TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# Part 17


__ADS_3

********


Waktu berlalu begitu cepat, hari berganti hari.


Minggu berganti minggu.


Dan bulan pun berganti.


Tepat tiga bulan aku berada di kampus ini, berusaha fokus untuk menuntut ilmu demi meraih cita-citaku.


Keinginanku hanya satu, mewujudkan amanah Alm. Ayah agar bisa menyandang gelar sarjana dan bekerja menjadi wanita mandiri yang membanggakan keluarga.


Namun akhir-akhir ini konsentrasi belajarku terganggu akibat konflik batin yang berkepanjangan.


Ingin aku akhiri semua ini, berlari dari semua masalah yang ada.


Namun jerat cinta ini sudah terlanjur membelengguku.


Bagaikan air pasang, ombaknya telah menyeretku hingga aku tenggelam didalamnya.


Semoga doa yang tak hentinya aku panjatkan, akan menolongku dari gelombang pasang samudra cinta dan membawaku ketepian.


**03 september 2004**


Sejak semalam aku tak tidur, badanku terasa kurang fit. Ditambah lagi aku tak sempat membeli makan malam, alhasil semalaman aku mengerjakan tugas dengan perut kosong.


Padahal aku tahu kalo penyakit lamaku akan kambuh.


Karena aku punya masalah dengan lambung, atau thypus.


Jika lelah dan tidak makan teratur, penyakit lamaku itu akan kambuh.


Ku lirik jam di HP, waktu menunjukan pukul 05.00 Wib. Setelah wudhu dan sholat ku rebahkan badanku kembali.


Mencoba memejamkan mata, menahan rasa sakit yang tak tertahankan.


Bersyukur aku masih punya stok obat yang memang aku simpan jika lambungku kambuh akibat makanan pedas atau telat makan.


Perlahan aku bangkit dari tempat tidur mengambil sirup berwarna pink dan meminumnya.


Kembali aku ke pembaringan.


Berusaha mengembalikan sisa-sisa kekuatan dalam diriku.


Hari ini ada mata kuliah yang harus aku ikuti, karena minggu ini sudah berlangsung UTS untuk semua mata kuliah.


Hening sesaat dan akupun tertidur.


"Tok...tok...tok....Mayang...!" panggil Ika dengan suaranya yang khas.


Aku tak sanggup untuk bangkit maupun bersuara.


Kudengar pintu kamarku di buka.


"Sreeekkkk.....," muncul Ika dari balik pintu berjalan menuju tempat tidur.


"Semalam kamu jadi lembur mengerjakan tugas yang di berikan pak Dwiarno?" Tanya Ika kepadaku sambil memandangiku dengan perasaan cemas.


Nampak dari raut wajahnya dia sangat mengkhawatirkanku.


Kami adalah sahabat yang sudah seperti saudara sendiri.


Terkadang Ika ikut berlibur di Sidoarjo yaitu di rumahku, sebaliknya akupun juga libur di tempat Ika yang berada di Pacitan.


Sambil memegang dahiku, Ika berusaha membangunkanku dari tempat tidur.


"Kamu baik-baik saja kan May?" Ucapnya lirih seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Wajahku pucat, badanku panas.


Setelah subuh tadi aku merasa badanku benar-benar lemas dan sekujur tubuhku gemetar. Beberapa kali aku muntah.


Benar-benar tak ada tenaga lagi aku rasakan. Dengan sigap Ika bangkit dan membuatkanku segelas teh hangat.


Kebetulan di bawah kost kami, tepatnya di lantai bawah sebelah kost, ada mbak Muna yang menjual nasi bungkus.


Kami anak kost memang berlangganan membeli makan di tempat mbak Muna.


Terdengar langkah kaki menaiki tangga, kini Ika sudah berada di kamarku dengan membawa 2 bungkus nasi di tangannya.

__ADS_1


"Yuk...sarapan dulu May, kalo memang kamu udah rasa baikan, kita berangkat ke kampus. Jika badanmu masih belum enakan, akan aku sampaikan ke dosen, kamu ikut ujian susulan karna sakit." Ucap Ika sembari memapahku turun dari tempat tidur untuk sarapan bersama.


Kali ini sarapanku tidak habis aku makan, hanya beberapa sendok yang bisa aku telan.


