TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
TAKDIR CINTA MAYANG Part 94


__ADS_3

Kembalinya ingatan akan masa lalu (Bagian ketiga)


----Rumah sakit M, pusat kota Malang----


Mayang POV


Dalam kepura-puraanya kala memejamkan mata, Mayang mendengar suara dokter yang memeriksanya. Suara itu sepertinya tidak asing di gendang telinganya. Suara merdu yang selama bertahun-tahun ini tak pernah di dengarnya lagi, bahkan dirinya tak yakin bila suatu saat nanti bisa mendengarnya kembali. Dengan penuh hati-hati dan seksama Mayang mendengarkannsuara tersebut. Akan tetapi, matanya tetap terpejam. Dirinya tak berani membuka matanya, meski dalam hatinya begitu ingin menatap wajah sang pemilik suara tersebut.


Mayang berusaha mengingat kembali sosok pria yang suaranya sama persis dengan suara yang di dengarnya tadi. Sosok pria tegap dengan sejuta pesona. Pria yang selalu memberi perhatian dan juga membuat Mayang merasa nyaman bila berada di dekatnya. Hingga saat ini dirinya tak pernah tahu apa sebenarnya yang di rasakan pria yang bernama Bimantara itu terhadapnya. Cinta kah atau hanya sebuah perhatian kecil. Perasaan sayang terhadap adik kecil dari sahabat karibnya yang bernama Gilang.


Sejak kepergian Bima secara mendadak dan tanpa pamit, Mayang masih saja mencoba menemukannya. Akan tetapi, dirinya tak pernah menemukan titik terang keberadaan Bima. Bahkan Kakaknya Gilang yang merupakan sahabat karib Bima sangat sulit melacak keberadaan sang sahabat karib tersebut.


Pernah Gilang menemukan kontak dan alamat Bima dari sahabatnya yang lain. Namun, semua sia-sia belaka. Hasilnya nihil karena saat mencari alamat itu dan menemukannya, Bima dan ibunya sudah tidak lagi menempati rumah yang tertera dalam alamat tersebut. Gilang sendiri tak pernah tahu alasan Bima meninggalkan rumah lamanya dan pergi jauh bersama ibunya. Mereka terus saja berpindah-pindah, sehingga sukar bagi dirinya menemukan keberadaan Bima. Kedua sahabat tersebut benar-benar 'lost contac' satu sama lain.


Suara itu benar-benar mengusik keheningan dalam kalbuku, apa benar dia pemilik suara itu. Harus kah aku membuka kembali kisah lama yang sudah terkubur selama bertahun-tahun? Apakah takdir mencoba mempermainkan perasaanku lagi? Ya, Allah apa yang harus aku lakukan. Apa masih bisa hati ini merasakan kebahagiaan ketika menemukan cinta sejatiku?


Mayang terus saja memejamkan matanya, tak ingin bangun dari dunia khayalannya. Kenyataan hidup sangatlah pedih bagi dirinya. Untuk saat ini menenggelamkan diri dalam bayang-bayang semu dan dunia khayalan baginya memberikan rasa yang nyaman bagi jiwanya.


Aroma maskulin dari tubuh Radhif tercium oleh Mayang. Semakin dalam di hirupnya, aroma itu seolah memenuhi seluruh rongga indera penciuman dan juga paru-parunya. Mayang yang sudah tersadar selama sejam yang lalu dengan refleks menutupi hidung dan mulutnya.


"Sshhhuttt...!" tiba-tiba mulut dan hidung Mayang di tutup menggunakan tangan kanannya.


Kedua Matanya di buka perlahan. Ternyata benar dugaan Mayang, hanya berjarak lima senti wajah pria tampan yang masih berstatus suaminya tersebut berada tepat di atas wajahnya.


"Kak Radhif mau apa?" tanya Mayang kaget dan panik sembari menatap lekat manik hitam yang kini membalas menatapnya.

__ADS_1


"Memastikan dirimu tidak terbuai dalam alam mimpi. Aku harus segera menyadarkanmu," ucap Radhif dengan penuh kekesalan.


'Pria ini harusnya aku yang marah dan kesal. Karena ulahnya aku kehilangan janinku. Tapi mengapa aku tak bisa melakukannya. Akan tetapi aku juga tak dapat merasakan perasaan yang dulu hampir saja terajut saat bersamanya,' batin Mayang. Gejolak hatinya kini membuatnya tak bisa berkata apapun kepada Radhif. Mayang hanya bisa terdiam.


