
Rumah sakit
"Sepertinya kondisi Mayang udah baikan, apa karena habis melahap semua manisan mangga ya Mas?" ledek dokter Rian saat memeriksa Mayang.
Mendengar hal tersebut, nampak wajah Mayang merah merona seperti kepiting rebus.
'Apa yang dikatakan oleh Kak Radhif kepada Dokter Rian, sehingga dia meledekku seperti ini? Awas ya, Kak Radhif tunggu pembalasanku,' gumam Mayang dalam hati.
Mata Mayang melotot ke arah Kak Radhif, namun yang di pelototin pura-pura tak melihat.
Akhirnya pemeriksaan pun selesai, Dokter Rian memberikan resep yang baru untuk Mayang.
Ada beberapa obat yang sudah di siapkan perawat untuk diminum dan dibawa pulang oleh Mayang.
Sambil mengemasi perlengkapan medisnya suara Dokter Rian memecah kesunyian ruang itu, "Baiklah, sampai disini tugas saya. Jaga dirimu dan juga bayimu."
"Pastikan Ibu dan calon anak kalian sehat.
Tentunya Pak Radhif jangan lupa menjaga sang ibu agar tetap stabil emosinya. Buat dia merasa nyaman dan juga bahagia. Itu sangat mempengaruhi pertumbuhan janin," ucap Dokter Rian panjang lebar menjelaskan segala sesuatunya.
"Eh...iya, Dok. Saya akan melaksanakan semua perintah Dokter Rian," ucap Kak Radhif terbata.
Hal itu membuatnya keadaan sedikit canggung antara Mayang dan Kak Radhif.
Apalagi saat dokter mengatakan "anak kalian" kepada mereka.
Hal itu membuat raut wajah keduanya tampak aneh.
Sepertinya keduanya terlihat sangat malu saat dokter mengatakan itu.
Kemudian Dokter Rian mengisi agenda yang dibawa perawat sambil berkata, "Besok pagi pasien sudah boleh pulang ya, Sus."
"Sampai jumpa lagi ya Mayang, semoga ada kabar bahagia yang saya dengar nanti," ucapnya lagi.
"Terimakasih, Dok!" ucap Radhif dan Mayang berbarengan.
Mendengar hal itu, kembali lagi sang dokter melontarkan guraunnya.
"Duh...kompak banget ya, sampai jawabnya bersamaan. Kalian memang tipe pasangan dan calon orang tua yang ideal plus romantis," ledek Dokter Rian kepada keduanya.
Mayang kembali memandang ke arah Kak Radhif sambil memelototi danki tampan itu.
Namun, masih saja sang danki menanggapinya dengan cuek.
'Arrggghhhh....Kak Radhif, benar-benar resek deh,' teriak Mayang dalam hati menahan kesal.
Sambil berjalan perlahan Kak Radhif berkata, "Terimakasih, Dok!" mari saya antarkan.
'Duh, ngapaen lagi sich Kak Radhif? Makin bikin aku 'ilfil' aja kalo kayak gini,' gerutu Mayang dalam hati.
Selang beberapa menit Radhif pun kembali, sesuai dengan janjinya dia membawakan manisan mangga untuk Mayang.
Tapi tidak sebanyak kemarin.
Kali ini hanya dua bungkus manisan dan segelas jus alpukat.
"Ini untukmu, Nyonya Pratama," ujar Kak Radhif.
Tanpa mempedulikan gurauan dari Kak Radhif, Mayang kemudian bberceloteh, "Akhirnya, Kakak membelikanku manisan mangga," ucap Mayang dengan bahagia.
Kak Radhif kemudian menyodorkan gelas berisi jus alpukat kehadapan Mayang, suaranya membuat Mayang mengalihkan pandangan dari manisan mangga yang dipegangnya, "Ini juga ada jus alpukat untukmu, makanlah dulu bubur yang sudah dibawakan oleh perawat tadi, setelah itu baru kau boleh memakan manisan itu."
