
๐ Gunung Semeru๐
Waktu 30 menit cukup untuk beristirahat, menghilangkan rasa letih, haus dan lapar.
Perjalanan menuju pos 3 normal memakan waktu sekitar 45 menit.
Rute yang sama ketika mendaki dari pos 1 menuju pos 2, akan tetapi kali ini yang membedakan perjalanan dari pos 2 menuju pos 3 adalah rutenya yang sedikit panjang dan memutar.
Setelah melewati perjalanan panjang dari pos 2 menuju pos 3, akhirnya kami tiba di pos 3 tersebut. Disinilah kami mempersiapkan fisik dan mental menuju pos 3 yang rutenya sangat curam dan terjal.
Mengisi tenaga dengan memasak perbekalan seadanya, tak lupa sholat ketika tiba saatnya untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim. Seperti saat-saat sebelumnya, jika tiba waktunya untuk beristirahat setelah mencapai pos, kak Radhif akan selalu ada untukku, memberiku minum dan bekal roti yang dibawanya, tak lupa mengajakku dan Niar untuk salat.
Dengan salat kami akan merasa lebih dekat serta dilindungi oleh Sang Khalik, dan dapat menemukan keberadaan kak Radhit. Meskipun lelah dan letih, namun semangat kami untuk melakukan pencarian tidaklah putus sampai disitu.
Berbekal doa dan perbekalan seadanya kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos 4.
Ketika beristirahat di pos 3 tadi, kak Radhif membuatkanku makanan siap saji yang dibawanya sebagai bekal.
Aku sering memakannya, karena Ayah adalah anggota TNI AD, makanan seperti itu sering dibawanya pulang kerumah. Rasa rindu akan rumah pun menyeruak memenuhi rongga dadaku, kangen pada Ibu. Untunglah ada mas Gilang yang menemaniku disaat seperti ini.
Kakak sulungku yang merupakan sosok pengganti almarhum Ayah. Bijak, tegas dan disiplin.
Akan tetapi, hatinya sangat lembut dan penyayang.Bersyukur aku dikelilingi oleh orang-orang yang sangat mencintaiku.
"Dek, saat istirahat jangan melamun ya. Kalo pengen ngobrol atau ada unek-unek ceritakan saja padaku, aku siap mendengarkan keluh-kesahmu," ujar kak Radhif disela-sela perjalanan menuju pos 4.
"I...iya Kak. Gak ada yang aku fikirkan kok. Hanya mengingat masa-masa dulu aku mendaki bersama kak Radhit," ucapku lirih menahan kesedihan yang mendalam.
Pendakian ini, membuka kembali memori akan kebersamaanku ketika menjadi anggota baru HIMAPALA kampus. Pendakian pertamaku dan mungkin saja menjadi pendakian terakhir bersama orang yang aku cintai.
Namun pemikiran negatif aku tepis jauh-jauh, berusaha berbesar hati, berharap kak Radhit akan di temukan dalam keadaan hidup. Detik-detik akhir rute atau jalur pendakian dari pos 3 menuju pos 4 terlihat pemandangan yang indah, sangat memanjakan mata para pendaki.
Masih teringat jelas ketika itu, kak Radhit mengabadikan saat itu bersama para anggota baru HIMAPALA, dan saat itu pula pertama kalinya kami berdua berfoto bersama. Menjadi sebuah momen yang sangat indah serta kenangan manis yang takkan mungkin dapat terlupakan.
__ADS_1
Sesampainya di pos 4, lelah ini hilang ketika melihat indahnya pemandangan di daerah Ranu kumbolo atau Danau Ranu.
Kami memutuskan untuk bermalam di Ranu Kumbolo, membuat tenda tepat berada di cekungan dua bukit. Dengan tujuan ketika terbit fajar pagi nanti, akan nampak pemandangan yang luar biasa indah, disaat biasa cahaya mentari menyinari air Danau Ranu.
Ketika berada di gunung Semeru dan di suguhi pemandangan indah Danau Ranu secara tidak langsung mampu memberikan kekuatan pada pendaki untuk lebih bersemangat mencapai puncak Mahameru.
Malam ini para anggota mas Gilang dan kak Radhif memasak ransum dan kopi sebagai makan malam kami, sedangkan anggota tim SAR dan relawan memasak nasi serta mie yang mereka bawa. Malam itu danau ranu cerah tanpa kabut atau awan hitam. Cahaya bulan sangat indah, udara terasa indah menggigit tulang.
Kak Radhif membawakanku segelas teh jahe dan sebuah nasi ransum untuk makan malamku.
