TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG#


__ADS_3

Dua kabar yang menyesakkan dada (Bagian kedua)


----Rumah sakit M, pusat kota Malang----


Lorong rumah sakit M, pusat kota Malang itu nampak lengang, masih pukul 01.00 Wib dini hari ketika mereka sampai di rumah sakit yang mereka tuju. Dalam perjalanan menuju kamar inap hanya terdengar suara roda yang berasal dari tempat tidur Mayang. Kini hanya tertinggal aku dan kedua petugas rumah sakit ini setelah perawat dan supir ambulans yang mengantarkan kami selesai melaksanakan tugasnya. Nampak kedua pertugas dengan seragam berbeda dari yang terdahulu tengah mendorong tempat tidur besi itu dari dua sisi yang berbeda. Pagi ini udara dingin kota Malang yang menusuk tulang masih terasa melekat, membuat setiap pasien dan keluarga terlelap dalam balutan kehangatan selimut yang membungkus tubuh.


Tempat tidur yang didorong oleh kedua perawat tadi terhenti ketika kami memasuki deretan kamar VVIP. Keduannya kemudian menghentikan kegiatan mendorongnya ketika berdiri tepat di sebuah pintu kamar paling ujung yang berada di deretan kamar VVIP tersebut.


"Pak Radhif, ini kamar inap untuk istri Anda," ucap salah satu perawat pria itu menjelaskan kepadaku sembari berjalan membukakan pintu agar bisa mendorong tempat tidur beroda itu ke dalam ruang kamar.


Aku hanya mengangguk dan menatap keduanya. Dengan sigap aku bergerak membantu melapisi tempat tidur putih itu dengan selimut lembut bergambarkan karakter kartun winnie the pooh kesukaan Mayang. Aku melakukannya karena ingin Mayang merasa nyaman saat berbaring.


"Bagaimana operasinya, Pak? Apa sudah siap?" tanyaku sesaat setelah Mayang berhasil kami pindahkan ke tempat tidur yang berada di kamar tersebut.


"Saya akan menghubungi dokter yang menangani istri Anda. Dokter akan datang untuk melakukan 'visite' pada pasien dan berkonsultasi dengan Anda terlebih dahulu," balasnya lagi sambil membenahi selang infus.


"Saya mohon secepatnya bisa dilaksanakan operasi untuk istri saya, sebab kondisinya semakin memburuk. Sementara ini dirinya masih dalam pengaruh obat bius. Saat pengaruhnya hilang rasa sakit itu akan semakin menyiksanya. Janin yang ada dalam kandungannya juga harus segera di bersihkan karena akan memperngaruhi kondisi rahim istri saya," seru Radhif menjelaskan diagnosa yang telah disampaikan oleh Dokter Vivian semalam sesaat ketika dirinya akan pergi dari rumah sakit sebelumnya.


"Baik, Pak. Akan segera saya sampaikan kepada Dokter Inggrit dan juga dokter bedah yang menangani istri Anda. Sebenarnya dokter beda kami merangkap dokter umum karena dokter umum sedang cuti. Kami kekurangan tenaga medis di bagian umum," ucapnya lagi. Kedua perawat tersebut kemudian meninggalkan kamar.

__ADS_1


Kini di kamar itu hanya ada Radhif dan Mayang yang terbaring lemah dan tak berdaya. Parasnya yang cantik dan rupawan kini terlihat pucat pasi. Tak ada senyum yang terpancar dari bibirnya. Masih jelas terbayang di benak Radhif wajah Mayang yang merintih menahan kesakitan.


"Hamba hanya bisa berdoa dan memohon. Bantu kami agar bisa melewati semua ujian ini. Semoga ini adalah awal dari kebahagiaan, ya, Allah," doa Radhif dalam hati.


Radhif kemudian mengambil sebuah kursi yang ada di sana. Diletakkannya kursi itu dan duduk tepat di sebelah Mayang, lelah rasa tubuhnya saat itu. Akan tetapi semua itu dia tepiskan agar bisa melihat Mayang pulih kembali. Ia rindu saat-saat bersama Mayang. Rindu canda dan tawa Mayang yang riang dan lepas. Baru seminggu yang lalu dirinya menghabiskan waktu bersama, masih segar dalam ingatannya semua kenangan mereka di villa milik Heru adik lettengnya itu. Kenangan yang takkan bisa terlupakan. Andai saja dia bisa memutar kembali semua itu, ingin rasanya dirinya menghindari musibah yang terjadi. Musibah yang membuat Mayang seperti ini, kehilangan bayi dalam kandungannya. Penyesalan memang selalu datang terakhir. Meskipun penyesalan itu sangatlah dalam takkan bisa merubah segalanya. Hanya akan menambah beban fikiran dan juga rasa sakit.


