TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# PART 47


__ADS_3

... *****""""""***...


... Rumah sakit...


"Yo, apa yang dikatakan Mas Rian itu benar, lupakanlah Mayang. Jalani hidupmu dengan membuka hati untuk cinta yang lain," ucap Dion sambil menepuk pundak Setyo.


"Tapi kenapa?"


"Apa alasan Rian mengatakan hal itu kepadaku?"


"Seharusnya dia memberitaku apa yang sebenarnya terjadi kepada Mayang," ucap Setyo lirih.


"Sudahlah, Bro. Ayo kita pergi dari sini!" tutur Dion menepuk kembali bahu Setyo sambil berjalan menuju parkiran.


Mau tak mau Setyo pun berdiri dan mengikuti langkah Dion.


Meskipun kepalanya penuh tanda tanya dan hatinya tersayat-sayat.


Namun, bayang-bayang wajah Mayang tetap saja menari-nari dalam angan-angannya.


'Seandainya malam tadi aku tidak tertidur,


Seandainya sore itu aku langsung kembali ke Malang,


Seandainya, seandainya....' sesal Setyo dalam hati kecilnya.


"Maafkan aku ya, Yo. Karena aku semua ini terjadi. Seandainya malam itu aku tidak menahanmu, kamu pasti bisa bertemu dengan Mayang," ucap Dion sambil membuka pintu mobilnya.


Dengan wajah lesu Setyo menaiki mobil milik orang tua Doin, "Tak apa, Ion. Ini sudah nasibku. Takdir tak memihak kepadaku, hingga saat Radhit tak adapun, Mayang masih saja tak bisa bersamaku."


"Kemana aku akan mengantarmu pulang? Apa kau akan kembali ke Surabaya atau--," ucapan Dion terhenti saat Setyo memotongnya dengan mengatakan arah tujuan mereka.


Setyo pasrah kali ini, semangatnya mulai berkurang.


Ucapan Rian tadi membuatnya kembali berfikir dua kali untuk kembali ke Surabaya.


Dan pertimbangan lain yang membuat Setyo membatalkan niatnya adalah karena tugasnya di kantor ada yang belum selesai.


Dia khawatir anggotanya yang menjadi sasaran kemarahan atasannya karena ulahnya yang lalai melaksanakan amanat dalam kedinasannya.


Tak sengaja di dalam mobil Dion memutar saluran radio kesukaannya, disana setiap orang bisa merequest atau memesan lagu yang ingin untuk didengarkan.


Dan setelah musik sebelumnya berakhir, terdengar suara penyiar yang mengatakan sesaat lagi akan memutarkan sebuah tembang milik group band Laluna yang berjudul 'selepas kau pergi.'


Alunan musik intro tembang milik group band tersebut mulai memenuhi indera pendengaran.


Dalam diam Setyo dan Dion meresapi alunan musik dan lirik tembang yang diputarkan oleh sang penyiar diseberang sana.


'Reef....bantu aku membencimu, kuterlalu mencintaimu, dirimu begitu berarti untukku,'


Tak lama setelah mendengar lirik terakhir tembang itu, Setyo nampak semakin resah dan gelisah.


"Prrrraaaaakkkkk!" tangan Setyo memulukus dasboard mobil dengan tinjunya.

__ADS_1


Dion yang terkejut berteriak histeris, "Setyo, gila ya kamu." sambil menepikan mobil di pinggir jalan raya.


Dion khawatir Setyo tak bisa menahan emosinya lagi.


"Bukan begini caramu menyesali diri, jika kalian berjodoh pastilah akan bertemu."


"Tenanglah, aku akan membantumu mencari tau keberadaan Mayang dan juga keadaannya dari ketiga sahabatnya," ucap Dion mencoba menenangkan Setyo.


Dengan tatapan nanar dan kosong ke arah Dion Setyo berkata, "Maafkan aku Dion, seharusnya aku dapat mengontrol emosiku.


Harusnya aku tidak seperti ini, maafin aku ya, Ion." sambil menutupi wajahnya dengan tangannya yang lebam.


"Tak usah difikirkan masalah tadi. Aku cuma ingin kamu bersikap realistis terhadap kenyataan hidup ini, Yo. Cobalah belajar mengikhlaskan apa yang tak seharusnya kau miliki, Yo," ucap Dion lagi.


'Dalam hati Dion merasa sedikit aneh. Kok kali ini dia bisa menasehati Setyo dan terlihat sangat bijaksana,' gumam Dion dalam hati, menertawakan sikap bijaknya tadi yang mencoba menenangkan Setyo sahabatnya.


Dan akhirnya, mobil milik Dion sampai di depan gerbang batalion tempat Setyo berdinas.


Dengan fikiran galau dan raut wajah lusuh Setyo turun dari mobil, sebelum nya dia berpamitan dan mengucapkan terimakasih atas bantuan sahabatnya itu.


"Ingat janjimu, Ion. Cari tahu dimana dan bagaimana keadaan Mayang.


Aku tunggu kabarnya malam ini, aku mohon bantulah aku, Ion."