Berbarengan dengan mas Gilang yang membawakan aku supermi rebus serta segelas air putih.
"Eh...buat siapa tu teh dan nasi ransum yang kamu bawa Dif?" tanya mas Gilang pada letengnya itu.
Dengan senyum tipis kak Gilang berkata, "Buat Mayang, kan kamu tadi sibuk di belakang deketin Niar yang lagi masak. Makanya aku bawain makanan ini untuk adikmu, ntar kalo ada apa-apa, aku juga yang kena imbasnya."
"Seriusan loh itu buat Mayang?" tambah mas Gilang tak percaya. Kak Radhif mengangguk sambil berpaling meninggalkan mas Gilang yang masih memegang nasi dan segelas air. Kak Radhif berjalan ke arahku yang sejak tadi duduk termenung didepan tenda. Menatap langit yang cerah penuh cahaya bintang bertaburan dilangit.
Sejenak kak Radhif berjongkok sambil menyodorkan teh dan kaleng nasi ransum padaku, "Nih...,Makan malam buatmu, Dek.
Kata-kata kak Radhif begitu singkat namun dalam, membekas dihatiku.
Jauh didalam lubuk hati ini aku membenarkan setiap kata-kata yang terlontar darinya.
'Kau sangat bijaksana kak, sama seperti kak Radhit,' bisikku dalam hati. Kak Radhif menemaniku sambil mendengarkan lantunan sholawat dari HP miliknya. Usai memakan jatah malamku yang tak habis aku makan, aku menyeruput teh jahe yang dibawakan oleh kak Radhif.
"Enak banget teh jahenya. Ini kak Radhif yang buat?" tanyaku sambil menoleh ke
arahnya.
"Iya, teh jahe special teruntuk adik dari sahabatku," tutur kak Radhif penuh makna.
Malam ini terasa sangat dingin, meskipun aku sudah menggunakan kaos kaki dan sarung tangan tetap saja tubuhku terasa kedinginan.
__ADS_1
Entah mengapa kepalaku terasa berat, seperti habis meminum obat tidur.
Malam itu aku tidur lebih awal dibanding hari-hari biasanya. Hanya Niar yang masih duduk didepan tenda bersama mas Gilang dan kak Radhif.
Dan lagi-lagi ketika aku tertidur pulas, kak Radhit kembali hadir dalam mimpiku.
Kali ini kak Radhit menghampiriku, memegang kedua tanganku. Diwajahnya nampak raut bahagia, tersenyum manis sembari menatap lembut padaku.
Tak sepatah kata terucap dari bibirnya, hanya senyum yang selalu terukir.
'Aku tak faham dengan tatapanmu itu Kak,' ucapku lirih dalam hatiku.
Tiba-tiba aku terbangun, tersadar dari mimpiku.
Berharap kak Radhit datang menemuiku, kembali mengarungi hari-hari bahagia bersama.
'Ya, Allah jagalah kak Radhit, sedikit lagi kami akan mendaki menuju tanjakan cinta. Semoga saja benar apa yang aku lihat dalam mimpiku, semoga aku dapat menemukanmu Kak,' doaku dalam hati.
Jam menunjukan pukul 11.00 Wib. Bergegas kami berkemas dan mempersiapkan diri melanjutkan pendakian. Setelah siang tadi para tim SAR, relawan serta personil TNI yang dibawa mas Gilang dan kak Radhif menyisir area setempat tapi belum menemukan tanda atau jejak dari kak Radhit.
Kamipun melanjutkan perjalanan malam ini menuju Cemoro Kandang. Jalur Cemoro Kandang adalah jalan yang akan kami lewati sebelum menuju Tanjakan Cinta dan Oro-Oro Ombo. Tanjakan Cinta berada ditengah-tengah rute tersebut. Dimana Tanjakan Cinta merupakan tanjakan curam yang harus dilewati sebelum menuju Oro-Oro Ombo.
Sedangkan Oro-Oro Ombo sendiri adalah padang luas yang berisikan rerumputan, pepohonan.
Disaat mengemas perlengkapan, sayup-sayup aku mendengar bisikan di telingaku.
Seperti suara seseorang yang mengatakan, "Jangan menyerah! Sudah dekat May," suara itu terdengar sangat jelas.
๐Bersambung๐
*Apakah Mayang akan menemukan Radhit?
* Misteri apa yang sebenarnya menyelimuti Tanjakan Cinta?
__ADS_1
Nantikan kisah selanjutnya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" part 32. Terimakasih ๐๐ค