
***13.30 Wib Lapangan Basket....****
Gemuruh yang berkecambuk dalam hatiku, ternyata dirasakan oleh Setyo.
Sambil berlari kecil Setyo menarik tangan Mayang dan mengajaknya menuju tengah lapangan basket.
Sesekali Mayang melepaskan pandangan ke arah basecamp itu.
Menerka-nerka apakah Radhit berada disana.
Sembari mengikuti langkah kaki Setyo yang semakin cepat berjalan menuju lapangan basket.
Tiba ditengah lapangan, Setyo mengambil bola basket dari pelukan Mayang, mendribelnya dan memainkan bola tersebut dengan lincah.
Layaknya Michel Jordan.
Pasti pecinta basket tak asing lagi dengan nama itu. Dia adalah Sang legendaris dari team Chicago Bulls, pemain bakset yang hebat tak tertandingi. Apalagi tembakan triple pointnya.
Tanpa aku sadari, Setyo melemparkan bola ke arahku, memberiku aba-aba untuk melemparkan bola tersebut ke arah Ring basket.
Kali ini ini aku mencoba melupakan semua kegelisahan dan kegundahan hatiku.
Fokus untuk bermain basket, melupakan kejadian pagi tadi, menghempaskannya dengan melakukan hal yang aku suka.
Aku pecinta olahraga basket, walaupun bukan pemain handal.
Bola berada padaku, aku menatapnya sembari mendriblenya, menantulkannya dengan penuh tenaga, melepaskan semua kegundahan yang ada.
Agar hati ini menjadi lega dan damai, walaupun hanya sesaat.
Karena aku tak tahu apa yg akan terjadi bila aku bertemu dengan kak Radhit.
Masih belum terbayangkan olehku.
Sambil terus memantul-mantulkan bola ke lantai lapangan aku mencoba memasukan bola ke ring basket.
Dengan usaha yang keras aku berhasil mengalahkan Setyo, point pertama untukku.
Pertarungan sengit antara aku dan Setyo, keringat bercucuran membasahi bajuku, begitu pula dengan Setyo.
3-2 point terakhir.
Aku tertinggal 1 point.
Dengan cepat aku meraih bola basket dari tangan Setyo, berlari dan memantulkannya ke lantai lapangan.
Tepat di posisi 3 point,"Sssshhhhuuuuttt...brrrruukkkk....!"
Lemparanku melesat dengan kencang dan tepat sasaran.
Triple point untukku.
Dan kemenangan berpihak kepadaku. Entah itu benar-benar keberuntungaku, ataukah Setyo yang berusaha menyenangkan hatiku dengan bermain seadanya.
Tapi jujur hatiku bahagia, sesaat semua beban fikiranku lepas, terhempas dengan bermain basket bersama Setyo.
Namun, semua itu benar-benar hanya sesaat aku rasakan kenyamanan bersama Setyo.
Seketika hilang, saat seseorang bertepuk tangan dari bibir lapangan, tepat di belakangku tak jauh dari sana berdiri kak Radhit, berdiri sembari bertepuk tangannya, nampak di wajahnya terpancar senyuman manis, senyuman khas milik Radhit Putra Pratama sang Hantu Rimba, namun tatapan matanya sangat tajam bagaikan elang ingin memburu mangsanya, tatapan itu tak bisa menyembunyikan isi hatinya.
Aku tahu dalam lubuk hatinya kak Radhit tak suka Setyo berada di sana bersamaku.
Menghabiskan waktu bermain basket bersama.
__ADS_1
******
Setyo memungut bola basket yang berada tepat di belakangnya, sambil berjalan menuju ring basket tempat kami menaruh tas kami.
Mengambil tasku dan kembali berjalan ke arahku.
"Masih mau disini?" tanya Setyo kepadaku dengan nada sinis dan datar sembari memberikan tas ranselku.
"Kalo kamu masih mau disini, biar aku yang pergi. Sampai jumpa dikelas besok." ucapnya sambil berlalu.
Sejenak aku diam terpaku, tak tahu harus bagaimana.
Sambil berlari kecil aku mencoba mengejar Setyo yang semakin cepat berjalan meninggalkanku.
"Yo...jangan pergi!"
"Tungguin aku Setyo...., kalo gak aku lempar kamu pake botol minumku!" ancamku, namun tak di perdulikannya.
Ancamanku tak menghentikan langkahnya, bahkan memalingkan wajahnyapun tidak.
"Setyo....!" panggilku, namun suara ini serasa tertahan, tak bisa keluar.
Keringat dingin mengucur membasahi bajuku yang sedari tadi belumlah kering karena keringat setelah bermain basket.
Langkahku terhenti ketika kak Radhit berusaha menahanku dengan menghalangi jalanku.
Ku lirik ke arah Setyo, dia telah pergi jauh, sosoknya telah hilang di antara rimbunnya pepohonan di sekitar perempatan jalan arah menuju lapangan tadi.
Kini hanya aku dan kak Radhit.
"Ada yang harus aku sampaikan!" ucapnya sambil mencoba meraih tanganku.
Namun dengan sigap aku menepisnya dan memutar arah untuk menjauh darinya.
Takku pedulikan panggilannya, aku terus melangkah, berjalan secepat mungkin, berharap Setyo masih menungguku di balik pepohonan diperempatan jalan menuju kampus utama.
