
...Munculnya jurang pemisah cinta Mayang dan Radhif (Bagian ketiga)...
...----Rumah sakit M, pusat kota Malang---...
Sepenggal part sebelumnya,
Suster Reni adalah asisten dokter Inggrit yang sudah lama bekerja dengan sang dokter. Karena keduanya belum memiliki kekasih. Acapkali keduanya sering mengabiskan waktu bersama dengan jalan-jalan atau menonton film di saat libur kerja. Sudah seperti sahabat. Dan hari dokter Inggrit yang merupakan atasannya itu menceritakan bahwa, dirinya telah menemui seseorang yang merupakan sahabat ibu dari dokter Inggrit.
Menurut cerita dokter Inggrit orang yang ditemuinya tersebut adalah orang tua dari pria yang dulunya hendak di jodohkan dengannya. Akan tetapi, dokter Inggrit belum mengetahui rupa dari pria yang awalnya hendak di jodohkan dengannya itu. Kedua orang tua pria tersebut secara kebetulan bertemu dengannya tadi di kantin rumah sakit.
...*******""""""*******...
Saat membuka pintu kamar tempat Mayang di rawat, wajah Radhif nampak terkejut. Ternyata kedua orangtuannya telah berada di ruangan tersebut. Sebenarnya Radhif tahu kedua orangtuanya itu akan datang dari Surabaya setelah sehari sebelumnya beristirahat terlebih dahulu karena menempuh perjalanan dari Magelang ke Surabaya.
"Assalamualaikum, Mam, Pap!" ucap Radhif sembari mencium kedua tangan orangtuanya yang duduk di sofa tak jauh dari ranjang Mayang.
Matanya melirik ke arah Mayang. Nampak di sana Mayang masih tertidur.
'Apa gadis itu benar-benar masih dalam pengaruh obat bius atau hanya berpura-pura,' ucap Radhif dalam hati.
"Apa kabarnya Mama dan Papa? Bagaimana bisnis Papa di sana?" tanya Radhif kepada sang papa.
__ADS_1
Setelah melontarkan pertanyaan tadi, Radhif berjalan ke arah ranjang tempat tidur Mayang. Radhif meletakkan sebuah bungkusan berisi bubur kacang hijau yang tadi di belinya.
Melihat hal tersebut, akhirnya Ibu Dian melangkah mendekati Radhif dan berkata, "Alhamdulilah, kami baik-baik saja. Bagaimana keadaanmu, Dhif. Kamu kok terlihat kurusan dan lelah. Apa kamu baik-baik saja?" ucap Ibu Dian kepada Radhif putranya.
"Aku baik-baik aja kok, Mam. Harusnya mama dan papa beristirahat beberapa hari sebelum ke Malang. Aku khawatir sama kesehatan kalian," balas Radhif sembari memeluk sang mama dengan manja.
" Ich, kamu, Dhif. Udah gede masih manja aja sama Mama, malu tahu sama istrimu," ledek sang mama membuat Radhif tersipu malu.
"Husssttt ... Mam, jangan gede dong suaranya. Gak apa-apa kan, Mam. Toh sama mama sendiri kok, lagian Mayang juga kan masih tidur," ucap Radhif membela diri.
Dengan gemas sang mama mecubit perut anaknya itu. Kini hanya Radhif yang di milikinya, setelah Radhit pergi meninggalkan mereka selama-lamanya. Hal itu membuat Ibu Dian lebih mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya kini kepada Radhif.
"Oiya, Dif. Apa Mayang udah makan? Gimana keadaannya?"
Radhif kembali memandang ke arah Mayang, mencoba menelisik kondisi istrinya tersebut. Entah apa yang sebenarnya terjadi setelah dirinya tadi meninggalkan Mayang untuk pergi ke kantin rumah sakit.
'Mungkin perawat memberikannya obat penenang dan penghilang rasa sakit. Mengapa sudah hampir setengah hari Mayang masih saja belum siuman,' batin Radhif dalam hati.
"Dif, udah makan belum istrimu? Kenapa gak kamu bangunin aja, kasian Mayang. Dia butuh tenaga setelah melakukan operasi. Bukankah istrimu ini juga habis kehilangan banyak darah. Dia butuh asupan gizi agar lekas pulih," ucap sang mama mengingatkan.
"Eh ... Iya, Mam. Maaf aku gak tahu," balas Radhif gelagapan. Dia bingung harus menjawab apa kepada sang Mama.
__ADS_1
"Yaudah, biar mama aja yang bangunin Mayang. Kamu makan aja pizza dan juga minum cofee latte yang mama beli tadi sebelum ke sini," ujar Ibu Dian kepada Radhif.
"Radhif tadi udah beli kopi dan makan di kantin kok, Mam. Ntar aja Radhif makan bersama adik-adik asuh Rafhif yang berjaga malam ini," balas Radhif kepada sang mama.
"Owh, gitu to. Baiklah kalo gitu. Tadi mama dan papa udah sewa sebuah rumah persinggahan di dekat sini. Malam ini kami akan beristirahat di sana. Kamu gak apa-apa kan sendirian di rumah sakit menjaga istrimu? Besok mama akan bawakan sarapan untuk kalian berdua," ujar Bu Dian lagi.
"Baik, Mam," balas Radhif singkat.
Bu Dian kemudian menyiapkan bubur ayam yang di belinya tadi di kantin rumah sakit di sebuah mangkok, dirinya mengambil sendok dan tisu. Meletakkannya di atas sebuah nampan dan meninggalkannya di atas nakas yang tak jauh dari ranjang tempat Mayang terbaring.
"Mayang!" panggil Bu Dian dengan lembut sembari membelai ujung rambutnya.
"Ayo, bangun, Nak. Makanlah dulu agar kondisimu segera pulih," ucap Ibu Dian.
Mayang yang memang sedari tadi terjaga, berpura-pura membuka matanya dengan perlahan. Dia tidak mau dramanya ketahuan oleh Radhif terlebih kedua orang tua Radhif.
...-----------Bersambung-------------...
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 100. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊
Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
__ADS_1
Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.