
...PERJALANAN PULANG KE SURABAYA...
...Pertemuan Radhif dengan Setyo...
...untuk kedua kalinya...
...****"""""******...
Hari berganti hari, tak terasa hampir seminggu kami menghabiskan waktu di kota yang terkenal dengan kota pendidikan, kota apel dan bumi arema (salah satu tim sepak bola yang berasal dari Kota Malang).
Meskipun belum puas menikmati keindahan kota Malang yang kaya akan destinasi wisata serta berbagai macam kulinernya yang khas. Kini tiba saatnya untukku dan Kak Radhif kembali ke tempat asal kami yaitu Kota pahlawan (Surabaya).
Masa cuti Kak Radhif akan segera habis dan Kak Radhif harus segera kembali kesatuannya untuk melaksanakan tugas.
"Dek, sore ini sebelum kita melakukan perjalanan pulang kita temui dulu Heru di batalion tempatnya berdinas. Ada yang ingin aku berikan sebagai ucapan terimakasihku untuknya karena telah meminjamkan villa milik keluarganya untuk kita," ucap Radhif sambil menyiapkan sebuah kotak yang akan diberikannya kepada adik asuhnya tersebut.
"Baiklah, Kak. Aku akan bersiap-siap terlebih dahulu. Semua bawaan sudah aku packing, dan baju yang akan Kak Radhif gunakan sudah aku siapkan di atas ranjang," ujarku sembari melangkah menuju kamar mandi.
Tanpa menunggu balasan darinya aku pergi, meninggalkannya yang sibuk dengan aktivitasnya menyiapkan bingkisan sebagai kenang-kenangan untuk Heru sang pemilik villa.
Seharian mengepak barang bawaan membuat tubuhku merasakan lelah dan letih. Terlintas dalam benakku untuk memanjakan diri. Berendam dalam air hangat dengan campuran sedikit 'essential oil' yang mengandung aromatherapy sepertinya hal yang menyenangkan. Aromatherapy sangat membantuku membentuk 'good mood' alias 'mood booster'. Apalagi di saat hamil seperti ini aku merasakan perubahan drastis dalam diriku. Perubahan hormon yang membuat emosiku menjadi tidak stabil, lekas lelah dan juga sensitif terhadap sesuatu hal. Bahkan aku yang memiliki karakter cuek dan tomboi jadi perasa dibandingkan sebelum masa kehamilan.
Dengan diiringi lirik dan syair lagu melow milik 'Savage Garden' aku memasuki 'Bathub' yang sudah terisi penuh air hangat dan 'essential oil', kali ini aku memilih aroma citrus yang segar sebagai 'aromatheraphy' untuk membantuku merilekskan tubuh dan fikiranku, aku mencoba melepaskan segala kepenatanku.
Terbuai dengan alunan musik dan 'aromatherapy' membuatku lupa waktu saat berendam.
Terdengar suara Kak Radhif dari balik pintu.
'Tak hanya memanggilku, Kak Radhif juga mengetuk dengan kuat pintu kamar mandi, seolah-olah ingin merobohkannya, jika saja aku tidak menyahut panggilan tersebut pastilah pintu dan dinding itu akan runtuh di buatnya,' batinku kesal.
"Dek, apa kau baik-baik saja?" panggilnya lagi sesaat setelah berhenti menggedor pintu kamar mandi dengan kasar.
TOK...TOK...TOK...
terdengar lagi pintu kamar mandi di ketuk dengan kuat.
"Mayang!"
"Bisakah aku menggunakan kamar mandi? Sepertinya ada yang tak beres dengan perutku," teriaknya dari luar kamar mandi.
Dengan cepat tanganku menyambar handuk dan piyama, kemudian mengambil baju gantiku yang belum sempat aku kenakan akibat ulah Kak Radhif tadi. Aku lalu berjalan meninggal 'buthup' tempatku berendam, menggunakan piyama mandiku kemudian beranjak ke arah pintu. Tanganku dengan cepat membukakan gagang pintu yang terkunci, pintu yang hampir saja roboh akibat kepanikan Kak Radhif.
"Lihat nie,aku baik-baik saja kan! Hanya saja aku tadi sedang berendam di dalam 'buthub', sehingga aku tak sadar sempat tertidur sejenak saking nyamannya berendam dengan air hangat yang sudah aku beri 'essential oil'," balasku saat berdiri dihadapannya sembari tersenyum, mencoba menjelaskan hal tersebut padanya.
Saking tergesa-gesa aku tadi, ternyata aku keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan piyama dan handuk yang membungkus kepalaku.
