TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
TAKDIR CINTA MAYANG Part 93


__ADS_3

Kembalinya ingatan akan masa lalu (Bagian kedua)


----Rumah sakit M, pusat kota Malang----


Dua puluh menit setelah operasi berlangsung Mayang kemudian di bawa oleh perawat ke ruang kamar VVIP tempatnya di rawat inap. Nampak Radhif duduk di sebelahnya, menatap wajah cantik Mayang. Membelai pipi serta ujung kepala Mayang dan menciumnya. Berharap Mayang segera pulih dari pengaruh obat bius yang membuatnya tak sadarkan diri untuk saat ini. Hati Radhif nampak galau karena dia tahu ketika sadar nanti sebuah kenyataan pedas telah menantinya. Kenyataan bahwa mungkin saja Mayang akan memilih untuk tidak mempertahankan pernikahan mereka yang hanya sebuah formalitas belaka atau membenci Radhif karena telah menyebabkan Mayang kehilangan janin yang di kandungnya. Janin milik buah cintanya dengan mendiang Radhit adik kembarnya.


Sejenak ada rasa kesal dan geram ketika teringat kembali wajah Setyo, mungkin saja Mayang akan memilih untuk menyudahi pernikahan mereka dan memilih menjalin kembali hubungan dengan pria yang sampai saat ini masih mengharap Mayang membalas cintanya.


'Aku tahu saat sadar nanti kau pasti akan membenciku bahkan mungkin saja akan meninggalkanku. Namun, aku akan tetap berdiri tegar, berusaha menjadi pria yang akan selalu menjadi sandaran untukmu. Akan aku lakukan apapun untukmu meski cintamu tak lagi ada untukku,' batin Radhif.


Jari jemarinya menggenggam erat jemari Mayang, seakan tak ingin melepaskannya. Menatap wajahnya lekat seolah hanya hari itu dia dapat memandangnya. Mencium mesra kening Mayang, berharap itu bukan terakhir kalinya dirinya melakukannya.


Beberapa jam berlalu, tanpa sadar Radhif tertidur di sebuah sofa yang berada tak jauh dari ranjang tempat Mayang terbaring. Tubuhnya yang tinggi dan tegap akhirnya tumbang juga setelah beberapa hari menunggu Mayang. Ternyata Radhif terlelap cukup lama kurang lebih sekitar dua jam, hingga dirinya terbangun saat ponsel dalam saku celananya bergetar.


Sambil mengusap matanya dan bangkit dari posisi tidur, Radhif merogoh saku celananya kemudian mengambil benda pipih yang ada dalam saku celananya tersebut.


Nampak di ponselnya seseorang tengah menghubunginya. Alangkah terkejutnya Radhif ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Sebuah nama yang membuatnya tersadar seketika dari rasa lelah dan kantuk yang menderanya.


'Assalamualaikum, Ma!' ucap Radhif memberi salam kepada mamanya yang kini terhubung melalui ponsel yang sedang digenggamnya.


'wa'alaikumsalam,' ucap sang mama di seberang sana.


'Bagaimana keadaan Mayang? Apa janin dalam kandungannya baik-baik saja?' tanya wanita paruh baya di seberang sana.


'Mayang kehilangan bayinya, Ma!' seru Radhif dengan suara lirih mencoba mengecilkan suaranya agar tidak terdengar oleh Mayang.


'Tapi dari mana Mama tahu kalo Mayang sedang berada di rumah sakit? Bukankah Radhif belum mengabarkan hal ini kepada Mama dan Papa di Solo?' tanya Radhif diliputi perasaan heran.


'Mama tahu dari teman Mama, Dhif. Teman mama itu yang dulunya mau mama jodohkan anak gadisnya denganmu. Sepertinya dia sekarang sudah berdinas di sebuah rumah sakit. Dia seorang dokter kandungan, Dhif. Mama lupa namanya,' ucap sang mama dari seberang sana.


'Jangan bahas yang gak jelas, Ma. Radhif lagi gak pengen memikirkan hal-hal lain selain Mayang. Syukur alhamdulillah kalo Mama dan Papa sudah tahu. Tapi tolong rahasiakan hal ini dari keluarga Mayang. Biarkan nanti Radhif yang akan menyampaikan langsung kepada Gilang,' ucap Radhif pada sang mama.


'Yaudah, baik-baik kamu di sana ya, besok Mama dan Papa akan pulang dengan penerbangan siang menuju Surabaya. Setelah itu baru kami akan menyusulmu ke Malang,' ucap sang mama.


'Baik, Ma. Salam buat Papa. Hati-hati ya, Ma. Jaga kesehatan Mama dan Papa,' balas Radhif.


Setelah mengucapkan salam, Radhif kemudian menyudahi perbincangannya dengan sang mama. Sekarang yang terlintas dalam fikirannya hanya Mayang. Akan tetapi, ucapan mamanya tadi terlintas lagi dalam benaknya, siapa teman yang dimaksud oleh mamanya? Dan siapa anak gadis teman mamanya yang dikatakan akan di jodohkan dengannya? Apa benar semua itu? Tapi mengapa baru sekarang dirinya tahu? Apa selama ini mamanya menyimpam sebuah rahasia yang tak pernah Radhif tahu.


