TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# PART 83


__ADS_3

...Kegalauan Radhif...


...-----Rumah sakit M, Kota Malang-----...


Selesai berwudhu Radhif melangkahkan kakinya menuju musholah. Kali ini Radhif benar-benar merasa bukan apa-apa dihadapan Allah. Dirinya sangat terpukul melihat keadaan Mayang yang terbaring lemah. Semua ini karena kesalahannya. Seandainya saat itu ia dapat mengontrol emosi yang menguasai fikirannya pastilah kejadian pagi tadi tidak terjadi. Mayang tidak akan celaka dan berada dalam keadaan kristis seperti sekarang. Dalam sujudnya Radhif berdoa untuk kesembuhan istrinya itu. Benar-benar khusuk hingga meneteskan air mata.


'Ya, Allah. Ampunilah kesalahan yang telah hamba lakukan. Berilah hamba-Mu ini kesempatan sekali lagi untuk bisa bersama dengannya, wanita yang sangat hamba sayangi. Jika memang dirinya jodoh yang Engkau kirimkan, berilah hamba kesempatan kedua untuk bisa membahagiakannya. Berilah kesembuhan padanya, ya, Allah. Hanya kepada-Mu hamba memohon pertolongan dengarkanlah permohonanku,' doa Radhif dalam hati.


Air mata tak terbendungkan lagi, sosok kekar dan tegap itu kini terlihat lemah dihadapan Sang Pencipta, memohon kesembuhan dan pertolongan untuk wanita yang begitu dicintainya hingga mampu membuat hatinya yang sekuat baja rapuh dalam doa dan sujudnya.


Selepas sholat Radhif merapikan ujung celana jeans yang dikenakannya dan melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit kembali menuju tempat dimana Mayang dirawat. Di dapatinya Heru sedang duduk dan ngisap rokok. Sama-samar terdengar olehnya Heru menelpon seseorang dan menyuruhnya untuk segera pergi dari rumah sakit secepatnya.


"Assalamu'alaikum!" ucap Radhif saat mendekati Heru.


"Wa'alaikumsalam, Bang!" balas Heru segera mematikan ponselnya setelah melihat kedatangan abang lettengnya tersebut.


"Apa ada yang tidak beres, Her?" tanya Radhif penuh selidik.


"Siap, Bang. Izin tidak ada. Hanya saja anggota saya yang sudah mendonorkan darah saya suruh beristirahat sebentar sebelum kembali ke batalyon," balas Heru mencoba menyembunyikan kebenaran dari Radhif.


"Bagaimana dengan kantong darahnya? Apa sudah siap untuk diambil?" tanya Radhif sekali lagi. Dia ingin memastikan bahwa sebelum operasi kantong darah itu telah tersedia untuk sang istri yang sangat membutuhkannya.


"Siap sudah, Bang. Dua kantong darah dengan golongan darah yang sama sudah bisa diambil," balas Heru.


"Sebaiknya kita segera mengambilnya. Jangan lupa berikan minuman dan makanan untuk para pendonor agar kondisi mereka segera pulih. Aku akan memberikan sejumlah uang untuk itu," ucap Radhif kemudian merogoh saku celana jeans miliknya.


Tak lama kemudian Radhif menepuk jidatnya dan berkata, "Her, aku lupa dompetku berada dalam mobil. Aku akan menuju ke parkiran. Kau temui dulu anggotamu yang tadi telah membantuku mendonorkan darah mereka untuk kesembuhan Mayang. Aku akan menyusulmu setelah mengambil dompetku yang ketinggalan," ucapnya seraya berlalu menuju parkiran tanpa menunggu jawaban dari Heru.


Saat bersamaan Heru pun meninggalkan tempat dimana Mayang dirawat menuju kantor PMI yang berada di ruang bagian samping rumah sakit tersebut. Letaknya agak jauh dari parkiran jadi itu berarti ada peluang untuknya mengkondisikan keadaan agar Radhif abang lettengnya itu tidak mengetahui keberadaan Setyo.