Rasanya lidahku tidak bisa merasakan nikmatnya nasi pecel yang sudah sahabatku itu belikan untukku.


Dengan sisa kekuatan yang ada aku berusaha untuk bangun, mandi dan mempersiapkan diri dan segala sesuatunya untuk berangkat ke kampus.


Dengan menggunakan jeans cutbray kesukaanku yang penuh dengan hiasan tembelan,kaos ketat hitam lengan panjang yang di lapisi kaos biru lengan pendek di luarnya,dengan hijab segi empat berwarna hitam polos.


Sengaja aku memakai dua kaos agar badanku tidak merasa dingin di dalam ruang kelas yang berAC.


tak lupa tas ransel hitam dan sepatu kets berwarna biru.


Ika datang menghampiriku, mencoba menasehatiku agar aku tidak memaksakan diri berangkat ke kampus.


Tapi kali ini nasehat Ika tidak aku pedulikan.


Aku hanya fokus ke UTS siang ini.


"Sudah jam 8 Cha,ayo kita segera berangkat. Nanti kita bisa telat." Ucapku mengalihkan pembicaraan.


Sambil menenteng tas ransel dan memegang sepatuku aku berusaha menuruni tiap anak tangga menuju lantai satu kost-kostanku.


Aku berharap semoga tubuhku masih kuat hingga perkuliahan nanti.


Sesampainya di kampus aula tempat kami UTS masih sepi, hari ini adalah jam mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam), seperti biasa jika mata kuliah PAI kami beberapa kelas akan bergabung dalam satu kelas dalam aula tersebut.


Karena masih sepi, aku, Ika dan Restu duduk di koridor depan aula.


Menanti siswa dari kelas lain yang belum datang.


Dan baru tersadar aku kalo aula tempat kami belajar, berada tak jauh dari kelas kak Radhit, yang merupakan mahasiswa management.


Sesaat aku melirik ke arah kelasnya, was-was bila memang kak Radhit berada disana.


Perlahan aku bangkit dari tempat dudukku tadi sambil berkata," Kita masuk aja yuk, gak enak duduk di sini. Mending di kelas aja sambil baca-baca materi untuk UTS (ujian tengah semester) nanti."


Tanpa di komando untuk kedua kalinya, kedua sahabatku itupun segera bangkit dan berjalan bersamaku menuju kelas.


Tak berselang lama, muncul Dion dan teman kelas kami, dan disusul dengan siswa-siswi dari kelas lain.


Aku, Ika dan Restu memilih untuk keluar belakangan dari aula tempat UTS tersebut.


Namun baru saja berjalan beberapa langkah, saat itu juga kepalaku terasa berkunang-kunang, lambungku terasa perih.


Kali ini sakitnya benar-benar tak bisa ku tolerir lagi.


Tubuhku serasa hilang kendali.


Dan tubuhku pun roboh.


Sayup-sayup aku mendengar teriakan Ika, Restu dan juga Dion.


Ada satu suara yang tak asing lagi di telingaku.


Serasa mimpi aku merasa seseorang mengangkatku.


Terasa hangat, dan tercium aroma parfum yang maskulin.


Parfum Dion kah ini? Atau ada siswa lain yang menggendongku.


Aku berusaha membuka mataku.


Meskipun berat, ku coba membuka kedua mataku.


Tampak olehku wajah tampan dan kharismatik dari kak Radhit.


"Kak Radhit," ucapku lirih.


Terpancar dari wajahnya semburat kekhawatiran dan kecemasan.


Mencoba menenangkanku.


"Tutuplah matamu, aku akan membawamu ke basecamp anak-anak BEM management. Sepertinya mereka mempunyai perlengkapan P3K untukmu." ujar kak Radhit sambil terus menggendongku.


Terdengar olehku detak jantungnya. Walaupun tak semerdu irama musik, namun iramanya mampu menghipnotisku.


Ku benamkan wajahku dalam pelukan dan dadanya yang bidang, mencoba mendamaikan hatiku.

__ADS_1


"Maafkan aku Setyo, bila aku lebih memilih kak Radhit. Bukan maksudku melukaimu, atau bahagia di atas penderitaanmu.


Semoga suatu saat Kau akan menemukan cinta sejatimu." Bisiku dalam hati.


