
...----TAKDIR CINTA MAYANG----...
...PART 108...
...----PERPISAHAN----...
...(bagian kedua)...
Sepenggal part sebelumnya,
-----Perjalanan menuju Kota Malang-----
Karena kesal melihat tingkah dan pola kedua sahabatnya, Ika pun melerai perdebatan keduanya.
"Udah-udah. Sama-sama gak bisa masak tuh gak usah saling menjatuhkan. Contohin aku dong, master dalam masalah pemasakan," ucap Ika bangga.
"Huuuhhh ... Masak di warung Mbak Mun ya, Cha?" seru Restu dan Niar berbarengan.
"Loh, itu kan juga usaha. Usaha buat ngisi perut yang lapar. Etapi ngomong-ngomong masalah perut, rumahmu yang mana kok gak nyampai-nyampai juga? Perutku dah butuh di isi nih, Niar," ujar Ika asal.
Sesaat Niar berbalik dan menatap ke arah depan. Matanya tertuju pada jalan yang dilalui mereka.
"Bentar lagi kok, tuh tinggal belok ke kanan udah sampe deh kita di rumahku," balas Niar menjelaskan.
"Pelan-pelan aja, Ion. Di sini banyak petani yang ke sawah pagi-pagi gini. Banyak juga anak-anak kecil yang bersepeda hendak ke sekolah," jelas Niar kepada Dion.
...------Sedangkan ketika di home stay tempat ibunya menginap----...
Radhif yang melihat maminya dilanda kecemasan tak bisa menolaknya. Akhirnya Radhif menyerah dan menuruti perkataan sang mami. Kini dirinya mencoba mencari bantuan kepada penjaga home stay tempat kedua orangtuannya menginap. Hatinya semakin dilanda khawatir, fikiran tak tenang. Ada perasaan bersalah dan resah, sepertinya bakalan terjadi sesuatu nantinya.
...-----Dan di rumah sakit Mayang seorang diri, seseorang yang diam-diam memperhatikannya serta memberi perhatian untuk dirinya, semua itu tanpa Mayang sadari----...
__ADS_1
'Sungguh baik dokter itu membawakanku bubur. Siapa aku sampai dokter Bima begitu perhatiannya,' gumam Mayang dalam hati. Ada perasaan heran yang tersirat di dalam hatinya menerima segala kebaikan dari sang dokter.
...-------********"""""******-------...
...-----Rumah Niar----...
Sesampainya mereka di tempat yang di tuju, keempat sekawan itu langsung menyantap sarapan pagi yang telah di sediakan oleh ibunya Niar tanpa membersihkan diri terlebih dahulu Itu karena udara di tempat itu cukup dingin dan mereka memang sudah kelaparan, sebab sejak semalam mereka tidak sempat mampir di kedai pinggir jalan untuk makan.
Niar memang telah memberi kabar kepada keluarganya, jikalau dia akan pulang dengan membawa ketiga sahabatnya tersebut. Namun, Niar tak mengatakan kepada sang ibu alasan sebenarnya hingga ketiga sahabatnya itu rela mengikutinya hingga ke rumahnya yang berada di pelosok daerah Malang.
"Lahap bener makannya, pelan-pelan aja, Tu. Lagian cewek makannya kayak kuli bangunan, laper apa doyan kamu!" ledek Dion kepada Restu yang tengah asyik menyantap 'sego pecel' atau nasi pecel yang di sediakan oleh tuan rumah.
"Diam, kamu, Ion. Makan kok ngomong, nikmati aja 'sego pecel' punyamu, kalo gak mau sini kasih ke aku aja, biar aku yang habisin," balas Restu sembari memasang wajah jutek ke arah Dion.
"Ogah, makan aja piring punyamu, biar kenyang skalian jadi 'kuda lumping', ujar Dion menimpali.
Di sela-sela keributan keduanya, tiba-tiba Bu Dewi muncul dari arah ruang tamu.
Mendengar ucapan terakhir dari Bu Dewi, sontak keempat sekawan langsung berhamburan menuju ke arah ruang tamu. Mereka tak mempedulikan lagi nasi pecel terenak yang terhidang di meja makan, padahal tadi telah terjadi perdebatan antara Restu dan Dion yang memperebutkan nasi pecel lezat tersebut.
"Setyo!" teriak keempat sekawan itu ketika telah berada di ruang tamu. Keempatnya terkejut saat melihat orang yang dimaksud oleh Bu Dewi adalah Setyo sahabat mereka yang telah lama tal berjumpa.