Ketika sampai di kantor PMI Setyo sudah tak nampak di sana. Hanya ada salah seorang anggotanya yang menjadi pendonor dan Dwi lettengnya.


"Dimana Setyo?" ucapnya spontan.


"Dia nekat pulang meski keadaannya masih belum pulih," balas Dwi pada Heru. "Anggotaku yang bernama Dani sudah mengantarkannya. Mereka sekarang sedang menuju parkiran untuk mengambil mobil," ucap pria itu lagi.


"Parkiran?" pekiknya terkejut mendengar penjelasan kawannya itu.


"Aku berharap mereka tak bertemu dengan Bang Radhif. Saat ini Bang Radhif sedang berada di parkiran mengambil dompetnya yang tertinggal," tutur Heru dengan wajah cemas. Dia berusaha menelpon Seyto. Namun, tak ada jawaban dari Setyo, ponsel pria itu tidak aktif dan tak dapat dihubungi.


"Coba hubungi anggotamu, Wi. Dimana posisi mereka sekarang. Aku berharap mereka tidak berpapasan dengan Bang Radhif. Bisa runyam ceritanya kalo sampai mereka bertemu," ucapnya dengan nada gusar.


Tanpa di komando kawannya yang bernama Dwi itu pun nampak menghubungi seseorang dengan ponsel yang ada di genggamannya. berkali-kali dia mencoba. Akan tetapi tak berhasil juga menghubungi nomor ponsel yang dituju. Keduanya saling berpandangan dan tenggelam dalam fikiran masing-masing. Kekhawatiran dan kecemasan terpancar dari wajah kedua orang itu. Mereka benar-benar gusar bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan apalagi dalam keadaan segenting ini. Berbahaya bila Radhif sampe mengetahui bahwa Setyo menyumbangkan darahnya untuk Mayang istri dari seniornya tersebut.


"Aku akan mengecek Bang Radhif di parkiran, aku ingin memastikan tidak terjadi apa-apa di sana," ucap Heru kepada Dwi dan salah satu anggotanya yang bernama Altaf. Altaf adalah salah satu pendonor yang menyumbangkan darahnya untuk Mayang.


"Baiklah, aku akan tetap mencoba menghubungi Dani. Semoga saja mereka sudah keluar dari parkiran dan kembali ke batalyon," balas Dwi sebelum Heru melangkah pergi menyusul abang lettengnya Radhif.


Baru beberapa meter berjalan dari ruangan tadi nampak dari kejauhan sosok Kak Radhif abang lettengnya itu. Sebenarnya rasa penasaran dalam benaknya cukup besar. Ingin rasanya dirinya menanyakan apa yang terjadi pada abangnya itu sehingga lama berada di parkiran. Namun, hal itu diurungkannya. Dia khawatir jika nanti pertanyaan darinya akan membuat curiga Bang Radhif.

__ADS_1


"Izin, Bang Radhif kita langsung ke dokter tadi atau abang masih mau menemui anggota saya yang telah mendonorkan darah untuk Mbak Mayang?" ucapnya kemudian. Mencoba mencairkan suasana saat itu sebab terlihat raut wajah Bang Radhif yang kurang bersahabat. Entah karena lelah atau banyak masalah yang tengah difikirkan oleh Bang Radhif.


"Kita ke tempat anggotamu dlu ya. Aku ingin berterimakasih atas bantuan mereka. Bagaimanapun juga tanpa bantuan mereka kondisi istriku bisa saja tidak tertolong," ucap Radhif sambil menepuk pundak Heru.


"Siap, Bang!" balas Heru singkat kemudian mengikuti langkah Radhif yang telah berjalan terlebih dahulu.


