
...Munculnya jurang pemisah cinta Mayang dan Radhif (Bagian ketiga)...
...----Rumah sakit M, pusat kota Malang---...
Sepenggal part sebelumnya,
Bu Dian yang sedari tadi mencari kesempatan untuk berbicara kepada Radhif pun tak melepas kesempatan tersebut.
"Dhif. Mami ingin mengatakan sesuatu. Mami hanya ingin tahu apa kau dan Mayang akan meneruskan pernikahan ini?" seru Bu Dian kepada Radhif.
Ucapan Bu Dian tadi sontak membuat seisi ruang inap tersebut terkejut. Terutama Radhif. Dia tak menyangka maminya bisa berkata seperti itu. Mengingat kondisi Mayang yang baru saja kehilangan janin yang sedang dikandungnya. Belum juga pulih operasinya.
"Mami keterlaluan. Bisa-bisanya Mami berkata seperti itu," ucap Radhif menahan emosi. Dia memang kecewa atas sikap maminya. Tapi bagaimana pun Bu Dian adalah ibunya. Wanita yang melahirkannya. Dia tetap harus menjaga sikapnya, meskipun dalam keadaan marah.
"Mami hanya bertanya, Dhif. Karena sejak awal pernikahan kalian karena Mayang yang tengah mengandung bayi dari mendiang adikmu, Radhit. Kini bayinya telah tiada, apakah kalian akan mempertahankan pernikahan ini atau tidak?" ujar Bu Dian lagi.
"Saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal seperti ini, Mam. Sungguh keji dan tak berperasaan bila harus membahasnya sekarang," tambah Radhif lagi.
Mayang yang sejak tadi belum tertidur, dengan jelas mendengar percakapan kedua orang tersebut. Dirinya hanya bisa menahan sakit dan kepedihan. Kali ini sakit bekas secar yang dirasakannya tidak seberapa bila dibandingkan dengan rasa sakit dihatinya. Air mata membanjiri kedua matanya. Lidahnya kelu.
----------------\*\*\*\*\*----------------
"Dif...!" panggil sang mami.
"Iya, Mam," balas Radhif singkat.
"Mami dan papi ke tempat peristirahatan dulu ya. Sepertinya papimu sudah lelah," ujar Bu Dian.
Sejak tadi pak Pratama memang hanya diam. Dirinya sibuk dengan labtop dan juga berkas-berkas yang di bawanya. Sehingga lebih memilih untuk bungkam.
Hanya saja dirinya sempat memeriksa keadaan Mayang dan berbincang dengan mantunya tersebut. Meski sebentar saja, akan tetapi dirinya lega karena Mayang adalah gadis kuat yang mampu melewati segala sesuatu yang telah menimpanya. Meskipun pada akhirnya Mayang yang tomboi akan tersadar dengan rasa sakitnya dan rapuh juga.
"Yawudah, aku antarin mami dan papi sampai depan. Lagi pula tidak akan memakan waktu lama, cuma sebentar saja. Kebetulan Mayang juga sedang tidur," timpal Radhif pada sang mami.
"Anak mami memang paling baik dan tampan. Beruntung banget wanita yang memilikimu, Nak. Mami bangga padamu," ucap Bu Dian membelai punggung Radhif dan memeluknya.
Melihat pemandangan romantis antara anak dan mama, membuat pak Pratama berdehem. Sepertinya ada rasa kesal karena dirinya diabaikan.
"Ehem ... Ehem ...!" suara deheman dari pak Pratama, papinya Radhif.
"Udah, Mam. Itu anak bukan bocah lagi. Kayak anak SD aja di gituin," gerutu pak Pratama papinya Radhif.
"Papi, sirik aja deh. Bagi mami, Radhif tetap bayi mami yang lucu dan menggemaskan," ujar Bu Dian sambil memeluk Radhif.
Karena risih akhirnya suara protes dari Radhif terlontar. Radhif pun berkata, "Udah dong, Mam. Malu loh kalo ada yang liatin. Radhif kan udah nikah."
Suara penolakan Radhif tadi bukannya Bu Dian melepaskan pelukannya, akan tetapi semakin kuat memeluk. Bahkan kali ini sang mami mencubit dengan gemas lengan dan perut Radhif.
__ADS_1
"Gak ada yang lihat. Mayang udah tidur kok. Di sini cuma ada mami dan papi," kelakar Bu Dian lagi. Hal itu membuat Radhif buru-buru melangkah ke arah pintu.
Hal itu dilakikan Radhif, karena berusaha menghalau tindakan maminya yang membuat dirinya seolah-olah terlihat seperti anak mami atau karakter anak-anak yang manja kepada mamanya.
Tak berselanh lama ketiganya berjalan meninggalkan kamar inap di mana Mayang di rawat.
Bu Dian menutup secara perlahan pintu kamar tersebut, agar Mayang yang sedang tidur tidak terganggu dan terbangun.
Ketiganya pun berjalan ke arah depan menuju parkiran mobil. Karena mobil kedua orangtuannya berada di parkir depan yang berada di sampin loby utama atau samping pintu masuk ke ruang loby tempat pendaftaran.
Dan akhirnya ....
"Uuuppss ...!" suara Radhif keluar begitu saja dari mulutnya ketika menabrak sebuah pintu mobil yang tiba-tiba terbuka.
Radhif tak menyangka sang pemilik mobil akan membuak pintu, padahal ada orang yang berjalan di samping mobil tersebut. Mobil milik orangtuanya terparkir bersebelahan dengan mobil tersebut.
Muncul wanita cantik mengenakan rok bawah berwarna hitam dan kemeja putih di dalam jas itu, nampak kemeja polos berwarna pink.