Niar menatap wajah Setyo yang sedikit sayu, kemudian berkata, "Silahkan masuk, Yo. Bagaimana kabarmu? Apa kamu sehat?" berbondong-bondong pertanyaan dilontarkan kepada Setyo secara spontan.
"Makasih, Niar. Alhamdulilah, aku baik-baik saja. Meskipun ada sedikit permasalahan yang harus aku hadapi.
"Kalian, sehat? Aku kangen sama kalian berempat. Bagaimana kabar kalian? Apa kalian tahu kabar tentang Mayang? Apa kalian bisa membantuku untuk menemui Mayang?" ucap Setyo lirih. Terlihat beban berat yang dipikulnya. Wajahnya masih terlihat tampan dan mempesona. Namun, senyum keceriaan tak lagi terlihat, seperti saat dulu ketika masih kuliah.
"Apa benar dirimu akan berangkat? Aku sempat berfikir kita tak akan bertemu lagi. Aku fikir kau telah berangkat," ucap Dion.
"Berangkat? Kemana? Berarti ucapan Dion itu bener, bukan isapan jempol belaka?" suara Restu, Niar dan juga Ika terdengar serempak.
__ADS_1
"Panjang ceritanya, nanti akan aku ceritakan kepada kalian. Aku sengaja minta izin kepada komandanku dua hari untuk menyelesaikannya permasalahanku dengan Mayang, sebelum aku berangkat. Teman-teman tolong aku. Bantu aku agar bisa berjumpa dengan Mayang, walaupun sebentar saja," ucap Setyo memohon sambil bersujud.
"Jangan seperti ini, Yo. Kami akan mencoba untuk membantumu. Semoga saja semua ini belum terlambat," ucap Ika memberi semangat kepada Setyo.
...--------------*****----------------...
...Rumah sakit...
...********"""""*********...
Radhif tak kunjung kembali, Mayang yang merasa lapar setelah sebelumnya belum terisi makan, melahap habis bubur ayam pemberian Dokter Bima yang diberikan oleh sang perawat tadi. Mayang kemudian berusaha turun dari tempat tidurnya, sebenarnya kesehatannya sudah membaik dan pulih berkat obat cina pemberian sang dokter. Hanya saja Mayang menutupinya dari Kak Radhif. Mayang sengaja tidak memperlihatkan bahwa dirinya telah cukup kuat untuk melakukan aktivitas kembali. Meskipun belum sepenuhnya pulih. Mayang tahu bekas operasinya masih sangat rentan, perlu perawatan ekstra dan juga harus kontrol ke dokter agar lekas sembuh.
Setelah menaruh rantang di atas nakas, mata Mayang tak sengaja melihat sebuah benda yang terjepit di laci. Tangannya kemudian menarik laci tersebut. Ternyata saat meletakkan surat yang dibacanya tadi ke dalam handbag miliknya, Mayang tak sengaja menarik map hijau yang ada didalamnya. Ujung map tersebut lalu menyembul lalu terjepit.
'Surat apa ini?' batin Mayang. Matanya terus memandang benda hijau yang terbuat dari kertas tebal, diatasnya bertuliskan nama rumah sakit lain.
'Sepertinya ini berkas rumah sakit, apa ini milikku?' batinnya lagi sembari tangannya mulai membuka map itu.
Namun, betapa terkejutnya Mayang saat membuka lembaran kedua. Disana tertulis jelas pendonor darah yang memberikan darahnya untuk menyelamatkan hidupnya. Nama itu tidak lain adalah nama Setyo Dwi Ardiansyah. Pria yang begitu mencintainya hingga rela melakukan apa saja untuknya. Mayang tak menyangka Setyo melakukan ini semua untuk dirinya. Walau terkadang akal sehatnya mencoba mengingatkan dirinya bahwa mereka lebih pantas sebagai sahabat, akan tetapi sikap konyol Setyo yang membuat hati Mayang menjadi tak menentu.
'Setyo, apa yang kamu lakukan. Seharusnya kamu tidak melakukan ini semua. Aku tak ingin kita terjadi kesalahpahaman antara dirimu dan Radhif. Seharusnya kau tak masuk kembali dalam kehidupanku,' jerit batin Mayang. Tak terasa airmatanya menetes. Tangannya memeluk erat Map hijau itu dalam dekapannya.
'Aku berterimakasih kepada Allah memiliki sahabat sepertimu, aku berharap kau menemukan jodoh yang terbaik dan lebih dari diriku. Semoga kau bisa secepatnya menemukan penggantiku, agar hari-harimu lebih bahagia, Yo,' batin Mayang sembari mengusap air matanya.
...-----------Bersambung-------------...
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 109. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊
Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.
__ADS_1