
...*****"""""*****...
...Kediaman keluarga Pratama...
TOK...TOK....TOK......
"Den Radhif!" panggil Bi Inah dari balik pintu.
Untungnya Radhif telah selesai mandi dan berpakaian.
Kalo tidak suara Bi Inah yang lembut itu takkan terdengar oleh Radhif bila saja dia masih di kamar mandi tadi.
Sesaat setelah membuka pintu, nampak Bi Inah di muka pintu kamar itu.
"Den Radhif ada telepon dari Solo. Bibi sambungkan ke atas ya, Den?" ucap Bi Inah.
"Mama yang menelpon ya, Bi?" tanya Radhif sambil menggosok handuk putih di rambut dan wajahnya yang masih basah.
"Iya, Den. Ibunya Den Radhif menanyakan keadaan Non Mayang," balas sang bibi.
"Yang benar, Bi? Memangnya kenapa mama menanyakan Mayang?" ucap Radhif penuh selidik.
"Katanya ibunya Den Radhif, sudah saatnya Non Mayang di ajak 'chek up' ke dokter kandungan Den," balas Bi Inah.
"Yaudah, Bibi kembali ke bawah. Saya angkat teleponnya dari kamar tamu ya," ucap Radhif sembari melilitkan handuk di bagian lehernya dan berjalan menuju meja kecil di samping ranjang.
["Assalamualaikum, Ma!" ucapnya.]
["Waalaikumsalam, Nak! Bagaimana kabarmu dan istrimu Mayang?" ucap Bu Dian.]
["Alhamdulilah, Baik, Mam. Tumben mama teleponnya ke rumah, tidak ke ponsel Radhif?" tanya putra Bu Dian penuh selidik.]
["Mama tadi menghubungi ponsel Mayang gak aktif, ke nomor kamu juga tidak di angkat. Kemana aja kalian? Apa kalian lagi berbulan madu? Atau lagi 'babymoon' ke Malang? Jangan jauh-jauh, Dhif. Kasian Mayang lagi hamil. Mama takut cucu mama kenapa-napa," balas Bu Dian.]
Deg....
'Apa kata Mama? Bulan madu? 'Babymoon'?
Boro-boro, nyolek bibirnya mayang aja enggak,' batin Radhif tersenyum sinis.
["Dhif!" panggil Bu Dian.]
["Iya, Ma!" balasnya singkat.]
["Mana Mayang?" tanya sang mama.]
["Eh...it...itu, lagi di kamarnya. Mungkin lagi tiduran, Ma. Emang kenapa nanya Mayang? Anak mama siapa sich?" jawab Radhif sekenanya.]
Radhif mencoba mengalihkan pembicaraan, agar sang mama tidak memintanya memanggilkan Mayang.
Secara tadi kan terjadi perselisihan antara dia dan Mayang.
Masih membekas rasa cemburu kepada Mayang.
Apalagi Radhif telah menghancurkan ponsel Mayang hingga hancur lebur.
Ada penyesalan dalam hatinya, akan tetapi rasa cemburu yang sangat besar menutupi rasa penyesalan itu.
["Dhif, kamu masih di situ, Nak?" panggil sang mama.]
["Hhhmmmm... Iya, Ma," balas Radhif.]
["Jangan lupa ajak Mayang 'chek up' kandungan ya, Nak. Ini udah mau memasuki bulan kedua masa kehamilan Mayang. Kalo saja mama ada di sana, pasti mama yang akan menemani Mayang," pinta Bu Dian kepada putranya.]
Radhif diam, menelaah setiap perkataan sang mama, kali ini fikirannya tertuju pada Mayang.
Apa yang dia lakukan agar Mayang mau di ajak pergi 'chek up' dengannya.
Karena kejadian tadi, Radhif masih menaruh rasa benci melihat Mayang.
Di dalam fikirannya, Mayang telah mengkhianatinya dengan tetap menjalin hubungan antara dirinya dan Setyo.
Sehingga Setyo masih saja menghubunginya.
Tawaran mengganti nomor ponsel di tolak oleh Mayang dengan seribu alasan.