"Ah, sudahlah. Satu wanita saja belum bisa aku taklukan mana mungkin memikirkan wanita yang lain. Bagaimana pun aku telah menikah, seharusnya aku fokus untuk mempertahankan pernikahanku dengan Mayang," ucapnya setengah berbisik. Kedua tangannya menggosok kepalanya. Seakan banyak beban fikiran hingga membuat kepalanya benar-benar pening.


Di pojok kamar itu ternyata Mayang telah sadar sejam yang lalu. Rasa sakit yang teramat sangat ditahan olehnya. Dia tak ingin mengganggu tidur Radhif. Mayang tahu bahwa Radhif pasti sangat kelelahan karena menjaga dirinya.


Hatinya teriris mendengar semua percakapan Radhif tadi. Secara tak sengaja Mayang kini tahu bahwa dirinya tak lagi sedang mengandung. Kejadian hari itu telah menyebabkan dirinya pendarahan dan tentunya kehilangan janin yang tengah dikandungnya. Rasa sakit di tubuhnya tak sesakit jiwa dan hatinya saat ini. Bila saja dirinya bisa bangkit dari tempat tidur itu, ingin rasanya dirinya pergi meninggalkan Radhif. Pergi jauh meninggalkan semua luka dan kenangan pahit yang selama ini menghantuinya.

__ADS_1


'Kak Radhit, maafkan aku karena tak bisa menjaga buah cinta kita. Seharusnya aku menjaganya dengan baik. Kini aku harus kehilangan dirimu dan keempat calon anak kita, Kak. Maafkan aku,' jerit batin Mayang menahan sesak yang tak tertahankan.


'Ya, Allah, kenapa tidak kau ambil juga diriku? Mengapa hanya keempat janinku? Seharusnya aku juga pergi agar bisa bersama mereka yang aku cintai. Mengapa hanya aku yang tersisa di dunia ini. Hanya kepedihan yang tersisa tanpa ada yang bisa aku pertahankan dari kenangan dan juga rasa cintaku yang mendalam untuk Kak Radhit,' tangis pilu Mayang dalam hati ketika mengetahui kenyataan pahit yang harus di terimanya kini.


Kehilangan Radhit kala itu sempat mengguncang jiwa dan batinnya dan kini dirinya harus menerima kenyataan yang sama dengan kehilangan keempat calon bayinya secara mendadak. Hancur sudah hati dan jiwanya. Kepingan kenangan yang tersisa kini lebur bagaikan debu yang beterbangan ditiup angin. Tak meninggalkan jejak sama sekali.


Saat itu Mayang ingin menangis sejadi-jadinya. Perasaan terluka yang begitu dalam tak lagi bisa dibendungnya. Akan tetapi semua itu ditahannya. Dia tak ingin Radhif terbebani dengan keadaan yang kini dirasakannya.


'Kemana aku harus bersandar? Ya, Allah apa aku harus terpuruk lebih dalam lagi dalam kubangan kesedihan? Apa secercah kebahagiaan tak lagi bisa aku lihat dalam hidupku? Dan sanggupkah aku menapakkan kakiku dalam liku hidup ini? Tak ada alasan bagiku untuk tetap hidup di dunia ini jika hanya kesedihan yang selalu aku rasakan,' gumam Mayang yang terbelenggu dalam luka lama yang kini menderanya kembali.


"Tok...tok...tok...!!!" suara pintu kamar berbunyi. Terdengar suara ketokan nyarin dari luar pintu tersebut.


Radhif yang sedari tadi termenung kemudiam bergegas bangkit dari sofa dan berjalan ke arah pintu.


Tak berselang lama ketika Radhif membuka pintu kamar, nampak di depan pintu seorang perawat muncul. Perawat cantik yang 'name tag-nya' bertuliskan nama Kiki.


"Selamat pagi, Pak. Dokter ingin memeriksa kondisi pasien. Apa istri Anda sudah siuman?" tanya sang perawat kepada Radhif.


Mendengar ucapan perawar tersebut, Radhif kemudian memalingkan badannya dan menatap ke arah ranjang tempat Mayang terbaring. Dan berbalik lagi ke arah perawat tadi sambil berkata, "Sepertinya belum, Sus,' ucap Radhif.


"Baiklah, Pak. Saya akan sampaikan kepada dokter. Sebentar lagi Dokter Bima akan kesini untuk memeriksa langsung keadaan pasien," jelas sang perawat bernama Kiki tersebut kepada Radhif.


"Baik, Suster," balas Radhif singkat.


Radhif kini berada tepat di samping ranjang tempat Mayang terbaring. Jemarinya menyentuh lembut jari jemari Mayang. Membelai ujung kepala Mayang dan mengecupnya. Terlihat Mayang masih memejamkan matanya. Sedikit terperanjat ketika netra hitam miliknya menelisik sudut mata Mayang yang nampak basah. Terlihat aliran bening yang telah menganak sungai di sudut mata wanita yang masih berstatus istrinya itu.