Tidak seperti biasaya jika keluar dari kamar mandi aku menggunakan pakaian lengkap. Aku tahu jika kami berdua belum saatnya melakukan hubungan sepantasnya pasangan suami istri pada umumnya, maka sebisa mungkin aku mencoba menjaga penampilanku tidak terlihat vulgar di depan Kak Radhif. Sebab penampilan yang terlihat seksi dan vulgar akan dengan mudah membangkitkan gairahnya sebagai seorang pria dewasa.
Namun kali ini aku melupakan hal itu, untung saja Kak Radhif tidak sempat melirik penampilanku karena ada hal yang lebih penting sehingga membuatnya terburu-buru masuk ke kamar mandi tadi.
Mataku menatap ke arah kamar mansebhari iawatir bila tiba-tiba Kak Radhif keluar dari sana.
Secepat kilat aku menggunakan leging panjang berwarna hitam yang di padu dengan sebuah tunik putih yang panjang tanpa lengan, ada sebuah blazer hitam sebagai pelengkapnya.
Tak lupa aku menggunakan hijab putih polos berwarna senada dengan tunik yang aku pakai. Di 'combain' dalaman berwarna hitam produk dari 'Shanen'.
Usai mengenakan busana yang aku siapkan tadi, aku segera menuju meja rias yang berada tak jauh dari ranjang.
Di sana aku meletakan tas kecil yang berisi alat make up dan juga cream wajahku.
Pagi ini 'mood' untuk berdandanku sirna. Hanya dengan menggunakan tabir surya dan 'BB cream' secara tipis yang aku sapukan di wajahku serta lipstik berwarna 'peach' menyentuh bibirku sebagai sentuhan akhir menuntaskan 'project' hari ini sebelum melakukan perjalanan bersama Kak Radhif.
Alhamdulillah, dengan dandanan simpel dan sederhana seperti ini membuatku merasa nyaman.
"Krek....!" pintu kamar mandi berderik.
Mataku tertuju pada Kak Radhif yang berjalan keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk dan bertelanjang dada.
'Hmmmm....penampilannya membuatku jadi salah tingkah. Segera kualihkan pandanganku dan meraih 'mini bag' putih yang aku letakan di atas meja rias.
"Tap...!" tanganku di raihnya, kemudian di tariknya diriku dalam pelukannya.
"Jangan pergi! Aku tau kau malu melihatku seperti ini," ucapnya santai.
Aku tak mengatakan apapun, hanya tertunduk dan membisu. Sungguh aku tak berani memandangnya saat itu.
"Tetaplah di sini! Aku hanya mengambil pakaian yang akan aku kenakan. sebenarnya aku ingin memintamu mengambilkannya. Tapi aku tak ingin merepotkanmu,"
"Kau pasti lelah setelah seharian penuh mengemasi semua barang bawaan," ucapnya sembari mencium mesra keningku kemudian berlalu meninggalkanku.
15 menit berselang, Kak Radhif kembali setelah mengenakan busana yang telah aku siapkan tadi untuknya.
__ADS_1
jeans hitam dengan atasan kemeja bergradasi hitam.
Membuatnya terlihat sangat tampan.
Tak jemu-jemu mata ini memandangnya.
Hati ini pun merasakan hal yang sama, ada desiran didalamnya ketika memandang wajahnya yang damai dan tenang.
'Begitu beruntungnya aku mempunya suami yang sangat sabar, dewasa dan pengertian.
Sangat sulit mendapatkan imam yang mau mencintai seorang wanita apa adanya, apalagi dengan keadaanku seperti ini.
Seharusnya Kak Radhif bisa mendapatkan wanita yang lebih dariku, apalagi dengan latarbelakangnya serta posisinya saat ini tentulah banyak wanita yang mengantri untuk menjadi kekasih bahkan ingin menjadi pendamping hidupnya.
Tetapi dirinya rela mengorbankan semua itu demi aku dan anak yang ada dalam kandunganku,' bisikku dalam hati.
Kak Radhif berjalan ke arahku duduk di samping ranjang tepat di sebelahku.
mengusap pipiku dengan lembut dan menciumnya.
"Kau wangi sekali? Tak sia-sia aku membelikanmu 'essential oil'.
Sepertinya aku harus memesannya lagi dari sahabatku yang berada di Bali. Wanginya membuatku ingin selalu berada didekatmu. Aku tak ingin kembali ke tempat tugasku tanpa dirimu," ujarnya menggodaku.
"Tapi tadi kau melamun, apa yang tadi kau fikirkan?"
"Apa kau sedang mengagumi suamimu ini?" ucapnya sedikit narsis membuatku tersenyum.
"Ich...sejak kapan Kak Radhif suka memuji diri sendiri? Sekarang kok malah makin narsis aja banget dirimu, Kak!" kilahku mencoba menutupi kenyataan bahwa sebenarnya yang di katakan Kak Radhif itu memang benar adanya.
