TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# PART 14


__ADS_3

**Kost, pukul 20.00 Wib**


Sesaat aku terlelap ketika menantikan adzan Isya, sejenak terlupakan olehku kejadian sore tadi.


Sambil mengusap mata dengan kedua tanganku, aku meraih HP yang ada di samping bantalku.


Jika bukan karena alarm HP, aku pasti akan tertidur pulas dan melalaikan kewajibanku sebagai seorang muslim.


Setelah mandi dan sholat maghrib tadi, karena lelah yang menggerogoti raga dan batinku membuatku tertidur, untung saja sebelum tidur aku sempat memasang alarm di HPku.


Dengan langkah kaki yang sedikit gontai, aku berjalan menuju arah kamar mandi, didepan kamar mandi tersedia kran air untuk berwudhu.


Setelah selesai mengambil wudhu, akupun masuk ke kamar dan melaksanakan sholat Isya yang sempat tertunda.


Dalam sujudku aku berdoa dan berserah diri.


Memohon petunjuk sang Khalik dalam melangkah.


Didalam doaku aku berkata dalam hatiku, jikalau kak Radhit adalah jodohku maka dekatkanlah kepadaku, tapi bila jodohku bukan dia maka jauhkanlah, dan aku berdoa memohon agar pertemananku dengan Setyo baik-baik saja.


Ada sedikit rasa bersalah terhadap Setyo.


Aku berharap kekacauan ini segera berakhir.


Semoga kembali seperti dulu lagi.


Selepas menunaikan ibadah sholat aku kembali membaringkan tubuhku.


Kuraih HPku, kubuka ikon kontak di HPku, mencari nama mas Gilang yang ada di dalamnya.


Jika aku memutuskan untuk menjadi anggota HIMALAPA tak mungkin aku mendaftar tanpa sepengetahuan mas Gilang, karena mas Gilang kakak sulungku dialah yang bertanggung jawab dalam keluargaku, yang menggantikan sosok Alm. Ayah.


Tidak mungkin aku mengambil keputusan tanpa ijin terlebih dahulu kepadannya.


Biarlah mas Gilang yang membantuku memberitahu Ibu, jika memang mas Gilang menyetujui keinginanku untuk bergabung menjadi anggota HIMAPALA.


Kemudia aku ketik pesan yang aku tujukan kepada mas Gilang, yang isi pesannya berbunyi, ("Assalamu'alaikum, mas Gilang maaf mengganggu. Mas Gilang sedang apa? Apa mas Gilang sedang sibuk? Ada yang ingin aku sampaikan.")

__ADS_1


Begitulah isi pesanku yang aku kirim untuk mas Gilang.


Selang beberapa saat, ada dering sms yang masuk, ternyata mas Gilang sedang ada kegiatan apel malam, dan dia mengirimku pesan singkat bahwa setelah kegiatannya selesai dia akan menelponku.


Ada sedikit rasa takut dan was-was jika mas Gilang akan menanyakan alasanku untuk mendaftarkan diri menjadi anggota HIMAPALA.


Apa yang harus aku katakan, aku takut bila suatu saat mas Gilang tahu bahwa aku memutuskan menjadi anggota HIMAPALA karena kak Radhit.


Sesaat aku merasa terjebak di dalam jerat cinta ini, seakan tenggelam dalam permainan dewi cinta.


Harusnya aku bisa melepaskan jeratan ini, tapi aku sudah terlanjur masuk di dalamnya, dan tak mungkin aku lepaskan tanpa menyakiti seorangpun.


Ya...Allah apa yang harus aku lakukan.


Haruskah aku lari dari semua kenyataan ini.


Andaikan dulu aku mengikuti saran mas Gilang untuk mengikuti tes KOWAD di daerah kami, aku tak akan bertemu dengan kak Radhit dan juga setyo.


Dan aku takkan pernah merasakan dilema ini, dilema cinta yang mengusik hari-hariku sejak menapakkan kakiku di kampus ini.


Terdengar langkah kaki menuju kamarku, pintu kamarku pun bergeser oleh seseorang yang berada di luar kamar.


Sambil tersenyum Ika meraih bantal guling yang berada di sampingku sambil berkata, " maafkan aku ya May, tadi aku dan Restu bertemu dengan kak Radhit saat akan ke toilet setelah jam kuliah berakhir.


Kak Radhit sempat menceritakan apa yang terjadi antara kau dan dia.


Kesalah fahaman yang terjadi antara kalian.


Sengaja kami meninggalkanmu karena kak Radhit berencana akan menemuimu setelah jam kuliah berakhir tadi.


Tapi ternyata Setyo juga menunggumu.


Saat kami akan kembali, aku dan Restu melihat Setyo mencoba mendekatimu,aku sempat fikir mungkin itu akan membantumu melupakan kejadian antara kau dan kak Radhit dengan menerima Setyo.


Sudah sejak lama Setyo menaruh hati padamu.


Namun kau tak pernah tahu itu May."

__ADS_1


Seketika itu juga aku tersadar, kata-kata Ika serasa bagai belati tajam yang menghujam jantungku.


Ada semburat sedih yang aku lihat di wajah Ika saat sahabatku itu menceritakannya.


Dan akupun semakin merasa bersalah kepada Setyo.


Aku tak pernah tahu kalo dia menyukaiku.


Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai kawanku, sama sepeti teman cowok lain yang seangkatan dengan kami.


Meski terkadang sikap Setyo kepadaku aku rasa berbeda bila dibandingkan dengan sikapnya terhadap teman wanita sebaya lainnya di kelas kami.


Ternyata selama ini aku kurang peka dengan cara dia memperlakukanku.


Dan malam ini dari Ika aku tahu, ternyata sosok pengagum rahasiaku yang sering menaruh coklat berhiaskan pita pink tak lain adalah Setyo, dia yang sering menaruh coklat kesukaanku itu di bawah laci mejaku dengan menggunakan singkatan 'SDA' yang berarti singkatan nama dari Setyo Dwi Ardianysah.


Dan bodohny aku, aku mengira itu dari kak Radhit.


Aku mengira kak Radit yang menuliskan singkatan 'SDA' karena rumahku berada di daerah Sidoarjo yang di singkat 'SDA'.


Tololnya aku, mengabaikan orang yang mencintaiku.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, biarlah Allah yang menentukan semuanya.


Semakin aku fikirkan semakin galau dan gelisah rasa hatiku.


Apakah aku harus menerima kak Radhit atau berpaling kepada Setyo?


******


*Apa yang akan keputusan Mayang?


*Apakah Mayang akan menerima Radhit dan menjadi anggota HIMAPALA?


* Ataukah Mayang akan menerima Setyo yang pada akhirnya ketahuan menyimpan rasa cinta kepada Mayang?


*Dan apakah mas Gilang menyetujui keinginan Mayang untuk mendaftar menjadi anggota HIMAPALA?

__ADS_1


Tunggu kisah selanjutnya pada part 15, Trimaksih 🙏😊


__ADS_2