
...ππTakdir Cinta Mayangππ...
...Part ke-130...
...----Desa Wirotaman, Malang-----...
"Nak Bima, apa keadaan Non Mayang baik-baik saja?" ucap Pak Tugimin. Terpancar kekhawatiran dari raut wajah pria paruh baya tersebut.
Suara Pak Tugimin membuyarkan lamunan Dokter Bima.
"Alhamdulillah, baik. Luka bekas operasinya masih belum sembuh total. Mungkin karena syok Mayang demam dan tak sadarkan diri. Asupan makanan yang kurang juga menjadi salah satu faktor utama sehingga membuat kondisi tubuhnya menurun. Tapi saya akan merawatnya hingga Mayang pulih kembali," balas Dokter Bima dengan tatapan penuh arti.
"Ini minyak kayu putih dan teh hangatnya, Nak Bima. Mungkin dengan ini bisa membantu menghangatkan tubuh Nak Mayang," ujar Bu Tugimin menyodorkan sebotol minyak kayu putih dan segelas teh hangat tersebut.
"Terima kasih, Bu. Tapi saya tidak bisa membalurkan minyak ke tubuh Mayang. Bisakah Ibu membantu saya?" tanya Dokter Bima kepada Bu Tugimin.
Tangannya mengambil botol minyak kayu putih sembari berkata, "Dengan senang hati, Ibu akan membantu Nak Bima mengurus Mayang." Dokter Bima dan Pak Tugimin kemudian meninggalkan Bu Tugimin Mayang berdua di dalam kamar.
Dengan kasih sayang wanita paruh baya itu membalurkan minyak ke seluruh tubuh Mayang agar tidak kedinginan. Wanita tersebut lalu menutupi tubuh Mayang dengan sebuah selimut. Tak berapa lama terlihat Mayang mulai menggerakan jari jemarinya secara perlahan, pertanda Mayang telah sadar dari pingsannya.
"Dok ... Dok ... Dokter Bima!" teriak Bu Tugimin dari dalam kamar yang tak jauh dari ruang tengah.
Langkah memburu terdengar jelas dari arah ruang tengah. Pak Tugimin dan Dokter Bima segera berlari menuju kamar.
"Piye keadaane, Bu?" ucap Pak Tugimin ketika menghampiri sang isteri.
"Bagaimana keadaannya, Bu?" ucap Pak Tugimin ketika menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Tadi Nak Mayang menggerakkan jarinya. Sepertinya sudah mulai sadar dari pingsannya. Makanya Ibu teriak tadi. Monggo Dokter Bima tolong diperiksa keadaan Nak Mayang," kata Bu Tugimin lagi.
"Apa benar yang Ibu lihat tadi? Kalau begitu itu benar saya harus segera memeriksanya. Semoga keadaan Mayang segera pulih dan membaik agar saya bisa segera membawanya pulang. Saya susah menyerahkan gadis penculik itu kepada kepala desa untuk diproses oleh pihak berwajib. Semoga Mayang tidak mengalami hal serupa lagi," beber Dokter Bima kepada sepasang suami isteri tersebut .
Namun tak disangka saat Dokter Bima memeriksa keadaan Mayang, tiba-tiba terdengar derap langkah orang memasuki teras rumah Pak Tugimin. Awalnya mereka yang berada di rumah itu mengira suara derap langkah tersebut adalah para warga yang membantu menemukan Mayang dan meringkus penculik gadis itu. Ternyata mereka yang datang bukanlah warga Wirotaman.
Tak lama setelah Pak Tugimin keluar menemui tamu yang tak di undang tersebut. Dari kejauhan sebuah Pajero berwarna hitam dan sebuah mobil ambulan berlambang memasuki pelataran rumah milik Pak Tugimin. Seorang pria tampan, gagah, dan juga bertubuh atletis turun dari mobil tersebut. Pria itu mengenakan celana jeans berwarna biru tua dan memakai kaos putih. Topi putih senada bertuliskan Eiger. Sempat Pak Tugimin tak mengetahui jika pria dihadapannya adalah seorang anggota militer, jika saja salah satu anggotanya tidak memberi hormat kepada sang pria ketika pria tampan itu turun dari mobil.
"Siap, Dan. Ini adalah rumah yang sudah di selidiki. Rumah ini adalah tempat di mana Dokter itu membawa Mayang," tutur salah satu anggota pria tadi yang sedang melaporkan hasil penyelidikannya.
"Baiklah, kalian amankan di depan. Jangan ikut campur lagi setelah ini, biar saya yang akan menyelesaikan sisanya!" cakap Radhif kepada anggotanya yang mengenakan pakaian preman.