"Emang tampan kan? Kalo gak tampan mana mungkin kamu mau samaku," balasnya tak mau kalah.
"Hhhhhmmmm...iya aja deh, Kak. Dari pada Kak Radhif makin narsis," ujarku sambil melotok ke arahnya.
"Kamu kalo galak makin manis, May!" celotehnya sembari menarik tangan kananku dan menciumi punggu tanganku.
"Udah dong, Kak. Ntar kita kemalaman di jalan," balasku sambil menarik tanganku karena risih dengan perlakuannya yang super duper 'sweet' siang ini.
"Kita cari cari oleh-oleh untuk bulekmu dan orang rumah yuk, Dek. setelah itu kita ke tempat Heru," ucapnya lagi.
Kali ini di kembali menarik tangan kananku dan menggenggamnya erat.
"Tunggulah di sini, aku akan akan mengambil semua barang bawaan!" ucapnya.
Kak Radhif membukakan pintu depan dan menuntuntunku ke arah teras depan villa.
Disana ada sebuah ayunan kecil yang terdapat di pojok teras.
Kak Radhif menyuruhku menunggunya di sana sambil bersantai.
"Bruk...!"
"Brum..brum...brum...!" kak Radhif menutup bagasi dan menyalakan mesin mobil setelah memasukan semua koper ke dalam bagasi.
Nampak pak Deden dan istrinya menghampiri Kak Radhif.
Mereka membawakan sebuah besek dan juga sebuah kotak.
"Selamat jalan, ya, Den. Hati-hati di jalan saat pulang. Ini ada proll tape dan juga tape segar untuk oleh-oleh," ucap Pak Deden seraya memberi buah tangan itu kepada Kak Radhif.
"Terima kasih banyak, Pak. Maaf kalo kami udah merepotkan Bapak dan Ibu selama hampir seminggu ini," balasku.
"Terima kasih, ya, Pak. Maaf kami tidak bisa lama-lama di sini, karena saya harus segera kembali ke tempat tugas. Semoga Vivi anak Pak Deden segera sembuh," ucap Kak Radhif tulus.
Flash back
Saat itu, hujan deras. Pak Deden mengetuk pintu depan villa dengan kencang.
Dirinya panik karena anaknya yang bungsu dari 3 bersaudara sedang panas tinggi.
Suhu badannya yang tinggi membuat anaknya yang bernama Vivi itu gemetar dan mengigau.
Dengan bantuan dari Kak Radhif akhirnya Vivi dapat di bawa ke klinik terdekat.
Jika malam itu Vivi terlambat di obati makan nyawanya tidak tertolong.
Kak Radhif bukan hanya mengantarkan Vivi tapi membantu biaya pengobatan Vivi hingga anak bungsu dari Pak Deden tersebut sembuh.
Flashback off
"Kami pamit dulu ya, Pak-Bu. Insya'allah jika di beri rezeky dan umur panjang kami akan mengunjungi Bapak sekeluarga," pamitku dan Kak Radhif seraya menyalami keduanya.
__ADS_1
"Kami yang harusnya mengucapkan terima kasih,Den. Karena kebaikan dari Den Radhif makanya Vivi bisa tertolong," ucapnya dengan tulus dan mata berkaca-kaca.
"Jangan begitu, Pak. Itu sudah seharusnya saya lakukan, sudah kewajiban saya membantu sesama. Jangan sungkan Pak. kalo ada perlu Bapak bisa menghubungi saya. Kan sudah saya berikan no ponsel saya," ucap Kak Radhif lagi seraya menepuk pundak Pak Deden.
"Mari, Pak. Kami pamit ya. Sampai berjumpa lagi," tambahku sambil melambaikan tangan kepada keduanya.
Mobil kami pun menderu membelah jalanan di daerah pedesaan itu.
menyusuri sepanjang jalan kenangan selama kali berdua melewati hari-hari di villa yang memiliki pemandangan asri daerah perbukitan nan sejuk.
Kini kami harus kembali ke ibu kota, menghirup kembali udara kota yang penuh dengan polusi dan hiruk pikuk khas kota besar.
Suasana yang jauh berbeda ketika berada di villa tersebut.
Sepanjang perjalan menuju pusat kota mataku tak berkedip, sungguh aku merasa takjub memandang keindahan alam yang akan segera aku tinggalkan.
Rasa-rasanya jiwaku telah menyatu dengan tempat ini. Berharap bisa kembali lagi suatu saat nanti bersama orang yang aku cintai. Tentunya orang itu adalah Kak Radhif, suamiku tercinta.
"Kau masih belum bisa 'move on' dari tempat ini ya, Dek?"
"Aku bisa merasakannya dan melihat itu dari tatapan matamu," ujarnya sambil mengusap ujung kepalaku.
