TAKDIR CINTA MAYANG

TAKDIR CINTA MAYANG
#TAKDIR CINTA MAYANG# PART 80


__ADS_3

#TAKDIR CINTA MAYANG#


PART 80


...Rumah sakit M, Kota Malang...


...*****"""""*****...


Dengan cepat dan hati-hati Heru melajukan mobil milik Radhif abang letengnya itu menuju rumah sakit terdekat.


Sebenrnya Radhif ingin membawa Mayang ke tempat praktek Dokter Inggrit, akan tetapi lokasinya yang jauh membuatnya berfikir dua kali dalam mengambil keputusan.


Dia khawatir terjadi apa-apa pada istrinya itu, karena Mayang sudah terlihat sangat pucat dan lemah.


Sakit diperutnya terus saja membuat Mayang merintih dan mengerang kesakitan.


"Sabarlah, Mayang. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit terdekat. Bertahanlah dan tetap terjaga, semua akan baik-baik saja!" ujar Radhif mencoba menguatkan Mayang.


"Sa...sa...sakit, Kak. Aku tak tahan lagi,"


"Kak, jika terjadi sesuatu padaku, berjanjilah satu hal," ucap Mayang terdengar lirih dan bergetar.


"Kau akan baik-baik saja, juga bayi dalam kandunganmu,"


"Tetaplah berfikir optimis, jangan mengatakan hal-hal yang aneh. Aku takkan membiarkan sesuatu menimpamu dan calon anak kita," tambah Radhif dengan mata berkaca-kaca menatap Mayang yang berusaha menahan sakit yang tak tertahankan.


Pergerakan mobil mulai melambat ketika memasuki pelataran sebuah rumah sakit milik pemeritah nampak asri dengan deretan pepohonan pada halaman depan parkiran.


Heru dan Dwi pria berbaju PDH itu bergegas turun untuk melaporkan kepada pihak medis yang sedang berjaga.


Secepat kilat mereka membawa sebuah tempat tidur pasien untuk membawa Mayang ke ruang "IGD ( Instalasi Gawat Darurat)."


Di sana Mayang akan segera mendapatkan pertolong pertama agar dirinya dan bayi dalam kandungannya bisa diselamatkan.


"Bapak-Bapak semua harap menunggu disini, tolong bagi keluarga pasieb yang bisa membantu, silahkan menyelesaikan administrasi dan kelengkapan yang lainnya di meja resepsionis," ucap seorang dokter jaga sebelum memeriksa Mayang bersama rekan medisnya yaitu dua orang perawat yang mendorong tempat tidur besi.


Tempat tidur dimana Mayang sedang terbaring lemah tak berdaya menahan sakit diperutnya.

__ADS_1


"Izin, Bang Radhif, biar aku dan Dwi yang akan mengurus segala sesutunya. Tetaplah disini menemani istrimu, Bang," ucap Heru seraya menepuk pundak Radhif.


"Baiklah jika tidak merepotka kalian," ujar Radhif dengan tatapan nanar.


Hati dan fikirannya kali ini tidak bisa bekerja dengan baik karena mengkhawatirkan Mayang.


Sejak tadi dia merasa gelisah memikirkan kondisi Mayang di dalam sana.


"Kami pergi dulu, Bang," ucap Heru dan Dwi.


Mereka kemudian berlalu meninggalkan Radhif yang masih terduduk lesu di depan ruang itu.


Tak berselang lama, perawat yang membantu sang dokter keluar dan menghampiri Radhif.


"Maaf, Pak. Apa Bapak suami atau keluarga pasien?" tanyanya dengan ramah.


"Saya suaminya, Sus. Bagaimana keadaan istri saya?" Radhif balik bertanya.


"Istri Bapak dalam keadaan kritis, dia kehilangan banyak darah. Saat ini kondisinya sangat lemah. Dia membutuhkan donor darah dengan golongan darah AB," ucap sang perawat.


"Golongan darah AB, Sus? Dimana saya bisa mendapatkannya? Saya akan membayar berapapun biayanya, asal istri dan calon anak saya bisa diselamatkan," ucapnya lagi dengan raut wajah serius.