"Minumlah dulu jus ini, biar tubuhmu segar kembali," suara itu terdengar lembut di telinga Mayang.
"Aku tak mau calon anak kita kenapa-kenapa," tambahnya lagi sambil tersenyum.
"Hhhhmmmmm...anakku kali kak," sanggah Mayang sambil mengambil jus alpukat itu dan meminumnya.
"Tapi kita akan menikah, dia akan menjadi anakku juga," ujar Kak Radhif dengan nada sedikit tinggi.
"Baik-baik ya, debay dalam perut Mama, jangan nakal loh! Papa akan sabar menanti kelahiranmu," canda Kak Radhif pada Mayang.
Candaan itu membuatnya hanya diam seribu bahasaha.
Terpaku dan tertunduk, tanpa berani membalas ucapan atau memandang Kak Radhif.
'Ya Allah, saudaramu ini sangat baik dan tulus Kak Radhit. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku akan terus mengabaikannya?
Aku tak ingin melupakan cinta kita dan berpaling darimu Kak Radhit.
Bantulah aku, beritahu apa yang harus aku lakukan,' jerit hati Mayang.
Raut wajahnya nampak sedih, kenangan demi kenangan bersama Radhit muncul kembali.
Membuat hatinya pilu, masih terluka hatinya, masih baru dan berdarah.
Namun, karena kondisinya inilah yang membuatnya harus menerima permintaan dan perhatian dari Radhif serta keluarganya.
Suasana hening, tak ada suara. Hanya terdengar suara seruputan jus yang di sedot Mayang.
Suara seruputan jus disaat jus alpukat tersebut mulai habis, hingga benar-benar kandas.
"Makanlah sedikit bubur ini," ucap Kak Radhif lagi.
Tapi Mayang hanya diam seribu bahasa, tetap tertunduk menatap gelas jus yang telah habis isinya.
"Ayo, makan dan minumlah obatmu. Apa kau tidak menginginkan manisan mangga ini Mayang," sekali lagi Kak Radhif memaksa Mayang untuk makan.
Sambil menyodorkannya sendok berisi bubur yang ke arah Mayang, Kak Radhif berkata, " Ayo, buka mulutmu, Mayang alias Mama sayang."
__ADS_1
Sontak Mayang menatapnya dengan wajah datar.
Tak tersenyum, hanya tatapan kosong.
"Kak Radhif, udah deh. Aku lagi gak pengen bercanda," protes Mayang ketus.
Sambil meraih wadah bubur dan sendok makan ditangan Kak Radhif, "Sini biar aku makan sendiri aja Kak, lagi pula infusku udah dilepas. Jadi aku bisa sendiri," tambah Mayang masih dengan sikapnya yang jutek.
"Hhhhmmmmm, jutek banget Mama sayang, kan Papa mau bantuin," ledek Kak Radhif lagi.
Ledekan itu sebenarnya membuat Mayang bahagia tapi juga sedih.
Bahagia karena Kak Radhif tulus melakukannya.
Sedih karena dia membayangkan seandainya dan bila saja itu adalah mendiang Kak Radhit, bukalah Kak Radhif seperti kenyataan yang terjadi saat ini.
Sungguh picik memang tapi itulah yang ada dalam hati dan fikirannya.
Membuatnya terjebak dalam dilema yang berat.
\*\*\*\*\*\*""""\*\*\*\*\*\*
Ketintang, Surabaya
Tak terasa sudah jam sebelas malam, ebeznya Dion belum juga pulang.
Setyo dan Dion pun masih tertidur pulas.
Raga dan jiwa Setyo seakan sangat letih dan lelah.
Hal ini membuatnya seperti terbuai dalam tidurnya.
Sejenak melupakan rencananya untuk menemukan Mayang.
Lelap tertidur hingga pagi menjelang.
Di kagetkan oleh suara kegaduhan dari luar kamar Dion.
Sayup-sayup terdengar suara Ibu dari Dion yang membangunkan Dion.
"Dion...ayo bangun!" panggil Setyo.
"Sudah pagi, Ion," pekik Setyo membuat Dion terkejut.
