
****Kost, 26 September 2007****
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, raga ini lemas tak berdaya.
Hatiku hancur berkeping-keping menerima kenyataan yang ada.
Disaat membaca isi pesan dari mas Davin.
Hari ini genap 4 hari sejak kepergian kak Radhit menuju puncak Mahameru bersama mas Davin dan kedua rekan alumni HIMAPALA kampus kami dulu.
Mereka mengabarkan bahwa kak Radhit dan salah seorang rekannya tidak bisa kembali bersama mereka.
Rasanya gelap dunia ini, tak kurasakan lagi kehidupan dalam diriku.
Mengapa saat itu aku tak ikut bersamanya mendaki.
Mengapa kubiarkan dia pergi sendiri.
Harusnya aku bersamanya, menemaninya mendaki gunung Semeru.
Gunung yang menjadi saksi abadi akan cinta kami berdua.
Fikiran negatif pun merasukiku, memikirkan kemungkinan buruk yang terjadi padanya.
Akankah cintaku kembali.
Secepat inikah Allah mengambil kak Radhit dariku.
Ya Allah aku tak sanggup menerima cobaan ini.
Sesaat tubuhku lunglai, pandanganku kabur.
Tak kuasa aku menerima semua ini.
Aku masih berharap tidak terjadi hal buruk pada kak Radhit dan sahabatnya itu.
Aku tetap berharap kak Radhit masih bisa di temukan.
Semoga Allah masih melindungi kak Radhit.
Ya Allah sang pemilik kehidupan, lindungilah cintaku, kembalikan dia kepadaku.
Bawalah dia kembali agar aku dapat menyampaikan isi hatiku untuknya.
__ADS_1
Bahwa hari-hariku begitu indah dan berwarna setelah dia masuk dalam kehidupanku.
Begitu berartinya kak Radhit bagiku.
Dia sosok pengganti alm. Ayah, selalu ada untukku.
Tak pernah mengeluh saat aku mengabaikannya.
Meskipun salah, tak pernah sekalipun dia menghakimiku.
Begitu sabar dan penyayang.
Sesempurna itu dia bagiku.
Samar-samar aku mendengar suara seseorang," Mayang, aku akan selalu ada untuk. Aku takkan pernah meninggalkanmu, sampai kapanpun aku akan tetap menantimu. Kaulah cinta terakhirku, ingatlah bahwa kokohnya Mahameru adalah lambang cinta kita yang akan selalu abadi."
Suara itu, suara kak Radhit, seperti saat diatas puncak Mahameru, saat dia menggenggam tanganku, begitu hangat aku rasakan.
Rasa hangatnya menjalar merasuki hati dan jiwaku.
"Kak Radhit, lekaslah pulang. Besok adalah hari jadi kita yang ke tiga tahun.
Kau berjanji akan selalu ada untukku dan berjanji akan mengajakku mendaki ke gunung Lawu." tak terasa aku berteriak dan menangis sejadi-jadinya.
Seseorang memanggilku, menepuk-nepuk pipiku.
Tercium aroma khas minyak kayu putih merasuki indera penciumanku.
Perlahan pandanganku mulai jelas, nampak Restu, Ika dan juga Niar didalam kamar kostku
"Apa yang terjadi May?" tanya Ika sembari duduk di samping tempat tidurku.
Sesaat aku terdiam, hanya bisa menangis sambil menyodorkan handponeku.
Menangis sejadi-jadinya, berharap itu bukanlah tangisan akan kepergian kak Radhit.
Aku berharap masih bisa bersama kak Radhit.
Berharap semua ini hanyalah kebohongan belaka.
"Tapi ini masih kemungkinan May, belum pasti kak Radhit beneran hilang." ucap Niar mencoba menenangkanku.
"Mereka masih mencari keberadaan kak Radhit dan temannya, semoga saja mereka hanya tersesat. Lagi pula kak Radhit adalah pendaki handal, dia adalah ketua team HIMAPALA.
__ADS_1
Banyak pengalaman dan pengetahuan kak Radhit dalam pendakian. Tenanglah May, pasti kak Radhit akan kembali." tambah Niar lagi sambil terus menguatkanku.
Suport dari teman-teman kampus dan anggota HIMAPALA terus mengalir.
Silih berganti mereka datang dan mengirimkanku kabar tentang kak Radhit.
Mas Davin tak henti-hentinya mengabariku.
Hingga dering teleponku berbunyi.
Telepon itu berasal dari mas Gilang.
"Dek, mas Gilang dan mas Radif akan sampai malam ini, kami masih transit dibandara Hasanudin Makasar.
Kuatkan hatimu, berdoalah semoga tidak terjadi apa-apa pada Radhit." terdengar suara mas Gilang di seberang sana, mencoba menguatkanku.
Aku hanya menangis tanpa bisa berkata-kata.
Masih belum hilang rasa kangen ini setelah kepergiannya ke Magelang, belum sempat aku bertemu dengannya.
Kini aku harus menerima kenyataan pahit dan begitu menyakitkan untukku.
Hanya sebuah kado yang sudah aku siapkan untuknya, sebagai hadiah hari jadi kami esok.
Kado berisi sebuah tasbih yang terbuat dari kayu cendana yang di tengahnya terukir namaku dan nama kak Radhit.
Kembalilah untukku Kak, jika memang kau pergi bawalah aku bersamamu.
Mengapa kau meninggalkanku disaat hati ini merasakan cinta dan rindu yang begitu dalam untukmu.
Kurebahkan diriku, terbuai dalam alunan lagu kenangan kami.
Menangis memohon pada Allah sebuah kesempatan dan sebuah keajaiban.
***************
Apa yang sebenarnya terjadi pada Radhit?
*Bagaimana keadaan Radhit di puncak Mahameru?
*Apakah Radhit selamat dalam insiden tersebut dan kembali kepada Mayang?
Nantikan kisah selanjutnya "Akhir kisah cinta Sang Pendaki" part 25, trimakasih 🙏🤗
__ADS_1