TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# PART 35


__ADS_3

๐Ÿ€ Rumah Sakit M, Malang๐Ÿ€


Seharian ini Kak Gilang tdk bisa menemaniku begitu juga dengan ketiga sahabatku.


Hanya Kak Radhif yang selalu setiap menemaniku.


Sampai-sampai dia pun harus mandi, sholat dan makan diruangan ini.


Sempat beberapa kali aku melihatnya menatapku, tatapan mata itu sama seperti tatapan mata Kak Radhit.


Tatapan mata yang membuatku tenggelam dalam lautan cintanya.


Aku takut jikalau perhatian yang berlebihan dari Kak Radhif membuatku melupakan Kak Radhit, dan tumbuh benih-benih cinta yang tak seharusnya.


Dalam benakku sempat terlintas yang besar 'Mengapa Dia harus melakukan pengorbanan yang sedemikian besar seperti sekarang ini?


Bukankah Kak Radhif memiliki kehidupan lain yang harus dijalankannya?


Apakah semua ini dilakukannya semata-mata hanya sebagai bentuk rasa tanggung jawabnya karena aku mengandung anak dari mendiang adiknya dan juga aku adalah adik dari sahabatnya Gilang?'


Tersadar aku dari lamunanku ketika suara lembut Kak Radhit memanggil namaku, "May...!"


Aku hanya menolehkan wajahku dan tanpa menatapnya.


Kali ini aku tak berani menatap kedua matanya.


Aku takut isi hatiku akan terbaca olehnya.


Jangan sampai sosok dan rupanya yang mirip dengan Kak Radhit membuatku terbawa perasaan.


Akan semakin sakit bila benih cinta yang tak seharusnya tumbuh dan bersemi.


Aku tak ingin membebani Kak Radhif dengan tanggung jawab yang besar.


Biarkanlah aku berjuang sendiri merawat dan membesarkan anak ini, buah cintaku dengan mendiang adiknya.


"Bangunlah Mayang! Minumlah obat ini agar dirimu lekas pulih," ucapnya padaku.


Aku hanya mengangguk pelan dan mencoba bangun dari tempat tidurku.


Sia-sia saja usahaku, karena kondisiku yang masih lemah dan lemas


tak kuat rasanya aku bangun.


Melihat hal tersebut dengan sigap Kak Radhif bangkit untuk membantuku.


Ada rasa sungkan dan canggung ketika tangannya terulur mencoba menyentuhku.


Sebelumnya saat mendaki Kak Radhif memang pernah membantuku saat aku hampir pingsan.


Tapi kali ini situasinya sangat berbeda, karena hanya kami berdua dalam ruangan VVIP di Rumah Sakit ini, sedangkan saat mendaki ada banyak orang yang bersama kami disana.


Kak Radhif mengulurkan tangannya, tapi aku menolak bantuannya, dan masih saja berusaha bangkit tempat tidur besi itu.


Kak Radhit dan Kak Radhif adalah kembar identik mereka memiliki makanan kesukaan dan hoby yang sama.


Namun parfum dan aroma tubuhnya sangat berbeda.


Kak Radhif yang merupakan seorang anggota TNI memiliki aroma seorang pria yang benar-benar 'gentlemen/macho', sangat berbeda dengan Kak Radhit yang lebih 'maskulin' yg menyukai wangi kasturi.


"Jangan coba bangun sendiri bila tak mampu!" ucapnya setengah berteriak.


"Biarkan aku membantumu," tambahnya lagi.


"Aku bisa sendiri Kak," bantahku.


Dengan sikap dingin Kak Radhif menatapku dan kemudian duduk kembali di sebuah kursi yang tak jauh dari tempat tidurku sambil berkata, "Baiklah aku tak akan memaksamu, sepertinya dirimu sudah bisa mengurus diri sendiri."

__ADS_1


"Harusnya tadi aku pulang saja kerumah, sepertinya tak ada gunanya aku berada disini," protesnya lagi sembari berdiri melangkah menuju pintu.


