TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# PART 46


__ADS_3

... *Tol Malang-Surabaya*...


Tepat pukul delapan lebih tiga puluh menit kami tiba di pintu masuk tol yang berada di Kota Malang.


Arah tujuan kami menuju kota pahlawan, Surabaya dan berakhir di Kota Sidoarjo, rumah ibukku.


Saat meninggalkan rumah sakit tadi aku lupa memakai sweaterku.


Alhasil, udara Kota Malang yang masih pagi di tambah dinginnya AC mobil membuatku sedikit menggigil.


Aku menyandarkan kepalaku pada kursi, mendekap erat kedua tanganku sambil memandang ke luar jendela mobil, mencoba menenangkan hati yang resah.


Aku tahu bahwa setelah sampai di rumah ibukku, esok hari lamaran akan segera dilaksanakan.


Dan setelahnya pastilah akan ada prosesi akad nikah.


'Ya, Allah apakah semua ini harus terjadi secepat ini? Sanggupkah aku menerima semua yang terjadi?


Masih belum lama Kak Radhit pergi, dan kini aku harus menerima Kak Radhif dalam hidupku.


Membuka lembaran baru bersama sosok pria yang mirip dengan mendiang Kak Radhit.


Seandainya bisa memilih, aku lebih memilih pergi bersama Kak Radhit.


Biarlah cinta kami tetap abadi, hanya Kak Radhit milikku dan aku hanyalah milik Kak Radhit.


Meskipun aku sadar, Kak Radhif dan keluarganya mempunyai niat yang tulus terhadapku dan janin yang aku kandung, tapi aku belum siap untuk menerima Kak Radhif.


Hati ini masih terlalu rapuh untuk menerima perhatian dan kasih sayang dari seorang pria.


Apalagi pria itu adalah Kak Radhif kakak kandung dan saudara kembar dari mendiang Kak Radhit.


Takdir seolah mempermainkanku, serta mengoyak-ngoyak perasaanku.


Hanya tersisa kenangan Manis berselimut kepedihan.


Siapakah kini yang peduli akan perasaanku dan rasa cintaku yang begitu dalam kepada Kak Radhit?


Apa mereka hanya peduli kepada anak yang dikandungku saja tanpa tahu gejolak hati dan perasaan yang aku rasakan.


Ya, Allah...hanya kepada-Mu aku bersandar dan hanya kepada-Mu aku berserah diri.


Tuntunlah aku, kuatkanlah aku melewati setiap lika-liku hidup ini.


Berilah hamba-Mu ini sebuah kesempatan agar bisa merasakan kebahagiaan.


Hamba-Mu ini hanya ingin merasakan cinta dari seorang Radhit.


Namun kini dia telah pergi meninggalkanku seorang diri.


Tanpa memikirkanku tak berdaya tanpanya, kini Kau mengirimkan cinta lain untukku, namun sosok yang sama membuatku semakin sakit dan tenggelam dalam luka lamaku.' jerit hatiku pilu.


Hening sesaat hanya terdengar lagu melow milik Gleen Fredly, yang berjudul 'kasih putih.'

__ADS_1


Membuat anganku dan fikiranku semakin terbang menjauh dari ragaku, hanya tetes-tetes embun yang mengalir membasahi sudut mataku.


"May, kamu gak apa-apa?" tanya Kak Radhif sambil menepikan mobil.


"Katakan apa yang kau rasakan? Apa semua ini ada hubungannya dengan rencan yang sudah aku dan keluargku buat?" tambahnya lagi.


Kali ini dia melepaskan jaket jeans miliknya dan menutupkannya ke tubuhku yang sedari tadi sudah meringkuk kedinginan.


Aku hanya diam, memejamkan mataku dan terus saja mengunci mulut dan hatiku.


Dengan suara yang khas Kak Radhif mulai mencoba membuatku mengerti, "Baiklah, kalau memang itu alasannya. Aku akan batalkan semua rencana ini. Besok aku akan kembali bersama Gilang ke tempat tugas kami."


"Fikirkan baik-baik setiap ucapanku dan juga keluargaku, aku tak mau memaksamu. Ini bukan hanya masalah masa depan janin yang ada dalam kandunganmu, akan tetapi ini semua juga demi masa depanmu kelak," ucapnya dengan nada sedikit tinggi.


"Bukankah sudah aku sampaikan dari awal, kita akan menikah tetapi pernikahan ini terjadi agar kau dan janin itu mempuanyai status yang jelas," tambahnya lagi.


Sambil menghidupkan mesin mobil kembali, Kak Radhif kembali berkata, "Saat menikah nanti aku tak akan menyentuhmu, bahkan sehelai rambutmu pun tidak. Jika tiba saatnya tiba, ketika janin itu telah lahir, aku akan akan menalakmu dan akan menceraikanmu."