"Siap, Dan. Laksanakan!" sahut pria yang ada di depannya. Selepas memberi hormat pria tersebut kemudian berlalu menuju teman-temannya yang lain. Mereka sedang berjaga di depan rumah Pak Tugimin. Para pria gagah itu mengenakan celana jeans dan kaos serba hitam. Menggunakan sepatu kets putih serta topi berwarna senada. Pada telinganya terpasang semacam benda kecil. Wajah mereka terlihat sangat serius.
πππ
'Siapa pria ini? Apa yang diinginkannya? Apa ada hubungannya dengan Mayang pasien dari Dokter Bima?' batin pemilik rumah ketika melihat sang pria mulai berjalan menuju ke arahnya.
Radhif yang melihat Pak Tugimin tak bergeming ketika dirinya menyapa, kemudian berjalan lebih dekat lagi sambil mengeluarkan suara deheman.
Suara deheman Radhif menyadarkan Pak Tugimin. Begitu dia sadar posisi Radhif sudah berada dekat dengannya.
"Ehem ... Assalamualaikum, Pak. Maaf saya dan beberapa anggota saya tidak bermaksud membuat keributan. Kami ke sini hanya ingin mencari isteri. Menurut anggota saya, mereka menemukan jejaknya di daerah sini. Saya mohon bantuannya bila memang Bapak memiliki informasi tentang seorang wanita yang bernama Mayang. Dia adalah isteri saya yang beberapa minggu lalu di culik oleh wanita yang menyamar sebagai perawat di salah satu rumah sakit yang berada di Kota Malang," jelas Radhif panjang lebar sembari mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Dengan gugup Pak Tugimin menjawab,"Dengan senang hati saya akan membantu, jika memang saya mengetahui apa yang menjadi tujuan Anda. Mari silahkan duduk dulu, agar bisa lebih santai ngobrolnya!" tawar Pak Tugimin kepada Radhif.
Pak Tugimin dengan ramah mempersilahkan Radhif masuk ke teras rumahnya yang cukup luas dengan dua buah bale-bale bambu yang tertata rapih. teras rumah Pak Tugimin dipenuhi tanaman sayur mayur dalam pot. Semua itu ditanam oleh Bu Tugumin. Menurut isterinya menanam sayur lebih baik ketimbang menanam bunga.
__ADS_1
"Terima kasih atas kebaikannya. Saya sedang terburu-buru. Ini adalah foto isteri saya, saya mohon bantuannya," ucap Radhif dengan penuh harap.
Pak Tugimin meraih foto yang diberikan oleh Radhif. Menatapnya dengan seksama. Foto itu adalah foto saat Radhif dan Mayang menikah. Mayang terlihat sangat cantik dalam balutan kebaya putih dan hiasan melati pada sanggulnya.
Pak Tugimin kembali terdiam. Matanya terus saja menatap foto yang kini berada dalam genggamannya. Sejenak hatinya bimbang harus berpihak kepada siapa. Di dalam sana ada pria yang sangat perhatian kepada Mayang, sedangkan di sisi lain Radhif adalah suami Mayang yang sah. Sebagai orang tua, Pak Tugimin tidak ingin memperkeruh suasana. Ia hanya ingin gadis malang itu segera mendapatkan pertolongan medis, sehingga tidak membahayakan nyawanya.
Radhif sepertinya bisa menebak kebimbangan yang kini menjalar dalam diri Pak Tugimin. Ia yakin bahwa pria paruh baya tersebut sedang menyembunyikan sesuatu.
Dengan perlahan Radhif berkata,"Apa Anda memiliki informasi sedikit agar saya bisa menemukan petunjuk keberadaan isteri saya? Saya sangat mencintainya, saya ingin isteri saya segera ditemukan agar bisa mengurus dan merawatnya. Dia butuh perhatian saya, Pak!" ucap Radhif dengan sungguh-sungguh.
"Nak Radhif, maaf sebelumya. Bapak bukannya menyembunyikan sesuatu atau berusaha menutupi kebenaran. Hanya saja, Bapak harus berfikiran realistis dalam mengambil keputusan. Bapak harus adil dan bijak dalam melangkah," tampik Pak Tugimin dengan nada berat.
"Apa maksud, Bapak? Apa telat terjadi sesuatu kepada Mayang? Tolong jelaskan kepada saya sedetail-detailnya sekarang. Saya mohon, Pak!" cecar Radhif dengan mimik wajah yang kini mulai terlihat berubah.
-----------Bersambung-------------
*Apa Pak Tugimin membeberkan segala yang terjadi kepada Radhif setelah melihat kesungguhan Radhif untuk menemukan isterinya Mayang?
*Apakah perseteruan terjadi antar Radhif dan Dokter Bima?
*Siapa yang akan Mayang pilih diantara keduanya?
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 130. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang ππ
Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.
__ADS_1