
...--Hilangnya Mayang dari rumah sakit--...
...(bagian kedua)...
...Sepenggal part sebelumnya,...
Beberapa menit menelusuri sudut ruang di kamar tersebut. Akhirnya, Radhif terduduk di atas ranjang pasien tempat Mayang sebelumnya terbaring sebelum dirinya hilang entah kemana. Tiba-tiba tangannya menemukan sesuatu.
Benda yang ditemukan oleh Radhif adalah sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati yang terletak di atas selimut milik Mayang.
'Milik siapa ini? Mengapa bisa berada di sini?' ujar Radhif membolak-balikkan benda tersebut.
Radhif memperhatikan dengan seksama kalung berliontin hati tersebut. Mencoba memecahkan teka-teki hilangnya Mayang.
'Sepertinya liontin ini bisa di buka, apa isi dalam liontin ini?' ujar Radhif dalam hati.
"Klik!" liontin pun terbuka. Ternyata liontin itu terdiri dari dua bagian. Dan di dalamnya terdapat dua buah foto.
'Foto siapa ini?' tanya Radhif dalam hatinya.
Nampak Radhif memicingkan kedua matanya saat melihat foto dalam liontin tersebut. Mencoba menebak siapa pemilik kalung tersebut.
'Bukankah wanita di dalam foto ini yang tadi menggunakan seragam perawat? Siapa dia sebenarnya? Apa dia pelakunya? Mengapa dan apa tujuannya melakukan semua ini?' batin Radhif.
..._______****""""****_______...
Radhif semakin panik dan gusar. Sudah hampir tiga jam sejak Mayang menghilang dari rumah sakit. Akan tetapi, belum ada petunjuk kemajuan dalam pencarian. Dokter Bima yang menangani Mayang pun ikut menghilang entah kemana.
Bagai sebuah teka-teki yang belum bisa terpecahkan. Mengapa bisa bersamaan kedua orang tersebut dari rumah sakit. Apakah Dokter Bima terkait dalam menghilangnya Mayang istri dari Radhif. Hal ini menjadi kabar yang tergolong menghebohkan seantero rumah sakit. Apalagi ada beberapa suster asisten Dokter Bima yang mengetahui cerita tentang kisah asmara sang dokter tampan itu mulai membocorkan hal tersebut kepada sesama rekan kerjanya.
Tanpa sengaja anggota Heru membahas hal tersebut di depan teras kamar VVIP yang sebelumnya merupakan kamar tempat Mayang di rawat inap.
__ADS_1
"Asep!" panggil pria tinggi kurus berkulit hitam dengan potongan cepak berhidung mancung. Kulitnya terlihat eksotis, namun, sebenarnya pria tersebut merupakan asli suku Batak Karo.
"Ada apa, Marthen? Mau rokok juga?" balas Asep cuek.
"Bah, sejak kapan aku isap rokok. Aku ini anak pendeta mana tau aku sama barang-barang begitu, Mas Asep,"
"Sok banget, kau Togar," balas Asep sembari melempar sebuah batu kecil ke arah Togar. Namun, meleset.
Karena penasaran, akhirnya Asep berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Marthen yang duduk di bagian pojok teras di bawah jendela kamar tersebut.
"Aku punya cerita bagus. Tadi saat aku sedang mencari istri Pak Radhif, aku sempat ngobrol dengan beberapa petugas kesehatan di rumah sakit ini. Ada yang mengatakan kalau hilangnya Dokter Bima dan Bu Mayang itu saling berkaitan!" seru Togar dengan gayanya yang khas. Layaknya seseorang yang sedang menceritakan permainan bola atau balapan motor. Togar menggunakan gaya saat bercerita.
"Kamu tuh, biasa aja kalo cerita. Duduk yang tenang. Lagaknya kayak mau nonton pertandingan aja, gerak sana-gerak sini. Bikin puyeng kepalaku saja,"
"Tuh, karena penasaran udah aku buang rokokku tadi, padahal masih banyak, belum habis," ujar Asep sambil melengos.
Togar pun kemudian celingak-celinguk melihat ke dalam kamar melalui jendela, dilihatnya Danton Heru sedang berbincang dengan Pak Radhif.
"Sini, biar gak kedengaran sama Danton Heru dan Pak Radhif!" panggil Tagor.