'Ya, Allah, kemana hamba harus mencari donor darah yang sama dengan golongan darah Mayang? Tolonglah aku agar bisa mendapatkan pendonor yang mau mendonorkan darahnya untuk istri hamba. Jagalah dia untukku dan selamatkan calon anak kami,' Radhif memohon pertolongan Allah dengan berdoa di dalam hati.


Setelah menyampaikan hal tersebut, perawat itu kembali ke dalam ruangan meninggalkan Radhif seorang diri.


Di sana Radhif termenung berfikir keras, bagaimana caranya agar bisa mendapatkan pendonor bagi Mayang.


Di saat dirinya tengah berfikir keras, Heru datang menghampirinya. Ternyata dia cemas meninggalkan abangnya itu seorang diri, sehingga meninggalkan Dwi yang sedang mengurus administrasi dan rawat inap bagi Mayang istri abang leteng mereka.


"Izin Bang, apa sudah ada informasi dari dokter atau perawat yang menangani Mbak Mayang?" tanya Heru membuyarkan lamunan Radhif.


Sejenak Radhif terdiam, menatap lantai keramik rumah sakit yang berwarna putih tersebut.


Kemudian dia menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.


"Aku butuh pendonor dengan golongan darah AB," ucap Radhif dengan nada sedih.

__ADS_1


"Pendonor dengan golongan darah AB, Bang?" ucap Heru mengulang kata-kata Radhif.


"Iya, golongan darah itu sangat susah di dapat. Apa ada anggotamu yang mempunyai darah AB?" ucap Radhif lagi.


"Akan aku usahakan mencarinya, Bang. Aku dan Dwi akan membantu sebisa mungkin," ucapnya mencoba menenangkan Radhif abang lettengnya itu.


Secepat kilat Heru mengirimkan pesan kepada Dwi agar membantu mencari informasi serta memberi kabar kepada anggotanya di batalyon agar mencari tahu apa ada anggota yang mempunyai golongan darah yang sama dengan istri dari abang lettengnya itu dan bersedia mendonorkan darah mereka.


...Batalyon X, Kota Malang...


...****""""*****...


Mulai dari tamtama, bintara hingga perwira jaga di sana menerima kabar yang dikirimkan oleh Heru dan Dwi yang berada di rumah sakit.


Mereka berusaha mencarikan pendonor yang mempunya golongan darah sama dengan Mayang yang memiliki golongan darah AB.


Tak disangka hal itu sampai ke telinga Setyo. Yang sangat membuatnya terpukul karena kejadian ini semua bermula dari dirinya.


Andai saja sore itu dia tidak berada di kediaman Danton Heru, musibah yang menimpa Mayang tidak akan terjadi.


Setyo yang terlihat begitu perkasa dan gagah akhirnya meneteskan air mata mendengar wanita yang dicintainya itu kini sedang berada dalam keadaan kritis.


Begitu sakit hatinya seakan-akan dihujami oleh beribu-ribu belati yang tajam.


Hatinya teriris, perih dan sembilu menyelimuti dirinya malam itu.


Dalam sujudnya dia berdoa kepada Sang Khalik agar menyembuhkan Mayang dan menjaga wanita yang dicintainya itu agar dapat melewati masa kritisnya.


'Seadainya saja aku bisa menolongnya saat ini juga, akan aku lakukan apapun untuk menyembuhkan Mayang, aku akan memberikan darah ini bahkan nyawaku sebagai gantinya, agar aku bisa menebus segala kesalahanku karena menyebabkan musibah ini terjadi,' doa Setyo dalam hati.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


*Bagaimana keadaan Mayang? Apa semua akan baik-baik saja setelah Mayang menerima darah dari pendonor?


Nantikan kelanjutannya hanya di "TCM" Part 81. Terima Kasih 🙏😍😘


Jangan lupa like, Vote, tips dan komen yang membangun semangat Author. Terima kasih selalu setia membaca hasil karya Cikgu Maya 🙏🤗😍

__ADS_1



__ADS_2