"Iya, Kak. Rasanya begitu damai, aku lebih suka dengan suasana pedesaan. Apalagi suasananya mirip dengan tanah kelahiranku di Papua. Meskipun sedikit berbeda tetapi udara dan pemandangannya yang asri dengan banyaknya pepohonan serta tumbuhan-tumbuhan hijau membuatku mengenang kembali masa-masa kecilku," balasku seraya membuang pandanganku jr arah luar jendela mobil.
Kak Radhif menggapai jari jemariku dan menciumnya sembari berkata, "Ikutlah bersamaku ke tempat tugasku. Di sana dirimu akan dimanjakan dengan pemandangan pantai yang indah," jelas Kak Radhif padaku.
Ya, aku tahu bahwa tempat Kak Radhif berdinas di Sorong, kota itu memiliki pemandangan pantai yang sangat memukau. Meskipun aku sendiri belum terlalu mengenal seluk-beluk kawasan itu. Tapi aku pernah mendengarnya dari mendiang papaku.
"Gimana dengan kuliahku? Bukankah aku hanya cuti satu semester ini saja Kak?Biarkanlah aku di sini, hingga aku menyelesaikan skripsiku. Bila semua sudah selesai aku akan pergi bersama Kakak. Aku berjanji akan menemani Kak Radhif dimanapun Kaka Radhif bertugas," balasku.
Mendengar perkataanku tadi seketika Kak Radhif menghentikan mobil, menepikannya di pinggiran kebun teh yang subur. Dengan penuh kasih dipeluknya diriku dan mencium mesra kening serta ujung kepalaku.
Seakan-akan tak ingin melepaskanku.
"Kak, kalo lama berhenti di sini kapan kita sampainya?" protesku.
"Diamlah!"
" Aku ingin memelukmu sebentar saja, jangan mengusikku. Sekali lagi kau bersuara aku akan memberimu hukuman," kilahnya sembari merapatkan dekapannya.
Pelukan itu begitu hangat penuh cinta kasih yang tulus.
Aku membiarkannya hingga akhirnya Kak Radhif melepaskanku dari dekapan cintanya.
"Kau berjanji akan selalu menemani kemanapun aku pergi, Mayang?" tanyanya padaku sambil membelai hijab yang menutupi mahkotaku.
"Iya, aku berjanji, Kak. Kemanapun Kak Radhif pergi aku akan selalu setia menemani. Jika kuliahku telah rampung, aku berjanji akan selalu berada di sisi Kak Radhif," ucapku sungguh-sungguh.
Tatapan wajahnya penuh kebahagiaan mendengar setiap ucapan yang terlontar dari bibirku, cahaya matanya nampak berbinar, menandakan kebahagiaan yang menyelimuti hatinya.
Aku tak menyangka ucapanku tadi memberi semangat baru dalam hubungan kami.
Karena aku tahu selepas menikah, kehidupan kami masih belum sempurna layaknya pasangan suami istri yang telah menikah secara sah.
Namun aku yakin Kak Radhif dan aku dapat bertahan melewati ujian ini bersama-sama, karena pernikahan kami terjadi karena Allah yang telah mempertemukan kami dalam jalinan suci ini.
Cinta Kak Radhif begitu tulus untukku, aku bisa merasakannya sejak awal aku melihatnya.
Aku berharap dirinya akan menjadi imam untukku serta anak-anak kami kelak, yang akan membawa kami menggapai kebahagian baik di dunia maupun di akherat kelak.
****""""""****
Sekilas tentang part 78....
Mayang tak mengetahui bahwa batalion tempat Heru berdinas adalah batalion yang sama di mana Setyo berada.
Hal yang lebih menegangkan lagi, Setyo hari itu sedang bersama dengan Heru di kediamannya.
Apakah kebohongan yang telah disembunyikan rapat-rapat oleh Mayang dari Radhif akan terbongkar?
Bagaimana sikap Radhif ketika mengetahui bahwa pria yang ditemuinya beberapa kali ternyata adalah Setyo yang selama ini berusaha mendapatkan cinta Mayang kembali, meskipun dia tahu bahwa Mayang telah menjadi istrinya?
Simak terus kelanjutan kisah cinta Mayang dalam "TCM" part ke 78 ya teman-teman semua 🙏😍
Terimakasih sudah membaca hasil karya cikgu Maya, semoga teman-teman semua dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindungan ALLAH SWT. Aamiin, 🙏😊
NOTE : Jangan lupa like, vote, tips dan komennya yang membangun ya teman-teman semua.
Karena semua itu bisa menjadi imun dan penyemangat untuk Author dalam menulis, mohon maaf apabila masih banyak kekurangan, karena Author masih pemula, semoga bisa lebih baik lagi kedepannnya 🙏😊🤩
__ADS_1