Derap langkah kaki keduanya terdengar memenuhi lorong rumah sakit yang mulai lengang karena sang waktu terus berpacu. Udara malam kota Malang mulai terasa mengigit. Kini keduanya berhenti tepat di sebuah ruangan yang berada di bagian ujung lorong tersebut.


"Betul di sini ruangannya, Her?" suara Radhif memecahkan kesunyian.


"Siap, Bang!" balasnya.


Keduanya pun masuk dan mendapati Dwi sedang duduk di samping pria yang terbaring di atas tempat tidur besi milik rumah sakit.


"Assalamualaikum, bagaimana keadaan anggotamu, Dek?" tanya Radhif pada Dwi yang sontak berdiri karena melihat kedatangan Bang Radhif dan Heru kawannya itu.


"Baik, Bang. Hanya saja butuh beberapa jam untuk memulihkan kondisinya setelah transfusi darah tadi. Saya sudah memberikan susu dan juga minuman yang mengandung kacang hijau kepada Sersan Agung agar kondisinya segera membaik," jelas Dwi dengan kepada abang lettengnya itu.


"Saya sangat bersyukur ada kalian di sini. Semoga Allah membalas budi baikmu. Dari lubuk hati yang paling dalam saya ucapkan banyak terimakasih, entah apa jadinya istri saya bila tidak ada kalian semua. Terutama anggota kalian ini yang dengan sukarela mendonorkan darahnya demi kesembuhan istri saya," ujar Radhif dengan mata berkaca-kaca. Radhif memandang ketiganya satu persatu dan menyalami mereka.


"Jang sungkan, Bang. Kami akan membantu sebisa kami. Saya mohon maaf karena kesalahan saya sampai-sampai Mbak Mayang menjadi seperti ini," ucap Dwi dengan hati-hati. Dirinya merasa bersalah atas kejadian yang menimpa istri seniornya itu. Tapi secara keseluruhan bukan kesalahan penuh pada dirinya karena saat itu Mayang yang berlari dan tak memperhatikan motor yang dikendarai olehnya.


"Jangan merasa bersalah, Dwi. Ini kecelakaan yang tidak di sengaja, aku tahu waktu itu Mayang sedang panik dan tak memperhatikan jalan sehingga menabrak motor yang kamu kendarai. Mungkin ini suatu teguran untukku agar aku lebih waspada dalam menjaga Mayang. Aku juga harus belajar mengontrol emosiku," jawab Radhif dengan tatapan sedih dan kecewa.


"Terima kasih atas pengertian Bang Radhif. Semoga Mbak Mayang bisa pulih kembali. Saya pribadi akan siap membantu abang kapan saja bila dibutuhkan," ujar Dwi dengan mantap.


"Terima kasih banyak, Heru, Dwi," balas Radhif. " Semoga lekas pulih ya, Agung. Terima kasih atas pertolonganmu, saya berhutang budi kepadamu," ucap Radhif seraya menepuk pundak Sersan Agung yang masih terbaring.


"Siap, Danki. Saya senang bisa membantu, hanya ini yang bisa saya lakukan," balas pria yang bernama Agung.


"Saya pamit dulu untuk bertemu dokter yang menangani istri saya. Dua kantong darah ini akan saya bawa kepada perawat agar bisa digunakan pada saat proses operasi nanti.


"Siap, Bang!" balas Heru dan Dwi bersamaan.


"Izin, Bang. Nanti saya akan menyusul abang ke ruang dokter. Tapi sebelumnya saya hendak menemani Dwi di sini hingga mereka kembali ke batalyon, seru Heru sesaat sebelum abang lettengnya itu berlalu.


"Baiklah, Her! Aku tunggu ya," balas Radhif kemudian pergi meninggalkan ketiganya dalam ruang tersebut.


Hati Radhif sedikit lega saat berjalan menuju ruang dokter yang menangani Mayang. Tangannya menggenggam erat dua kantong darah yang sangat dibutuhkan oleh istrinya. Dalam hatinya dia berharap kondisi Mayang akan segera pulih dan bayi dalam kandungannya bisa diselamatkan.


