
Rencana pernikahan Radhif dan Mayang
*Rumah sakit*
Hari sudah siang, Mayang masih tertidur pulas setelah meminum obat yang diberikan perawat.
Setelah kejadian tadi, akhirnya Radhif tidak pernah meninggalkan kamar, meskipun ketika Mayang tertidur seperti saat ini.
Radhif khawatir bila Mayang terbangun, dia akan mencari Radhif atau merasa ketakutan di tinggal sendiri dalam ruangan tersebut.
Dan karena perkataan Mayang tadi, akhrinya siang ini Radhif melaksanakan sholat di ruangan itu, padahal biasanya dia menunaikan sholat di musholah terdekat.
Tak berselang lama ponsel Radhif berdering, sebuah pesan masuk.
Ternyata pesan tersebut berasal dari Gilang.
Dia menyampaikan bahwa akan datang terlambat karena harus mengurus surat cuti yang kemarin sempat di antarkan oleh anggota Danton Heru.
Anggota Heru yang merupakan danru Muda bernama Setyo.
Karena Gilang telat datangnya, pastilah jus alpukat yang dipesan juga akan lama sampainya.
'Pastinya anak ini akan kelaparan menunggu jus alpukat yang dibawa Gilang' gumam Radhif dalam hati.
Tapi beruntung ternyata tadi Ibu Dian yang merupakan Ibunda Radhif membawakan bubur dan juga opor ayam untuk Mayang.
'Jika dia bangun, akan aku beri makan bubur dan opor ayam ini aja,' batinnya lagi.
Jam dinding menunjukkan pukul 15.00 Wib.
Mayang menggeliat dari tidurnya, sepertinya pengaruh obat penenang yang di berikan telah hilang.
Saat Mayang membalikkan wajahnya mencari Radhif, nampak olehnya sang danki cakep itu tertidur tepat di sampingnya.
Sebenarnya Mayang tidak ingin membangunkan Radhif.
Akan tetapi rasa lapar dirasakannya, hingga tubuhnya keringat dingin akibat perutnya kram.
Entah karena beberapa hari gak makan, atau karena bawaan bayi dalam kandungannya.
Mayang Masih bimbang tapi karena rasa itu, akhirnya Mayang membangunkan Kak Radhif.
Dengan ragu-ragu, Mayang menyentuh tangan Kak Radhif yang bersandar di pinggiran tempat tidurnya.
"Ka....kak Radhif!" panggil Mayang hati-hati.
Yang dipanggil tidak menjawab, bahkan tak bergeming meskipun di sentuh oleh Mayang.
"Kak Radhif, bangun Kak!" panggilnya disertai dengan menarik tanggan Kak Radhif lebih kuat.
Akhirnya yang dipanggil pun bangun, Radhif kaget dengan tingkah Mayang.
Tidak biasanya dia berani menyentuh Radhif.
Jika bukan Radhif yang sengaja menawarkan bantuan kepadanya.
__ADS_1
"Ke..kenapa Dek? Kok kamu sudah bangun?" tanya Radhif sambil mengusap kedua matanya.
Nampaknya Radhif sangat letih hingga tertidur pulas disamping Mayang.
"Aku lapar Kak. Kak Gilang kok belum datang?" tanyanya lagi.
"Kamu beneran lapar? Ini ada bubur dan juga opor ayam kampung buatan ibuku," balas Radhif sambil membukakan wadah makanan yg dibawakan tadi.
"Kamu mau?" tanyanya kembali.
"Iya aku mau Kak," jawab Mayang sambil memegangi perutnya yang kram tadi.
"Kamu mau disuapi atau makan sendiri?" tanya Radhif sambil tersenyum.
"Aku makan sendiri saja Kak," ucapnya lagi.
"Baiklah, akan aku ambilkan. Tapi sebelumnya aku akan membantumu bangun," tawar Radhif kepada Mayang.
Kemudian Mayang pun duduk dengan bersandar pada sebuah bantal yang didekatkan di tempat tidur.
Dengan cepat Mayang menghabiskan semangkok bubur.
Mayang hanya memakan bubur dan kuah ayamnya.
Dia menyisakan sepotong ayam yang masih utuh.
"Kok ayamnya gak dimakan?" tanya Radhif.
"Aku gak suka ayam kak," balas Mayang.