Aku pun terus berusaha bangkit dengan bertumpu pada pinggiran tempat tidurku.


Menarik kuat tubuhku agar dapat bangun, meskipun kepala ini masih terasa berat dan pusing.


Tanganku hampir meraih gelas dan obat yg sudah di sediakan perawat.


"Uhuk...uhuk...!" sesaat aku terbatuk.


'Pandanganku tiba-tiba terasa gelap, kenapa masih saja seperti ini?' gumamku dalam hati.


Sepertinya Kak Radhif tak melanjutkan langkahnya menuju pintu, tapi berbalik dan menatapku dari sana.


"Sudah kubilang kau tidak bisa melakukannya sendiri," ujar Kak Radhif sambil berjalan kembali ke arahku.


Dengan cekatan Dia memberiku obat dan air minum.


Membaringkan aku kembali dan membenahi selimutku.


"Jangan coba-coba bersikap sok kuat didepanku," ucapnya sesaat setelah membantuku.


"Ingat May, aku bukanlah Radhit mendiang adikku, aku adalah Radhif. Aku tak suka jika perkataanku di bantah oleh orang yang sudah aku bantu dengan ikhlas," protesnya lagi.


Perkataan Kak Radhif kali ini membuat hatiku meradang, tapi aku lega bahwa sikapnya padaku benar-benar ikhlas dan tulus karena Kak Radhit dan juga aku adalah adik dari sahabatnya Gilang.


Bukan karena ada perasaan atau simpati karena ada rasa cinta kepadaku.


Perasaan itu tak seharusnya ada diantara kami.


Aku juga tak mau memberinya beban atas perbuatanku dan Kak Radhit, yang menikah sirih tanpa sepengetahuan keluarga.


Semua ini harus aku tanggung sendiri.


Meskipun kelak anakku tak ada sosok ayah saat lahir.


Itu merupakan resiko besar yang harus aku tanggung tanpa melibatkan siapapun dan memanfaatkan siapapun.


๐Ÿ€Batalion X, Malang ๐Ÿ€


(Dalam ruangan kompi terjadi percakapan antara Danki Heru dan danru muda yang bermana Setyo Dwi


"Serda Setyo!" panggil Danki Heru pada seorang bintara yang sedang duduk di sebuah ruangan staf.


"Siap danki," jawab sang danru.


"Bisakah kau mengantarkan berkas yang berisikan surat cuti ini kepada abang letengku yang sedang berada di sebuah rumah sakit di Malang Kota?" tanya Danki Heru lagi.


"Siap danki akan saya laksanakan," ujar sang danru dengan mantap.


"Semoga kau tidak tersesat danru," tambah sang danki sambil tersenyum.


"Siap Danki Heru saya tidak akan tersesat sebab saudara sepupu saya bekerja disana sebagai dokter umum," ucap Setyo percaya diri.


"Yasudah segeralah berangkat. Yang aku takutkan kau tak kembali karena tidak menemukan jalan pulang," ledek sang danton lagi.


"Siap laksanakan. Paling telat satu jam Danki," balas Setyo sambil tertawa.


" Ya...ya..ya. Aku yakin kau pasti akan tersesat karena terbius oleh suntikan cinta para perawat disana," gurau sang danton lagi.


Sambil memberi hormat sang Danru muda itu berkata, "Ijin Dan, saya berangkat."


"Baiklah, hati-hati dijalan. Sampaikan salamku pada abang letengku, insya'allah saat senggang aku akan kesana menjenguk adik dari abangku Gilang yang sedang sakit akibat mendaki di Gunung Semeru," tuturnya.


"Siap Danki," balas Setyo sembari berlalu mengambil helem dan juga kunci motor miliknya.


Saat berjalan menuju tempat parkiran, dalam benak Setyo terlintas wajah Mayang.