Setibanya di depan ruang dokter Vivian langkah kaki Radhif yang tadinya berjalan terburu-buru mendadak bergerak perlahan. Sejenak Radhif menarik nafas dan menghempaskannya dengan kasar. Dia ingin memantapkan hati dan juga mentalnya untuk menerima kabar tentang keadaan Mayang.


"Tok...Tok...Tok...!" Radhif mengetuk pintu ruangan itu perlahan.


Terdengar langkah kaki seseorang membukakan pintu. Muncul seorang perawat mempersilahkan Radhif masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Silahan masuk, Pak Radhif. Dokter Vivian sudah lama menunggu kedatangan Anda. Apa Anda membawa kantong darah yang akan digunakan? Saya akan membawanya ke ruangan dimana istri Anda di rawat," ucap wanita berseragam putih itu kepad Radhif.


"Ini, Sus. Sudah saya bawa dua kantong darah yang sama dengan istri saya," balasnya sambil menyerahkan kantong darah yang ditaruhnya dalam sebuah plastik.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak Radhif," balas wanita berseragam putih itu kemudian pergi meninggalkan Radhif dan Dokter Vivian dalam ruangan itu.


"Permisi, Dok. Maaf saya sedikit terlambat," ujar Radhif saat memasuki ruangan dan mengambil posisi berdiri di hadapan Dokter Vivian yang saat itu tengah berdiri karena melihat kedatangannya.


"Mari, silahkan duduk, Pak Radhif. Ada yang ingin saya sampaikan. Keadaan Ibu Mayang saat ini sangat kritis. Sebenarnya kami akan bisa saja melakukan 'kuret' akan tetapi lebih efektif bila melakukan operasi sebab empat embrio yang berada dalam rahim istri Anda tidak bertumbuh dengan baik. Sepertinya Ibu Mayang hamil di luar kandungan, dan itu bisa beresiko bila dipertahankan. Oleh sebab itu, saya hendak melakukan operasi sekaligus mengangkat usus buntu yang di derita istri Anda. Usus buntu itu juga yang menyebabkan nyeri tak tertahankan pada perut pasien, " jelas Dokter Vivian panjang lebar.


Mendengar hal tersebut membuat dirinya berfikir dua kali. Dia sangat takut jika Mayang mengetahui bahwa dirinya harus kehilangan anak yang dikandungnya. Anak buah pernikahannya dengan Radhit. Radhif khawatir dan cemas bila hal ini akan menjadi trauma baru bagi istrinya itu.


"Apa benar bayi dalam kandungan istri saya tidak berkembang dengan baik, Dok? Apa memang harus dilakukan 'kuret' serta operasi?" tanya Radhif dengan nada bergetar.


"Iya, Pak. Saya harus mengangkat keempat embrio itu sebab bila dipertahankan juga akan sia-sia saja karena mereka tidak bisa mendapat asupan makanan untuk bertumbuh. Itu sangat beresiko bagi sang ibu yang mengandung," jelas sang dokter lagi. Kali ini dia memperlihatkan gambar dan juga beberapa kasus yang serupa dengan keadaan Mayang istrinya.


"Cuma saya takut istri saya trauma dengan keadaan ini. Bagaimana cara saya mengatakannya nanti saat dua siuman, Dok," seru Radhif tertunduk lesu. Dia masih belum bisa menerima semua diagnosa yang dijabarkan oleh Dokter Vivian.


"Kita fikirkan saja dlu kesehatan istri Anda. Masalah lainnya bisa kita upayakan nanti ketika keadaan istri anda sudah benar-benar pulih," ucap Dokter Vivian mencoba menenangkan pria yang duduk dihadapannya itu agar tidak gusar dan dapat menentukan keputusan demi kesembuhan istrinya. Itu berarti tanggungjawabnya juga sebab Mayang kini adalah pasiennya yang harus diberi pertolongan secara totalitas.