"Loh, kamu lagi...!" ucap keduanya bersamaan.
"kamu yang tadi menendang kaleng ke arahku, kan?" tanya wanita itu tanpa meminta maaf kepada Radhif.
"Iya, itu saya. Apa kamu sengaja membalas saya?" ujar Radhif balik bertanya.
"Enggak, kok. Aku gak sengaja. Aku tadi habis mengambil sesuatu di dalam mobil ini. Dan baru aja aku mau kembali ke ruanganku. Hari ini aku dokter piket untuk ruang bersalin," jelasnya panjang lebar.
"Loh, Bukannya kamu Inggrit? Tadi siang kan kita ketemu di kantin rumah sakit," ucap Bu Dian terkejut. Akan tetapi dari suara maminya, Radhif tahu maminya sedang merasa girang atau bahagia.
"Mami...!"
Mami, kenal sama wanita ini?" bisik Radhif ketika melihat sang mami tersenyum akran dengan wanita di depannya. Biasanya sang mami sangat lama berteman bahkan akrab dengan siapapun, apalagi orang yang baru dikenalanya.
"Inggrit, sini kenalin, ini anak tante. Namanya Radhif Putra Pratama," ucap Bu Dian sembari memperkenalkan keduanya.
Belum sempat keduanya berkenalan lebih lanjut. Suara dering telepon seluler terdengar di saku baju milik Inggrit. Ternyata ada panggilan dari perawat, ada keadaan darurat yang harus ditanganinya.
Dokter Inggrit pun akhirnya berpamitan dan buru-buru meninggalkan Radhif beserta kedua orangtuanya.
Radhif hanya terdiam. Dalam benaknya dirinya masih belum bisa mencerna peristiwa yang baru saja terjadi diantara mereka.
"Kamu kenapa bengong? Terpesona, ya sama kecantikan wanita tadi?" ledek sang mama sambil memukul lengan Radhif dengan lembut.
"Gaklah, Mam. Radhif kan udah punya Mayang. Masa harus melirik wanita lain," bantah Radhif.
Radhif kemudian meletakan barang bawaannya tadi di dalam mobil dan memberikan kunci mobil tersebut kepada sang papi.
"Hati-hati di jalan ya, Mam, Pap. Telepon Radhif kalo udah sampe. Biar Radhif gak khawatir," ucapnya sebelum keduanya pergi.
__ADS_1
"Radhif, kalo ketemu lagi sama dokter Inggrit sampaikan salam mami ya. Bilang ke dia mami pengen ngobrol sama maminya Inggrit dan juga Inggrit.
"Gak mau, Mam. Radhif gak kenal kok. Lagian ngapaen juga Radhif sampaikan pesan mami yang gak jelas gitu. Malu-maluin tahu, Mam. Jangan bikin ulah lagi deh, Mam!" seru Radhif dengan tampang jutek.
"Yawudah, nanti mami telepon ke maminya Inggrit aja, minta ketemuan. Mami mau jodohin kamu sama si Inggrit itu. Kan bentar lagi pernikahan kamu sama Mayang berakhir sesuai perjanjian," balas Bu Dian sewot.
"Mami, udah deh. Gak usah bahas itu lagi. Kalo gak Radhif bakalan pergi dari rumah," hardik Radhif.
"Kesel deh, Mami. Kamu gak pernah dengar ucapan mami," keluh Bu Dian jengah.
"Udah, Pap, buruan cabut. Kalo gak bakalan ada adegan drakor di sini," ledek Radhif.
"Oke, Dhif. Papi dan mami pergi dulu, ya. Baik-baik kamu jagain istri kamu," balas pak Pratama.
"Iya, Pap. Hati-hati!" seru Radhif sambil menutup pintu mobil milik orangtuanya tersebut.
Mobil pun melesat pergi meninggalkan pelataran rumah sakit.
Radhif pun berbalik hendak kembali ke kamar di mana Mayang di raeat. Dirinya khawatir bila Mayang membutuhkan pertolongan, sedangkan dirinya masih berada di parkiran belum kembali. Dengan buru-buru, Radhif berjalan meninggalkan pelataran parkiran menuju kamar inap.
--------------------*****--------------------
Sepeninggal kedua orangtuanya, Radhif yang menemani Mayang seorang diri di ruangan kamar inap tersebut. Sudah dua jam lamanya Heru dan Dwi tidak kunjung menemuinya.
Radhif kemudian mengirim pesan singkat kepada Heru melalui ponsel miliknya.
('Assalamualaikum, Heru di mana posisi kalian saat ini? Lekaslah merapat ke kamar inap sekarang.')
Demikian bunyi isi pesan singkat yang di kirikan oleh Radhif kepada Heru, adik asuhnya tersebut.
Sebuah pesan pun masuk, di barengi dengan bunyi notifikasi dari ponsel milik Radhif.
('Walaikumsalam, Bang. Kami masih berada di luar. Ada keluarga Dwi yang tanpa sengaja terserempet motor di jalan raya. Kami sedang menjemputnya untuk di bawa ke klinik terdekat. Kejadiannya di daerah dekat villa milik saya, Bang. Mungkin satu jam lagi saya akan kembali ke tempat abang.')
Bunyi pesan balasan yang di kirimkan oleh Heru.
Selalu saja ada masalah saat keduanya akan menemaninya menjaga Mayang. Ini adalah ketiga kalinya kejadian terjadi bila mereka hendak menemani Radhif di rumah sakit.
'Sepertinya ketiban sial mulu mereka berdua,' gumam Radhif dalam hati. Sesekali terlihat senyum terukir di wajahnya mengingat semua kejadian tersebut.
...-----------Bersambung-------------...
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 102. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊
Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.
__ADS_1