"Aku hanya ingin menjelaskan sesuatu, semua ini salah faham May, aku mau kamu menjadi pacarku," terdengar teriakan kak Radhit membuatku berhenti sesaat karena terkejut, aku tak menyangka dia akan berkata seperti itu.
"Harusnya kamu tau kalo aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Nabila. Kamu tau Nabila yang mengejarku, aku hanya menganggapnya sebagai sahabat. Tempatku curhat dan berbagi cerita, tidak lebih." masih dengan setengah berteriak kak Radhit meluapkan isi hatinya.
Kakiku lemas tak bisa melangkah, ragu apa yang harus aku lakukan.
Haruskah aku mengejar Setyo, ataukah berbalik kepada kak Radhit yang menunggu jawaban kepastian akan hubungan ini.
Diam tak bergerak, sekujur tubuhku gemetar, sesaat aku hilang arah, tak bisa menguasai fikiran dan tubuhku.
"Kalau kau benar-benar menerimaku, aku tunggu kau di basecamp ini besok siang, kemarilah sebagai peserta HIMALAPA. Aku akan mengajakmu melihat kemegahan juga pesona alam ciptaan Tuhan dan melihat indahnya dunia di atas awan." ucap kak Radhit, kali ini suaranya lirih, tak seperti tadi. Seakan pasrah dengan keadaan ini, dimana kami berdua berada dalam sebuah dilema.
Diriku masih tak bergeming, berat rasanya kakiku melangkah, aku terdiam dan terpaku menatap ke depan, mencari celah agar aku dapat menghindar dari keadaan ini, keadaan dimana aku seolah hilang, seolah tubuh ini pergi meninggalkan raganya.
Mulutku tak dapat berkata. Diam seribu bahasa.
Hanya terdengar degub jantungku yang berdetak tak berirama.
Aku berusaha menguasai diriku, berjalan melangkah meninggalkan kak Radhit yang masih trus menatapku.
"Ku langkahkan kakiku semakin cepat, semakin cepat..."
Tak terasa aku berlari meninggalkan tempat itu, tanpa berpaling dan berkata sepatah katapun.
Berlari meninggalkannya dengan sejuta pertanyaan.
Pertanyaan yang akupun tak tau apa jawabannya.
__ADS_1
****17.30 Wib, kost...****
Tanpa henti aku berlari menyusuri sepanjang jalan menuju kost.
Namun aku terhenti ketika aku melihat sosok Setyo yang berada di parkiran,tanpa mempedulikanku dia berlalu dengan motor Megapro modif kepunyaanya.
Sakit rasanya kehilangan seorang teman yang baru aku kenal.
Rasa sakit itu terjdi lagi, setelah sakit hati ini karena kejadian pagi tadi.
Duh...gusti, rasanya bak makan buah simalakama, maju kena mundurpun kena.
Kendatipun aku berusaha mencoba memposisikan diriku pada batasan-batasan cinta.
Akhirnya batasan itu terlewatkan olehku.
Sekarang aku berada dalam zona itu, zona yang membuat hari-hariku kacau, tak seperti biasanya.
"Brrrruuuukkkk.....!" aku jatuhkan badanku di atas kasur sambil melemparkan ras ranselku di pojokan tempat tidurku.
"Ika...," teriakku memanggilnya dari dalam kamarku.
"Ika belum pulang mbak," jawab Dian dan Niar yang berada di ruang tv.
Sudah jam segini kok belum pulang, kemana aja dia dan Restu, batinku sesaat.
"Keman kok belum pulang Dhe?"tanyaku pada salah satu teman sekamar Ika.
"Katanya sich nonton bareng temannya, mungkin aja double date mbak May," jawab Dian padaku.
"Hhhmmmmm...awas kamu Ika, trnyata kalian berdua sengaja ya meninggalkanku," batinku.
Dengan langkah gontai aku menuju kamar mandi, membersihkan diri dan mengganti pakaianku.
Kemudian aku kembali ke kamar dan membenamkan diriku dalam peraduan, berharap dapat terlelap dan melupakan semua kekacauan ini.
Berharap dilema ini segera berakhir, yang mungkin hanya mimpi buruk buatku.
Masih terngiang kata-kata kak Radhit tadi.
Ingin rasanya aku menceritakannya kepada Ika dan Restu.
Apa yang harus aku lakukan, jawaban apa yang harus aku berikan.
Apakah besok aku terima syaratnya atau tantangannya untuk bergabung menjadi anggota HIMAPALA?
Ataukah aku tetap kukuh dengan tidak meresponnya dan menjalankan aktivitasku seperti biasanya, demi Setyo kawan baruku?
Ya Allah berikanlah aku secercah cahaya, agar aku dapat memantapkan hatiku untuk seseorang yang pantas mengisi relung hatiku.
Jika dia jodohku dekatkanlah,
jika dia bukan jodohku jauhkanlah.
*****
*Akankah Mayang bergabung dan menjadi anggota HIMAPALA?
*Apakah Setyo masih mencoba mendekati Mayang setelah kejadian di lapangan basket sore itu?
*Dan apa yang terjadi sebenarnya hingga Restu dab Ika pergi tanpa berpamitan pada Mayang?
Nantikan jawabannya di part selanjutnya 🙏😊
__ADS_1
Trimakasih 😍😘