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok. Selamatkan lah Mayang istri saya, bagaimanapun caranya!" seru Radhif mencoba memantapkan diri untuk memberi keputusan yang tepat demi kesembuhan Mayang.


"Baik, Pak Radhif akan saya usahakan sebaik mungkin. Saya hanya manusia biasa, selebihnya Anda harus berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa," balas sang dokter seraya menyerahkan sebuah berkas kepada Radhif.


"Silahkan Anda tandatangani berkas ini agar kami bisa melakukan operasi dan menyelamatkan Ibu Mayang," serunya lagi. Dokter Vivian kemudian menyodorkan sebuah pena kepada Radhif.


Gejolak dalam hatinya membuat dirinya tertegun sesaat. Ditatapnya kertas yang berisi perjanjian 'pra operasi' itu dengan seksama. Raut wajahnya memancarkan kesedihan yang sangat dalam. Dia tahu keputusan ini sangat berat. Namun, semua itu demi kebaikan Mayang dan juga demi kesehatan istrinya tersebut.


Setelah berfikir cukup lama akhirnya Radhif menandatangani berkas tersebut dan menyerahkannya kepada Dokter Vivian.


"Terima kasih, Pak Radhif. Semoga dengan melakukan operasi keadaan Ibu Mayang akan segera membaik. Jika kesehatannya sudah benar-benar pulih, kalian bisa melakukan program kehamilan lagi meskipun tidak dalam waktu dekat ini. Karena istri Anda habis melakukan operasi maka paling tidak dia bisa mengikuti program hamil setelah bekas operasinya benar-benar pulih," jelas sang dokter. "Tapi jangan khawatir, Pak Radhif. Banyak obat-obatan herbal yang bisa memulihakan bekas operasi dengan cepat. Itu berarti Pak Radhif bisa memiliki momongan tidak harus menunggu setahun lebih," ucap Dokter Vivian pada Radhif sebab dia tahu pastinya Radhif menginginkan istrinya bisa segera hamil kembali setelah kejadian yang merenggut bayi dalam kandungannya itu.


"Operasinya akan dilakukan satu jam lagi. Sebelum operasi, Pak Radhif bisa menemui istri Anda di ruang 'IGD'. Saat istri Anda masih belum siuman karena kehilangan banyak darah saat keguguran tadi. Perawat telah menyiapkan ruang VVIP yang sudah di 'booking' oleh teman Anda tadi. Setelah istri Anda selesai menjalani operasi kami akan memindahkannya di ruang tersebut.


Dalam diam Radhif terus saja berfikir, apa yang akan disampaikannya kepada Mayang. Bagaimana cara dia menyampaikan berita ini kepada istrinya itu. Dia khawatir Mayang akan merasa terpukul dan trauma hamil setelah kejadian yang menimpanya hari ini.


'Apa yang harus hamba lakukan, ya, Allah. Berilah hamba petunjuk. Kuatkanlah hati dan mental Mayang agar dapat menerima semua musibah ini, ya, Allah. Kepada-Mu hamba berserah diri,' doa Radhif dalam hati.


...💞💞💞💞...


*Bagaimana cara Radhif mengatakan semua ini kepada Mayang nantinya?


*Sanggupkah Mayang menerima bahwa dirinya telah kehilangan buah cintanya dengan mendiang Radhit?


Nantikan kelanjutannya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" Part 84. Terimakasih 🙏😊😍


Jangan lupa like, vote, dan komennya yang membangun ya teman-teman semua.


Karena semua itu bisa menjadi imun dan penyemangat untuk Author dalam menulis, mohon maaf apabila masih banyak kekurangan, karena Author masih pemula, semoga bisa lebih baik lagi kedepannnya 🙏😊🤩



__ADS_1


__ADS_2