__ADS_1
'Ternyata nomor cantik yang sudah aku belikan di tolak olehnya karena masih berharap 'mantan ketua tim basket' itu menghubunginya,' omel Radhif dalam hati.
["Dhif, kamu di ajak bicara kok diam aja?" pekik sang mama di seberang sana.]
["Iya, Ma. Radhif janji bawa Mayang chek up kandungan. Demi mama dan demi mendiang Radhif," balas Radhif dengan suara datar.]
["Yaudah, kalo gitu. Mama dan Papa mau ke pabrik dulu ya. Ada pesanan batik lagi yang harus di urus, baik-baik di sana bersama menantuku. Jaga dia dan janin yang di kandungnya.
Buat dia bahagia ya, karena ibu hamil itu gak boleh stres dan sedih, bisa berpengaruh pada janinnya," ucap Bu Dian menasehati Radhif.]
["Baik, Ma. Hati-hati di sana juga ya, Ma. Tolong sampaikan salam Radhif buat Papa!" seru Radhif.]
["Iya, akan mama sampaikan, Nak," balas sang mama, kemudian mematikan sambungan telepon.]
"Apa kata mama tadi? Membuat Mayang bahagia? Aku saja anaknya belum merasakan kebahagiaan yang seutuhnya setelah menikah. Mama malah memikirkan kebahagiaan menantunya dan cucunya.
Sebenarnya anak kandunga mama siapa sich?" rajuk Radhif sambil menutup telepon.
Sepertinya ke Malang adalah waktu yang tepat.
Aku bisa menghubungi Dokter Rian. Bukankah dia dokter umun di rumah sakit ternama di sana, pasti ada kenalannya dokter specialis kandungan yang bisa memeriksa kesehatan kandungan Mayang saat ke Malang.
'Radhif masih saja memikirkan perkataan sang bunda tentang 'babymoon', sebenarnya apa itu artinya 'babymoon'? Mirip-mirip 'honeymoon' aja,' batin Radhif.
Dengan langkah berat Radhif bangkit menuju kamar Mayang hendak menyuruhnya berkemas, akan tetapi niatnya di urungkan.
Langkahnya kemudian berjalan menuju dapur.
Dia teringat nasi goreng yang telah di bawakan Mayang tadi ternyata cukup lezat.
Sepiring telah ludes di lahapnya, namun masih saja perutnya merasa lapar.
Hingga akhirnya Radhif kembali mengambil sepiring nasi goreng babat buatan sang istri.
"Tambah lagi nasi gorengnya, Den?" tanya Bi Inah.
"Udah cukup, Bi," balas Radhif sambil mengunyah nasi goreng.
"Enak ya masakan Non Mayang, Den?" tanya Bi Inah.
Kemudian Radhif teringat pesan mamanya tadi.
Sudah saatnya membawa Mayang chek up.
"Oiya, Bi. Tolong bantu Mayang berkemas. Sebentar siang aku akan mengajaknya ke Malang.
Bilang aja aku mau ajakin dia 'babymoon' ke Malang," ucap Radhif asal, karena dia pun tak tahu arti dari 'babymoon'.
"Babymoon', Den?"
"Bukannya 'honeymoon' ya, Den?" tanya Bi Inah.
"Entahlah, Bi. Bilang aja gitu. Suruh berkemas-kemas. Kalo dia gak mau, bilang saja akan aku beri hukuman bila dia tak mengindahkan perintahku," ujar Radhif.
"Baik, Den. Akan bibi bantu Non Mayang berkemas," balas sang bibi seraya berlalu menuju kamar Mayang.
TOK...TOK...TOK....
"Assalamualaikum, Non!" panggil Bi inah.
"Waalaikumsalam!" ucap Mayang.
"Masuk aja Bi. Pintunya tidak Mayang kunci. Mayang lagi rebahan di kasur," teriaknya dari dalam kamar.
Sang bibi pun masuk, kemudian duduk di tepian ranjang.
"Non Mayang gak apa-apa?"
"Kok matanya sembab dan bengkak?"
"Apa Non Mayang sakit? Sini bibi pijat ya, Non. Biar badannya gak sakit lagi" ucap sang bibi lembut.