"Mengapa dirimu tidak memberiku isyarat bahwa dirimu telah siuman dari efek bius pasca operasi? Apa sekarang aku sudah tak berarti lagi bagimu?" tanya Radhif lagi. Kali ini nadanya sedikit meninggi.


Mayang tak mampu berkata dan menatap mata Radhif. Dirinya kembali memejamkan matanya, berdiam diri mencoba kembali tenggelam dalam kegalauan yang kini merajai fikiran dan batinnya.


'Jangan paksa aku, Kak. Aku tak ingin kita berdua terluka. Biarkan aku hanyut dalam kegelisahan ini seorang diri. Aku tak ingin dirimu ikut terseret arus dan tenggelam dalam pusara masa lalu yang begitu gelap. Sepertinya aku harus merelakan dirimu pergi. Bagaimana pun dirimu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Jangan buat dirimu terbebani olehku. Karena kini beban itu sudah mulai terlepas sedikit demi sedikit. Kau bebas menentukan hidup mu sekarang, Kak. Aku ikhlas,' ucap Mayang dalam benaknya.


"Awh....!!!" suara Mayang tertahan menahan sakit.


"Mayang kau tidak apa-apa? ucap Radhif panik. Tangannya kemudian menyentuh jari-jemari Mayang dan menggenggamnya.


"Aku tidak apa-apa, Kak. Hanya harus terbiasa dengan rasa sakit yang belum pernah aku rasakan," ucapnya sembari melepas genggaman tangan Radhif. Matanya perlahan terbuka. Sorot mata yang sayu itu kemudian menyapu setiap sudut ruang kamar tersebut.


'Aku hanya ingin sendiri, Kak. Biarkanlah aku seperti ini. Aku hanya ingin merasakan kedamaian dengan mengenang mereka yang aku cintai. Aku sudah berbuat kesalahan dengan menghilangkan nyawa buah cintaku bersama Kak Radhit. Aku merasa begitu berdosa karena tidak menjaga dengan baik amanah yang dititipkan Allah kepadaku,' gumam Mayang dalam hati.


Suasana kamar VVIP tempat Mayang di rawat berubah hening. Radhif sudah kehilangan cara agar Mayang mau membuka matanya dan mendengarkan Radhif. Mayang menolak semua perhatian yang diberikan oleh Radhif untuknya. Hanya terdengar hembusan nafas Radhif yang mulai kesal melihat sikap Mayang yang kini mulai berubah.


'Aku memang salah tapi paling tidak fikirkanlah kondisi tubuhmu. Harusnya kau ucapkan saja kata-kata kasar atau memukulku. Akan tetapi, jangan diamkan diriku seperti ini. Rasanya aku hampir gila melihat perubahan sikapmu terhadapku. Apa yang harus aku lakukan agar kau membuka lagi hatimu untukku, Mayang. Aku rindu sosok Mayang yang mulai membuka hatinya untukku. Rindu senyum dan juga suara manjamu,' jerit batin Radhif ketika manatap kembali wajah Mayang.


Tanpa sadar Radhif meneteskan bulir bening di sudut matanya. Hatinya teriris. Rasa bersalah karena membuat Mayang kehilangan janinnya kembali memenuhi sudut ruang hatinya yang kini semakin sesak oleh rasa perih akibat perubahan sikap Mayang terhadapnya.


---sebait doa Radhif untuk Mayang---

__ADS_1


Jika malam tak lagi menyejukkan hati yang lelah menantimu,


Jika embun pagi tak lagi memhapuskan dahagaku akan cinta dan juga kasih sayangmu,


Harusnya takdir membawaku pergi...


Pergi jauh meninggalkamu,


Hingga kau sadar berartinya diriku


dalam hidupmu.


Dalam diam Radhif menuliskan puisi itu dalam buku harian Radhit yang pernah di baca dan simpan oleh Mayang. Buku harian itu sengaja di ambil oleh Radhif secara diam-diam agar Mayang tidak lagi membacanya. Dalam benak Radhif jika Mayang menyimpan dan membaca buku harian milik Radhit maka sosok Radhit akan terus membayang-bayangi hidup Mayang seumur hidup sehingga dirinya akan sulit membuka pintu hati Mayang untuk menerima cintanya.


...-----Bersambung-----...


*Bagaimana akhir perjalanan kisah cinta dan pernikahan Radhif dan Mayang?


*Masih sama kah perasaan Bima terhadap Mayang, apalagi setelah mengetahui kisah hidup Mayang yang penuh problem dan kepedihan?


*Akan kah Setyo tetap berusaha memperjuangkan cinta Mayang di saat hubungan Mayang dan Radhif merenggang?


Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 95. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊


Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.

__ADS_1


Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.


__ADS_2