"Entahlah kak, apa yang aku suka sekarang aku gak suka dan apa yang aku benci malah aku suka," aku juga bingung jawab Mayang dengan wajah lesu.
'Ternyata Mayang tidak menyukai opor ayam kampung ini, sama seperti aku dan Radhit. Kami gak suka ayam kampung, karena bila tidak pandai memasak, dagingnya keras,' batin Radhif.
'Sepertinya janin dalam kandungan Mayang pun menolaknya, dia gak suka sama opor ayam kampung buatan Ibu. Padahal ini adalah makanan favorit Mayang,' sesaat Radhif kembali membatin.
Sesudah Mayang selesai menyantap bubur dan kuah opor.
Radhif kemudian memberinya sebuah pisang.
Mayang memakannya dan kemudian meminum segelas air dan vitamin.
Usai semua itu, Radhif membantu Mayang untuk kembali berbaring dan embenahi selimutnya.
"Malam ini Gilang dan aku akan menjagamu. Aku akan menyampaikan semuanya kepada Gilang," ujar Radhif.
Perkataan tadi sempat membuat Mayang tersentak.
"Tapi Kak, aku belum siap," protes Mayang.
" Sampai kapan kau menyembunyikan semua ini? Apa sampai kandunganmu terlihat oleh masyarakat luas?
Apa kau tidak malu di cap sebagai wanita yang tidak benar karena hamil tanpa suami dan tanpa ikatan pernikaha?" ujar Radhif ketus.
Sejenak Mayang memikirkan apa yang disampaikan Radhif.
__ADS_1
Semua itu ada benarnya.
Jika anak ini lahir dan tidak ada ayahnya, apa yang akan dikatakan orang tentangnya.
Dan sungguh malang nasib calon bayinya, jika dia tidak mempunyai figur seorang bapak.
Apalagi saat ini, jika nanti anaknya sudah dewasa dan bersekolah, pastilah dia akan di ejek oleh teman-temannya.
"Baiklah Kak, aku setuju. Asalkan saat aku melahirkan anak ini, aku akan kembali melanjutkan kuliahku," ujar Mayang mencoba meyakinkan dirinya bahwa keputusan yang diambilnya sudah tepat.
"Itu tergantung situasi dan kondisi nanti saat kau telah melahirkan," balas Radhif.
"Menikah dengan TNI itu sangatlah rumit May, tidak seperti membalikan telapak tangan," ucap Radhif.
Mayang terdiam, kemudian menjawab perkataan Radhif.
"Aku tahu Kak, papaku kan purnawirawan TNI AD,"ucap Mayang.
"Oiya ya...aku lupa Dek," balasnya.
"Dan aku tahu wanita sepertiku akan sulit mendapatkan persetujuan dari atasanmu Kak," jawab Mayang lirih.
"Aku akan menceritakan hal tersebut kepada atasanku. Semua akan mudah bagi kita," tambahnya.
Apa yang dikatakannya kepada Mayang bertujuan agar gadis itu tidak merubah keputusan yang dapat berdampak buruk bagi kedua belah pihak.
"Tapi kak...!" ucap Mayang lagi.
"Batalkan saja ini semua, biar dirimu tidak mendapat malu," tambah Mayang.
Radhif sengaja tak membalas perkataan Mayang. Jika membalasnya, akan semakin panjang dan rumit nantinya.
Sehingga dia memilih untuk menyibukan diri dan mengalihkan pembicaraan.
🍃🍃🍃🍃🍃
* Suasana bus Kerta Jaya jurusan Surabaya*
Sesampainya di terminal Bungurasih, Setyo melangkahkan kakinya menuju angkot yang berada tak jauh dari tempatnya turun tadi.
Dia berharap ada angkot yang masih kosong.
Dengan demikian dia akan cepat sampai di tempat tujuannya.
"Oiya aku lupa, aku mempunyai nomor telepon Rastu. Bukankah Restu sahabat karib dan juga satu kost dengan Mayang, pasti dia tahu kabar Mayang,"
Timbul niat Setyo untuk menemui Restu, karena susasana sudah gelap dan gerimis, Setyo mengurungkan niatnya hingga esok pagi.
Berharap Restu dapat dihubungi dan mempertemukannya dengan Mayang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Bagaimana kisah selanjutnya???
Nantikan kisahnya hanya di "Takdir Cinta Mayang" Part 41. Terimakasih 🙏🤗
__ADS_1