
*Home, September 2007*
Sesampainya dirumah, aku langsung di papah oleh mas Gilang menuju kamarku.
Hanya ada seorang kakak sepupu dan juga istrinya yang sedari tadi menunggu kedatangan kami.
Nampaknya mas Gilang sudah menceritakan semuanya melalu telepon, sebelum kami menuju rumah.
"Tok...tok...tok...!" bunyi suara pintu kamarku di ketuk oleh seseorang.
"Buka saja, pintunya tidak di kunci!" ucapku dengan suara yang sedikit bergetar karena kondisiku yang lemah.
Nampak mbak Enni istri dari mas Jhony mengantarkan semangkok bubur dan segelas teh hangat yang di taruh diatas nampan.
"Makanlah Dek, biar kamu gak jatuh sakit." tuturnya lembut sambil sesekali merapihkan sweter yang aku pakai.
"Aku gak lapar Mbak, biarin aja di meja, kalo lapar pasti aku makan." ucapku mencoba meyakinkan mbak Enni.
Mbak Enni menyerah membujukku untuk makan, karena aku tetap tak bergeming sedikitpun. Masih kekeh dengan pendirianku.
Hanya beberapa kali aku menyeruput teh hangat yang diberikannya.
Hingga akhirnya mbak Enni meninggalkanku sendirian dikamar.
"Pintunya aku buka aja ya Dek, biar kalo ada apa-apa aku bisa langsung ke kamarmu.
Panggil aku jika kamu memerlukan sesuatu. Kamarku tepat di depan Musholah samping kamarmu." kata mbak Enni sebelum meninggalkan kamarku.
Tak beberapa lama, akupun tertidur, sambil memegang tasbih dan juga foto kak Radhit yang berada dalam bingkai berbentuk hati.
Bingkai foto sederhana yang kak Radhit buat sendiri menggunakan kertas daur ulang, bingkai itu dibuatnya untukku dan diselipkannya didalam mukena sebagai hadiah ulang tahunku.
Dalam tidurku aku bermimpi kembali di pertemukan dengan kak Radhit.
Kali ini kak Radhit hadir didalam kamarku.
Menggunakan kaos putih yang pernah aku berikan untuknya.
Kaos putih dengan tulisan "My Love is Mayang" pada bagian depannya.
Akupun mempunyai kaos yang sama karena kalo kami sepasang.
__ADS_1
Kaos putih yang aku miliki bertuliskan "My Love is Radhitya".
Sambil melangkah mendekati tempat tidurku, kak Radhit seakan benar-benar berada bersamaku didalam kamar itu.
Kak Radhit seolah-olah sedang duduk disamping tempat tidurku, merapikan selimut dan membelai rambutku.
Nampak senyum terpancar di wajahnya, seulas senyum manis menghiasi bibirnya.
"Bangulah May, makanlah bubur ini!" tuturnya lembut penuh perhatian.
"Tapi aku gak lapar kak," balasku.
"Kakak kemana saja selama ini, aku menunggu. Mengkhawatirkanmu.
Bukan hanya aku Kak, tapi kedua orang tuamu juga, kak Radhif." ucapku lagi sambil meneteskan airmata.
Aku mencoba bangkit dengan sisa tenagaku.
Kugapai dirinya, memeluknya dengan erat.
Aroma parfum yang khas tercium dari tubuhnya.
Parfum bunga kasturi adalah wewangian yang biasa digunakan kak Radhit bila hendak sholat atau ke masjid.
"Janganlah menangis lagi, aku tak ingin melihatmu bersedih, tetaplah kuat dan yakinlah aku akan selalu bersamamu.
Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada untukmu May," tutur kak Radhit sembari membalas pelukanku, membelai rambutku dan menciumi kepalaku.
"Sekarang makanlah, jangan biarkan dirimu jatuh sakit. Tetaplah kuat agar akupun merasa tenang. Jangan berlarut-larut dalam kesedihanmu. Berdoalah semoga kita akan selalu bersama dan dipertemukan kembali," ucapnya seraya melepaskan pelukanku dan mencium jemari tanganku.
"Biarlah aku istirahat sebentar Kak, aku hanya lelah. Setelah aku istirahat kondisiku akan pulih kembali." kataku padanya.
Sambil membaringaknku dan memperbaiki selimut serta sweterku kaka Radhit berkata, "Tidurlah, aku akan disisimu, menjagamu hingga kau terjaga kembali."
kupejamkan matakku sambil memegang erat tangan kak Radhit yang terasa hangat.
Sesaat aku terbuai dengan suasana saat itu, membuatku terlelap dan tertidur.
Hingga tak sadar aku terbangun tepat pukul 04.35 Wib, saat adzan subuh.
Tak nampak lagi kak Radhit, hanya aku yang berada di kamar.
__ADS_1
Seketika itu tangis tak dapat ku bendung, aku menangis meraung-raung bak seorang anak kecil, aku teringat kembali perkataannya pada diriku.
Jauh didalam lubuk hati ini aku masih tetap berharap dia akan kembali kepadaku.
*******
Setelah kejadian malam itu, aku berusaha untuk kuat, seperti pesan kak Radhit untukku.
Kali ini sarapan yang di bawakan oleh mbak Enni aku makan, meskipun tidak sampai habis.
Obat dan vitamin dari dokter aku minum.
Dengan tujuan agar kondisiku bisa pulih kembali.
Kejadian malam tadi, membuatku berfikir bahwa dengan hanya menangis dan berdiam diri, kak Radhit tidak akan bisa aku temukan.
Muncul niat dalam diriku untuk mengajak Niar mendaki gunung Semeru untuk mencari kak Radhit.
Namun niatan itu belum aku sampaikan kepada Niar sahabatku.
Semoga dengan begitu, aku bisa menemukan petunjuk keberadaan kak Radhit.
Ya Allah lindungilah Dia, jagalah Dia untukku.
Aku sangat mencintainya, berilah aku kesempatan untuk bersamanya walaupun hanya sebentar saja, doaku dalam hati.
Secepat kilat aku bangun dari tempat tidurku, bergegas mandi dan bersiap diri.
Namun sebelum mandi, aku mencoba menghubungi ponsel Niar, hendak memberitahunya niat dan rencanaku tadi.
Semoga saja Niar bersedia membantuku menemukan ka Radhit.
*****
*Apakah Mayang berhasil menghubungi Niar untuk memberitahu niat atau rencananya itu?
*Bagaimana reaksi Niar saat mendengar keinginan Mayang tersebut?
Nantikan kisah selanjutnya hanya di "AKHIR KISAH CINTA SANG PENDAKI" Part 27.
Terimakasih 🙏🙏🙏😍
__ADS_1