
...----TAKDIR CINTA MAYANG----...
...PART 105...
----Keretakan mahligai pernikahan Mayang dan Radhif-----
(bagian ketiga)
----Rumah sakit M, pusat kota Malang---
Sepenggal part sebelumnya,
Radhif kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Dia sudah lupa tujuan awalnya ke tempat tersebut. Emosi sudah merasuki fikirannya. Cemburu buta membuat akal dan fikirannya tak bisa bekerja dengan baik. Yang ada hanya emosi dan kekesalan.
Tak berselang lama, Radif pun muncul. Sikapnya sungguh aneh pagi itu. Sikap Radhif yang awalnya baik-baik saja kini berubah setelah dia kembali dari luar. Membanting pintu kamar ruang inap. Menggerutu dengan mengeluarkan kata-kata yang kasar. Bahkan Radhif sempat membentak Mayang yang memintanya untuk memanggilkan dokter untuk mengecek kondisinya pagi itu.
"Kau, sudah tidak butuh dokter. Yang kau butuhkan hanya beristirahat yang cukup agar keadaanmu lekas membaik dan sembuh," ucap Radhif dengan wajah penuh emosi.
Mayang yang mendengar hal itu seketika terdiam dan tertunduk. Air matanya meleleh bagaikan daun yang berguguran di musim semi.
Hatinya semakin sakit ketika menerima perlakuan seperti itu dari Radhif yang masih berstatus suaminya yang sah.
'Mungkin memang benar, aku tak bisa melanjutkan skenario ini lagi. Aku harus mengakhiri semua ini, demi masa depanku dan juga masa depan kak Radhif,' batin Mayang dalam hati.
Derai air mata membasahi wajahnya. Namun, Mayang mencoba menahan semua itu dan berusaha terlihat tegar.
Mayang tak ingin kak Radhif mempertahankan bahtera rumah tangga mereka hanya karena kasihan dan simpatik kepadanya. Dalam fikiran Mayang, alangkah baiknya jika mereka segera berpisah. Baik secara agama maupun secara kedinasan. Semua ini demi kebaikan keduanya, begitulah fikiran Mayang untuk saat ini. Dia tak tahu apa semua itu baik atau buruk untuknya kedepan nanti. Yang difikirkan oleh Mayang hanyalah hidup bebas dari bayang-bayang masa lalu, meski begitu pahit untuknya.
...-----------------*****----------------...
Siang itu Radhif mendapat telpon dari Bu Dian. Seperti sebelumnya sang ibu meminta Radhif mengambil makanan yang telah di siapkannya. Meskipun telah mendapat jatah makan dari rumah sakit, Bu Dian masih menyempatkan diri membuatkan menu makanan sehat untuk Mayang.
Walaupun kini Bu Dian berharap Radhif berpisah dari Mayang, akan tetapi dirinya masih memikirkan kesehatan menantunya itu. Apa kata keluarga dari Mayang apabila mengetahui dirinya mengabaikan Mayang yang saat ini berstatus menantunya itu. Pastilah hal tersebut mencoreng reputasi keluarga Pratama.
Oleh karena itu, dirinya menyempatkan diri membuatkan makanan sehat untuk Mayang yang masih menyandang status sebagai istri dari putranya Radhif.
*****
Kepergian Radhif membuat Mayang sedikit leluasa. Di ambilnya amplob pemberian dari Heru adik asuh Radhif suaminya tersebut. Kemudian membuka isi amplob itu dan membaca isi surat yang ada di dalamnya.
Amplob itu berisi sepucuk surat. Dari tulisan tangannya, Mayang sangat mengenalinya.
"Tulisan ini...!!!
__ADS_1
'Apa benar ini tulisan Setyo?' ucapnya dalam hati sambil sesekali membalik kertas tersebut. Mayang berusaha memastikan dan meneliti setiap detailnya.
"Tapi mengapa Setyo menuliskan sebuah surat untukku?" ucap Mayang perlahan.
Dengan perasaan tak menentu Mayang membaca surat itu. Hingga tanpa di sadarinya, buliran bening mengalir dari sudut mata indahnya.
"Apa ini perbuatan Kak Radhif? Mengapa tiba-tiba Setyo harus pindah ke tempat yang sangat jauh?" ucap Mayang lirih.
Tangannya melipat kembali surat itu, kemudian meletakkannya di dalam laci nakas yang tak jauh dari tempat tidurnya.
sudah dua hari ini keadaannya mulai membaik. Mayang sudah bisa beraktivitas. Infus dan juga selang kateter telah dilepaskam dari tubuhnya. Kini dirinya sudah kuat berjalan dan juga ke kamar mandi tanpa bantuan orang lain.
******
Sudah sejam lamanya Radhif pergi, hingga saat ini dirinya belum juga kembali. Mayang membereskan pakaian bersih yang sepertinya sudah di 'Loundry' oleh Radhif.
Jam menujukkan pukul 08.00, biasanya suster akan datang mengecek keadaan pasien sebelum dokter mengunjungi sang pasien. Dokter yang menangani Mayang sudah dua hari ini tidak melakukan pengecekan atau pun mengontrol keadaannya. Hanya suster Niken dan juga rekannya yang mengecek kesehatan Mayang. Menurut keduanya sang dokter sedang sibuk mengikuti seminar, hari ini dokter akan mengecek keadaan Mayang.
Tok...Tok...Tok...
"Assalamualaikum," ucap seseorang dari balik pintu kamar yang tertutup.
"Wa'alaikumsalam," ucap Mayang kemudian berjalan perlahan menuju pintu kamar inap tersebut.