"Tok...Tok...Tok...!" terdengar suara ketukan.


Radhif bangkit dari kursi tempat dia duduk tadi. Meninggalkan Mayang yang masih terbaring belum sadarkan diri.


"Kleeekkk....!" tangan Radhif membuka pintu itu dengan memutar gagang yang menempel pada pintu tersebut.


"Assalamu'alaikum, maaf mengganggu, Pak Radhif saya dokter bedah yang akan menangani Ibu Mayang. Perkenalkan nama saya Bimantara putra. Apa bisa kita berdiskusi sebentar? Ada yang ingin saya tanyakan!" serunya sesaat setelah Radhif membukakan pintu dan mempersilahkan dokter tersebut masuk.


"Apa istri Anda sudah sadarkan diri atau masih belum juga siuman?"


"Apa Pak, Radhif membawa stok darah yang di butuhkan untuk istri Anda? tanya sang dokter penuh selidik. Sepertinya sang dokter sangat berhati-hati dalam mempersiapkan rencana operasi bagi Mayang.


"Sejak berangkat hingga saat ini istri saya belum sadarkan diri, Dok. Box yang berisi stok darah sudah petugas ambulans dari rumah sakit X berikan kepada perawat yang berada di meja resepsionis," jelas Radhif kepada Dokter Bima.

__ADS_1


"Baiklah, Pak Radhif sejam lagi saya akan melakukan operasi untuk Ibu Mayang. Sekarang tim medis akan mempersiapkan segala sesuatunya. Sebelum melakukan operasi akan ada perawat yg nantinya memeriksa kondisi pasien terlebih dahulu. Mohon doanya agar operasi ini berjalan lancar," ujar sang dokter.


"Insya'Allah, Dok. Saya akan selalu berdoa untuk kesembuhan istri saya," ucap Radhif dengan tatapan penuh harap.


Melihat ekspresi wajah dan tatapan mata Radhif Dokter Bima kemudian berkata, "Saya sebagai dokter yang menangani pasien akan berusaha sebaik mungkin," ucapnya lagi kemudian pamit meninggalkan Radhif seorang diri.


Sejenak Radhif berdiri di ujung pintu. Matanya menatap langit yang belum juga menampakkan sinar jingga sang fajar. Dalam diam dirinya mencoba meresapi setiap detik waktu yang berputar. Di lubuk hatinya yang paling dalam dia berharap operasi kali ini benar-benar terlaksana agar Mayang bisa segera pulih. Tak sanggup rasanya bila harus menyaksikan Mayang tersiksa menahan rasa sakit pada tubuhnya. Tangan Radhif bergerak menggapai gagang pintu mencoba menutupnya, udara pagi ini sangat dingin ditambah lagi pendingin ruangan yang menyala. Ia tak ingin Mayang merasa kedinginan. Segera dirinya berjalan menuju ranjang Mayang guna memastikan keadaan Mayang. Radhif menyelimuti tubuh Mayang agar lebih hangat dan nyaman. Mencium keningnya dan membelai rambut Mayang.


"Semoga operasimu berjalan lancar. Aku akan selalu berasa disampingmu. Semoga ujian ini terlewati dan takkan ada ujian lagi. Aku ingin kita berdua bisa bersama hingga maut yang akan memisahkan kita," ucap Radhif setengah berbisik.


Radhif tertegun saat menatap wajah Mayang. Di sudut matanya menetes buliran bening. Ternyata meskipun Mayang tak sadarkan diri, dia masih merespon ucapan Radhif. Seperti yang terlihat saat ini, Mayang menangis mendengar ucapan Radhif yang ditujukan kepadanya. .


"Kau mendengarkanku? Dengarlah sayang, aku akan selalu ada untukmu. Aku takkan pernah meninggalkanmu, meskipun saat kau sadar nanti kau mungkin saja membenciku karena musibah ini terjadi akibat kecerobohan dan keegoisanku," ujar Radhif dengan penuh penyesalan.


...-------Bersambung--------...


Terima kasih sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohob maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.


Dukungan beruba komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.

__ADS_1




__ADS_2