Tak terasa bulir beningpun mengalir dari sudut mataku.


Rasa bersalah ini yang membuatku tak bisa menerima kak Radhit, dan tak bisa menerima seutuhnya cintanya untukku.


Aku berdoa semoga Setyo baik-baik saja disana, semoga dia tak membenciku dan menyalahkanku karena aku memilih kak Radhit.


Aku berharap Setyo bahagia dengan kehidupannya kelak.


Mendapatkan yang lebih baik dariku.


Selang beberapa menit setelah aku mendapatkan pertolongan dari teman-teman kak Radhit di basecamp BEM anak management.


Dan meminum obat yang memang sengaja aku bawa di tas ranselku.


Sepertinya Ika yang memberitahukannya kepada kak Radhit tadi saat aku tak sadarkan diri karena lemas.


Kak Radit duduk di sampingku sambil membelai kepalaku.


Ada desir aneh dalam hatiku, rasa bahagia namun bercampur penyesalan.


Bahagia karena dia begitu perhatian kepadaku, meskipun aku mengacuhkannya.


Muncul penyesalan, karena rasa bersalahku pada Setyo, aku menipu diriku sendiri. Membohongi diriku sendiri kalo sebenarnya aku juga mencintai kak Radhit.


"Sepertinya menjadi anggota HIMAPALA tak cocok untukmu May." Ucap kak Radhit memecahkan kesunyian dalam ruang basecamp itu.


Aku tak mampu menjawab. Hanya diam menunduk.


Menahan sesak dalam dadaku, mencoba menahan tangis yang kurasa sebentar lagi akan meluap.


"Mungkin sampai disini akhir kisah kita. Sepertinya aku membebani fikiranmu.


Membuatmu seperti ini.


Maafkan aku May. Seharusnya saat di taman itu aku tidak mengatakan sesuatu yang membuatmu kefikiran hingga jatuh sakit memikirkannya." Ucap kak Radhit dengan penuh penyesalan dan kekecewaan yang mendalam.


Kak Radhit merasa dialah yang menyebabkanku jatuh sakit karena memikirkan konflik antara aku dan dia. Apalagi dia memberiku waktu untuk menjawab tantangannya untuk menjadi anggota HIMAPALA.


Dan hari ini tepat 3 sudah masa itu berakhir.


Karena pendaftaran itu akan ditutup pada siang hari ini.


Dan itu berarti aku menolak kak Radhit karena tidak bersedia menjadi calon anggota baru HIMAPALA kampus.


"Semoga lekas sembuh ya Dek, anggap kita tidak pernah bertemu. Semoga kamu bahagia dengan siapapun nantinya yang akan menjadi kekasih hatimu." tambah kak Radhit seraya bangkit dari tempatnya duduk, beranjak pergi dari ruang itu.


"Kak...,bukan begitu yang sebenarnya terjadi." ucapku tertahan, tak mampu berkata.


Sambil menangis aku mencoba memanggilnya.


Namun lidahku terasa kelu. Hanya mampu memandanginya.


Ika dan Restupun masuk ke dalam ruangan.


Membantuku duduk dan bangkit dari tempat aku berbaring tadi.


Saat aku merasa sudah baikan, Ika dan Restu mengantarkanku ke parkiran, disana Dion menunggu untuk mengantarku pulang menggunakan motornya.


"Pulanglah duluan, nanti kami menyusul May," sambil memberikan tas Ranselku Ika dan Restu berbalik kembali ke kampus.


Akhirnya Dion mengantarku kembali ke kost, kemudian diapun kembali melanjutkan kegiatan di kampus bersama teman-temanku yang lain.


Hari ini aku ijin tidak mengikuti jam terakhir perkuliahan.


Semoga dengan beristirahat yang cukup kondisiku akan pulih dan bisa kembali beraktivitas.


Karena banyak hal yang harus aku selesaikan.


*********


*Apa yang terjadi antara Radhit dan Mayang?


*Sampai disini kah hubungan Radhit dan Mayang?


*Apakah Mayang masih bisa menjadi calon anggota HIMAPALA demi menjawab tantangan dan mewujudkan keingina Radhit?

__ADS_1


Nantikan kisah selanjutnya dalam part berikutnya. Trimakasih 🙏😊


__ADS_2