"Terima kasih, Bu Mayang. Apa Anda sudah merasa lebih baik?" tanya suster Niken kepada Mayang.
"Alhamdulillah, Sus. Saya sudah merasa baikan setelah obat yang suster berikan kepada saya. Ikan gabus yang suster berikan juga membuat stamina saya menjadi lebih kuat. Awalnya saya merasa lemah dan lesu. Tapi setelah meminum obat cina dan juga memakan rebusan ikan gabus selama dua hari ini membuat tubuh saya menjadi lebih bertenaga," jelas Mayang panjang lebar. Wajahnya terlihat begitu sumringah, berbeda dari hari-hari sebelumnya.
"Syukurlah, Bu Mayang," ujar suster Niken.
" Sebentar lagi Dokter Bima akan memeriksa keadaan Anda. Jadi tolong berbaring di ranjang, jangan meninggalkan kamar, ya, Bu Mayang," ucap suster Niken mengingatkan.
"Baik, Sus," balas Mayang.
"Saya pamit dulu, ya, Bu Mayang. Tiga puluh menit lagi saya akan kembali bersama dokter Bima," ucapnya lagi. Kemudian sang suster pun berpamitan dan meninggalkan Mayang di ruang inap itu seorang diri lagi.
*******
------Kampus X, Kota Surabaya-------
Ketiga sahabat Mayang yang bernama Niar, Ika dan Restu terlihat sedang memperhatikan ponsel yang berada di tangan Niar. Wajah ketiganya sangat serius kala memperhatikan benda pipih tersebut.
"Mayang keguguran? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa benar isi pesan Setyo ini?" ucap Restu dan Ika bersamaan.
__ADS_1
"Sepertinya benar. Itu ada foto Mayang saat di bawa kerumah sakit. Kata Setyo ini semua karena dirinya sehingga Mayang sampai keguguran," ucap Niar menjelaskan.
"Apa kita bertiga ke Malang aja hari ini, bukankah hari ini hingga 3 hari kedepan kita libur kuliah?" ucap Restu kepada dua sahabatnya itu.
"Niar apakah kami berdua boleh menumpang di rumah mu? Hanya semalam saja. Setelah menemui Mayang, kami akan pulang kerumah kami masing-masing. Kami berjanji takkan merepotkanmu," ucap Restu dan Ika kompak.
Niar hanya tersenyum melihat ekspresi penuh harapan dari kedua sahabatnya.
"Boleh tidak? Jangan senyum-senyum doank dong, Niar. Jawab dulu pertanyaan kami tadi?" desak Ika sembari berkacak pinggang.
"Eh, kayak ibu kost aja kamu, Cha. Ini mah bukan memohon tapi memaksa," protes Niar. Dia berbalik menuju bangku taman yang ada di belakangnya.
"Ayolah, Niar. Kamu kan baik hati dan gak sombong," ujar Ika dan Restu kompak.
"Boleh ya, ntar aku beliin coklat yang banyak deh di mini market buat bekal perjalanan kita," rayu Restu.
Ekspresi Niar datar. Dia hanya terdiam sembari memandangi gawai yang berada dalam genggamannya.
"Niar, jahat banget sich kamu, masa gak ngebolehin kita nginap di rumah mu. Ini kan demi persahabatan kita. Udah lama kita gak ketemu Mayang. Harusnya kita kompak buat jenguk Mayang yang lagi sakit," ujar Ika lagi.
"Bawel amat sich. Iya-iya aku tampung kalian di rumahku. Awas kalo bikin repot ya. Aku suruh kalian berdua tidur di teras rumah!" balas Niar dibarengi dengan gelak tawa yang keluar dari mulutnya.
"Dasar, kamu. Tega ya sama teman sendiri. Masa di suruh tidur di teras. Emang anak kucing yang terlantar apa kami berdua," protes Restu gak terima.
"Eh, tapi kita nunggu Dion ya. Tuh anak juga mau ikut. Sepertinya Dion tahu kalo Setyo sebentar lagi bakalan pergi jauh. Menurut Dion, Setyo mendapat sprint dari kesatuannya, dia akan berdinas di luar pulau jawa. Katanya sich, di daerah pelosok Papua," jelas Niar panjang lebar kepada kedua sahabatnya itu.
Ika dan Restu bertatapan, keduanya kemudian mengambil posisi duduk di sebelah Niar.
"Serius kamu, Niar?" ucap Restu terlihat terkejut mendengar apa yang diutarakan oleh Niar.
Niar hanya mengangguk, tanda hal itu benar adanya.
Tak berselang lama gawai Niar berbunyi. Sebuah pesan masuk.
"Dion sebentar lagi akan menjemput kita. Hari ini juga kita ke Malang. Yuk, kita ke Kost untuk 'prepare' segala keperluan yang akan kita bawa," ucap Niar bersemangat.
Ketiganya pun beranjak pergi dari taman kampus. Mereka berharap perjalanan mereka berjalan lancar hingga sampai di Malang. Tak sabar rasa hati ingin segera berjumpa dengan sahabat mereka Mayang yang kini sedang sakit.
...-----------Bersambung-------------...
Nantikan kisah selanjutnya dalam "TAKDIR CINTA MAYANG" part 106. Terima kasih banyak Author ucapkan untuk pembaca setia "TCM". Semoga isi goresan pena kali ini tidak mengecewakan pembaca setia kisah Mayang 🙏😊
Terima kasih sekali lagi sudah membaca cerita "TAKDIR CINTA MAYANG". Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penulisan.
__ADS_1
Dukungan berupa komen, like, vote dan tips dari para readers akan selalu author nantikan.