__ADS_1


Ketika mendengar kalimat Danki Heru tadi tentang Gunung Semeru, membuatnya kembali pada bayangan masa lalunya.


Masih membekas dihatinya, bahwa gadis pujaannya lebih memilih sang ketua HIMAPALA yang bernama Radhit ketimbang bersamanya.


Rasa sakit itu yang membuatnya memilih berhenti dari kuliah dan mendaftarkan diri sebagai calon bintara.


Beruntung dirinya dapat loloa hingga akhir dan menempuh pendidikan, hingga akhirnya dirinya terdampar di kota Malang .


Menjadi danru di salah satu batalion di kota Malang ini.


Dengan sigap Setyo menstater motor Vixion merah miliknya, memacunya menuju rumah sakit yang menjadi tujuannya.


Mengantarkan berkas yang di perintahkan atasannya tadi.


Sejak awal masuk kompi Setyo memang lebih dekat dengan Danki Heru, karena sama-sama masih bujangan mereka berdua tidak berbeda jauh umur dan cara berfikirnya.


Itu yang membuat Setyo merasa sudah seperti saudara sendiri.


Hal tersebut juga dirasakan oleh Danki Heru, Dia sudah menganggap Setyo sebagai adiknya.


Setelah setengah jam perjalanan sampailah Setyo didepan rumah sakit yang dituju.


Dia memacu motornya menuju arah parkiran rumah sakit dan memarki motornya ditempat yang aman.


Sejenak Setyo teringat akan Rian, saudaranya yang bekerja sebagai dokter umum di rumah sakit ini.


Setyo merogoh saku celana PDL ( pakaian dinas lapangan) miliknya, mengambil ponsel dan mengirim pesan pada saudaranya tersebut.


Isi pesannnya menyampaikan bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit tempat Rian bekerja.


Pucuk dicinta ulam pun tiba sang dokter mengirim balasan.


Mengatakan bahwa dirinya sebentar lagi akan beristirahat dan bisa menemui Setyo untuk makan siang bersama.


Tentunya setelah Setyo melaksanakan perintah atasannya tersebut.


Dengan cekatan sang danru muda inipun melangkah memasuki ruang depan atau loby depan rumah sakit untuk menanyakan ruangan yang hendak ditujunya.


"Maaf ruang VVIP sebelah mana ya?" tanya Setyo pada perawat yang menjaga meja resepsionis.


"Mau mencari siapa Pak?" tanyanya.


Setyo bingung karena lupa menanyakan nama si pasien kepadan Danton Heru sebelum berangkat tadi, alhasil dia tak bisa menanyakan dimana ruangannya.


Beruntung tadi Setyo menanyakan ruang tempat abang leteng dari Danton Heru tersebut berada.


"Saya cuma tau ruangannya, sepertinya di ruang VVIP no 5 kamar Mawar," ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Owh, baik Pak. Mau saya antrkan atau bisa kesana sendiri?" tanya sang perawat yang papan namanya tertulis nama Nia.


"Saya bisa sendiri Sus," ucap Setyo sedikit grogi melihat perawat cantik dihadapannya.


"Oke Pak. Silahkan lewat lorong kiri di sebelah ruangan ini, kemudian belok sebelah kanan. Ruangannya ada disana," tutur sang perawat kepada Setyo.


"Baik Sus, trimakasih atas bantuannya," tambahnya lagi seraya berjalan menuju arah yang disampaikan perawat tadi.


Tak berselang lama Setyo sudah berada dikamar VVIP yang ditujunya.


Dengan perlahan Dia mengetuk pintu kamar tersebut.


\*\*\*\*\*\*\*


*Apakah Setyo tahu siapa sebenarnya yang berada dikamar tersebut?


*Apakah Setyo dan Mayang dipertemukan disaat seperti ini?


Nantikan kisah selanjutnya hanya di "Takdir Cinta Mayang" part 36, terimakasih ๐Ÿ™๐Ÿค—

__ADS_1




__ADS_2