Sambil mengusap-ngusap matanya, Dion memandang sekeliling dan melihat jam dinding yang ada di kamarnya.
"Buset jam tujuh pagi. Kok aku gak sadar ya? Tiba-tiba aja udah pagi," ucap Dion mulai gusar.
"Yaudah, ayo kita mandi dan sarapan. Trus kita berangkat," tambah Dion.
"Cuci muka aja, Ion dan sarpan di jalan aja biar gak telat" jawab Setyo yang sudah duluan bangun dari tempat tidur.
Hanya dalam hitungan menit mereka berdua telah siap dan berada didalam mobil milik papanya Dion.
Saat berangkat Setyo yang mengambil alih kemudi. Hal ini bertujuan agar saat pulang Dion tidak lelah di jalan ketika mengendarain mobil kembali ke arah Surabaya.
"Kita mampir beli kue dan kopi di angkringan biasanya yang tak jauh dari kampus ya, Yo," ucap Dion.
"Siap!" balas Setyo tetap fokus menyetir mobil.
\*\*\*\*\*\*\*""""\*\*\*\*\*\*\*\*
Rumah sakit
Mayang hari ini sudah boleh pulang.
Radhif dan juga Gilang sudah mengurus segala sesuatunya sehingga mereka bisa segera membawa Mayang pulang, tepat pukul tujuh pagi.
Mereka sangat terburu-buru karena hari ini juga Mayang dan keluarga akan kembali ke Surabaya.
Mereka telah dijemput oleh supir pribadi keluarga Pratama.
Rencana pertunangan Mayang dan Radhif yang membuat mereka jadi tergesa-gesa ingin segera kembali ke Surabaya.
"Mayang...Mayang, tunggulah bersama Ibu di mobil. Aku akan mengurus sisanya bersama Radhif," ucap Mas Gilang.
Mayang pun menurut, bersama ibundanya, Mayang berjalan menuju mobil Radhif.
Sang Ibu membantunya masuk kedalam mobil.
Mereka menunggu kedatangan Radhif dan Gilang.
Nampak mobil keluarga Pratama di parkiran.
Namun, yang terlihat hanya supir keluarga mereka.
'Ternyata mereka mengirimkan mobil untuk menjemput kami pulang, baik banget keluarga Radhif,' batin Bu Endang.
Tak berselang lama, akhirnya Gilang dan Rahif muncul. Mereka membawa banyak barang.
"Bu pindah ke mobil depan aja," ucap Gilang sambil memberi isyarat kepada sang ibu.
"Mayang pindah kedepan ya, banyak barang yang akan aku taruh di kurisi belakang," ucap Gilang sengaja menyuruh Mayang untuk pindah.
"Tapi Kak, kan ada bagasi mobil kenapa gak disimpan disana?" tanya Mayang bingung.
__ADS_1
"Udah laksanakan saja perintah kakakmu ini," protes Gilang memasang wajah sangar atau galak.
"Baiklah," jawab Mayang singkat.
Akhirnya saat Gilang sudah menaruh barang, dia pun bergegas ke mobil satunya bersama sang ibu.
Hal ini membuat Mayang makin bingung.
"Loh...kok aku di biarin sendiri di mobil ini?" teriak Mayang pada sang kakak yang tak menghiraukan teriakannya.
"Kamu gak sendirian Mama sayang, kan ada aku bersamamu," gurau Kak Radhif.
"Gak lucu!" dengus Mayang dengan mimik wajah jutek yang sengaja dibuatnya
"Kamu kalo marah makin manis dan cantik deh, Mama sayang," gurau kak Radhif lagi.
"Udah deh Kak, stop menggodaku. Atau Kak Radhif mau aku turun dari mobil ini?" gerutu Mayang sambil berpaling menatap keluar mobil.
"Oke...oke...baiklah aku tak akan menggodamu lagi. Ini kali terakhir aku menggodamu," seru Kak Radhif.