"Mayang!!!" panggilnya.


"Apa kau sudah sadar, Dek?" ucapnya lagi. Namun, tak ada reaksi dari wanita yang di panggilnya itu.


Radhif mendekatkan wajahnya ke arah wajah Mayang, dirinya ingin memastikan jika Mayang telah sadar atau masih berada dalam pengaruh obat bius pasca operasi. Akan tetapi, keinginan itu diurungkannya ketika suara deheman seseorang terdengar dari depan pintu.


"Eheem! Permisi, Pak Radhif. Saya ingin memeriksa kondisi pasien. Maaf apabila saya mengganggu," ucap Dokter Bima.


"Tidak, Dok. Silahkan masuk," balas Radhif mempersilahkan.


"Apa istri Anda sudah siuman?" tanya Dokter Bima kepada Radhif.


"Belum, Dok," balas Radhif singkat.


'Baiklah, coba saya periksa. Seharusnya pengaruh bius sudah hilang sejak sejam lalu," ucap sang dokter. Ucapan dokter tadi membuat Radhif membelalakan matanya. Sesaat dirinya mematung. Apakah Mayang memang benar telah siuman. Apa dia menangis karena mendengar pembicaraanku dengan mamaku tadi?' batin Radhif menerka-nerka.


Mayang POV

__ADS_1


Dalam kepura-puraanya kala memejamkan mata, Mayang mendengar suara dokter yang memeriksanya. Suara itu sepertinya tidak asing di gendang telinganya. Suara merdu yang selama bertahun-tahun ini tak pernah di dengarnya lagi, bahkan dirinya tak yakin bisa mendengarnya kembali. Namun, dirinya tak berani membuka matanya, meski dalam hatinya begitu ingin menatap wajah sang pemilik suara tersebut.


Tangan dokter muda itu memeriksa tubuh Mayang menggunakan stetoskop. Menggunakan sebuah alat berbentuk bolpoint menyenter bola mata Mayang. Kemudian dirinya menuliskan hasil analisanya pada sebuah kertas yang sempat di pegang oleh perawat yang berada di sampingnya.


Saya akan memberikan resep untuk istri Anda, bisa Anda tebus di bagian apotek. Suster akan memberikannya selang waktu 9 jam untuk malam ini dan esok hari. Semua ini bertujuan untuk mengurangi rasa sakit pada luka secar yang ada pada perut pasien," jelas Dokter Bima lagi.


"Baik, Dok. Terima kasih," balas Radhif.


Dokter Bima kemudian memberi isyarat kepada perawat untuk mengikutinya keluar dari ruangan tersebut.


"Permisi, Pak Radhif. Jika ada keluhan silahkan Anda menghubungi saya. Karena malam ini saya stay di kantor saya," ucap Dokter Bima lagi. Kemudian berlalu meninggalkan Radhif dan Mayang yang masih menutup rapat-rapat dirinya serta kedua kelopak matanya. Seakan tak ingin lagi membukanya.


Namun, baru beberapa langkah sebelum benar-benar keluar dari kamar tersebut. Radhif memanggil sang dokter.


"Dokter, Bima!" panggilnya.


"Iya, ada apa, Pak Radhif?" tanya sang dokter memalingkan tubuhnya ke arah Radhif.


Radhif kemudian berjalan ke arah Dokter Bima dan berkata, "Apa benar istri saya sudah siuman, Dok? Atau masih dalam pengaruh obat bius pasca operasi?" tanya Radhif lagi.


"Sudah siuman, Pak Radhif. Jika istri Anda minta minum, Anda bisa memberikannya sedikit. Untuk sementara istri Anda belum bisa makan. Anda bisa menunggu hingga dua jam lagi baru bole memakan makanan untuk memulihkan tenaganya. Tapi saya anjurkan makan yang halus saja dlu hingga tiga hari kedepan," ucap Dokter Bima menjelaskan.


"Baik, Dok. Terima kasih," balas Radhif sembari tersenyum ramah.


"Sama-sama, Pak Radhif," ucap sang dokter sambil menepuk pundak Radhif dan segera berlalu.


'Ternyata Mayang sudah siuman. Tapi mengapa dirinya tidak bereaksi saat aku memanggilnya tadi?' gumamnya dalam hati. Ada perasaan aneh dalam benak Radhif. Entah mengapa dirinya mulai bisa merasakan sikap Mayang yang sepertinya kini telah berubah.


...-------Bersambung--------...


*Bagaimana kisah cinta Mayang selanjutnya?


*Ingatkah Mayang pada Dokter Bima?


*Apa sikap Mayang akan terus berubah seiring berjalannya waktu?


*Apa pernikahan Radhif dan Mayang akan tetap terjalin setelah Mayang kehilangan bayi dalam kandungannya?


Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" Part 94 Terima Kasih 🙏😊😍


...💞💞💞💞💞💞💞...


Terima kasih sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.

__ADS_1


Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.


__ADS_2