
...----TAKDIR CINTA MAYANG----...
...PART 113...
...----Awal sebuah petaka----...
...(bagian kedua)...
...Sepenggal part sebelumnya,...
...-------Rumah sakit------...
'Jika kau tidak menjaganya dengan baik, aku bersumpah akan merebutnya darimu,' batin Dokter Bima. Pria tampan itu kemudian menghampiri sang perawat yang menjadi asistennya dan menuliskan sebuah resep untuk Mayang.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Dokter Bima kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu. Namun, dirinya berhenti di depan pintu dan berkata kepada suster yang berdinas malam ini untuk menjaga Mayang dengan baik, hingga pasiennya itu sadar dari pingsannya.
"Hubungi saya bila pasien telah sadar," ucapnya masih dengan gayanya yang 'cool', kemudian benar-benar berlalu dari ruangan tersebut.
Dilain sisi, Kak Radhif nampak bingung menyaksikan sikap dan tingkah laku sang dokter. Akan tetapi dirinya tak sadar dengan apa yang terjadi.
Kak Radhif tak tahu bahwa Dokter Bima adalah sahabat Gilang yang juga rekan kerjanya sekaligus sahabatnya. Bahkan Kak Radhif tak tahu bahwa Dokter Bima adalah sosok pria yang menjadi cinta Monyet sekaligus cinta pertama Mayang.
Tak berselang lama suara ponsel terdengar. Kak Radhif pun keluar dari ruangan untuk menerima panggilan yang yang ternyata berasal dari Gilang.
...______****""""****______...
__ADS_1
Setengah jam lamanya Kak Radhif bercengkrama dengan Gilang melalui 'video call'. Ternyata firasat Ibu Endang sangatlah kuat. Iya selalu mempikan Maya ng. Selama ini Kak Radhif dan kedua orangtuanya masih merahasiakan apa yang telah menimpa Mayang.
'Kamu ngapaen di rumah sakit malam-malam gini, Dhif?' ujar Gilang yang sempat melihat seorang suster mendorong kursi roda lewat di belakang Radhif.
'Eh, anu, itu, Lang. Mayang beberapa hari ini badannya kurang enak, jadi aku bawa aja ke rumah sakit biar dia bisa istirahat skalian chek up kesehatannya. Aku khawatir bila terjadi sesuatu kepada Mayang,' ujar Kak Radhif berkelit. Ia binggung harus berkata apa kepada sahabat sekaligus Kakak Iparnya itu.
'Ibuku berpesan, jaga baik-baik Mayang. Sebab beberapa hari ini beliau selalu memimpikan Mayang, Dhif. Ia Khawatir terjadi sesuatu kepada Mayang dan juga kandungannya,' balas Gilang dari seberang sana.
'Siap, Lang. Insya'allah, aku akan menjaga Mayang. Allah sudah membuat garis takdir kita. Maka kita semua hanya bisa mengikuti apa yang Sang Pencipta tuliskan,' ungkap Kak Radhif.
Sebenarnya kata-kata tersebut menyerukan apa yang menjadi beban di hati dan fikiran Kak Radhif. Akan tetapi Sepertinya Mas Gilang tidak peka terhadap semua ucapannya Kak Radhif.
Pembicaraan pun berakhir, Kak Radhif melangkah memasuki kamar tempat Mayang di rawat. Matanya memandang wajah Mayang yang kini belum juga sadarkan diri. Wajah cantik itu nampak pucat dan lebih tirus dari sebelumnya. Tangan Kak Radhif membelai lembut ujunh kepala Mayang dan menciumnya.
Tanpa Kak Radhif sadari di ujung mata indahnya, Mayang nampak meneteskan buliran bening. Sepertinya Mayang mendengar semua apa yang Kak Radhif ucapkan.
..._______****""""*****_______...
...-----Parkiran Rumah sakit-----...
