
Babak baru bagi Radhif dan kepergian Setyo
...-----Rumah sakit-----...
'Mengapa mereka lama sekali. Apa mereka mendapat masalah karena harus menolongku? Apa yang harus aku lakukan? Apa aku coba menghubungi Heru untuk menanyakannya?' batin Radhif.
Perasaan Radhif mulai terusik karena keduanya tidak kunjung sampai kerumah sakit tempat Mayang kini di rawat. Radhif khawatir karena sesui janjinya Heru dan Dwi akan tiba di rumah sakit itu hanya dalam waktu 3 atau 4 jam setelah dirinya sampai.
Ada perasaan aneh yang bersemayam dalam Radhif. Baru kali ini dirinya mengabaikan Mayang dengan meninggalkannya sendiri di ruang kamar inap.
'Mungkin dengan begini aku bisa memberinya sedikit ruang untuk bernapas. Aku tak ingin keberadaanku di sana membuatnya semakin sakit,' batin Radhif.
Tak sengaja kakinya menginjak botol kosong bekas minuman. Bukan memungutnya dan membuang botol tersebut ke kaleng, Radhif malah menendangnya sekuat tenaga. Niat Radhif menendang botol itu ke arah tempat sampah yang berada di pojok kantin rumah sakit. Akan tetapi, Radhif menendang tanpa memperhatikan lingkungan sekitar.
Dan akhirnya....
"Awh....!!!" seru seseorang yang ternyata seorang wanita.
Mendengar suara rintihan tak jauh dari tempatnya berdiri segera wajahnya memandang ke arah suara tersebut.
"Kira-kira donk, Pak. Ini rumah sakit bukan lapangan bola," ucap wanita yang tadi terkena botol kosong yang di tendang oleh Radhif.
"Eh, oh, maaf ya....!" seru Radhif dengan suara lirih.
Wanita tadi membelalakan matanya sambil memasang wajah ketus.
"Maaf saya sungguh tidak sengaja. Apa Anda terluka? Sakit ya?" ucap Radhif sedikit cemas.
Dirinya cemas bila wanita yang mengenakan jas putih dengan dress batik bercora warna coklat dan hitam hitam akan melaporkannya kepada pihak keamanan rumah sakit. Apalagi sepertinya wanita yang ada di sampingnya tersebut adalah seorang dokter.
"Maafkan saya, Bu. Saya khilaf. Tadi niat sata ingin menendangnya ke arah tenpat sampah di sana itu, namun ibu yang secara tiba-tiba melintas di depan saya," seru Radhif lagi.
"Sepertinya saya tidak merasa asing dengan wajah Anda?" balas wanita tadi kemudian melangkah mendekati Radhif.
__ADS_1
"Bukankah Anda suaminya pasien saya. Saya masih ingat Anda temannya Dokter Rian yang pernah disuruh menemui saya saat itu. Istri Anda sedang hamil janin kembar 4 ya?" ucap dokter wanita tersebut. Membuat diri Radhif semakin salah tingkah.
Radhif menatap wajah sang dokter cantik itu lekat, mencoba mengingat kembali apa yang di utarakan sang dokter.
"Eh, iya, benar, Dok!" seru Radhif sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
'Mati aku, ternyata ini dokter kandungan yang menangani Mayang waktu itu,' gumam Radhif dalam hati.
"Sekali lagi maafkan saya ya, Dok. Saya tidak sengaja tadi. Kalau saya tahu Anda ada di sebelah saya, saya tidak akan menendang botol bekas minuman tadi," ucap Radhif dengan lirih. Nampak Radhif menyesali perbuatannya tadi, meskipun semua itu terjadi secara tidak di sengaja.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya tadi memang sengaja ke kantin dengan terburu-buru, karena ada tamu yang ingin saya temui. saking paniknya saya tidak memperhatikan jalan. Saya fokus sama ponsel yang ada di tangan," ujar dokter cantik itu.
Radhif tersenyum kecut menanggapi ucapan sang dokter. Perasaan malu bercampur penyesalan menghinggapi dirinya. Seandainya tadi bukan dokter wanita ini yang kena imbas kegundahan dirinya, pasti akan terjadi insiden memalukan di depan kantin rumah sakit. Untunglah sang dokter bersikap ramah dan memaafkan kesalahannya.
"Yasudah, Pak. Saya permisi dulu ya, semoga Anda tidak 'badmood' lagi. Saya khawatir kejadian serupa akan kembali terjadi," terdengar suara sang dokter cantik lagi.
Ucapannya kali ini bagaikan sebuah tamparan keras bagi Radhif. Entah itu sebuah kalimat nasihat atau sebuah sindirian.
'Ah, sial. Bukannya tadi awal ucapannya manis banget. Ujung-ujungnya kok mahal nyakitin ya. Tau gitu aku gak usah minta maaf, untung dokter cantik coba kalo cowok aku gibeng juga,' runtuk Radhif dalam hatinya.