"Saya gak sakit kok, Bi. Cuma kangen sama ibu saya dan juga kakak saya," ucap Mayang berbohong.
Sengaja dia tidak menceritakan hal itu kepada sang bibi. Karena takut Bi Inah akan mengadukannya kepada sang mertua.
__ADS_1
Jika mamanya Kak Radhif tau, pastinya akan jadi masalah baru lagi.
Hal itu akan membuat jarak antara Radhif dan dia semakin melebar.
Dan lagi-lagi semuanya Mayang telan sendiri.
Tak ada tempat lagi untuk berbagi.
Apalagi ponselnya telah di rusak oleh Radhif pagi tadi.
Mayang tak dapat menghubungi sahabat atau kerabatnya, sekedar curhat atau meminta nasehat.
Dia merasa bagai katak di dalam tempurung.
Tak akan tau perkembangan di luar sana tanpa ponselnya.
"Non!" panggil bibi.
"Iya, Bi!"
"Ada apa? jawab Mayang.
"Tadi Den Radhif menyuruh saya membantu Non Mayang mengemas barang," ucap bibi.
"Memangnya mau ke Malang, Non. Kata Den Radhif di suruh mamanya buat ngajakin Non Mayang 'babymoon' atau 'honeymoon', Non. Itu yang bibi tahu," jawab Bi Inah.
'Hah??? 'Babymoon'? 'Honeymoon'?
Apa gak salah dengar aku?
Aku harus bagaimana jika itu benar-benar di lakukan Kaka Radhif saat di Malang nanti?
Apa aku harus menerimaanya?
Ya, Allah aku harus bagaimana?' gumam Mayang dalam hati.
"Emang apa itu 'babymoon' atau 'honeymoon' itu, Non?" tanya bibi pengen tahu.
"Owh, itu Bi Inah. Semacam jalan-jalan setelah menikah kalo 'honeymoon', kalo 'babymoon' itu jalan-jalan saat hamil sebelum melahirkan," jelas Mayang pada sang bibi.
"Asik dong, Non. Bisa jalan-jalan sama Den Radhif. Biar makin sayang Den Radhif sama Mbak Mayang," jawab Bi Inah polos.
"Sayangnya kebangetan, Bi. Malah bikin Mayang takut," ucapnya keceplosan.
"Iya, Den Radhif itu sayang banget sama Non Mayang. Buktinya saat Non sakit, Den Radhif gak tidur dan gak makan sampe Non Mayang sadar dari pingsan waktu itu," celoteh Bi Ina.
Saat itu juga hati Mayang tersentuh.
Mendengar perkataan bibi tadi.
'Apa benar yang di sampaikan Bi Inah?
Apa segitu sayangnya Kak Radhif kepadaku?
Tapi mengapa saat marah dia menjadi sangat menyeramkan? Bagai singa yang siap menerkamku,' jerit Mayang dalam hati.
"Bibi tahu hal itu dari siapa? Kan waktu di rumah sakit bibi gak ada?" tanya Mayang penasaran.
"Dari Pak Ujang, Non. Pak Ujang sampe kasian ngeliat Den Radhif," balas sang bibi sambil merapihkan baju Mayang yang akan di bawa di dalan koper.
"Ini udah beres, Non. Ada lagi yang mau bibi siapkan?" tanya Bi Inah.
"Gak ada Bi, biar keperluan lainnya nanti Mayang aja yang beresin," balas Mayang seraya bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.
Hendak mempersiapkan keperluan lain.
...🍁🍁🍁🍁🍁...
*Apa Radhif berhasil menuruti permintaan mamanya mengajak Mayang melakukan 'honeymoon' atau 'babymoon' ke Malang?
Nantikan kisahnya hanya di "TAKDIR CINTA MAYANG" Part ke 67. Terimakasih 🙏😊🤗
yuk para readers yang tercinta, jangan lupa tinggalin jejak ya, kasih vote dan juga tip serta komen terbaik kalian.
Terimakasih banyak Author ucapkan untuk kalian semua yang selalu setia menanti kelanjutan kisah "Mayang dan Radhif". 🙏😍
__ADS_1