah membantumu dan juga merawatmu hingga siuman dari pingsan. Dia sangat mengkhawatirkanmu ketika belum ditemukan," jelas Bu Tugimin panjang lebar.


"Dokter Bima? Yang mana, Bu?" tanya Mayang berusaha mengingat kembali potongan memori yang masih belum kembali.


Dokter Bima kemudian berjalan ke arah Mayang. Mencari posisi di samping ranjang tempat Mayang terbaring. Tepat di samping Bu Tugimin. Tangan Dokter Bima meraih jari jemari Mayang dan menggenggamnya dengan penuh kehangatan. Sentuhan Dokter Bima bagai aliran listrik di tubuh Mayang. Gadis itu seketika merasa bagai bangun dari tidur panjangnya selama ini.


"Kak Bima? Benarkah kau Mas Bima? Mas Bima yang selama ini pergi meninggalkanku begitu saja tanpa sepatah kata pun? Bahkan Mas Galang pun tak tahu kemana Mas Bima berada?" ucap Mayang lirih. Buliran bening membasahi sudut mata Mayang. Entah perasaan apa yang semestinya kini ia rasakan? Bahagia atau kah sedih karena Mayang bukan lagi dirinya yang dulu.


"Harusnya kita tidak dipertemukan lagi oleh takdir. Apa salahku Mas? Mengapa takdir selalu saja mempermainkan perasaan cintaku?" tangis Mayang semakin menjadi ketika Dokter Bima memeluknya.


🍁🍁🍁


Obrolan panjang berakhir. Radhif terlihat gelisah. Hingga tanpa sengaja dirinya mendengar suara tangisan seseorang. Tangisan soerang wanita dari dalam rumah Pak Tugimin.


"Maaf, Pak. Apa Pak Tugimin mendengar suara tangis? Suara itu berasal dari dalam rumah Bapak," seru Radhif sambil mempertajam pendengarannya.


Radhif mulai curiga. Dirinya merasakan ada yang tidak beres. Kecurigaannya semakin kuat ketika Pak Tugimin mulai terlihat gusar dan cemas.


...-----------Bersambung-------------...


*Apa Pak Tugimin menceritakan semuanya kepada Radhif setelah kejadian tadi?


*Apakah perseteruan akan terjadi antar Radhif dan Dokter Bima?


*Siapa yang akan Mayang pilih diantara keduanya?


Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 132. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang πŸ™πŸ˜Š

__ADS_1


Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.


Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.


__ADS_2