Selang beberapa menit setelah dokter cantik itu pergi, akhirnya Radhif pun melangkahkan kaki menuju kantin. Dirinya hendak membeli segelas kopi tubruk dan juga roti untuk di bawa ke kamar inap tempat Mayang berada. Matanya masih lelah sehingga secangkir kopi dirasa ampuh untuk membuatnya terjaga. Radhif sebenarnya merasa lapar. Akan tetapi suasana di rumah sakit membuat nafsu makannya sedikit berkurang, apalagi banyak fikiran yang memenuhi kepalanya. Makanya Radhif memilih membeli roti dan camilan seadanya saja untuk mengganjal perutnya.
Ternyata apa yang di planingkan Radhif meleset, Radhif memilih untuk memesan bakso malang yang tak jauh dari tempatnya membeli kopi dan roti. Dengan lahap Radhif menikmati sepiring nasi pecel serta segelas es teh yang di sediakan sesuai pesanannya tadi. Rasa bakso malang yang nikmat dan sedap membuat dirinya yang tadi 'badmood', kini mulai membaik.
...---------Batalyon M, kota Malang-------...
Tok...tok...tok...!" suara ketukan dari balik pintu rumah Danki Heru.
Saat itu Danki Heru hendak pergi kerumah sakit. Dirinya akan memenuhi janjinya kepada abang lettengnya yang tak lain adalah Radhif untuk mengambil mobil milik Radhif dan mengantarkannya ke rumah sakit dimana saat ini istri abangnya itu di rawat inap.
Mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya itu bergegas Heru melangkahkan kakinya memuju ke arah ruang tamu.
"Klik....!" Heru menyentuh gagang pintu yang terbuat dari besi berwarna gold itu dan membuka pintu rumahnya.
__ADS_1
Awalnya Heru sempat terkejut melihat sosok yang berada di hadapannya, karena yang berdiri saat itu bukan Dwi lettengnya tetapi Setyo danki muda yang sempat bersitegang dengan Radhif abang asuhnya selama di akademi militer.
"Assalamualaikum, Izin, Danki, maaf mengganggu. Danki Heru bisa saya minta waktunya sebentar. Ada yang ingin saya sampaikan," ucap Setyo lirih dengan wajah lesu.
Danki Heru menatap wajah Setyo, muncul perasaan iba dalam hatinya. Akhirnya dia mempersilahkan anggotanya itu untuk masuk dan duduk di ruang tamu ruangan tersebut.
"Wa'alaikumsalam, silahkan masuk, Yo. Ada apa?"
"Mengapa wajahmu murung seperti ini?" tanya Danki Heru penuh selidik.
"Izin, Danki. Apa danki Heru masih menemui Radhif dan Mayang? Saya ingin menitipkan sepucuk surat dan kotak ini untuk Mayang. Saya tahu ini salah karena melibatkan danki di dalamnya. Akan tetapi saya tidak tahu harus minta tolong kepada siapa lagi. Saya sebenarnya bisa meminta sahabat saya untuk menyampaikannya kepada Mayang, tetapi itu butuh waktu lagi," ucap Setyo dengan putus asah.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Yo?" danki Heru kembali menanyakan hal yang sama karena bingung kemana arah pembicaraan Setyo.
"Izin, Danki. Besok saya harus berangkat untuk satgas. saya mendapat perintah ini langsung dari danyon," ujar Setyo dengan wajah tertunduk. Sepertinya ada beban berat yang menghimpit dadanya. Terdengar dari desah nafas Setyo yang berat saat mengucapkan kata satgas keluar pulau jawa.
"Apa benar itu? Mengapa aku tidak tahu, bukannya dirimu anggotaku dan sekompi denganku, Yo?" balas Danki Heru terkejut mendengar apa yang disampaikan oleh Setyo.
Terbersit sedih dan juga rasa kasihan melihat sosok Setyo. Dia yakin ini semua ada hubungannya dengan perseteruan Setyo dengan Radhif abangnya itu. Sebab sempat Radhif meminta nomor ponsel danyon yang merupakan abang satu klik dari bang Radhif seniornya tersebut.
"Yang sabar, Yo. Mungkin dengan begini kamu bisa menata kembali hidupmu. Jalani dengan tabah, semoga ada hikmah dibalik ini semua," ucap danki Heru seraya bangkit dari duduknya. Menepuk pundak Setyo dan menyalaminya.
"Siap, Danki. Sampai jumpa lagi. Saya harap danki Heru bersedia membantu saya," balas Setyo seraya menatap penuh harap kepada danki Heru.
"Insya'allah, saya akan menyampaikan pesanmu. Berhati-hatilah saat menjalankan tugas. semoga kita bisa bertemu kembali," ucap danki Heru sejenak sebelum Setyo pamit untuk kembali ke barak.
Di pandanginya Setyo anggotanya yang selalu ada di sampingnya selama setahun ini. Menemani dirinya dalam suka dan duka.
'Cinta memang tak bisa di tebak. Terkadang bisa membuat orang yang sedih bisa bahagia. Namun terkadang lebih banyak menyisakan duka dan kepedihan bagi mereka yang memujanya,' gumam danki Heru dalam hatinya.
...---------Bersambung---------...
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 97. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊
__ADS_1
Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.