"Kali ini aku memohon dengan kedua tanganku, bantulah aku kawan," ucapnya dengan nada penuh harap bercampur sedih.


"Insyaallah, akan aku usahakan demi persahabatan kita," ucapnya lagi.


Dan akhirnya Setyo menutup pintu mobil dan membiarkan mobil milik Dion melaju pergi.


Kemudian dia melangkah masuk gerbang, berjalan menuju barak bujangan tempat tinggalnya.


... ******""""""****...


... Rumah Mayang...


Mayang masih saja mengurung diri dikamar, sejak pagi tadi tidak sekalipun dia meninggalkan kamar itu.


Sang Ibu yang rupanya dari tadi mengetahui hal itu khawtir akan kondisi Mayang.


"Nduk (panggilan untuk anak gadis dalam bahasa jawa)!"


"May.....Mayang!" panggil sang ibu.


Ternyata pintu kamarnya sudah terbuka, tidak lagi dikunci dari dalam.


Sambil mendekati dan duduk di pinggir tempat tidur dimana Mayang terbaring, Bu Endang membelai rambut anak gadisnya itu, dan menghiburnya.


Memberikan wejangan dan juga pengertian kepada sang putri yang masih bimbang dan ragu harus bagaimana melalui segala cobaan ini.


"Yowis, Nduk, kalo memang gak kuat lepasin aja. Jangan sampai itu membuatmu tersiksa dan tertekan."


"Kuatkan hatimu, cobalah melihat sisi positif dari semua kejadian yang sudah menimpamu," ucap sang ibu penuh kelembutan dan kasih sayang.

__ADS_1


Mayang bangkit dan memeluk sang ibu dan berkata,"Berarti Mayang harus menerima Kak Radhif, Bu?"


"Mayang harus rela menerima apapun yang akan terjadi?" tanyanya dengan nada sedih dan khawatir.


"Sabar yo, Nduk. Anggap ini adalah permulaan yang baik untukmu. Toh, Radhif anak yang baik dan bertanggungjawab, dia juga berasal dari keluarga yang baik," ucap sang ibu mencoba menenangkan Mayang.


Setelag mengapus airmata anak gadisnya itu, sang ibu kemudian memeluknya dan mencium keningnya.


"Yasudah, makanlah kemudian minum obat terus istirahat yo, Nduk. Ibu akan mengambilkan bubur dan juga obat untukmu," tambah sang ibu seraya berjalan keluar kamar.


Tak berselang lama, sang ibu kembali dengan bubur dan obat ditangannya, menemani Mayang menghabiskan makan malamnya dan meminum obat.


"Tidurlah, Ibu akan menemui masmu didepan. Ada yang ingin Ibu dan kakakmu itu omongin," ucap Bu Endang.


"Baik Bu," ucap Mayang memeluk bantal guling dan memejamkan matanya.


Dia berangan-angan berharap dengan tidur semua mimpi buruk yang menimpanya akan berakhir saat dia terbangun nanti.


'Seandainya saja semua ini hanya mimpi, dan seandainya waktu dapat berputar kembali....' gerutunya dalam hati.


\*\*\*\*\*\*\*""""""\*\*\*\*\*\*\*


Rumah keluarga Pratama


"Cccciiiiitttt....!"


"Brrrruuuuukkkkk!" suara seseorang menutup mobil.


"Kok lama banget, Dhif? Bagaimana keadaan Mayang? Apa dia dan bayinya baik-baik saja?" berbondong-bondong pertanyaan disodorkan oleh sang ibu kepadanya saat memasuki rumah.


"Hhhhmmmmm...sabar dong Bu, Radhif baru juga sampai. Belum mandi dan istirahat," ucapnya sambil berlalu menaiki tangga menuju kamarnya dilantai dua rumah itu.


Sang ibu hanya mendengus melihat tingkah anaknya itu, sebenarnya dia menanyakan berbagai pertanyaan karena khawatir akan keadaan Mayang dan janin yang dikandungnya.


"Udahlah, Bu. Biarkan Radhif mandi dan istirahat dulu. Nanti jika sudah 'fresh' tubuh dan fikirannya, pasti dia akan bercerita.


"Toh besok kan kita harus kerumah Mayang untuk mengadakan acara lamaran, apa Ibu sudah menyiapkan segala sesuatunya?" ucap Ayah Radhif mengingatkan.


Sambil menatap sang suami, Ibu Pratama menjawab, "Alhamdulillah, semua sudah beres, Pak."


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu, Bu."


"Semoga tak ada halangan esok hari," ucap Pak Pratama.


\*\*\*\*\*\*"""""\*\*\*\*\*\*


*Apakah Setyo berhasil mendapat kabar keberadaan dan keadaan Mayang dengan dibantu Dion sahabatnya?


*Apakah acara lamaran Radhif dan Mayang esok hari benar-benar berlangsung?


*Dan apa yang diobrolkan Bu Endang dengan sang kakak Gilang?


Nantikan kelanjutannya hanya di "Takdir Cinta Mayang" part 48. Terimakasih 🙏🤗😍

__ADS_1




__ADS_2