Hal itu sedikit membuat Mayang lega, paling tidak itu akan membuat batinnya berhenti bergejolak akibat perasaan yang tak mampu dia lukiskan dengan kata-kata.
Mobil pun melaju melesat melewati jalan raya menuju tol.
Mayang menyandarkan kepalanya hingga dia pun tertidur lelap saat perjalanan menuju Surabaya.
🍃🍃🍃🍃
Rumah sakit
Sebuah mobil Avansa putih melesat masuk didalam pelataran rumah sakit.
Nampak seorang pria muda tampan turun dengan terburu-buru.
Dia berlari memasuki ruang depan loby rumah sakit.
"Suster, apakah saya bisa menemui pasien di ruang VVIP kamar mawar, nomor 5?" tanya Setyo dengan nafas tersengal-sengal tak beraturan, akibat berlari.
"Tapi ini belum jam besuk," ucap perawat yang sedang berjaga.
Setyo teringat pada Dokter Rian.
'Aku akan menelpon Rian, semoga saja Rian sedang berdinas,' batin Setyo sambil merogoh ponselnya.
Tetapi....
"Ah....sial, ponselku ada didalam tas ransel. Aku lupa mengambilnya," ucapnya lagi.
"Bapak saudaranya Dokter Rian? Dokter Rian adalah dokter umum disini," ucap sang perawat.
"Iya, Sus. Bisa tolong panggilkan Dokter Rian? Setyo balik bertanya.
Kemudian sang perawat itu pun menghubungi sang dokter yang dimaksud.
"Silahkan duduk dulu, Pak" ucap sang perawat mempersilahkan.
"Gak apa-apa, Sus. Saya berdiri saja," balasnya.
Tak berselang lama, Dokter Rian pun muncul.
Seperti bertemu hantu, Rian sangat kaget melihat Setyo yang sudah berada di rumah sakit tempatnya bekerja sepagi ini.
"Ngapaen kamu disini, Yo?" tanya Dokter Rian yang merupakan saudara sepupunya itu.
"Panjang ceritanya," ucap Setyo.
" Bisahkan kamu mengantarkanku ke ruang VVIP, kamar mawar nomor 5?" tanya Setyo penuh harap.
"Bukannya ruangan itu kamar pasien bernama Mayang?" Dokter Rian balik bertanya.
"Mayang, benar Mayang Trihapsari nama pasien itu kan Rian?" seru Setyo panik bercampur girang.
"Aku kurang tau nama panjangnya, biar aku periksa datanya," balas Rian.
Setelah mengecek data pasiennya, dan benar itu adalah nama yang di sampaikan oleh Setyo tadi. Rian semakin penasaran.
Apa hubungan saudara sepupunya ini dengan Mayang pasiennya.
'Bukankah Mayang telah memiliki suami, lalu mengapa Setyo mencarinya. Sepertinya ada yang tidak beres,' batin Rian.
"Tapi Mayang dan keluarganya telah pulang pagi ini, mereka sepertinya tidak sempat melapor di loby karena buru-buru pulang ke Surabaya," tutur Dokter Rian menjelaskan.
Mendengar hal itu membuatnya lemas, lututnya tak bertenaga.
Sia-sia sudah dia mengejar Mayang, bahkan tadi hampir saja mobil yang dikemudikannya nyaris kecelakaan bila terlambat direm.
"Ceritakanlah kepadaku apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin aku bisa membantumu," ucap Rian kepada Setyo.
Berusaha menenangkan Setyo yang sedih dan putus asah.
🍃🍃🍃🍃🍃
*Mayang akan pulang dan melangsungkan acara lamaran keesokan harinya.
Bagaimana kisah selanjutnya?
Apakah Setyo masih tetap mengejar Mayang setelah mendengar semua kebenaran dari saudaranya Dokter Rian?
__ADS_1
Nantikan kisah selanjutnya hanya ada di "TAKDIR CINTA MAYANG" part 46. Terimakasih pembaca setia cerber karya Cikgu Maya, semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan dalam lindungan ALLAH SWT, Aamiin... 🙏🤗😍