Keempat sahabat Mayang yang bernama Dion, Restu, Niar dan juga Ika berjalan beriringan. Nampak di depan ketiga cewek itu, Dion sedang berjalan sambil mengapit lengan pria tampan yang mengenakan celana 'jeans' biru tua dan jaket kulit berwarna hitam. Mereka berjalan sangat cepat, seperti orang yang terburu-buru.
"Setyo, kamu ini keras kepala banget sich. Udah lupakan saja Mayang. Dia kini sudah menikah dengan kembaran mendiang Kak Radhit. Relakan Mayang bila kau benar-benar mencintainya. Kalo seperti ini kalian berdua tidak akan bahagia,!" ucap Dion sembari terus mengapit lengan Setyo berjalan menuju mobil avanza hitam yang berada di ujung parkiran.
Akhirnya mereka sampai di mobil hitam milik Dion yang mereka tumpangi bersama. Tanpa fikir panjang kelima orang tersebut langsung masuk ke dalam mobil dan melesat pergi dari parkiran rumah sakit, sebelum Setyo bertindak konyol lagi. Mereka takut bila Setyo nekat menemui Mayang. Sebab Setyo tadinya memang berniat menunggu Mayang yang belum siuman dari pingsannya tadi.
__ADS_1
Sepanjang perjalan Setyo hanya diam, matanya memandang keluar jendela. Dadanya begitu sesak terasa. Entah mengapa dirinya belum juga bisa 'moveon' dari sosok Mayang. Padahal dia tahu Mayang kini telah menjadi istri Kak Radhif yang sah.
"Ah sial....,!" ucap Setyo seraya memukul dasboard mobil sehigga membuat seisi mobil terkejut.
"Setyo...!!!" Serempak keempat sahabat tersebut berteriak menyerukan di dalam mobil yang tengah melaju membela jalanan kota Malang.
"Harusnya aku bertahan di sana, bukanya pergi meninggalkan Mayang. Aku harusnya menjaga Mayang. Aku ini bukan pengecut yang begitu saja pergi tanpa menuntaskan permasalahan ini. Aku ingin pergi dengan damai, agar saat kembali orang yang pertama aku temui adalah dia yang selama ini aku rindukan," ujar Setyo dengan penuh sesal.
Dion yang tanggap dengan suasana hati sahabatnya itu pun kemudian menepi di pinggiran jalan yang tak begitu ramai. Dion memarkirkan mobilnya tepat bawah pohon rindang yang berada di depan sebuah pertokoan yang tutup.
"Kamu harus merelakan Mayang, jangan seperti ini terus, Yo. Bisa-bisa kamu bakalan stres karena mengharapkan apa yang bukanlah milikmu. Aku tahu kamu sangat mencintai Mayang, tapi bukan seperti ini caranya. Doakan dia bahagia dengan Kak Radhif. Jikalau berjodoh dan garis takdir Mayang adalah jodohmu, dia akan kembali kepadamu. Berdoalah agar Sang Pencipta membuka jalan untuk cintamu," ucap Dion bijaksana. Memang selama ini Dion sang kutu buku itu selalu jadi penasihat dan penengah bila ada permasalahan di hadapi dalam perjalanan pertemanan mereka selama ini.
"Bener apa yang di katakan Dion, Yo. Berdoalah kepada Allah, semoga permasalan ini tidak berlarut-larut. Suatu saat kau harus memilih jalan hidupmu, begitu pula dengan Mayang yang sudah memilih jalan hidupnya sendiri. Relakan dan ikhlaskan dia bila kau benar-benar mencintainya. Semua ini agar kalian berdua bisa bahagia," ujar Niar membenarkan apa yang sudah di sampaikan Dion kepada Setyo.
Nampak Setyo memandang ke arah luar jendela mobil. Hanya mendegus dan mengepalkan tangannya. Mencoba menahan sesuatu yang masih terus mengganjal di dalam hatinya.
"Entahlah, apa semua ini bisa aku lakukan. Berat rasanya melupakan wanita yang menjadi cinta pertamaku," seru Setyo dengan suara lirih.
...-----------Bersambung-------------...
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 114. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊
Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.
__ADS_1