Mobil pun kembali melaju, menembus rintik hujan pagi itu.


'Mengapa langit tiba-tiba mendung dan turun hujan? Apakah para malaikat tahu hatiku saat ini sedang sedih? Hatiku hancur kehilangan orang yang aku sayangi untuk kedua kalinya.


Pertama kepergian papaku, dan kini pria yang aku cintai calon ayah dari anakku,' jerit hatiku begitu pilu kurasakan.


Sisa perjalanan kami habiskan hanya dengan berdiam diri.


Kak Radhif memilik fokus menyetir dalam keadaan hujan deras.


Hingga tiba jalan keluar tol yang berada di area Kota Sidoarjo aku masih saja terdiam.


Tak lagi aku dengar gurauan dan candaan dari Kak Radhif seperti kala aku masih berada di rumah sakit waktu itu.


Mataku sembab, masih nampak jejak sungai bening yang mengalir.


Aku turun dari mobil langsung menuju kamar adik sepupuku, yang sudah lama kosong karena pemiliknya sedang melanjutkan pendidikan di luar kota Surabaya.


Kukunci kamar itu dan melepaskan semua kesedihan serta kegundahan dalam hatikku.


Menangis sepuas-puasnya, menumpahkan rasa yang terpendam dengan airmata.


\*\*\*\*\*\*"""""\*\*\*\*\*\*



Rumah sakit


Setyo pun melangkahkan kakinya bersama Dokter Rian menuju kantin yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri tadi.


Kemudian Rian memesan kopi dan juga sarapan untuk Setyo.


Awalnya Setyo menolaknya, namun saudaranya itu memaksanya.


"Makanlah, jika kau sakit aku tidak akan merawatmu," ucap Rian ketus.

__ADS_1


Setyo hanya memandang dan tersenyum tipis.


Pikirannya tidak tenang, hanya memikirkan Mayang.


"Apa benar yang kau cari itu pasienku yang bernama Mayang, Yo?" tanya Rian tidak yakin.


Sambil menyeruput kopi yang terhidang, dia menjawab, "Aku yakin dia yang kau maksud adalah mayangku, Mayang Trihapsari wanita yang sangat aku cintai."


Kemudian Setyo mulai menceritakan sosok Mayang yang dikenalnya, wanita cantik dan manis, berhidung mancung dengan tinggi 167 sentimeter, berat ideal 50 kilogram, memiliki hoby mendaki dan bermain basket.


Karakternya yang unik itulah merupakan daya tarik yang membuat Setyo begitu mengaguminya.


Dan Setyo semakin jatuh cinta, ketika melihat Mayang bermain gitar dan menyanyi pada saat acara penutupan OSPEK mahasiswa baru kampusnya.


Sedikit kilas balik yang diceritakannya kepada Rian membuat wajah Setyo semakin sedih, kecewa karena tidak berhasil menemukan Mayang pada waktunya.


Dengan suara serak Setyo menuturkan isi hatinya, "Andai saja aku tahu dia yang dirawat di ruangan itu. Aku pasti sudah bertemu dengannya saat mengantarkan berkas itu, tepat hari dimana aku bertemu denganmu, Ian."


"Aku rasa kali inipun kau takkan berhasil menenukannya, bahkan memilikinya kembali, Yo," ucap Rian ikut sedih.


"Kenapa?"


"Apa Mayang sakit parah dan akan meninggal?" ucap Setyo dengan nada tinggi dan penuh khawatir.


"Lupakanlah dia!"


"Biarkan dia pergi dari hidupmu dan juga fikiranmu, Setyo!" tutur Dokter Rian sambil berdiri dan menepuk pundak saudaranya itu.


"Kenapa?"


"Apa alasanmu berkata seperti itu kepadaku Rian?" ujar Setyo dengan nada marah.


"Aku bilang lupakan!"


"Jangan pernah menemui dan mencoba mencarinya atau kau akan semakin terluka!" suara Rian meninggi.


"Tapi Rian, aku--" ucap Setyo terhenti karna Rian sudah berlari meninggalkannya.


'Sebenarnya apa maksud Rian? Apa yang membuatnya berkata seperti itu kepadaku?


Apa aku harus menuruti perkataan Rian?' tanya Setyo dalam hati.


*******"""""********


*Benarkah Radhif akan pergi bersama Gilang kembali ke tempat tugasnya disaat seperti ini?


*Apa benar lamaran dan pernikahan yang direncakankan akan terancam gagal?


*Dan apakah Setyo mengikuti perkataan Rian untuk berhenti mencari keberadaan Mayang karena takut Setyo akan terluka menerima keadaan Mayang yang saat ini?


Nantikan kisah selanjutnya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" Part 47. Terimakasih untuk teman-teman semua yang selalu setia membaca cerita karya Cikgu Maya 🙏😍🤗


__ADS_1



__ADS_2