" Apaan sich, Gar. Kamu ini persis emak-emak di sinetron yang suka menggiba sama tetangganya," balas Asep dengan kesal.
Togar menarik Asep kemudian berkata,"Udah ikutin saja aku, nanti kau akan tahu apa yang mau aku ceritakan. Ini rahasia buat kita berdua," ujar Tagor lagi sambil menoleh ke arah dalam ruangan. Sikapnya seperti seseorang yang sedang mengendap-endap takut ketahuan orang.
"Kau tahu tidak?" ujar si Tagor kepada Asep.
"Tidak taulah, kamu kan belum cerita," balas Asep makin kesal dibuatnya.
"Ternyata yang nyulik istrinya Pak Radhif itu Dokter Bima. Dokter Bima adalah dokter yang melakukan bedah atau operasi terhadap Bu Mayang. Dan dia juga adalah dokter yang menangani Bu Mayang selama perawatan," jelas Marthen dengan ekspresi wajah sangat serius.
"Yang benar, kamu, Gar? Jangan buat masalah, bisa-bisa kita di pindah sama Pak Radhif kayak si Setyo. Dia kan juga punya hubungan sama istri Pak Radhif di masa lalunya. Jangan macam-macam, bisa-bisa kita kena getahnya juga. Karena Pak Radhif orangnya 'tempramen'," seru Asep setengah berbisik.
__ADS_1
Namun, tanpa sepengetahuan keduanya, ternyata Radhif sedang menguping pembicaraan mereka.
'Aku memang akhir-akhir ini tidak bisa mengontrol emosiku. Entah mengapa sejak mengetahui Mayang memiliki hubungan di masa lalu dengan pria yang bernama Setyo itu malah membuatku cemburu buta dan amarahku mudah sekali tersulut. Bahkan dengan hal-hal atau permasalahan yang kecil sekali pun,' batin Radhif dalam hati.
Danton Heru yang melihat anak buahnya ngerumpi di saat bertugas membuat dirinya malu. Awalnya Danton Heru ingin menegur keduanya. Akan tetapi, Radhif melarangnya.
Kedua anggota Danton Heru tak sadar keduanya sedang dipantau oleh Radhif juga Heru. Tanpa sadar keduanya semakin asyik dengan obrolan mereka. Hingga pada akhirnya Radhif tahu bahwa pihak keamanan telah meggeledah ruang kerja Dokter Bima dan menemukan sebuah foto dan juga sebuah buku diary.
"Ehem!" suara Danton Heru mengagetkan kedua anggotanya yang nampaknya tak sadar mereka telah di pantau sejak tadi olehnya dan juga Radhif.
Sontak saja Togar yang masih asyik bercerita mendadak pucat pasi ketika mengetahui bahwa Danton Heru dan juga Pak Radhif berada di balik jendela. Tubuhnya gemetar, panas dingin serasa mau pingsan. Ia khawatir bila Pak Radhif akan memberikannya hukuman karena sikapnya tadi.
"Izin, Danton. Saya kebelet ingin buang hajat. Saya pamit kebelakang sebentar," ucap Togar berusaha melarikan diri dari situasi tegang tersebut.
"Izin, saya juga ya Danton. Maaf sudah tidak tahan mau buang air kecil," ujar Asep sembari berlari mengikuti Togar yang sudah duluan ngacir.
"Ah, dasar kalian. Mau kabur aja. Awas kalo balik. Aku suruh lari keliling rumah sakit sebanyak seratus kali," teriak Danton Heru dengan nada tinggi.
Melihat hal tersebut Radhif pun tersenyum.
"Izin, Bang. Maafkan anggota saya. Mereka memang begitu. Maaf apabila ada kata-kata mereka yang menyinggung Abang," ucap Danton Heru meminta maaf.
"Ah, gak apa-apa kok, Her. Itu hanya rumor murahan. Aku yakin bukan Dokter Bima dalang semua ini. Aku harus menemui humas rumah sakit untuk mencari tahu kebenarannya. Sudah hampir tiga jam aku menunggu. Aku berharap mereka bisa memberi petunjuk atau titik terang, agar kita bisa segera menemukan Mayang kembali," balas Radhif.
"Siap, Bang. Saya akan menemani Bang Radhif kesana," seru Danton Heru kemudian mengikut langkah Radhif yang berjalan menuju loby rumah sakit.
...-----------Bersambung-------------...
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 119. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊
Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
__ADS_1
Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.